Tuesday, February 14, 2023

Saat Anak 9 tahun Valentin-an

Hello February!


Kata orang, Febuari adalah bulan penuh cinta, serba pink-pink, serba manis semanis coklat. Banyak di antara kita yang ikut merayakan Hari Valentine dengan berbagai cara, sesuai dengan kesenangannya masing-masing. 

Saya sendiri, tidak merayakan Valentine, dan tidak ikut memakai baju pink atau memberi/menerima coklat. Bukan karena anti, lebih karena nggak punya waktu dan nggak punya duit buat dialokasikan ke sana. hahahahaa. 

Tetapi saya selalu ikut berbahagia menikmati keriuh-ramaian Bulan Februari. Senang melihat di minimarket banyak dipajang coklat dengan tema Valentine, melihat orang membeli coklat-coklat itu, dan melihat orang mendapatkan buket-buket cantik dari kesayangan masing-masing. Dan yang paling seru menurut saya dan suami adalah saat melihat di pinggir-pinggir jalan, anak-anak sekolah (terutama laki-laki), membawa setangkai mawar merah. Saya dan suami sering tertawa karena menskenariokan bagaimana mereka akan memberikan setangkai bunga itu pada orang yang mereka sayangi. Mungkin Ibu, mungkin juga kekasih hati. Menghangatkan hati bukan? 

Tahun ini, selain dari cerita-cerita yang berulang dari tahun ke tahun di atas, saya ketambahan cerita yang 'close to home' banget. Siapa lagi kalau bukan gendhuk cah ayu adol gendruk ra payu semata wayang yang sedang berusia 9 tahun itu. Tahu kan siapa?

Tahun ini K melewati Hari Valentine di kelas 3. Sekitar 2 minggu yang lalu, di tengah obrolan random kami, dia tiba-tiba berkata:

K: "Bunda, Hari Valentine itu kapan ya?" tanyanya.

Saya: "14 Febuary. Pas ulang tahunnya Tante Lucy," kata saya.

K: "Oh, okay." Saya curiga dengan tanggapan pendeknya, karena seringnya mengandung perkataan yang tidak diucapkan. 

Saya: "Kenapa?" saya penasaran yekan.

K: "I think I'm gonna confess my feelings," jawabannya yang diucapkan dengan kalimat lempeng tanpa ekspresi tambahan, membuat saya hampir menanggapi dengan lebay. Tapi saya tahan.

Saya: "Wow. To who?" Dalam hati saya sudah terngakak-ngakak, tapi berusaha memasang tampang lempeng juga.

K: "I am not gonna tell you. Nanti Bunda kebanyakan tanya-tanya kalau aku bilangin." Serius, dia bilang begini juga dengan ekspresi yang sangat lempeng. 

Saya: "Bukannya kita janji untuk selalu berbagi cerita apapun itu?" pancing saya masih penasaran.

K: "Soalnya nanti Bunda itu jadinya nanya terus kalau aku bilangin. Tapi nggak papa sih sebenernya. Aku tuh punya banyak temen cowok. Kalau Bunda tahu yang satu, aku tinggal ganti aja." Di sini saya tak lagi bisa memasang tampang lempeng. Jadi saya tertawa ngakak beneran.

Saya: "Okay. Go for it, K!" hanya itu yang bisa saya katakan, sebagai ikhtiar menjadi Ibu yang Cool. 

Untuk sejenak saya tidak menanyai K lagi tentang obrolan kami saat itu. Saya berlagak itu hanya obrolan biasa yang tidak terlalu membuat saya kepo. Walaupun sebetulnya saya sudah muncrat-muncrat ke ayahnya, dan juga ke beberapa teman. Saya butuh teman untuk mentertawai kepolosan anak-anak kecil jaman now ini. 

Minggu lalu, saat kami sedang berkendara di atas motor, secara iseng saya tanyai K:

Saya: "So, K about the boy that you want to confess to. Is he from school, or from the course?" 

K: "School." 

Saya: "Okay." Sependek itu pertanyaan dan jawaban emak dan anak ini. 

Beberapa hari kemudian, saya bertanya lagi saat kami bersiap tidur:

Saya: "Mbak, is there any plan for Valentine? Related to your mission to confess your feelings?" 

K: "I think it'll be coklat, candy, notes, and talk." Fineeeee... Banyak ya siiiiissss... hahahaha

2 hari kemarin, K minta diantarkan ke minimarket di depan komplek untuk membeli coklat. Saya diam tidak bertanya karena sudah tahu rencananya dengan Valentine's day. Dia membeli coklat yang berisi 2 dalam 1 kemasan. Saat di rumah, baru saya tanya:

Saya: "K, kamu mau kasih 2 ke temen kamu?" 

K: "Enggak, 1 aja." 

Saya: "Oh, yang 1 buat ayah atau bunda ya?" 

K: "Enggak donk, buat aku. Kan aku suka coklat." Saya dan ayahnya hanya berpandangan sambil mesam-mesem. Memang K adalah pelahap coklat, jadi walaupun pesona Hari Valentine cukup membuatnya tergerak memberi temannya, tetapi tidak tergerak berbagi dengan Ayah atau Bundanya. Efffaaaiiiineee mbaaak :-p

Hari ini, pulang sekolah K menceritakan bahwa teman-temannya juga berbagi coklat kepada teman lain dan juga gurunya. Saat saya tanya kenapa dia tidak memberi gurunya coklat, dia menjawab bahwa dia tidak terpikirkan. Sepertinya pikirannya hanya kepada temannya yang ingin dia beri coklat saja. Menurut cerita K, proses dia memberi coklat tidak berjalan selancar rencananya, karena akhirnya hanya coklat saja yang dia berikan, tanpa permen, tanpa ucapan ataupun notes seperti yang sudah dia bayangkan. Sepertinya dia grogi, karena katanya teman-temannya sempat menyorakinya. That's the fun part, mbak! :-p

Untuk beberapa orang, mungkin mendukung anaknya untuk memaknai Hari Valentine, dianggap sebagai hal yang tidak perlu. Bagi saya dan juga suami, rasanya perlu. Bukan untuk membuat anak meyakini hal-hal diluar ajaran agama kita, melainkan agar mereka tumbuh organik dalam merespon hal yang terjadi dilingkungannya. Saya tidak mengenalkan dia tentang Hari Valentine, dia mengenalnya melalui teman-teman dan iklan yang dia temui di berbagai tempat. Saat dia bertanya mengenai Valentine, saya jelaskan bagaimana tradisi Valentine masuk ke dalam kehidupan kita. 

Saya dan suami menggunakan lirik lagu 'The Night" nya Avicii sebagai gambaran kehidupan, mencangkoknya untuk kami mengenalkan dunia nyata pada anak kami. Bagian favorit kami adalah: 

"He said, - One day, you'll leave this world behind... So live a life you will remember..."

Mbak K, live your life!

Love, 

Bunda & Ayah

No comments: