AKU
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
Aku menyukai puisi ini. Puisi pendek, sederhana, namun penuh dengan makna. Seringkali aku menemukan deretan tulisan ini di buku-buku kecil, dimana satu buah foto tertempel manis di sampul depannya. Sayangnya, bukanlah buku harian atau buku saku yang selalu saja menyimpan sajak manis ini. Di atas foto itu, pasti saja ada tulisan :
“rest in peace”, “RIP”, “telah berpulang ke rahmatullah”, atau “mengenang kesekian harinya…”.
Tetapii hal itu wajar saja terjadi, karena memang isi dari puisi ini sangatlah cocok dengan kematian dan kepergian seseorang. Sedih memang, tapi harus kita terima.
Aku menyukai puisi ini. Bahkan di dalam buku hariankupun, aku tulis semua bait puisi ini dengan lengkap.
Semua orang akan sampai pada saat itu, saat dimana kita harus pergi, kemanapun…. Dan jika waktu itu datang, maka tak akan ada satu orangpun yang dapat menahan kita, merayu kita, ataupun memaksa kita untuk tetap tinggal.
No comments:
Post a Comment