Thursday, December 22, 2022

Belajar dari si Bunga Cantik yang Ditelantarkan

Sebelumnya mulai ngemeng ngalor-ngidul, saya bilang dulu ya. Bunga ini saya foto hari ini, Kamis 22 Desember 2022. Pas Hari Ibu ya. Nggak ada hubungannya, tapi nggak papa. Eh ada dink. Alm Ibuk saya sangat suka bunga yang cantik-cantik. Tangannya juga dingin sehingga tanamanya sering tumbuh subur. 

So, here is for you... Happy Mothers Day! Aku yakin Tuhan memberimu taman bunga yang super indah hari ini di surga. ^_^

Baiklah... Saya akan bercerita seperti yang saya tuliskan di judul unggahan ini. 

"Belajar dari si Bunga Cantik yang Ditelantarkan"

Sekitar Tahun 2017an (saya lupa persisnya), kami sering berbelanja keperluan bulanan di sebuah swalayan di bilangan Kota. Swalayan itu terkenal cukup lengkap dan harganya lebih miring. Karenanya kami rela berkendara cukup jauh untuk membeli keperluan bulanan kami di sana. 

Saya masih ingat saat itu, saya membeli beberapa bumbu dapur, dan melihat 1 buah rimpang gendut yang dibungkus plastik. Saya tidak bisa memanggil memori saya, apakah saat itu ada tulisannya atau tidak. Intinya saya beli satu, dibawa pulang, tidak tahu untuk apa, saya tanam di halaman samping. 

Jreng!!! Rupanya rimpang itu mudah sekali tumbuhnya. Tanamannya cepat menjulang tinggi dengan daun lebar-lebar. Cocok dengan tanahnya mungkin ya. Singkat kata, kami merasa tanamannya terlalu besar dan tidak tau harus diapakan. Kami cabut dan buang. 

Rupanya masih ada rimpang yang tertinggal di situ, dan tumbuh lagi. Kami biarkan karena tanamannya tidak sebesar saat tumbuh pertama. Namun, saat kami melakukan sedikit renovasi rumah, kami harus membongkar area bertanam saya, termasuk si tanaman ini. Saya buang tanamannya ke lubang pembuangan sampah basah kami. Ternyata dia tumbuh lagi. Hahahha

Awalnya kami biarkan. Tetapi mungkin karena bersama sampah, terlalu subur dan daunnya besar-besar lagi. Kami timbun dengan sampah-sampah. Benar-benar tidak ada usaha untuk mencari tau atau memanfaatkannya. Duh.

Hingga tahun berganti, si tanaman ini juga berpindah ke sana dan ke sini sesuka hati kami. Ajaib memang, dia terus dan tetap bertahan. 

Akhir tahun 2021 kemarin, untuk kesekian kali kami melakukan bongkar pasang rumah tumbuh kami ini karena alasan bocor. Imbasnya, lubang sampah saya ditutup sama mamang tukang, saya lupa minta dibuatkan lagi. Si tanaman liar, entah bagaimana memberi 1 anakan kecil yang menurut saya bagus. Jadi saya pertahankan 1 yang kecil itu, dan membuang yang besar. Bersama dengan 1 tanaman keladi yang tak kalah uniknya karena setiap dipindah ke pot mati, tapi dibuang hidup subur, mereka berdua akhirnya tumbuh di bawah pohon jeruk purut kami. 

Sekitar 2 minggu lalu, saya sudah melihat tanda-tanda bahwa tanaman ini mengeluarkan bakal bunga. Namun, karena masih abai dan cukup sibuk, saya hanya melihat sekilas setiap lewat. Meskipun saya tahu kalau bunganya sudah mekar berwarna ungu pink beberapa hari terakhir ini. 

Tadi sore, K menarik tangan saya dengan sayang bersemangat. Dia menarik saya ke pintu belakang, dan berhenti di teras samping sambil menunjuk, "Bunda, see. That is a beautiful flower. Very pretty!" Katanya. Saat itu, saya bilang sudah tahu. Tapi dengan segera mengambil ponsel untuk mengabadikannya. Saya memperhatikan beberapa lama bunga itu, memang sangat cantik sekali. Dan melihatnya, membuat saya kembali mengingat perjalanan hidupnya yang sebagian besar ditelantarkan oleh saya. Saya sedih. Maaf ya. 

Setelah ambil foto dan puas mengagumi kecantikan bunga itu, saya kirimkan ke WAG kecil  tetangga saya untuk menanyakan barangkali ada yang tahu tanaman apa. Salah satu tetangga saya mengirimkan tangkapan layar dari laman pencarian, menunjukkan beberapa nama latin dari tanaman ini. Saya cari yang paling mirip, dan mencari ulang informasi detailnya. Saat itu saya baru tahu, bahwa ini ternyata adalah tanaman Temulawak. Hahahahahahahhahahahahhaha

Saya betul-betul tertawa ngakak mengetahui bahwa ini adalah tanaman temulawak. Karena kan temulawak banyak manfaatnya. Sejak hari ini, saya niatkan untuk tidak lagi menelantarkan tanaman temulawak ini. 

Dari temulawak ini saya belajar, bahwa selagi kita yakin pada kemampuan kita, yakin pada kualitas diri kita, tak perlu takut, minder, sedih atau putus asa jikapun ditelantarkan atau harus hidup terlantar. Tetaplah hidup, tetap mengeluarkan versi terbaik dari kita, makan pada saat yang tepat, kita akan menjadi sesuatu juga. 

Bunga ini cantik, saya persembahkan untuk almarhum Ibuk saya. Beliau senang sekali dengan bunga-bunga cantik. Setiap tanaman bunganya, pasti tumbuh dengan cantik juga. Bahkan jauh sebelum beliau sakit dan meninggal, beliau sering berpesan pada kami, anak-anaknya, untuk membeli 7 tenggok bunga dan menebarkannya di makamnya kalau beliau meninggal. Saya lakukan. Mudah-mudahan Ibuk senang dan tenang. Pastinya bahagia karena tanaman bunga di Surga pasti jauh lebih indah. Kami merindukanmu ibuk...  ^_^

  

Monday, December 19, 2022

Count The Bless

I'd like to share a photo... 
Just to remind my self about last couple of days...
A pictures tells a million more stories...
A picture tells a treasure... 

I learnt a lot during my life
All the good become an achievement, 
And all the bad become a lesson to grow
Nothing is too good and nothing is too bad. 
Nothing is just good and nothing is just bad.

Wish you all have a very happy holiday, love!!! 

Tuesday, October 18, 2022

Dilemma Orang Tua dan Les Anak

 Hari ini, di tempat saya numpang kerja sembari menunggu K les, saya memperhatikan sekeliling. Saya melihat seorang ibu dan anak perempuannya (kalau saya tidak salah tafsir, mungkin usia preschool). 

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan, hanya terlihat mata sekilas lalu saja. Namun, setelah beberapa saat, mereka berdua menyita perhatian saya. Nampaknya si anak tidak mau berangkat les, dan ibunya kesal. Si anak, sebut saja namanya Lili, dan si Ibu, sebut saja namanya Mami. Lili menatap Mami dengan sedih, Mami berjalan menjauh sambil menunjuk-nunjuk arah tempat les anak saya (ini dan juga back pack yang digunakan Lili yang membuat saya berasumsi bahwa dia les di tempat K les). Beberapa kali Lili mengulurkan kedua tangannya kepada Mami, Mami berjalan semakin jauh sambil mengatakan sesuatu pada pak satpam yang berjaga di pintu. 

Lili berjalan mendekati Mami, mami mengibaskan tangannya sambil berkata sesuatu, Lili menangis. Mungkin karena kesal, Mami berjalan keluar area lobby. Lili berlari mengejar Mami. Mami mendorong Lili dan menunjuk serta mengatakan sesuatu pada Pak Satpam lagi. Saat Mami berjalan menjauh, Lili berlari menyusulnya. Mereka berdua akhirnya pergi ke tempat parkir mobil. Dari tempat saya duduk, hanya terlihat kaki mereka saja. Mungkin mereka sedang beradu argumen atau saling merayu. Lalu mereka menghilang ke belakang mobil, hingga saya tidak bisa lagi melihatnya. Dan saya meluncur ke sini. 

Melihat Lili dengan kedua tangan terulur, saya berfikir bahwa uluran tangannya mengharapkan balasan pelukan dari Mami. Tapi Mami tidak memberikannya pelukan. Mami berjalan menjauhinya. Saya merasa sedih untuk Lili. Dan mendadak saya ingin memeluk anak saya. Saya berjanji akan segera memeluknya erat saat selesai les nanti. 

Saat ini sudah pukul 2.30 WIB. Mungkin Lili sedang tidak mood untuk les, atau Lili lelah dari sekolah, atau memang Lili ngeyel dan tidak ingin berangkat les. Mungkin Mami tadi terkena macet, mungkin Mami lelah karena tidak fit, mungkin Mami ada urusan lain hingga harus buru-buru, mungkin Mami memang tidak ingin Lili membolos les. Semua hal bisa terjadi, dan hal itu banyak dialami oleh para keluarga. 

Saya ingin berjanji pada diri ini, untuk sebisa mungkin tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Mami, tetapi saya juga sadar mungkin beberapa kali saya melakukannya pada K juga. Meskipun bukan karena Les. Biasanya sih karena K merengek meminta untuk dibelikan sesuatu atau ngambek karena bad mood. Membuat saya juga melakukan aksi 'berjalan menjauh' seperti Mami. Duh Tuhan, maafkanlah saya. 

Les, atau pelajaran tambahan. 

Adalah suatu dilemma untuk kebanyakan keluarga, termasuk saya juga. Mengikutkan anak ke lembaga les atau pelajaran tambahan, artinya meminta komitmen dari anak kita, dan juga kita sendiri. Kalau orang tua menetapkan standar output dari kegiatan-kegiatan tersebuat, beban yang hadir diantara kedua pihak (orang tua dan anak) akan menjadi lebih besar juga. 

K termasuk banyak les nya, hingga memancing komentar dari teman-teman saya "K padet banget sih les nya? Kasian amat". Karena memang kenyataannya begitu, ya saya tidak bisa mengelak dan hanya bisa bilang "Iya, padet banget. Gw juga sampai bingung mau gemana". Dua les yang dia jalani adalah hasil dari pandemi, tetapi sekarang syulit di akhiri. hahahaha

Setiap akan berangkat Les, saya selalu menanyakan pada K "Hari ini kita les nganu ya... " Atau "Nanti pulang sekolah langsung berangkat les nganu ya". Sejauh ini, protes yang dilakukan K hanyalah "Tanganku ini lemes banget bunda. Di sekolah nulis terus. Nanti les Piano sama Gambar, jari-jari aku kayaknya nggak kuat lagi". Karena les piano dan gambarnya jatuh di Hari Selasa, di mana jadwal sekolahnya memang padat karena ada olah raga dan pramuka bersamaan. Selama ini, saya menyemangatinya masih sebatas "Sekarang kamu istirahat dulu aja. Nanti kita kan masih ada waktu makan siang, bisa sambil istirahat melemaskan jari. Kamu mau makan siang apa sekarang?'. Rayuannya sebatas sogokan makan, alhamdulillah masih berjalan. 

Selama ini saya menggunakan keyakinan bahwa selagi anak masih semangat berangkat les, masih tidak merasa terpaksa atau tertekan, maka saya akan ikutkan dia les. Harapan saya adalah tidak perlu ada kejadian seperti Lili & Mami tadi di antara kami berdua. Saya tidak ingin les menjadi tambahan bahan untuk kami bertengkar. Saat ini saja sudah cukup banyak bahan untuk kami perdebatkan. Hahahaha

Yang sabar ya ibu-ibu, jika anaknya sedang tidak mood les, tidak apa-apa. Mungkin karena dia fokus sekali belajar di sekolah, sehingga energinya habis dan ingin beristirahat dulu di rumah. Untuk anak-anak yang semangat ya. Les bukan berarti harus stress kok. Banyak teman, kegiatan dan juga hal menyenangkan yang bisa kalian lakukan bersama. Mengurangi beberapa jam waktu untuk dimarahi Ayah-Bunda atau Mama-Papa yekaaan :-)






Tuesday, September 13, 2022

Hari Rekonsiliasi

Today is the Day!

Hari Rekonsiliasi bagi dua anak manusia yang baru mulai belajar mengenai nilai-nilai Compassion. Lucu juga kalau saya perhatikan bagaimana anak-anak mensikapi dunia dan masalahnya. 

Hari ini, karena ada pengumuman akan ada Demo, maka sekolahan di pulangkan lebih cepat. Meskipun waktu belajar menjadi lebih pendek, tapi saya tetap keukeuh ingin menjemput K. Ayahnya yang juga ingin menjemput akhirnya mengalah, setelah saya katakan bahwa saya penasaran dengan cerita dari K hari ini. Kalau ayahnya yang jemput, pasti tidak ditanya-tanya cerita hari ini. 

Akhirnya seperti biasa, setelah di panggil namanya, saya gandeng anak saya sambil bertanya pertanyaan standar: 

S: "Gimana hari ini? menyenangkan?" tanya saya. 

K: "Lumayan. Nggak ada Pramuka ya?" tanyanya balik. 

S: "Iya, nggak ada. Katanya mau ada demo, jadi pulang cepet dan nggak ada pramuka." Kami berjalan menuju pintu keluar. 

Di dekat pintu keluar, saya melihat murid yang sedang memakai jaket, dibantu oleh ibunya. Saat kami mendekat, anak itu melambaikan tangan dan memanggil nama K. K membalas lambaian tangannya dan menyebut namanya. A. 

Saya yang masih sedikit terkejut, jadi kehilangan kata-kata. Terlebih karena posisi saya sudah di pintu keluar, jadi tanggung kalau mau berbicara lebih banyak. Jadi saya hanya bisa bilang, "Eeeh, halooo temannya K. Kami duluan yaaa..." Saya mengangguk ke arah ibunya A. 

Di luar, sembari berjalan ke arah parkiran motor, saya kepo mania seperti biasa. 

S: "Jadi gimana tadi?" tanya saya.

K: "Tadi tuh kita cuma cepet gitu bunda. Aku cuma bilang - A, ya udah deh daripada kamu dimarahin mama kamu terus, dan aku disuruh maaf-maafin kamu terus sama Bunda aku, kita maafan aja deh- terus dia diem aja tapi ngulurin tangan salaman gitu. Ya udah kita salaman." Ceritanya nyerucus membuat saya tersenyum lebar. 

S: "Waaah... Itu bagus sekali. Syukurlah kalau kalian sudah baikan dan berteman lagi sekarang. Besok-besok udah bisa main bareng lagi kan," kata saya. 

K: "Terus bunda, kalau girls itu kadang suka lucu memang ya." Katanya. 

S: "Kenapa lucu memangnya?" tanya saya heran. 

K: "Iya, tadi SMT kan lihat aku sama A salaman, terus kayaknya dia ngomong sesuatu sama ABL, tapi aku nggak denger dia bilang apa. Tangannya kayak nunjuk ke aku sama A gitu." Ujarnya. 

S: "Ooo... Iya memang kadang girls itu unik. Kalau Bunda tebak, mungkin SMT bilang ke ABL -Eh, lihat itu. K sama A udah baikan sekarang- gitu mungkin ya?" tanya saya.

K: "Mungkin. Bisa jadi." Pungkas K. 

Saya lega mendengar cerita K. Saya juga merasa bangga dengan anak-anak ini. Ke depan, masih banyak yang akan anak saya dan juga anak-anak lain pelajari, baik itu disadari ataupun tidak. 

Dari kisahnya K selama satu mingguan ini, saya belajar banyak darinya. Saya belajar bagaimana menjadi orang tua saat anaknya mendapatkan masalah. Mungkin cara yang saya ambil bukanlah yang terbaik atau terideal. Namun, semua cara itu adalah cara yang saya dan anak saya percaya adalah yang terbaik yang dapat kami lakukan. Dengan bantuan Allah SWT, maka tidak ada yang tidak mungkin. Tidak apa-apa memilih cara yang bukan yang terbaik, selama kita yakin dan percaya bahwa Allah SWT bersama kita, maka semua akan baik-baik saja. Aamiin

Monday, September 12, 2022

Bocah Mungil Yang Iseng

Halooo... Had a good weekend? Great!!!

Saya kepengen sharing lagi cerita hari ini. Tidak ada lagi drama, tidak ada lagi incident, tidak ada lagi gesekan anak-anak. Yang ada tinggalah keisengan si anak wedhok. Eeerrr... Duh Mbak, kamu nyontoh siapa itu siiih... ~_~

Jadi, seperti biasa saat namanya di panggil, saya ke depan mengambilnya dan bertanya,

S: "Gimana hari ini? Fun?"

K: "Fun..."

S: "Nggak ada tragedy? Nggak ada insiden? Nothing whatsoever?"

K: "Enggak... Cuma, tadi kan A deketin aku terus bilang -K, kamu harus maafin aku pokoknya- Terus aku tanya, - Kamu dimarahin mama kamu ya?- Dia bilang iya. Terus aku bilang lagi - Nggak mau ah kalau minta maafnya maksa gitu- gitu aja, terus aku pergi." Kisahnya. 

S: "ooo... Tapi setelah itu kamu maafin dia kan? Sekarang udah maafan?" tanya saya. 

K: "Ya belum lah. Kan dia maksa minta maafnya. Aku males kalau dia maksa gitu." jawabnya. 

Hadeuuuhh... Memang sih ya, kalau di rumah, antara saya, ayahnya, dan K, kalau cara minta maafnya memaksa, kami segan menerima dan memberi maaf. Kami akan menunggu sampai yang minta maaf, benar-benar terlihat minta maaf. Tapi kan berbeda rumah, berbeda tata cara minta maaf mbak'eee... Batin saya. 

Setelah K mengulangi beberapa kali lagu Tanah Air untuk keperluan PTS Seni Musik Hari Kamis nanti, saya mulai mengajak K berbicara lagi. 

S: "Mbak, Bunda rasa, A sudah cukup mendapat pelajaran. Sudah di tegur wali kelas, sudah dimarahi mamanya. Jadi sudah saatnya kamu memaafkan dia juga. Kan dia sudah minta maaf, jadi dia pasti sudah banyak belajar dan mengerti," kata saya. 

K: "Iya," jawabnya pendek.

S: "Gimana kalau besok, kamu datangi A, dan bilang -Setelah aku pikir lagi, ya sudah kita maafan aja. Aku maafin kamu. Tapi jangan diulangi lagi ya, kan waktu pelajaran BK sudah diajarin untuk nggak gitu. Dan lain kali kalau mau minta maaf, jangan maksa. Tapi bilang maafin aku yaaa... gitu." Usul saya. 

K: "Iya deh..." 

Dua anak sudah banyak belajar tentang nilai pertemanan dua minggu ini. Semoga besok, anak wedhok ini bisa benar-benar berjiwa besar dan mengulurkan tangannya untuk memaafkan temannya. Aamiin :-)

Selain daripada itu, hari ini dia menceritakan pengalamannya mengenai umur dan ukuran badan. K bercerita kalau teman-temannya menyangka dia berumur 6 atau 7 tahun karena badannya mungil. K bilang dia tidak suka dibilang mungil. Saya bilang dibilang mungil itu bagus. Saya saya kepengen di bilang lebih muda dari umur sebenarnya, 27 tahun gitu. ahhahahaa #curhat :-p

Sunday, September 11, 2022

Mengisi Kembali Baterai Energi

Namanya manusia yang menjalankan kegiatan rutin setiap Senin - Jum'at, maka akhir pekan adalah surga dunia. 

Hari Senin hingga Jum'at, acapkali menjadi hari-hari yang berlalu seperti petir. Datang dengan cepat, cukup memberikan kejutan, tapi lekas berlalu begitu saja tanpa meninggalkan tanda. Kecuali jika petirnya berhasil menyambar sesuatu, maka bukan tidak mungkin ada efek lain setelahnya. 

Begitu pula dengan saya. Hari Senin - Jum'at adalah hari di mana kemampuan untuk berpindah tempat baik fisik maupun fikiran diperlukan dalam kecepatan tinggi. Jam sekian sampai sekian, melakukan ini, jam sekian sampai sekian di sini, dan seterusnya. Jeda yang saya punya memiliki jendela waktu yang tidak banyak. Jam 8 malam hingga 4 pagi. Cukup sebetulnya untuk ukuran orang dewasa. Kalau itu hanya digunakan untuk tidur saja. Tapi kan saya juga perlu me time seperti nonton, menyeruput kopi dengan santai alih-alih menenggaknya seperti arak, atau sekedar membaca buku dengan fokus hingga alur ceritanya tidak porak poranda. Maka waktu tidur mungkin hanya tersisa dari pukul 10.30 - 3.30 pagi.  

