Wednesday, June 24, 2009

Ketika Jarak dan Waktu Memisahkan Kita, Maka Perpisahan Membentang di Depan Mata

Aku berjalan sendiri di jalanan kayu yang disusun rapi menjadi sebuah jembatan panjang. Samping kanan kiri jalan adalah rumput alang-alang setinggi pinggang yang mulai menguning, dengan latar belakang gunung tinggi yang menjulang. Bayangan sinar matahari yang tertutup awan menimbukan kesan cantik yang berselang-seling. Ingin rasanya aku abadikan pesona alam itu banyak-banyak dalam kameraku. Namun sayang, aku baru menyadari kalau aku tidak membawa kamera kesayanganku itu.


Aku terus berjalan menyusuri jalanan itu. Jalanan yang seolah tidak asing dimataku. Serasa déjà vu, aku berusaha mengingat dimana kiranya aku pernah melihat pemandangan seindah ini. Aku juga tidak memahami kenapa jalanan seindah ini sepi dari orang. Kuikuti terus titian kayu ini, karena aku merasa penasaran dengan ujung dari jalan ini. Akan dibawa kemana aku jika terus mengikuti jalanan ini??


Lama berjalan, akhirnya aku melihat ada orang lain didepan sana. Dengan setengah berlari aku mengikuti dan berusaha mengejar orang itu. Entah karena kekuatan lariku yang sangat di bawah rata-rata atau mereka yang berjalannya terlalu cepat, rasanya aku tidak mampu menggapai mereka. Aku berteriak untuk memanggil mereka, namun sepertinya mereka tidak bisa mendengar suaraku.


Ternyata di depan sana banyak orang. Maka aku mempercepat jalanku. Setelah sampai di kerumunan orang yang sama-sama bergerak maju ke satu arah itu, aku bertanya ada acara apa di sini. Tapi tak seorangpun mau menjawabku. Mereka hana menatapku dengan heran, kaget atau lebih tepatnya kasihan. Kenapa mereka melihatku seperti itu??tanyaku dalam hati.


Karena tak satupun dari mereka mau berbicara denganku, maka aku ikuti saja arus kemana mereka berjalan. Semakin lama semakin banyak orang yang bergabung dibarisan itu. Disela-sela orang yang tidak aku kenal, aku bisa melihat beberapa orang yang sangat aku kenal. Ketiga sahabatku dari SMU, teman-teman kuliahku, dan beberapa orang dari masa laluku.


“Kenapa mereka ada disini??apakah mereka saling mengenal??”tanyaku dalam hati.

Aku berteriak memanggil mereka, namun mereka sepertinya tenggelam termakan barisan orang-orang itu. Sekuat tenaga aku berusaha bergerak ke arah mereka. Begitu aku sudah mencapai ketiga sahabatku, aku bertanya kepada mereka tentang tujuan mereka di tempat ini.


Bukan menjawab, mereka malah menatapku dengan tatapan yang sama dengan orang-orang yang pertama tadi aku temui. Salah satu sahabatku memegang pundakku sambil berusaha tersenyum. Namun hanya senyum kesedihan yang aku temui disana. Ada apa dengan semua ini?? Kenapa semua serba membingungkan?


Namun sebuah suara dalam kepalaku mengatakan, ikuti saja kemana mereka berjalan. Mungkin mereka hanya berusaha memberikan kejutan padaku. Dengan rasa penasaran yang menumpuk, akupun mengikuti arus itu.


Tiba-tiba terdengar sayup-sayup musik jawa dimainkan. Aku mengenal sekali musik itu sebagai musik pengiring pernikahan adat jawa. Rasa penasaranku kembali memuncak, siapakah yang menikah hari ini?apakah saudaraku, temanku, atau siapa?ataukan aku lupa untuk membaca undangan temanku?


Barisan yang awalnya berantakan itu mulai merapikan diri dengan antrian satu-satu. Rupanya didepan ada acara salaman dengan penerima tamu. Benarlah dugaanku bahwa aku sedang mendatangi pesta pernikahan, hanya saja aku belum mengetahui pernikahan siapa. Sepertinya giliranku untuk bersalaman dengan penerima tamu sudah dekat, namun karena orang-orang didepanku tinggi-tinggi, aku tidak bisa melihat kea rah depan.


Betapa kagetnya aku ketika aku mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan penerima tamu yang pertama. Dia adalah kakak perempuan lelaki itu. Dia juga tampak terkejut melihatku di depannya. Aku bersalaman sambil bertanya,

“mbak, siapa yang menikah ini?”tanyaku.

Namun dia tidak menjawab, justru dia tersenyum sedih dengan mata berkaca-kaca menatapku. Melihatnya seperti itu, aku jadi ingin melihat penerima tamu yang lain. Kupalingkan kepalaku menuju para penerima tamu yang lainnya. Rupanya mereka adalah kakak ipar, ibu, dan ayah lelaki itu. Aku semakin penasaran. Semua orang itu menatapku dengan tatapan sedih.


Dengan terburu-buru aku menyibakkan barisan dan mendahului untuk sampai ke depan pelaminan. Serasa jantungku lepas dari tangkainya manakala aku melihat siapa yang duduk di pelaminan itu. Rupanya dia yang telah menikah dengan perempuan yang tidak aku kenal. Aku tidak bisa berkata-kata, dan diapun terkejut melihat aku.


Tanpa sadar aku melangkah ke depan menuju pelaminan. Aku yakin semua mata sedang mengarah pada kami. Perlahan aku melangkah sambil terus menatapnya dan pasangannya yang telah berdiri. Setelah aku berhadap-hadapan dengannya, aku hanya mampu mengucapkan sepatah kata,

“kenapa?”tanyaku. Perlahan namun jelas terdengar di telingaku dia berkata,

“Maafkan aku…”. Tiba-tiba semua berputar seolah aku sedang melewati lorong waktu. Lalu dunia terasa gelap, dan aku tak sadarkan diri.


Kubuka mataku perlahan-lahan karena rasanya seluruh tubuhku baru saja dihimpit batu besar, sakit sekali. Entah bagian mana yang sakit, namun sungguh terasa sakit sekali. Setelah terbiasa dengan keadaan di sekelilingku, aku kembali terheran-heran. Aku merasa sangat mengenal ruangan tempat aku berbaring, dan kemana perginya orang-orang tadi?kemana dia?


Aku meraih gelas yang di sediakan di meja dan buru-buru aku reguk semua isinya. Rupanya dingin air putih yang masuk ke tenggorokanku mampu menyadarkan aku dari kelinglungan. Aku kembali menyadari bahwa aku masih berada dikamarku tercinta. Dan aku mengerti bahwa yang baru saja aku alami adalah sebuah mimpi buruk. Badanku terasa dingin sekali. Rupanya peluh sudah benar-benar menghabiskan ruangan kering pada baju yang aku pakai.


Langsung saja aku mengambil gagang telpon yang ada di atas meja. Ku tekan nomor yang selama 4 tahun ini selalu berada di urutan pertama dalam daftar otakku. Lama tak ada yang mengangkatnya. Aku coba lagi sampai beberapa kali, masih juga tak ada yang mengangkat. Sampai berkali-kali aku menekan tombol redial, tapi tetap saja dering telpon diseberang sana nyaring mengambang.


Aku merenung di pinggir ranjang, memikirkan apa yang baru saja aku alami. Apa gerangan arti mimpi itu? Benarkah dia menikah dengan wanita lain? Tapi kenapa tidak ada yang memberitahu aku? Apakah dia memang sudah menjadi milik orang lain?Kulirik jam dinding dan rupanya baru pukul 4 pagi. Ku ambil handuk dan baju ganti, lalu aku mandi sambil memikirkan dan mengira-ira apa arti dari mimpi burukku tadi.


Untuk dia, dan untuk mereka yang telah ditinggalkan, akan ada hari esok yang lebih baik.
Tapi sangat penting bagi kalian untuk mencintai hari ini......

No comments: