Tuesday, July 7, 2009

Aku Suka Aku

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943


Aku menyukai puisi ini. Puisi pendek, sederhana, namun penuh dengan makna. Seringkali aku menemukan deretan tulisan ini di buku-buku kecil, dimana satu buah foto tertempel manis di sampul depannya. Sayangnya, bukanlah buku harian atau buku saku yang selalu saja menyimpan sajak manis ini. Di atas foto itu, pasti saja ada tulisan :

“rest in peace”, “RIP”, “telah berpulang ke rahmatullah”, atau “mengenang kesekian harinya…”.

Tetapii hal itu wajar saja terjadi, karena memang isi dari puisi ini sangatlah cocok dengan kematian dan kepergian seseorang. Sedih memang, tapi harus kita terima.


Aku menyukai puisi ini. Bahkan di dalam buku hariankupun, aku tulis semua bait puisi ini dengan lengkap.


Semua orang akan sampai pada saat itu, saat dimana kita harus pergi, kemanapun…. Dan jika waktu itu datang, maka tak akan ada satu orangpun yang dapat menahan kita, merayu kita, ataupun memaksa kita untuk tetap tinggal.

Euforia yang berlebihan

Agenda pulangku minggu ini gatot alias gagal total.

Awalnya dengan niat tulus ikhlas dan suci untuk menjalankan amanat sebagai warga Negara yang baik dan benar (halah….lebay dot com) yaitu “nyontreng” aku berencana pulang kampong.


Pengennya sih ikutan milih presiden sama wakilnya dirumah sana. Ternyata perjalanan dengan keragu-raguan dan setengah hati memang sering berakhir dengan ketidakbaikan. Hiks…hiks….

Sedikit membuat sesak dada ini, karena aku memutuskan untuk tidak jadi pulang setelah aku berada di atas kereta dengan separo perjalanan menuju Stasiun Kota. Maka, akupun tetap melanjutkan niat untuk menggunakan kereta itu sampai akhir, dan berjalan-jalan di mangga dua sambil melihat-lihat charger kamera. Saat melanjutkan perjalanan dengan tujuan berbeda di atas kereta yang sama itu, akupun berfikir dan merenungi. Ternyata semua berawal dari aku sendiri….


Kira-kira sebulan yang lalu, aku mengatakan kepada keluargaku bahwa aku akan pulang ke rumah ketika pemilihan presiden jika memang aku terdaftar di rumah. Aku melupakan sesuatu hal yang penting yang selama ini sangat aku hindari. Yaitu euphoria bapakku jika berhubungan dengan hal kepulanganku.


Aku sediri masih bingung, kenapa beliau selalu bersikap begitu. Euphoria menyangkut kepulanganku kerumah, pasti akan membuat semua hal dilebih2kan. Entah kenapa aku lupa, padahal itu juga yang membuat aku memutuskan untuk pulang diam-diam bulan lalu. Huh…..dasar aku ini pelupa sekali…


Jika aku ingat-ingat lagi, sepertinya dari sejak aku bilang bahwa aku akan pulang bulan lalu, berapa banyak telphon dari beliau hanya untuk menanyakan kepulanganku. Oh no…


Dan puncaknya adalah kemarin ini. Disaat aku sudah berangkat, aku baru tersadar dan menyadari bahwa sepertinya ada yang perlu diluruskan dan dicari tau. Maka dari itu, akupun menelphon ibuku tercinta yang lebih kalem…hehehe….dan rupa-rupanya memang tidak salah keragu-raguanku. Ibukupun masih belum tahu apakah aku terdaftar sebagai pemilih. Huah….. terbayang sekali di mataku, bahwa aku hanya pulang sebentar dan menginap di rumah semalam, tetapi ternyata aku nggak punya izin memilih. Tidddaaaaakkkkk……makanya, langsung saja aku batalkan niat muliaku.. hallah…


Bingung dan serbasalah kalau memikirkan euphoria babeku itu. terkadang aku berfikir, mungkinkah si babe berpikir bahwa anak perempuannya ini memiliki niat mulia membangun desa, atau lulus dengan predikat suma cumlaude gitu ya???? Jadinya kalau pulang tuh harus selalu di jemput dan di elu2kan??? Oh my god…fitnah itu…hehehe.


Mbuhlah, ieur yeuh…..:(

Friday, June 26, 2009

Buka Matamu Lebar-Lebar

Ketika itu aku bicara tentang luka. Luka kecil tetapi nyata. Luka yang menganga.
Kemarin, aku kembali merasakan detak keberadaan luka itu.
Untuk hal yang sama, untuk orang yang sama, dan untuk lingkungan yang sama.
Sebenarnya, sejak saat “hal itu” terjadi, aku selalu enggan melangkah menuju tempat itu.
Tempat dimana aku terlalu berlebih dalam berharap.
Tempat dimana aku terlalu pede dalam bersikap.
Tempat dimana semua orang bersikap lain.
Tempat dimana jarak selalu ada.

Ketika kemarin kakiku kembali menginjak wilayah itu,
Aku harus bertemu dengannya yang pernah melukaiku.
Dia berlaku seolah tak ada aku, aku biarkan saja.
Saat aku kembali harus menginjak wilayah itu, kali ini dari sisi yang berbeda.
Dengan terpaksa dia harus melihatku, menyapaku.
Dan akupun menyapanya seperti biasa.

Jarak itu ada, jarak itu terasa, sebagaimana aku merasakan adanya luka itu.
Dia mengeluarkan pertanyaan retorik kepadaku.
Namanya saja pertanyaan retorik, maka tak ada kewajibanku untuk menjawabnya.
Dan semua itu juga hanyalah basa-basi yang basi menurutku.
Kutinggalkan semua itu begitu saja.
Karena aku tak ingin lebih jauh terperosok dalam jurang.

Kalau memang mereka layak di awan, biarkan aku ada di tanah.
Jikalah mereka yang layak di tanah, biarkan aku ada di sudut saja.
Sebuah pelajaran besar untukku, yang selalu menyukai hal-hal yang berlebihan.
“kurangilah semua yang lebih itu, jadikan semua menjadi biasa-biasa saja”


Semakin ingin ku tutup mata,
Maka semakin kubuka mata ini lebar-lebar.
Karena aku tak ingin lari dari kenyataan…

Wednesday, June 24, 2009

Ketika Jarak dan Waktu Memisahkan Kita, Maka Perpisahan Membentang di Depan Mata

Aku berjalan sendiri di jalanan kayu yang disusun rapi menjadi sebuah jembatan panjang. Samping kanan kiri jalan adalah rumput alang-alang setinggi pinggang yang mulai menguning, dengan latar belakang gunung tinggi yang menjulang. Bayangan sinar matahari yang tertutup awan menimbukan kesan cantik yang berselang-seling. Ingin rasanya aku abadikan pesona alam itu banyak-banyak dalam kameraku. Namun sayang, aku baru menyadari kalau aku tidak membawa kamera kesayanganku itu.


Aku terus berjalan menyusuri jalanan itu. Jalanan yang seolah tidak asing dimataku. Serasa déjà vu, aku berusaha mengingat dimana kiranya aku pernah melihat pemandangan seindah ini. Aku juga tidak memahami kenapa jalanan seindah ini sepi dari orang. Kuikuti terus titian kayu ini, karena aku merasa penasaran dengan ujung dari jalan ini. Akan dibawa kemana aku jika terus mengikuti jalanan ini??


Lama berjalan, akhirnya aku melihat ada orang lain didepan sana. Dengan setengah berlari aku mengikuti dan berusaha mengejar orang itu. Entah karena kekuatan lariku yang sangat di bawah rata-rata atau mereka yang berjalannya terlalu cepat, rasanya aku tidak mampu menggapai mereka. Aku berteriak untuk memanggil mereka, namun sepertinya mereka tidak bisa mendengar suaraku.


Ternyata di depan sana banyak orang. Maka aku mempercepat jalanku. Setelah sampai di kerumunan orang yang sama-sama bergerak maju ke satu arah itu, aku bertanya ada acara apa di sini. Tapi tak seorangpun mau menjawabku. Mereka hana menatapku dengan heran, kaget atau lebih tepatnya kasihan. Kenapa mereka melihatku seperti itu??tanyaku dalam hati.


Karena tak satupun dari mereka mau berbicara denganku, maka aku ikuti saja arus kemana mereka berjalan. Semakin lama semakin banyak orang yang bergabung dibarisan itu. Disela-sela orang yang tidak aku kenal, aku bisa melihat beberapa orang yang sangat aku kenal. Ketiga sahabatku dari SMU, teman-teman kuliahku, dan beberapa orang dari masa laluku.


