Sunday, January 31, 2010

Mengapa Aku Penasaran

Sering kali kita mengalami perasaan penasaran akan suatu hal. Mulai dari penasaran yang biasa saja, hingga penasaran yang teramat sangat. Jika kita merasakan penasaran yang biasa saja, maka kita akan sekedar mencari tahu. Tidak akan lama merasakan pusing dan gundah dalam waktu lama. Tetapi, ketika kita mengalami rasa penasaran yang teramat sangat, maka kepala kita hanya akan terisi oleh hal yang membuat kita penasaran itu.

Beberapa waktu lalu, aku mengalami sebuah perasaan penasaran yang teramat sangat. Penasaran yang mampu bertahan hingga beberapa minggu. Sangat tidak baik untukku, karena mau tidak mau semua rasa penasaran itu mengganggu kinerja otakku. Sedikit sekali kemampuan otak memikirkan hal2 yang lain. Selebihnya adalah memikirkan hal itu.

Apa yang membuat aku sebegitu penasarannya? Entahlah...aku sendiri kurang begitu yakin. Kenken??? (Kalau temanku Hilbul pasti akan segera berkata begitu_red)

Sepertinya aku merasa penasaran yang teramat sangat pada seekor Kancil. Ya.... Kancil. Hewan yang sudah sering kita dengar namanya itu. Mereka adalah bangsa hewan yang cukup melegenda di kalangan anak2. Bagaimana bisa? Bisa saja tentu. Karena di kalangan anak2 ada lagu mengenai dia,

Si Kancil anak nakal
Suka mencuri-curi ketimun
Ayo lekas di kejar
Jangan di beri ampun

Aku memang bertemu seekor kancil. Kancil yang nakal, meskipun dia tidak mencuri ketimun. Dia mencuri sebuah karya seni. Aneh kan? Mana ada kisah di dunia nyata ataupun di dunia dongeng bahwa ada kancil yang mencuri karya seni. Namun, di duniaku semua menjadi nyata. Kancil itu benar2 mencuri karya seni yang selama ini selalu di jaga oleh banyak pihak. Luar biasa sekali bukan...

Bagaimana bisa aku melihat seek0r kancil nakal yang mencuri karya seni itu? Entahlah...semua nya berjalan dengan begitu cepat. Si Kancil mendadak muncul di depanku, melihat ke kanan dan kekiri seolah2 anak kecil yang ingin menyeberang jalan di tahun pertama dia sekolah. Setelah melihat ke kanan dan kekiri, dia hanya menatapku yang masih belum sadar sepenuhnya dari terkejut, sekilas lalu.

Dengan acuh dia berjalan menuju tempat benda itu tersimpan rapi, dengan di kelilingi pagar pelindung. Entah kenapa, aku berjalan mengikutinya. Mungkin aku tersihir atau kalau jaman sekarang lebih trend dengan kata "terhipnotis". Aku mengikuti kancil yang berjalan semakin cepat dan semakin angkuh.

Dia tidak merasa terganggu dengan kehadiranku di belakang dia. Dengan seenaknya dia ngoceh kesana dan kesini mengatakan hal2 yang aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dia katakan. Gaya dia mirip seperti bapak penilik di sekolah dasarku dulu. Angkuh, sok berwibawa, sok penting, dan sok sibuk. Itu yang membuat aku semakin penasaran dengan kancil jenis yang aneh ini.

Setelah tiba di lapisan pelindung pertama, si kancil itu berhenti. mengetuk2 dan melihat2 lapisan itu. Memainkannya sebentar, sambil menelengkan kepalanya. Seolah sedang menilai sesuatu. Entah apa yang ada dalam kepala si kancil itu. Dia berkata padaku,
"Aku mau masuk kesana" katanya

Dan yang lebih aneh lagi adalah, tiba2 saja aku sudah mengambil kunci dan membuka pelindung pertama dari benda itu. oh..tidakk... hipnotis...hipnotis...

Semakin lama, hipnotis yang di lancarkan oleh si Kancil rupanya semakin kuat saja. Hampir semua lapisan pelindung sudah terbuka kuncinya. Dia melenggang dengan tenang dan acuhnya. Terkadang terlintas untuk menjewer telinganya yang panjang itu, atau menimpuknya dengan kursi atau pot tanaman yang ada di samping ruangan.

Tapi tunggu....sepertinya ada yang mulai aneh denganku. Tiba2 aku memperhatikan kancil itu. Secara tidak sadar, otakku berpikir,
"Kancil itu manis juga ya...." Addduuhh.... kugeleng2kan kepalaku karena sepertinya mulai meracau.
"Gayanya yang songong itu koq malah membuatku geregetan ya..." kata otakku di bawah sadarku lagi.

Akupun semakin merasa ada yang aneh dengan otakku. Langsung saja kulepaskan pandanganku dari si Kancil yang sok penting itu. Aku berbalik badan, namun justru aku terdiam dan terhenyak. DI belakangku ada sebuah cermin yang cukup besar, dan memantulkan bayanganku secara penuh dan sempurna.

"Ouw...Ouw...Ouw.... Ini sepertinya aneh." kataku sambil menengok kembali ke arah si kancil yang sedang tertawa2 sinis.

Rupanya inilah alasan mengapa aku merasa bahwa si kancil itu lumayan manis dan menggemaskan. Bayangan di cermin itu menunjukkannya padaku. Bayangan yang menampakkan aku sebagaimana aku. Aku yang sebenarnya.

Bayangan itu menunjukkan bahwa selama ini aku salah dalam menilai diriku sendiri. Selama ini aku berpikiran bahwa aku adalah seekor Penyu yang bertugas menjaga benda yang ada di dalam sana. Penyu yang suka sekali mengurung diri di dalam tempurungnya ketika tidak ada yang mengancam dunianya. Rupanya aku salah dalam melihat dan menilai diriku. Aku tidak menyadari siapa dan bagaimana sebenarnya aku.

Bayangan di cermin itu menampakkan aku sebagai seekor kancil yang hampir mirip dengan kancil yang ada disana. Aku yang nakal, angkuh, dan terlalu naif. Naluriahku sebagai seekor kancil membuatku tertarik dengan kancil itu. :P

Aku kembali menengokkan kembali kepalaku ke arah kancil yang semakin berharap bisa masuk ke lapisan pelindung terakhir itu. Aku mendekatinya, dan dia berkata,
"Ayo..buka yang ini. Aku mau benda itu."Katanya
"Oke.... Ayo kita buka." kataku.

Aku menyerah dengan naluriku yang rupanya sama dengan kancil itu. Karena pada dasarnya kami adalah sama, si Kancil anak nakal. ^_^

No comments: