Tuesday, June 16, 2015

Selamat Datang (Lagi) Ramadhan

Ramadhan sudah di depan mata....

Jaraknya hanya tinggal seruangan rapat penentuan Hilal di Jakarta sana. Setelah keputusan diumumkan, maka kita semua akan memasuki Bulan Ramadhan, bulan suci penuh ampunan.

Kemeriahan Ramadhan selalu saja tidak bisa dielakkan. Mulai dari iklan sirup yang mulai berseliweran di televisi, undangan untuk cucurag (makan bersama sebelum memulai puasa), dan beredarnya broadcast minta maaf lahir batin dari keluarga dan teman kita.

Picture taken from here
Banyak hal baru yang aku rasakan menuju Ramadhan kali ini. Salah satunya adalah Ramadhan kali ini kami akan jalani di rumah kami sendiri. Dirumah teko kopi kami. Alhamdulillah... Ramadhan kali ini juga terasa berbeda untukku karena ini adalah kali pertama aku akan kembali berpuasa setelah 2 tahun absen karena hamil dan menyusui. Rasanya sedikit mendebarkan dan menyenangkan. Selain itu Ramadhan kali ini kami jalani di lingkungan baru dengan orang-orang dan kebiasaan yang baru, yang banyak berbeda dengan tahun lalu.

Tahun lalu, kami masih di kontrakan, dengan tetangga dekat yang banyak sekali. Kamipun sibuk bagi-bagi jadwal buka sahur satpam, buka bersama, bazar, dan lain-lain. Tahun ini, kami di rumah sendiri, dengan tetangga dekat sedikit sekali, lebih banyak tetangga jauh. Kami masih mengatur jadwal buka sahur satpam juga. Hanya saja sekarang semua jadwal sudah ditentukan oleh PJ Ramadhan. Lebih simpel sih...

Beberapa hal baru masih perlu aku evaluasi. Sepertinya aku sedikit kesulitan menerima hal-hal baru ini. Maaf kalau jadi sedikit ngomel-ngomel disini. hahahahaa. Saya lapar... padahal puasa belum mulai #eh.

Satu hal yang berbeda dan aku sedikit tidak mengerti logika alasannya adalah sekarang untuk jatah buka dan sahur petugas keamanan, tidak boleh diberikan dalam bentuk uang. Waktu aku iseng bertanya kenapa begitu, katanya alasannya adalah jika diberikan dalam bentuk uang, takutnya uangnya dibelikan rokok, bukan untuk makanan berbuka. Hmm.... Entahlah. Alasan yang sedikit aneh memaksa menurutku. Menurutku yang penganut hal-hal simple yang memudahkan hidup ini, untuk apapun uang itu mereka peruntukkan, adalah hak mereka. Kita yang memberi asal dengan niat ikhlas, sudah cukup. Tapi berhubung saya newbie disini, jadi saya menurut saja. Sambil pusing mencari cara bagaimana menyediakan makanan untuk para petugas keamanan ini. Maklum, nggak bisa masak.... :-p

Oh iya, satu hal lagi yang sedikit membuat hatiku gundah gulana gimana gitu. Berawal dari share informasi dari seorang tetangga di group WA komplek, mengenai daftar rumah makan yang buka selama Ramadhan. Kurang lebih begini obrolannya:

Ibu A: "Berikut adalah daftar rumah makan yang masih buka selama Bulan Ramadhan.........."
Ibu B: "Masih banyak yang buka ya.... (emoticon mendengus)"
Ibu C: "Iya mba... semoga yang punya warung makan masuk neraka. hihihihi...."
Ibu B: "Yang masak, yang jual, yang promosiin, yang beli, yang kerja di wartegnya,,, semoga diberi hidayah. Kirain hanya yang cepat saji saja yang buka saat ramadhan...malahan banyak warteg"

Dan akupun sedikit speechless.... WOW... dengan sok alim akupun menulis:
"Ya nggak papa buka asal ditutupi kain jendelanya kali ya mbak... dan bu .... Kan yang non muslim nggak puasa masih perlu makan. Kasihan mereka kalau semua tutup... (Ikon apa ya yang senyum terus nyengir dan keluar air mata kanan kiri itu lho)"

Eh, rupanya masih juga belum terima beliau2... Keluarlah contoh mulia dari si ibu yang katanya selalu berusaha menghormati keluarganya yang puasa dengan sembunyi2 kalau makan. Menyarankan untuk yang tidak puasa untuk lebih menghormati yang puasa dengan membawa bekal dari rumah. Dan ibu yang satunya berargumentasi bahwa yang kebanyakan makan adalah orang muslim seperti tukang becak, tukang ojeg, dll....

Jujur, saya tidak bisa menangkap logika yang sedang digulirkan. Jadi bingung saya... hehehe

Sepertinya si ibu B lebih setuju jika restoran cepat saji boleh buka tetapi warteg harus tutup. Apakah lebih baik orang kaya yang sudah punya restoran cepat saji saja yang bisa berlebaran dengan uang yang mereka kumpulkan selama bulan puasa, sedangkan pemilik warteg tidak usah mendapatkan penghasilan selama bulan puasa? Karena apa?

Kalau nanti ibu nya dibilang lebih mendukung kapitalis juga pasti nggak mau kaaannn....#kedipkedip.

Beliau menyontohkan betapa mulia beliau dengan sembunyi2 makan ketika keluarganya sedang puasa. Jadi kalau wartegnya di tutup gorden, terus yang makan disitu nggak kelihatan sama yang lain, bukannya itu hampir sama dengan usaha sembunyi2 yang ibu lakukan? Apakah tidak sama? Tunjukkan pada saya bu... saya mungkin tersesat.... :-p

Jika mayoritas yang makan di warteg adalah orang muslim seperti tukang becak, tukang ojeg, dll, terus kenapa? Tukang becak, tukang ojeg, dll itu adalah tumpuan keluarga yang sedang berusaha mencari rizky Allah agar bisa punya uang saku untuk mudik, atau untuk membelikan baju baru anaknya. Mereka bekerja, mereka tidak puasa, mereka merasa lapar, jadi mereka makan di warteg. Bagian mana yang salahkah? Apakah karena warteg buka jadi mereka merasa lapar? Sepertinya bukan... Apakah karena mereka muslim tukang ojeg dan tukang becak jadi tidak boleh makan di warteg? Menurut saya bukan juga...

Kalau boleh saya katakan, jika memang ibu mau sedikit adil terhadap keadaan, mungkin jalan yang bisa ibu lakukan adalah berbicara pada tukang ojeg dan tukang becak "Pak, bapak kenapa nggak puasa? Kan bapak muslim?"

Nah, jika ibu mau melakukan itu, menurut saya itu adalah tindakan yang benar. Karena dengan begitu ibu tidak melanggar apa2. Tidak memutus jalan rizky tukang warteg beserta dengan pekerjanya, tidak mengutuk mereka masuk neraka, tidak melanggar hak asasi manusia, karena ibu sekedar bertanya. Nanti ibu akan tahu jawabannya dari bapak2 pencari rizky halal itu. Tapi ibu juga tidak boleh langsung marah dan menarik urat tinggi ketika mereka bilang tidak puasa karena satu dan lain hal. Menurut paham sederhana saya, yang perlu di ingat adalah Puasa itu hubungan antara Manusia dengan Tuhan - Nya. Itu lebih kepada ujian tingkat keimanan dan ketaqwaan kita  kepada Tuhan kita. Disiplin menjalankan puasa, mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, tanpa ada polisi yang akan menangkap/mencambuk kita, bukan hal yang mudah bukan? Nah, biarkan itu menjadi hubungan dan komunikasi kita masing2 kepada Tuhan kita.

Seperti yang Ustadzah siapa waktu itu yang kita undang untuk memberikan materi pada waktu pengajian rutin bulanan itu lho bu... Kan kata beliau, tugas kita sebagai manusia itu, selain menjalankan semua perintah-Nya, juga menjauhi larangan-Nya. Memutus jalan rizky orang lain, itu adalah sesuatu yang di larang. Memaksakan kehendak dan keyakinan kita pada orang lain juga salah satu larangan-Nya. Apalagi mengutuk orang agar masuk neraka. Naudzubillahimindzalik bu... Saya sih malah takut kalau nanti kita ketemu di neraka kalau gitu.... Naudzubillahimindzalik.... Jangan sampai ya bu...

Akan lebih indah jika kita mulai memutar jari telunjuk kita. Dari yang awalnya menunjuk kepada orang, diputar menjadi kearah kita. Daripada bilang "Kalian pemilik warteg, kami sedang puasa nih. Jadi kalian lebih baik tutup saja", sepertinya akan lebih baik kalau kita bilang "Saya sedang puasa, jadi kalau ada warteg buka, saya tidak mau nengok. Takut tergoda sama tempe gorengnya...". Katanya kalau kita berpuasa dengan godaan besar, dan semakin besar kita bisa menahan diri dari godaan, maka pahala kita akan semakin besar. Lumayan kan bu....?

Begitu ya Ibu-ibu... Selamat menjalankan ibadah puasa. Mudah-mudahan puasa kita lancar, diterima Tuhan, dan kehidupan bersaudara kita di dunia juga tidak terganggu. Aamiin.

2 comments:

Dewi Rieka said...

Maaf lahir batin yaaa :* semoga lancar dan berkah ramadhan kita aamiin

Ini Wilis said...

Aamiin... Sama2 ya Mbak Dedew... :-)