Thursday, July 16, 2009

Lebih Baik “Pernah” Dari Pada “Tidak Sama Sekali”

Lagi-lagi aku belajar untuk berbisnis. Entahlah….apakah memang apa yang aku lakukan sekarang ini layak disebut sebagai belajar bisnis, ngikut-ngikut, atau malah hanya sebuah tindakan tanpa pikiran. Whateverlah……yang penting happy.


Berawal dari info bahwa hari itu teman-temanku pergi ke pusat alat-alat outdoor di Jakarta. Mereka memberitahukan bahwa tepat itu sedang mengadakan diskon besar-besaran untuk barang-barang lisensi luar negri. Dan layaknya jamur, anak-anak pun langsung rajin menyambangi tempat itu. sampai suatu saat salah satu dari mereka mengungkapkan sebuah ide untuk berjualan barang-barang itu disekitar kampus. Dan akupun mengiyakan saja untuk ikut menanam modal.


Alhasil, transaksi untuk mentransfer uangpun segera dilakukan. Dengan modal Rp. 3.000.000 dari 3 orang, kamipun memulai belajar berjualan barang-barang outdoor khususnya daypack dan carrier. 2 orang partner kerjaku kembali ke Jakarta dengan naik motor untuk membeli barang-barang yang menurut kami layak jual. Dan rupanya sejumlah 17 item menjadi pilihan mereka.


Sayangnya, setelah beberapa hari menyimpan barang dan merancang akan seperti apa model jualan kami, 2 orang partner kerjaku itu punya agenda di luar kota semua. Tinggalah aku yang nggak punya banyak waktu keliling menjual barang-barang ini. How come????


Tetapi, rupanya factor lucky masih saja bersahabat denganku. Entah bagaimana caranya, selama mereka pergi, aku ternyata bisa menjual hampir setengah dari barang yang ada. Horraaayyy….

Menyenangkan memang ketika kita bisa melakukan apa yang kita sukai dan didukung oleh orang-orang yang dekat dengan kita. Masalah bagaimana usaha ini nanti kedepannya, bisa kita pikirkan nanti. Kalaupun memang hanya sebatas menghabiskan barang yang adapun, aku tidak merasakan itu sebagai masalah. Toh aku memang senang mencoba sesuatu, daripada mati karena rasa penasaran. Sebagaimana dulu aku mencoba jualan jus strawberry dan kertas daur ulang.


And the nexy agenda to try is “Improvement Kaki Langit-Citarik River with the Diva’s as artist manager.” Hwaakkakakaka…..smangadh girls…!!!

Monday, July 13, 2009

Pagi Yang Dingin

Pagi ini dingin sekali ya teman-teman???
Alarmku berbunyi jam 05.00 disusul reminder berbunyi pukul 05.15.
Apa yang terjadi??? bangun, lihat handphone, matiin alarm n reminder, set ulang alarm n reminder jadi jam 06.00.
Setelah alarm berbunyi, bangun, lihat handphone, matiin alarm n reminder, merem melek dulu sambil mengumpulkan nyawa....eh, malah ketiduran lagi.
Baru on banget setelah jam 07.00...
Dasar, pemalas sekali kamu anak muda???
bangun, ke kamar mandi....Brrrrrrrrrrrrrr......duingin pooollll
pulang naik motor sebagai penumpang, duinginnya tetap terasa menusuk tulang.
Bagaimana dengan supir gw???
sampai dirumah, mandi pagi...hhwwaaaaaaaaaaa.....makin mak nyusssss
bersin, mampet, dengan senang hati dateng lagi...as usuall...
berusaha memanggil, mengingat, dan menggali ide....gagal...
dingin tetap menusuk....mules...hahaahahaha...
semua minta untuk di priorotaskan.. cape' deh..

smangadh....smangadh...

Thursday, July 9, 2009

Waktu Membuktikan Bahwa Perbedaan Itu Kian Nyata

Jika semalam ini adalah 7 tahun yang lalu, maka aku yakin bahwa aku akan menangis deras dan mengunci diri di kamar 2 x 2 meterku. Jika semalam ini adalah 9 tahun yang lalu, maka aku yakin bahwa aku akan berteriak-teriak marah di lereng jurang dekat rumahku. Jika semalam ini adalah 12 tahun yang lalu, maka aku yakin bahwa aku akan maju, mengambil ancang-ancang, dan melemparkan bogem mentahku ke muka mereka, sambil berteriak meneriakkan apa yang membuat aku terluka.


Tepi…..semalam ini adalah bagian dari saat ini. Semua terjadi, pada waktu sekarang. Bukan 7, 9, ataupun 12 tahun yang lalu. Saat ini terjadi, dan aku hanya diam, tersenyum, melihat kearah lain, pulang, menulis, dan berusaha untuk melupakannya. Setelah malam ini, aku tak boleh, tak perlu, dan tak ingin berteriak, memukul, ataupun menangis.


Aku hanyalah seorang anak dari kampong yang berusaha menjadi “sesuatu” yang mendekati harapan orangtuaku. Karenanya, aku dibawa dan memohon untuk dibawa oleh arus kehidupan hingga mengalir sampai saat ini disini. Banyak hal yang terbawa olehku dalam arus perjalanan hidupku ini.


Apa yang aku alami dulu, beberapa waktu yang lalu, kemarin, dan hari ini, hanyalah salah satu dari sekian banyaknya hal yang harus aku simpan dalam memori kecilku. Semakin lama, memori ini semakin padat dan padat, namun takkan pernah penuh hingga waktuku berhenti.

Aku berusaha untuk berteman, adakah yang salah dengan itu??? aku berusaha meningkatkan pertemanan menjadi persaudaraan, adakah yang keliru dengan itu??? ya…memang aku keliru. Aku keliru karena itu adalah suatu hal yang berlebihan. Disini tidaklah sama dengan di kampong. Disini, sangat jauh berbeda dengan di kampong. Orang-orangnya pun berbeda, apalagi kesenangan dll nya.


Waktu itu, aku sempat merasa sangat bahagia karena bisa berpikir bahwa aku memiliki mereka sebagai teman, sahabat, saudara, dan keluargaku di rantau ini. Tetapi semuanya menjadi hilang ketika aku disadarkan oleh mereka bahwa aku ini bukanlah siapa2.


Dari puisi khahlil Gibran “Aku ini binatang jalang, dari kumpulan yang terbuang”. Saat itu, satu diantara mereka mengatakan sesuatu padaku, sudah kumaafkan, tetapi tak mampu aku lupakan sampai saat ini. Sakit…..


Setelah itu, dua yang lain diantara merekapun melakukan hal yang sama padaku. Mengatakan dan bersikap jauh daripada beberapa jam sebelumnya. Sakit….


Setelah itu, aku dilupakan untuk sesuatu yang biasa kami lakukan bersama. Semua orang, melihat kearah lain ketika aku datang dari satu sisi. Semua orang tidak melihat dan tidak mendengar teriakanku yang bahkan mampu membangunkan sekumpulan kerbau pemalas di kandang. Ataukan mungkin, suara dan ragaku yang menjadi semu??? Sakit….


Beberapa waktu kemudian, aku kembali dipertemukan dengan beberapa bagian dari mereka. Masih sama dengan sebelumnya, dan aku biarkan saja. Aku mual dengan basa-basi yang hanya digunakan untuk memperjelas raut terganggunya dia. Sedikit sakit…..


Beberapa waktu kemudian, hal yang sama terulang dengan dia yang berbeda…..tetapi sama saja…..Sedikit sakit…..


Semalam ini….diawali dengan keharmonisan, keceriaan dari semua orang, tak terkecuali aku. Walaupun dari awal aku sudah merasakan ada yang lain dari pandangan dan penerimaanku, tetapi aku tidak ingin merasakannya. Semua kubiarkan berjalan begitu saja, sampai pada akhirnya mereka tak lagi bisa menahan diri dan menanyakan padaku, lebih tepatnya memperjelas anggapan mereka padaku.


Salah satu dari mereka bertanya : “Kamu sekarang tinggal ……. Ya???” karena aku tidak mengira bahwa aka nada pertanyaan seperti itu, maka aku hanya menjawab : “Mungkin, kadang-kadang iya, kadang-kadang enggak.” Untuk mengurangi rasa ketidaknyamananku, akupun bertanya kembali padanya : “emangnya kenapa ya???” dan seperti yang sudah aku duga, dia akan menjawab : “nggak papa…” katanya sambal mengangkat bahu…Klasik….