Jadi, saya sekarang tidak berbeda dengan tante salmul kesayangan, yang kalau akhir pekan hanya punya dua pilihan, mager sepenuhnya atau pergi sejauh-jauhnya. Hahahaha

Berhubung Pakne sedang jalan-jalan cantik ke Dieng bersama dengan geng ladies nya, jadi Hari Sabtu kemarin K dan saya menghabiskan waktu bersama dengan halan-halan ke Mr.D*Y. Mbak Sis sudah punya list panjang karena (merasa kalau saya berhutang banyak padanya, dan ) dia memiliki piutang pada saya. Eeerrr

Long short story, K mendapatkan beberapa yang dia mau (beberapa lainnya tidak saya approved karena kebanyakan) dan kami pulang ke rumah. Sore harinya, bersama dengan tetangga kanan kiri depan belakang dan juga tetangga yang biasa kumpul makan-makan, kami makan Cuangki di rumah kami. Alhamdulillah ramai. Sudah lama tidak berkumpul bersama mereka, jadi lumayan membuat alasan untuk bertemu :-)

Hari ini, K dan saya bersama dengan 2 orang tetangga dan 1 anaknya, kami menjajal nongkrong di pinggir Danau Situgede. Menikmati area yang telah di rombak menjadi tempat yang jauh lebih baik daripada sebelum pandemi. Sekarang sudah ada jogging track yang lebar mengitari danau, dan ada kafe baru juga. Jogging track keren, kafe not so much. Kami datang jam 7.45, memesan es coklat, es kopi, dan kopi panas, serta cemilan-cemilan. Lebih dari setengah jam (atau hampir sejam ya) kami menunggu, baru es coklat, es kopi dan cemilan yang datang. Setelah menunggu lama lagi, pelayannya baru datang dan memberi tahu bahwa mungkin kopi panasnya baru bisa siap sekitar 20 menit lagi. Eheeemmm

Akhirnya teman saya mengusulkan untuk diganti dengan es kopi dengan harga yang sama. Fineee... 

Rupanya lama lagi juga pesanan ini datang. Akhirnya saya mendekati kasir (kalem kok, nggak pakai tanduk) dan berkata, 

Saya: "Mbak, yang tadi katanya mau di ganti es kopi mana ya? Saya sudah mau setengah hari lho di sini, belum turun juga. Kalau tadi saya dapet kopi panas, sekarang sudah bisa jadi es kopi juga..." 

Mbaknya: "Oh iya ini kak, sedang di seal. Maaf ya kak lama." Dua cup es kopi di letakkan di depan saya, dan saya ambil keduanya dan bersiap pergi. 

Masnya: "Oh, nggak dianter aja kak?" 

Saya: "Nggak usah mas, nanti lama lagi saya nunggunya." Saya tersenyum. 

Jadi, kami malah mendapatkan ide untuk kembali ke area danau kapan-kapan, tapi piknik saja di area hutannya. Nggak usah di kafe. Bawa kopi dari rumah sajaaa :-)

It's a Very Well Spent Weekend, tetep ^_^











Friday, September 9, 2022

Titik Baik Mulai Nampak

 Jadiii... (eeeaaa, penasaran kaaan gimana hari ini?)

Hari ini, Saya yang bertugas mengantar dan menjemput K dikarenakan ada janji temu dengan 2 orang teman 1 grup WAG yang syulit sekali untuk ketemuan. Tadi malam tiba-tiba MedMed nulis di WAG "Ini kapan kita teh mau ngopi-ngopi gitu ketemuan? Jangan sampai kita ketemuannya nanti 2023 pas nonton Indonesia Master doank nih!" 

Saya dan FefFef tertawa membenarkan. Long short story, jadilah kami janjian dadakan harus jadi pagi ini. Berkumpul di tempat yang rupanya sudah buka dari jam 7. Enak banget kan buat emak-emak drive thru kayak kita-kita ini. Hahahaha. 

Setelah mengantar K sampai depan lobby, saya duduk dulu di pos. Menyadari bahwa ponsel saya tertinggal di rumah. Ya sudah lah ya, mau gimana. Saat akan meninggalkan lingkungan sekolah, tiba-tiba mama nya teman K datang dan kami ngobrol dulu. Long short story, tanpa ditanya, beliau bercerita mengenai cerita yang disampaikan anaknya, I. Beliau bilang I bercerita, kalau ada teman laki-laki mereka di kelas yang mencubiti K, tetapi K diam saja dan tidak ingin lapor. Saya tersenyum dan mengatakan bahwa saya merasa lega. Lega karena ternyata ada saksi mata yang melihat perlakuan kurang baik teman K kepadanya. Kamipun bertukar cerita mengenai pengalaman anak-anak di sekolah. 

I juga mengalami keisengan temannya, dan Mama I rupanya sudah lebih dulu bercerita kepada wali kelasnya. Saya jadi merasa sedikit lebih baik lagi karena ada teman seperjuangan. heheheee. 

Lalu, saya undur diri untuk bertemu dengan kedua teman saya. Ngeeeeng... Ngeeeng... 

Pertemuan singkat yang cukup menghibur ya man-teman... Coba kita lihat apakah Senin pagi minggu depan kita bisa benar-benar menggebuk kok bersama, atau hanya akan menjadi wacana seperti biasa :-p

*

 Saya seperti biasa menjemput K dengan perasaan penasaran. Ketika namanya di panggil, saya menjemputnya dan segera bertanya,

S: "Gimana hari ini? Fun?" tanya saya. 

K: "Fine..." jawabnya pendek.

S: "No incident, no tragedy, no crumpled paper flying?" tanya saya.

K: "Nggak ada. Oh iya, aku tadi tanya ke A - Mana, kamu nggak gambar babi lagi buat aku? Aku kirain kamu mau gambar aku babi lagi?- gitu," cerita K. Saya heran dengan pertanyaannya dia.

S: "Memangnya kenapa kamu mau dia kasih gambar kamu lagi? Kalau gambarnya nggak baik lagi gimana?" tanya saya.

K: "Kan aku mau tempel di dinding buat kenang-kenangan gitu." Sayapun tertawa mendengar alasan K. Attagirl! 

S: "Terus A gimana pas kamu tanya gitu?" emak kepo yekaaan.

K: "Dia kayak mikir bingung gitu, terus tanya aku - "Emangnya kamu mau?- gitu. Aku bilang aja mau. Terus dia bilang -Tapi kamu jangan bilang-bilang Pak Ridwan lagi ya-." pungkasnya. 

S: "Tuh kaaan bener, kalau kamu keep nice to him, dia akhirnya jadi bingung kenapa dia nggak baik sama kamu kan?" kata saya. Dalam hati saya bersyukur, sepertinya Pak R sudah menegur A dan A tidak ingin lagi berbuat yang tidak baik pada K. Legaaa kaaan, emak :-)

Kemudian, saya menceritakan pada K mengenai kejadian yang menimpa I, temannya. 

K: "Aku juga gitu bunda...," Katanya. 

S: "Tangan kamu digituin juga?" tanya saya penasaran. 

K: "Iya, sampai sakit gitu," katanya.

S: "Kamu lapor Pak R nggak?" 

K: "Enggak. Karena kan aku masih bisa tahan rasa sakitnya gitu." 

S: "Eeehhh... Nggak boleh dooonk. Kalau kamu mulai sakit, harus lapor sama wali kelas. Takutnya kalau kamu menahan sakit, ternyata tangan patah gimana? Memangnya kamu ngapain sampai digituin?" 

K: "Kan dia challenge aku bunda. Nantangin aku?" emaknya mulai mencium aroma-aroma sesuatu. 

S: "Coba sini praktekin sama bunda, gimana kalian pas lagi kejadian!" pinta saya. K maju dan mengambil tangan saya, lalu menggenggam telapak tangan saya dan menindihnya di meja. Sayapun tertawa menyadari bahwa misteri tragedi jepit tangan hari pertama terpecahkan. 

K: "Mbak, itu sih namanya kalian adu panco! Kalau kata orang jawa, itu namanya engkol. Itu kan consent kalian berdua, jadi bukan attack. Beda sama yang kamu di dorong kemaren itu." Kata saya. 

Saat saya tanya alasan kenapa dia mau di ajak adu panco dengan A, K menjawab bahwa dia ingin mencoba dirinya sendiri. Apakah bisa menahan A yang badannya besar, lebih tua, suka nakal, dan ketua kelas itu. Kemudian saya menjelaskan bagaimana membedakan serangan dan permainan semacam tantangan adu panco. Saya anjurkan K untuk tidak lagi menerima tantangan fisik dengan teman, terlebih dari yang jelas-jelas ukuran badannya lebih besar. Berbahaya. 

Fffiiiuuuhhh... Akhirnya hari ini tak ada drama di antara kita ya kakak... :-p

Have a good weekend, teman-teman!!!