![]() |
| Photo Bapak Penjual Tahu dari Sini |
Ceritanya si Fulan ini adalah seorang laki-laki, beristri dan beranak. Dia orang yang cerdik pandai berpengalaman dan pintar bicara. Setiap orang yang berbicara dengannya, akan mudah terhanyut kedalam ceritanya.
Dia menjalani hidup dengan sangat indahnya. Istri cantik, anak pintar, dan keluarga bahagia. Dia tidak pula harus menjadi tulang punggung keluarga, karenanya hidupnya pun semakin mudah dan indah. Dia bisa melakukan segala hal yang bisa membuat orang lain berdecak kagum atau sedikit banyak iri padanya. Setiap tindakan dan keputusannya adalah atas nama nya sendiri. Tidak ada keluarga yang harus di jadikan beban, karena ada orang lain yang sudah bertanggung jawab akan hal itu. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan wahai Fulan...
Si Abdul beda ceritanya...
Abdul adalah seorang laki-laki yang juga beristri dan beranak. Dia orang yang biasa saja, tidak suka menonjolkan apa yang dia bisa. Dan dia menjalani hidup dengan biasa. Dia adalah tulang punggung keluarga, sehingga dia merasa bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup keluarganya. Karenanya, dalam setiap langkahnya, selalu ada keluarga di belakang nya. Setiap keputusan adalah atas nama keluarga. Terpujilah engkau Abdul...
Ceritanya, pada suatu hari si Fulan dan si Abdul bertemu di sebuah ruangan, untuk membicarakan Sapi.
Fulan: Punya siapa sapi ini?
Abdul: Punya kita. Kita yang membeli dan memeliharanya.
Fulan: Apa yang sapi ini berikan pada kita?
Abdul: Kita membeli dan memeliharanya sekian lama, maka dia adalah bagian dari keluarga kita.
Fulan: Macam apa itu... Kalau dia tidak bisa memberikan apapun pada kita, untuk apa kita pelihara dia? Kita jual saja. Atau kita sembelih untuk makan.
Abdul: Tega sekali engkau wahai Fulan. Sapi ini adalah bagian dari kita. Kita tidak bisa menghilangkannya begitu saja. Kita harus terus memeliharanya.
Fulan: Hidup ini adalah untung dan rugi. Kalau tidak memberi untung, hanya akan merugikan.
Abdul: Aku sudah menganggapnya sebagai keluargaku.... Setega itukah engkau merebutnya?
Fulan: Aku bisa mengganti sapi ini dengan sapi yang lebih baik. Bahkan kalau perlu engkau juga bisa kugantikan dengan yang lainnya....
Abdul: Aku punya keluarga, yang harus kuhidupi dan harus kuperhatikan. Aku masih membutuhkan susu sapi ini.
Fulan: Itu bukan urusanku. Itu urusanmu sendiri.
Abdul: Baiklah... Terserah saja apa maumu. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Toh engkau memang tidak tahu rasanya bertanggung jawab pada keluarga. Kau tidak mengenal rasa susah menanggung beban keluarga. Kau tidak tahu bagaimana rasanya menghidupi keluarga. Percuma saja aku menentangmu. Hatimu tidak hidup kawan...
Dan Abdul pun berpisah dengan Fulan saat itu dengan segudang rasa kecewa. Fulan yang memang tidak mengetahui bagaimana rasanya menjadi tumpuan hidup keluarga, tidak merasakan kegalauan Abdul. Sedangkan Abdul merasa satu beban bertambah di pundaknya.
Begitulah kisah si Fulan dan si Abdul kali ini.
Sebagai pelajaran, bahwa laki-laki ditakdirkan agar menjadi pencari nafkah untuk keluarga, agar dia bisa merasa bertanggung jawab lebih. Tidak hanya bertanggung jawab pada keluarganya sendiri, tetapi juga kepada orang-orang yang berkeluarga. Agar dia tidak bersikap sewenang-wenang dan sembrono. Kasihan orang-orang seperti Fulan. Tidak memiliki hati seluas pencari nafkah, dan tidak memiliki empati sedalam pencari nafkah. Karena dia tidak pernah merasakan sulitnya kehidupan menempa para pencari nafkah keluarga.
Untuk semua pencari nafkah bagi keluarga di luar sana, mudah2an Tuhan senantiasa melapangkan rizky kalian, melonggarkan jalan kalian, dan melancarkan setiap rencana kalian. Serta di jauhkan dari orang-orang seperti Fulan. :-p

No comments:
Post a Comment