“Kenapa mereka ada disini??apakah mereka saling mengenal??”tanyaku dalam hati.

Aku berteriak memanggil mereka, namun mereka sepertinya tenggelam termakan barisan orang-orang itu. Sekuat tenaga aku berusaha bergerak ke arah mereka. Begitu aku sudah mencapai ketiga sahabatku, aku bertanya kepada mereka tentang tujuan mereka di tempat ini.


Bukan menjawab, mereka malah menatapku dengan tatapan yang sama dengan orang-orang yang pertama tadi aku temui. Salah satu sahabatku memegang pundakku sambil berusaha tersenyum. Namun hanya senyum kesedihan yang aku temui disana. Ada apa dengan semua ini?? Kenapa semua serba membingungkan?


Namun sebuah suara dalam kepalaku mengatakan, ikuti saja kemana mereka berjalan. Mungkin mereka hanya berusaha memberikan kejutan padaku. Dengan rasa penasaran yang menumpuk, akupun mengikuti arus itu.


Tiba-tiba terdengar sayup-sayup musik jawa dimainkan. Aku mengenal sekali musik itu sebagai musik pengiring pernikahan adat jawa. Rasa penasaranku kembali memuncak, siapakah yang menikah hari ini?apakah saudaraku, temanku, atau siapa?ataukan aku lupa untuk membaca undangan temanku?


Barisan yang awalnya berantakan itu mulai merapikan diri dengan antrian satu-satu. Rupanya didepan ada acara salaman dengan penerima tamu. Benarlah dugaanku bahwa aku sedang mendatangi pesta pernikahan, hanya saja aku belum mengetahui pernikahan siapa. Sepertinya giliranku untuk bersalaman dengan penerima tamu sudah dekat, namun karena orang-orang didepanku tinggi-tinggi, aku tidak bisa melihat kea rah depan.


Betapa kagetnya aku ketika aku mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan penerima tamu yang pertama. Dia adalah kakak perempuan lelaki itu. Dia juga tampak terkejut melihatku di depannya. Aku bersalaman sambil bertanya,

“mbak, siapa yang menikah ini?”tanyaku.

Namun dia tidak menjawab, justru dia tersenyum sedih dengan mata berkaca-kaca menatapku. Melihatnya seperti itu, aku jadi ingin melihat penerima tamu yang lain. Kupalingkan kepalaku menuju para penerima tamu yang lainnya. Rupanya mereka adalah kakak ipar, ibu, dan ayah lelaki itu. Aku semakin penasaran. Semua orang itu menatapku dengan tatapan sedih.


Dengan terburu-buru aku menyibakkan barisan dan mendahului untuk sampai ke depan pelaminan. Serasa jantungku lepas dari tangkainya manakala aku melihat siapa yang duduk di pelaminan itu. Rupanya dia yang telah menikah dengan perempuan yang tidak aku kenal. Aku tidak bisa berkata-kata, dan diapun terkejut melihat aku.


Tanpa sadar aku melangkah ke depan menuju pelaminan. Aku yakin semua mata sedang mengarah pada kami. Perlahan aku melangkah sambil terus menatapnya dan pasangannya yang telah berdiri. Setelah aku berhadap-hadapan dengannya, aku hanya mampu mengucapkan sepatah kata,

“kenapa?”tanyaku. Perlahan namun jelas terdengar di telingaku dia berkata,

“Maafkan aku…”. Tiba-tiba semua berputar seolah aku sedang melewati lorong waktu. Lalu dunia terasa gelap, dan aku tak sadarkan diri.


Kubuka mataku perlahan-lahan karena rasanya seluruh tubuhku baru saja dihimpit batu besar, sakit sekali. Entah bagian mana yang sakit, namun sungguh terasa sakit sekali. Setelah terbiasa dengan keadaan di sekelilingku, aku kembali terheran-heran. Aku merasa sangat mengenal ruangan tempat aku berbaring, dan kemana perginya orang-orang tadi?kemana dia?


Aku meraih gelas yang di sediakan di meja dan buru-buru aku reguk semua isinya. Rupanya dingin air putih yang masuk ke tenggorokanku mampu menyadarkan aku dari kelinglungan. Aku kembali menyadari bahwa aku masih berada dikamarku tercinta. Dan aku mengerti bahwa yang baru saja aku alami adalah sebuah mimpi buruk. Badanku terasa dingin sekali. Rupanya peluh sudah benar-benar menghabiskan ruangan kering pada baju yang aku pakai.


Langsung saja aku mengambil gagang telpon yang ada di atas meja. Ku tekan nomor yang selama 4 tahun ini selalu berada di urutan pertama dalam daftar otakku. Lama tak ada yang mengangkatnya. Aku coba lagi sampai beberapa kali, masih juga tak ada yang mengangkat. Sampai berkali-kali aku menekan tombol redial, tapi tetap saja dering telpon diseberang sana nyaring mengambang.


Aku merenung di pinggir ranjang, memikirkan apa yang baru saja aku alami. Apa gerangan arti mimpi itu? Benarkah dia menikah dengan wanita lain? Tapi kenapa tidak ada yang memberitahu aku? Apakah dia memang sudah menjadi milik orang lain?Kulirik jam dinding dan rupanya baru pukul 4 pagi. Ku ambil handuk dan baju ganti, lalu aku mandi sambil memikirkan dan mengira-ira apa arti dari mimpi burukku tadi.


Untuk dia, dan untuk mereka yang telah ditinggalkan, akan ada hari esok yang lebih baik.
Tapi sangat penting bagi kalian untuk mencintai hari ini......

Indah Pada Waktunya

“Indah Pada Waktunya”

By. Delon feat Irene


Kau lihat aku di sini seutuhnya
Sendiri merasa bahagia karenamu
Setelah air mata kehilangan dan juga kecewa
Kini hanya satu yang ku percaya
Kau membuatku bahagia


Jika memang ini saatnya
Mimpiku akan menjadi nyata
Ku percaya kuatnya cinta
Semua akan menjadi indah pada waktunya


Hadirmu semangat jiwaku karenamu
Kelembutan cintamu semua jawaban yang kudambakan
Kini hanya satu yang ku percaya
Kau membuatku bahagia


Dan takkan ada kata-kata
Oh jangan sembunyikan
Perasaanmu saat ini



“Indah Pada Waktunya”

By : Feby Febiola feat Wawan

Ada waktu untuk berduka
dan ada waktu tuk tertawa
Untuk segala sesuatunya
ada waktunya

Ada waktu untuk merombak
dan ada waktu tuk membangun
Kau jadikan semuanya indah
pada waktunya

Walau kini ku menabur benih
sambil mencucurkan air mata
ku percaya suatu saat
ku kan menuai bekasnya
sambil bersorak-sorak

Ada waktu untuk merombak
dan ada waktu tuk membangun
Kau jadikan semuanya indah (semua indah)
pada waktunya

Walau kini ku menabur benih
sambil mencucurkan air mata
ku percaya suatu saat
ku kan menuai berasnya
sambil bersorak-sorak

Ho~ ho ho ho…

Walau kini ku menabur benih
sambil mencucurkan air mata
ku percaya suatu saat
ku kan menuai bekasnya
sambil bersorak-sorak

Suatu saat ku kan menuai bekasnya
sambil bersorak-sorak


Tiba-tiba aku teringat sebuah kalimat yang diberikan oleh salah satu teman dan juga saudaraku untuk menghiburku waktu itu. Sebuah kalimat sederhana yang bahkan tidak sempurna EYD nya, namun dapat mengembalikan semangat dan gairahku (lebay*mode on).


Hanya dengan sebuah ungkapan “ tenanglah, semua akan terlihat indah pada waktunya”, rasa krisis kepercayaan diriku bisa berkurang dan menghilang (meskipun kadang dengan malu-malu dia datang lagi).


Tadi sekilas aku teringat kalimat itu, dan segera saja kutanyakan pada assisstenku yang selalu siap sedia kapanpun aku membutuhkannya “Mr. Google”, apa dan darimana sebenarnya kalimat itu muncul sehingga terlihat sederhana tetapi berkesan mendalam.

Seperti biasa, assisstenku Mr. Google itu selalu saja memberikan keterangan yang melebar. Setelah aku buat mengkerucut, ternyata ada beberapa kunci yang bisa aku simpulkan sendiri.


Kalimat sederhana tetapi kuat itu, rupanya berasal dari sebuah bacaan saudara-saudaraku yang berkeyakinan lain. Bacaan aslinya :

"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."


Dan setelah aku lihat lagi, ternyata ada juga lagunya yang dinyanyikan dalam dua versi (lirik2 di atas_red). Lagu yang pertama dinyanyikan oleh Delon feat Irene dengan video klip berlatarkan kampus. Lagu yang kedua dinyanyikan oleh Feby Febiola feat Wawan dengan vvideo klip bertalarkan Samosir.


