Tuesday, June 9, 2015

Etika Berkomunikasi

Rencana sih mau nyetor tulisan di sumurdapurkasur. Tapi gegara kemarin komputer gegar otak, dan nggak nemu lagi email dari admin yang satunya lagi, jadilah aku tidak bisa login ke blog. Padahal lagi semangadh2 nya nulis ini. Ya sudahlah... sepertinya saya lapar jadi nyarinya nggak bener. Sementara tulis sini aja dulu nggak papa.

Ceritanya adalah...

Pagi ini aku dan mas bojo sedang asyik berbincang dan berdiskusi mengenai salah satu etika bekerja dan berhubungan dengan orang lain. #gaya bener

Kami sepakat dan sependapat bahwa bagaimana etika kita dalam bekerja dan berhubungan dengan orang, sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat kita bekerja dan dengan siapa kita bekerja.

Salah satu contoh kecilnya adalah dalam berkomunikasi. Komunikasi disini bisa saja melalui berbagai macam media. Bisa by handphone, email, atau semua moda komunikasi.

Pengalaman yang sama yang mas bojo dan aku alami adalah: Sering sekali orang yang kita kirimi berita, tidak merespon dengan baik berita yang kita kirimkan. Arti merespon dengan baik disini bukan berarti mendukung atau tidak mendukung, atau semacamnya. Tetapi ini hanya pada apakah mereka membacanya saja, membaca dan memberi tahu/tanda bahwa mereka sudah membacanya, tidak membacanya, atau mereka tidak menerimanya?

Kapi sepakat bahwa kebanyakan dari orang, mereka hanya membaca saja tanpa memberi tahu/tanda bahwa mereka telah membaca berita itu. Sebagai gampangnya, misalkan kita menggunakan aplikasi WhatsApp atau BBM, maka pesan kita hanya di read saja. Jadi kita tahu bahwa orang itu sudah membaca, namun tidak ingin memberi tahu/memberi tanda pada kita bahwa mereka telah membacanya. Lain halnya dengan email. Susah mengetahui apakah pesan kita sudah terbaca atau belum.

Terkadang aku heran dengan hal ini. Kenapa ya orang bisa mengacuhkan begitu saja pesan yang masuk dari orang lain? Padahal kan mudah saja memberi tahu/tanda kalau kita sudah membaca pesannya. Misalkan saja kalau di WA atau BBM dengan menjawab OK misalkan? atau kalau malas bilang OK, bisa dengan salah satu emoticon yang ada. Atau kalau memang tidak bahagia dengan pesan yang diterima, bilang saja kalau tidak suka dengan pesannya. Lha kan setidaknya si pengirim jadi tahu bahwa kita tidak suka dengan pesannya.

Email juga begitu sepertinya. Banyak yang suka menahan email sebagai hiasan inbox nya. Untuk apa? Entahlah. Jika saja si penerima email memberikan tanggapan meskipun hanya sekedar "saya sedang sibuk, akan saya baca nanti" atau bahkan mungkin "saya tidak tertarik" begitu pun juga boleh. Setidaknya orang yang mengirim tau bahwa email kita sampai ditangan mereka. Entahlah... Mungkin mereka belum pernah bertemu dengan Bu Sa** (bosku). hahahaha.

Oh iya... Ada lagi satu fenomena yang acapkali terjadi dan aku alami. Ketika janjian untuk bertemu. Yang paling membuat aku heran seheran2nya adalah, ketika orang sudah berjanji untuk bertemu, tetapi sampai dengan bertahun2 kemudian tidak ada satu katapun terucap perihal janjian itu. Hahaha... #miris.

Maksudku begini...
Beberapa kali aku alami juga. Kami berjanji untuk bertemu disuatu tempat pada suatu masa. Sampai dengan H-1 adem ayem tidak ada pembatalan, jadi tidak salah kan kalau kita berasumsi bahwa pertemuan tetap dilakukan? Hari H pun tiba. Sampai pada jam yang telah di janjikan, tidak ada kabar pembatalan. Ok. mungkin mereka terlambat. Kan memang sulit hidup menjadi orang tepat waktu diantara orang2 yang tidak tepat waktu (hahahhaa). Satu jam berlalu, seperti pacarku kalau janjian suka telat sejam. Dua jam berlalu, seperti saudaraku kalau telat 2 jam. 3 jam, 4 jam, sehari, dua hari, dan seterusnya sampai mungkin bertahun2 setelahnya. Hahahahhaa...

Yang mengherankan adalah:
Seberapa sulitnya mengatakan bahwa "Su, sorry ya pertemuan batal. Gw gak nafsu ketemu elu", misalkan. Atau "Njing, males ah ketemu elu. Nggak menaril". Atau bisa juga "Aduuh... maaf yaaaa... aku tiba2 begini2 dan begitu2... mendadak ini itu.... si ini itu si itu ini....". Toh contoh pesan2 itu bisa saja dituliskan beberapa hari sebelum Hari H, beberapa menit sebelum Hari H, atau bahkan pun ketika sudah terlambat dari waktu yang di janjikan. Ya sudahlah.... mungkin mereka juga lapar. :-p

Mungkin orang2 yang terbiasa melakukan hal2 tersebut diatas memang tidak terbiasa berada/berhubungan dengan orang tepat waktu, atau orang yang punya jadwal aktivitas harian. Jadi menurut mereka, santai ajalah membuat orang menunggu atau menghabiskan waktu mereka buat nunggu. Toh mereka yang ditunggu juga begitu. Hahaha... sungguh miris terkadang kalau memikirkan hal ini. Terkadang itu membuat malas untuk kembali berjanji temu. Biasanya kalau sudah pernah berpengalaman buruk seperti itu, dan di undang lagi untuk bertemu, aku hanya bisa bilang "ya, mudah2an nggak ada halangan dan bisa sambil mengagendakan acara kesana". Jadi kalaupun janji temu batal lagi, aku tidak akan merasa rugi. Kan cuma agenda sampingan saja. hahahhaa #licik

Apakah aku dulu begitu? Entahlah.... Sudah lupa. Tapi kalau mas bojo mengakui bahwa dulu dia pernah berada pada masa seperti itu. Tetapi karena mendapat dorongan dari teman kerjanya, maka perlahan dia tidak lagi begitu. Mudah2an semakin baik kedepannya ya mas bojo... :-)

Aku ingat sekali pernah ngobrol dengan teman kerjaku dulu mengenai hal ini. Temanku itu berkata:
Kalau saya, kalau ngasih kerjaan ke orang, lebih senang kalau diberitahu bisa atau enggaknya, terus dikerjain. Meskipun salah, tidak apa2. Daripada tidak dikerjakan atau diam saja. Kalau dikasih tau bisa atau tidak, terus dikerjakan tapi salah, kan mudah. Saya tinggal bilang untuk kerjakan ulang. Tapi kalau didiamkan saja atau tidak dikerjakan, kan saya jadi tidak tahu juga harus bagaimana. Marah atau apa?

Sampai sekarang, kata2 itu selalu aku pegang sebagai dasar bekerja. Thanks Mbak Am***a. :-)

Ayo teman2... Kalau ada yang mendapatkan pesan dari orang lain baik di sms, wa, bbm, line, email, atau apapun itu jenis nya, luangkan lah waktu beberapa detik untuk membalasnya. Biarkan orang yang mengirim merasa senang, karena membuat orang merasa senang kan mendapat pahala kan ya?

Dan belajar menempatkan diri di posisi orang lain juga baik. Keren nya sih katanya "always put yourself in other shoes" gitu... :-p

Kalau dari postingannya #dagelan yang aku baca hari ini, ada satu yang menarik dan cocok untuk tulisan ini. Bunyinya:
The Raid Dua emang sadis sih...
Tapi...
Di Read Doang jauh lebih sadis...

Salam Damai dan Saling Menghargai! Aamiin :-p

No comments: