Tiba2, aku ingat pengalamanku semasa kecil. Ketika itu, aku sedang bermain bersama dengan teman2 di halaman. Tiba waktunya makan siang, setiap anak di suapi oleh ibu2 mereka. Begitu juga aku.
Ibuku membuatkanku sayur oseng2 tempe kesukaanku, di tambah dengan ayam goreng kering yang juga kesukaanku. Aku makan dengan lahap karena ibuku selalu mengetahui apa yang aku mau.
Ketika sedang asyik2nya makan, aku menengok ke samping kiri, tempat temanku makan di suap oleh ibunya. Dia makan dengan sayur bayam dan lauk ikan. Tiba2, makanan yang ada di piring yang di bawa ibuku tak lagi enak. Hambar. Sepertinya makanan temanku jauh lebih enak. Aku kepingin makan itu juga.
Melihat kalau aku menginginkan makanan temanku itu, ibuku lalu memintakan pada ibu temanku sedikit. Sesendok untuk obat pengen biar nggak ngiler, katanya. Akupun memakannya. Benar sekali…. Makanan itu terasa lebih enak dan lebih nikmat. Akupun menginginkan semuanya. Ibuku tidak mengijinkan aku dan tidak lagi mau memintakan pada ibu temanku.
Temanku juga tidak rela kalau makan siangnya terganggu olehku. Ibu temanku tidak mau membuat anaknya sedih. Tinggalah aku yang tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau. Makanan temanku yang semakin lama semakin menipis, hanya bisa kuliat dari jauh. Temanku tidak mau lagi duduk di sebelahku. Mereka, ibu dan anak itu memilih untuk pindah tempat duduk dan menjauh dariku. Aku hanya diam dan melihat mereka.
Aku tidak bisa makan makanan yang enak itu, tapi aku juga sudah tidak bisa memakan bekalku yang mendadak kehilangan rasanya. Aku sedih, dan kecewa. Kebahagiaanku akan datangnya makan siang yang enak dan nikmat menguap begitu saja. Berganti dengan perasaan sedih, kecewa, dan marah. Tapi aku tidak tahu harus marah pada siapa.
Tidak mungkin aku marah pada ibuku, karena dia sudah membuatkan aku makan siang kesukaanku. Aku tidak bisa memaksanya meminta semua bekal temanku, karena ia juga seorang ibu. Tidak mungkin aku marah pada temanku yang tidak memberikan bekal makan siangnya padaku. Aku tidak bisa memaksanya karena dia juga lapar, dan bekalnya adalah makanan kesukaannya. Tidak mungkin aku marah pada ibunya temanku, karena dia tidak memberikan padaku bekal makan siang anaknya. Aku tidak bisa memaksanya, karena dia juga seorang ibu yang berusaha membuatkan makanan kesukaan anaknya.
Tinggalah aku dengan kecewaku. Aku diam, duduk di sudut. Menatap dengan pandangan kosong. Tidak tahu lagi harus berbuat apa. Bujuk rayu ibuku tidak mampu ku hiraukan. Aku kecewa. Kecewa pada semua orang, tak terkecuali Tuhan.
Aku kecewa pada diriku sendiri, karena aku tidak bisa mendapatkan makanan temanku yang teramat sangat aku inginkan. Aku kecewa pada ibuku, karena dia memintakan bekal temanku sesendok sehingga aku lebih penasaran lagi. Aku kecewa pada ibu temanku, karena dia tidak mau memberikan bekal anaknya padaku, padahal dia bisa menukarkan makanannya dengan makananku. Aku kecewa pada temanku, karena dia memilih untuk pergi menjauh dan mencari tempat baru untuk makan. Dan aku kecewa pada Tuhan, kenapa dia menciptakan alur yang begini untuk cerita makan siangku. 
Itulah…. Kecewa tinggalah kecewa. Aku dan kecewaku. Aku tidak tahu kapan rasa kecewa itu akan hilang. Tapi aku yakin sebentar lagi. Tidak akan lama. Karena aku hanyalah seorang anak2. Anak2 yang tidak perlu mendendam dan mendengki. Anak2 yang tidak akan mampu mengingat kebencian dan permusuhan. Yang ada hanya kecewa saja. Kecewa seorang anak hanya akan bertahan satu hari. Karena aku sekarang adalah anak2 yang sedikit lebih besar, mungkin kecewaku akan bertahan 2 atau 3 hari. Tidak akan lama.
Tidak perlu berlama2 dengan kecewa, dan kemarahan. Tidak perlu membuat suasana menjadi suntuk hanya karena kecewa sesaat. Kembalilah bermain gundu, kembalilah bermain dakon, kembalilah bermain gobak sodor, kembalilah bermain petak umpet. Karena dunia tetap berputar meskipun aku kecewa. Tidak akan ada yang mampu merubah apapun selain Dia. Jadi, nikmati saja.
Semua akan terasa indah pada waktunya……^_^
Small note :
*Censored by wilis
..................................
Semoga kita akan tetap menjadi 2 anak kecil yang tidak menyimpan benci….
Dan akan bertemu kembali dengan sebuah salam dan pelukan persahabatan.
Thanks for being my new friend with new experience….^_^ ^_^ ^_^
Semua memang akan sangat indah dan sempurna pada waktunya….. ^_^
2 comments:
aku suka ini, apa peduli dunia ini terhadapa kekecewaan kita, ia terlalu egois untuk mengerti kita, ia tak kan berhenti berputar meski kita menderita sekalipun...
hehehhe.... Kalau aku sih nggak menyalahkan dunia juga ya...
Biarkan saja dunia begitu adanya. Tidak perlu berubah atau dipaksa berubah sesuai kemauan kita....
Just Enjoy ajaaaa..>:P
Post a Comment