Wednesday, June 3, 2015

Merasa Malu Sendiri

Jadi ceritanya weekend kemarin kami Keluarga Nala ini jalan-jalan ke curug lagi. Tapi kali ini arahnya beda, bukan ke arah Gunung Bunder, tetapi ke arah Puncak sana. Nama Curug nya Curug Cilember. Cerita perjalanannya nanti aku post di sumurdapurkasur aja ya... Udah lama nggak nyetorrr... Semangat setor nya ikut neng Safi pelatihan. hahahaha #ngeles

Yang mau aku ceritain disini sih lebih ke pengalaman spiritual pribadi yang aku rasakan ketika melihat sesuatu. Sedih, terharu, dan ujungnya adalah malu. Lebih ujung lagi adalah aku kekenyangan. Haiyah...

Gambar dari sini
Jadi lagi, ceritanya waktu itu kami tiba pas banget pas waktunya makan siang. Ya udah, akhirnya kami memutuskan untuk mengisi perut dulu diwarung sebelum bergerak ke air terjun. Kata anak-anak mapala kan logika nggak jalan tanpa logistik. :-p

Akhirnya kami masuk ke sebuah warung yang dulu waktu pacaran kami datangi juga. Memesan gado-gado dan es jeruk untuk si Ayah, dan Mie telur sama Jeruk panas buat si Bunda. Buat Denok K? Dia kan pasti minta mie telor nya bunda bawa bekel komplit, jadi nggak dipesenin.

Ditengah keasyikan kami menunggu makanan, makanan datang, dan akhirnya menyantap makanan, terlihat seorang bapak sepuh yang terseok-seok mengangkut 4 kardus air mineral. Rupanya si bapak menyetor air mineral ke warung itu. Akupun bertanya pada si Ayah, "Itu si Bapak bawa dari bawah yah?" dan di jawab "Iya". Terbayang aku yang hanya membawa back pack isi baju ganti dan bekal sambil nenteng tas perbekalan saja sudah engap nya iyyuhh ampun, dan si bapak itu membawa 4 kardus air mineral?

Setelah meletakkan bawaan nya, Bapak itu beristirahat sambil kipas-kipas menggunakan topinya... Tak lama es jeruk dihidangkan oleh Ibu Warung. Dan kemudian menyusul Mie Telor.

Dengan sudut mataku, kuperhatikan si bapak. Aku jadi ingat bapak ku di kampung. Memang sih bapak ku di kampung tidak harus memanggul kardus air mineral, tetapi aku tahu beliau juga memanggul banyak beban.

Saat aku asyik memperhatikan si bapak, Denok K mulai bosan dan minta jalan-jalan. Karena si Ayah menyudahi makannya ditengah jalan karena gado-gadonya kepedesan sudah cukup kenyang, maka Ayah dan Denok K berjalan meninggalkanku dengan mie telor tanpa telor telornya habis sama Denok K yang ngepul-ngepul.

Gado-gado Ayah sih menggoda, tapi kan aku sedang program mengurangi makan. Eits... tapi koq ketika sudut mataku kembali melihat si Bapak yang duduk menikmati mie nya, aku jadi malu. Aku malu punya pikiran untuk membiarkan gado-gado itu terlantar. Aku malu sempat merasa acuh pada makanan yang kami pesan. Dan malu ku semakin bertumpuk mengingat berapa banyak makanan yang kami sisakan ketika makan.

Kenapa tiba-tiba aku jadi malu?
Entahlah... Mendadak begitu saja rasa malu itu datang. Mungkin saya sedang insyaf. Aku merasa malu karena si Bapak yang sudah sepuh itu, masih bekerja sedemikian kerasnya. Untuk apa? pasti untuk menghidupi keluarga, dan memenuhi kebutuhan mereka. Bapak yang sudah sepuh itu masih bekerja dengan kerasnya untuk bisa membuat keluarganya bahagia dan berkecukupan. Sedikit banyak rejekinya adalah hasil dari perasan keringatnya.

Sedangkan aku? kami? yang muda yang belum banyak pengalaman ini, masih belajar hidup, masih belajar bekerja, masih belajar berkeluarga, tapi sudah menyia-nyiakan rejeki yang diberikan Tuhan melalui makanan. Mungkin si Bapak itu sering melihat anak berkelakuan seperti aku, dan apa komentarnya ya? Mungkin "anak-anak muda jaman sekarang, kurang menghargai usaha" atau yang lainnya? Entahlah...

Mungkin jika bapak ku melihat juga akan merasa malu? Anaknya tidak bisa menghargai rejeki yang didapatnya dengan cukup mudah, sedangkan orang lain mengusahakannya dengan susah payah? Mungkin saja....

Yang jelas perjumpaan tidak langsungku dengan si bapak ini benar-benar membuatku merasa malu. Mudah-mudahan aku dan keluargaku bisa menjauhi kebiasaan buruk itu. Mudah-mudahan kami semua bisa menjaga perasaan Bapak dan semua bapak di dunia agar tidak merasa malu dan sedih karena tingkah anak-anaknya.

Anakku, mudah-mudahan suatu saat, dimanapun kamu berada, kamu selalu membawa kami, Ayah dan Bundamu dalam setiap langkah dan semangadhmu. Sehingga bisa menjadi batas kebaikan yang bisa kamu andalkan setiap waktu. Sehingga kamu tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang sekiranya akan membuat keluargamu malu.

Cerita ini hanya satu dari ribuan cerita yang ingin aku ceritakan padamu nak... Karena kami mencintaimu dan ingin bersamamu selamanya baik didunia maupun di kehidupan setelah dunia. Letakkan orang tuamu di setiap langkahmu... :-)

No comments: