Hari ini adalah jadwal kontrol Rutin bulanan ke dokter kandungan. Aku dan mas bojo berangkat ke rumah sakit seperti biasa. Tidak ada keluhan yang berarti, selain catatan bahwa kami baru saja melakukan mudik yang panjang. Banten dan Jogja seperti marathon.
Seperti biasa. Opa dokter tidak datang tepat waktu. Kamipun menunggu sambil mengobrol ngalor ngidul, salah satunya mengenai nama calon baby yang ada di perut. Kami sepakat bahwa nama tengah tetap akan menggunakan Nala, dan nama akhir adalah nama Jawa. Aku dan mas bojo memang jatuh cinta pada Jawa.
Akhirnya opa dokter datang dan pasien dipanggil satu persatu untuk konsultasi. Ketika tiba giliranku, kami berdua masuk. Setelah ngobrol dan menyampaikan kondisi sebentar, kami melakukan usg. Disitulah saat-saat yang cukup mencekam terjadi. Aku mengamati layar yang tergantung diatas, belum juga pas posisi baby nya. Opa dokter juga masih sibuk mencari kesana dan kemari dengan alatnya. Sesuatu yang belum pernah terjadi, baik dalam kehamilan kali ini ataupun kehamilan Mbak K.
Setelah dirasa posisinya maksimal, opa dokter men-zoom layar untuk memperjelas si dedek bayinya. Sesuatu yang juga belum pernah dilakukan. Detai jantung yang biasanya muncul dengan gerakan berdenyut, tidak ditemukan. Saat diukur lingkar kepala, muncul angka 11 week. Deeeggg... Aku mulai panik. Terakhir kali kami memeriksakan kandungan 3 minggu yang lalu, saat itu baby nya sudah berumur 11 week. Aku tahu ada sesuatu yang terjadi. Dan aku mulai mempersering tarikan nafasku, untuk mengendalikan mata yang mulai lepas kendali.
Kamipun melanjutkan diskusi di meja kerja opa dokter. Rupanya baby kami sudah berhenti tumbuh dan tidak mengalami perkembangan. Kami membucarakan kemungkinan-kemungkinan, penyebab, kemungkinan terburuk, hingga batas waktu .
Opa dokter menenNgkan kami dengan memberi tahu bahwa kami bukanlah satu-nya yang mengalami hal ini. Lebih dari 30% kehamilan saat ini,mengalami gagal tumbuh. Dan memang, aku merasa sedikit membaik. Kami diberikan waktu untuk menunggu sampai seminggu. Jika dalam waktu seminggu tidak ada perubahan, maka kami harus melakukan tindakan untuk mengeluarkannya. Namun jika sebelum seminggu terjadi pendarahan, maka aku harus segera ke rumah sakit untuk diberikan tindakan saat itu juga.
Kamipun pamit dan menyelesaikan administrasi. Saat itu aku masih merasa baik-baik saja. Namun ketika sedang mengantri vitamin, aku dan mas bojo duduk bersama dan saling menguatkan. Tiba-tiba aku ingat K yang sudah sangat senang ketika tahu akan punya adik. Dan aku mulai menangis... Hiks... Sediiiihhh....
Kamipun pulang dan bersiap untuk memulai memberi pengertiN pada K tentang kemungkinan tidak jadi punya adik sekarang.
Ya Allah... Aku pasrahkan semua kepada-Mu. Berilah kami yang terbaik untuk kami menurut-Mu.

No comments:
Post a Comment