Aku menyukai kedua lagu itu, karena keduanya dilantunkan dengan merdu dan menyejukkan. Semoga aku dapat semakin mengerti dan memahami baris demi baris, lembar demi lembar kehidupan ini sehingga bisa menjalaninya dengan lapang dada. Karena aku akan selalu mencoba percaya, bahwa semua akan terasa indah pada waktunya….

Tony and Maureen Wheeler

Dua orang yang sangat mengispirasiku. Dua orang yang telah puluhan tahun yang lalu mewujudkan salah satu dari daftar mimpiku. Mereka sukses dengan hebatnya menjadikan acara jalan-jalan sebagai sumber penghasilan.

Mungkin aku tergolong terlambat dalam mengetahui keberadaan dua orang hebat itu di muka bumi ini, karena aku baru tahu seluk-beluknya awal tahun ini. Ketika sedang melihat-lihat buku di toko buku besar yang ada di pusat kota, “Dia” menyodorkan buku berwarna biru dengan gambar sampul berupa foto dua orang bule.

“apaan itu??” tanyaku.
“ Cob abaca ini. Cocok banget sama mimpimu.” Katanya
“ tentang apa??” kebiasaanku malas membaca dan lebih memilih mendapat kesimpulannya dulu kumat lagi.
“ Tentang bule yang jalan-jalan, terus mendokumentasikan perjalanannya dan dijadikan buku panduan perjalanan. Kalau kamu jalan-jalan ke tempat wisata di dunia yang banyak dikunjungi bule-bule, pati mereka pegang buku ini sebagai panduan. Waktu aku di Angkorwat juga iya, semua bulenya pegang buku ini.tapi ini edisi cerita bagaimana usaha itu dimulai” Jelasnya panjang lebar.

Akupun langsung mengambil buku itu dan membaca ringkasannya. “The Lonely Planet” memang ternyata buku itu adalah buku yang menginspirasiku. Langsung deh aku beli satu buku itu. namun sayang, sampai saat ini aku masih belum bisa menyelesaikan membaca buku itu. ada saja alasan untuk tidak jadi menuntaskan buku itu.

Tony and Maureen Wheleer memang merupakan pasangan yang dahsyat sekali menurutku. Dari seorang backpacker yang hidup pas-pasan, kemudian menjadi konglomerat dengan mendalami hobinya.

Apakah suatu saat nanti aka nada Wilis Juharini yang sanggup seperti itu?? hehehhee

Tuesday, June 23, 2009

Antara lelaki itu, Wanita itu, dan Kami

Aku bertemu mereka dalam waktu yang berbeda. Dengan lelakinya (kita akan panggil “lelaki”), aku bertemu 5 tahun yang lalu, sedangkan dengan wanitanya (kita akan panggil “wanita”) aku bertemu 4 tahun yang lalu. Sebuah waktu yang tidak sebentar sebenarnya. Aku bertemu mereka saat mereka masih sendiri-sendiri. Karena kebersamaan dalam setiap kegiatan dan acara, kami semua menjadi keluarga. Bersama dengan saudara-saudara yang lainya tentunya.

Sekitar 2 tahun yang lalu, ketika kami semua masih menyukai pergosipan dan belum naik tingkat perfaktaan seperti sekarang ini, ada berita atau desas-desus yang mengatakan bahwa mereka telah menjalin hubungan. Namun entah mengapa, tak ada satupun dari mereka yang mengakui hal itu.

Mereka selalu menghindar jika ditanya mengenai hubungan mereka. Sungguh bukan sifat dasar kekeluargaan yang kami bangun selama ini.

Ada beberapa saksi kunci yang melihat bagaimana mereka menjalin hubungan di belakang kami semua. Hehehe…..mungkin mereka memang menyukai sesuatu yang berjalan di belakang, sehingga terasa lebih menantang.

Saudaraku yang hitam, cerewet, dan otaknya selalu penuh dengan hal-hal yang nggak jauh-jauh dari selangkangan (istilah untuk hal2 porno dan jorok_red) kita akan memanggilnya “si hitam”, pernah pergi bersama mereka dalam sebuah survey kecil. Mereka membawa tenda yang digunakan bersama. Kebetulan sewaktu tidur, si hitam itu mengambil tempat di tengah, diantara kedua orang itu. entah bagaimana caranya, tengah malam dia terbangun. Saat itu dia merasakan adanya gerakan-gerakan di samping kanan kirinya. Diapun menyimak dengan seksama, apa yang terjadi saat itu. semakin lama pergerakan2 itu semakin ritmis dan menuju ke satu arah, yaitu bagian atas kepalanya. Dan tanpa di duga tanpa dinyana, si hitam akhirnya mendengar suara yang sangat tidak asing buatnya (karena diapun sering membuat bunyi2 semacam itu_red).

“mmmmuuuuaaacccchhhh….”
“ astaga, apa yang sedang terjadi di atas kepalaku ini???” Tanya si hitam dari dalam hati.
Setelah “insiden suara” itu, si hitam mengaku tidak bisa tidur. Selain jadi memikirkan apa dan siapa yang sedang mabuk ini, dia juga merasakan bahwa gerakan-gerakan itu masih saja terus terjadi.

Pada akhirnya dia merasakan bahwa wanita itu memelukkan tangannya di perut si hitam. Hampir saja si hitam itu terharu karena dipeluk seorang sahabat, jika saja tidak segera menyadari bahwa ternyata ujung tangan wanita itu berada di tangan lelaki itu. hwaaaaaa…..
Akhirnya, pagi pun menghampiri mereka semua. Karena harus begadang malam itu, si hitam bangun paling akhir. Dan ketika matanya sudah terbiasa dengan cahaya terang dalam tenda itu, dia menyadari bahwa dia tinggal sendiri. Diapun berniat keluar untuk sekedar mencuci muka melalui pintu belakang tenda. Saat menjulurkan kepala keluar, kembali lagi dia dihadapkan pada kejutan pagi hari.

Dia melihat si lelaki itu berdiri memandang kea rah sungai. Dan wanita itu berjalan dari belakangnya, dan langsung memeluk si lelaki dari belakang. Mereka terlihat sangat romantic…. Mungkin kalau si hitam itu adalah “fitri tropika”, maka dia akan segera berteriak :
“ooohhhh…..so sweeeetttt…..romantic…” hehehe
Dan si hitampun tak dapat bicara, dan memlih untuk masuk kembali ke peraduan sambil tersenyum2 karena banyak sekali bukti/fakta yang akan bisa dibagi dengan saudara-saudara yang lainnya.

Fakta-fakta kecilpun terungkap setelah kejadian yang kami sebut dengan “tenda bergoyang” itu. tetapi dari sekian banyak fakta, ada satu fakta yang sangat penting karena akibat yang ditimbulkan dari fakta itu masih ada sampai hari ini.

Saat itu, aku dan saudaraku yang tak kalah hitam dan tak kalah cerewet dengan si hitam sedang berjalan2 ke sebuah kota. Sebutlah namanya si hitam 2. Kami pergi selama beberapa hari dan sempat tinggal di rumahku juga. Saat hari sudah menjelang akhir kepulangan kami, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di pusat kota membeli oleh-oleh. Dengan naik motor, kami keliling kota dan akhirnya mentok di pusat perbelanjaan.
Rupanya saat itu memang musim liburan, sehingga pusat kota itu sangatlah penuh sesak. Parkir penuh dimana-mana. Orang2 berjalan kaki di kanan kiri jalan. Akhirnya kami mendapatkan tempat parkir. Si hitam 2 pun turun dan aku berusaha menyelipkan motorku di barisan motor-motor lainnya.

Sekilas lalu, aku melihat sosok yang aku kenal. Tanpa piker panjang dan tanpa mempertmbangkan apakah itu benar dia atau bukan, aku langsung berteriak “lelaki…….” Hahaha….sampai2 pak parkir ikut kesulitan membantuku memarkir motor karena terlalu terburu-buru.

Si hitam 2 kebingungan melihat aku berteriak nggak jelas begitu. Namun setelah melihat apa yang telah membuatku berteriak, diapun ikut-ikutan berteriak. Aku melihat sewaktu berjalan, lelaki itu bersama dengan orang lain. Dan ternyata setelah kami hampiri, orang itu adalah si wanita. Hayyoooo……liburan ke luar kota ya???

Apa yang terjadi setelah itu, bukan merupakan hal yang mengenakkan akibatnya. Oleh karena itu, tidak akan aku ceritakan. Hehehe….