Satu lagi terjadi, pengingkaran atau ketidak terimaan jika ada aku. Hahahaha….. seseorang, berbicara tentangku ketika aku melihat ke arah yang lain, tetapi bukan berarti aku tak bisa mendengar, bukan berarti aku tak bisa melihat, dan bukan berarti aku tak bisa merasakan. Seseorang yang lain menanyakan apakah berita itu sudah sampai pada semua orang yang hadir, tetapi dengan sigap, orang pertama mengatakan bahwa dia sudah menyampaikan pada orang yang menurut dia perlu diberitahukan. See….


Akhir dari semua hingar bingar dan gemerlapnya lampu ruangan 3x3 meter itu, adalah sesungging senyuman dariku. Inilah perbedaan itu…..sebagaimana luka kecil yang menganga…..semua itu nyata adanya…

Tuesday, July 7, 2009

Aku Suka Aku

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943


Aku menyukai puisi ini. Puisi pendek, sederhana, namun penuh dengan makna. Seringkali aku menemukan deretan tulisan ini di buku-buku kecil, dimana satu buah foto tertempel manis di sampul depannya. Sayangnya, bukanlah buku harian atau buku saku yang selalu saja menyimpan sajak manis ini. Di atas foto itu, pasti saja ada tulisan :

“rest in peace”, “RIP”, “telah berpulang ke rahmatullah”, atau “mengenang kesekian harinya…”.

Tetapii hal itu wajar saja terjadi, karena memang isi dari puisi ini sangatlah cocok dengan kematian dan kepergian seseorang. Sedih memang, tapi harus kita terima.


Aku menyukai puisi ini. Bahkan di dalam buku hariankupun, aku tulis semua bait puisi ini dengan lengkap.


Semua orang akan sampai pada saat itu, saat dimana kita harus pergi, kemanapun…. Dan jika waktu itu datang, maka tak akan ada satu orangpun yang dapat menahan kita, merayu kita, ataupun memaksa kita untuk tetap tinggal.

Euforia yang berlebihan

Agenda pulangku minggu ini gatot alias gagal total.

Awalnya dengan niat tulus ikhlas dan suci untuk menjalankan amanat sebagai warga Negara yang baik dan benar (halah….lebay dot com) yaitu “nyontreng” aku berencana pulang kampong.


Pengennya sih ikutan milih presiden sama wakilnya dirumah sana. Ternyata perjalanan dengan keragu-raguan dan setengah hati memang sering berakhir dengan ketidakbaikan. Hiks…hiks….

Sedikit membuat sesak dada ini, karena aku memutuskan untuk tidak jadi pulang setelah aku berada di atas kereta dengan separo perjalanan menuju Stasiun Kota. Maka, akupun tetap melanjutkan niat untuk menggunakan kereta itu sampai akhir, dan berjalan-jalan di mangga dua sambil melihat-lihat charger kamera. Saat melanjutkan perjalanan dengan tujuan berbeda di atas kereta yang sama itu, akupun berfikir dan merenungi. Ternyata semua berawal dari aku sendiri….


Kira-kira sebulan yang lalu, aku mengatakan kepada keluargaku bahwa aku akan pulang ke rumah ketika pemilihan presiden jika memang aku terdaftar di rumah. Aku melupakan sesuatu hal yang penting yang selama ini sangat aku hindari. Yaitu euphoria bapakku jika berhubungan dengan hal kepulanganku.


Aku sediri masih bingung, kenapa beliau selalu bersikap begitu. Euphoria menyangkut kepulanganku kerumah, pasti akan membuat semua hal dilebih2kan. Entah kenapa aku lupa, padahal itu juga yang membuat aku memutuskan untuk pulang diam-diam bulan lalu. Huh…..dasar aku ini pelupa sekali…


Jika aku ingat-ingat lagi, sepertinya dari sejak aku bilang bahwa aku akan pulang bulan lalu, berapa banyak telphon dari beliau hanya untuk menanyakan kepulanganku. Oh no…


Dan puncaknya adalah kemarin ini. Disaat aku sudah berangkat, aku baru tersadar dan menyadari bahwa sepertinya ada yang perlu diluruskan dan dicari tau. Maka dari itu, akupun menelphon ibuku tercinta yang lebih kalem…hehehe….dan rupa-rupanya memang tidak salah keragu-raguanku. Ibukupun masih belum tahu apakah aku terdaftar sebagai pemilih. Huah….. terbayang sekali di mataku, bahwa aku hanya pulang sebentar dan menginap di rumah semalam, tetapi ternyata aku nggak punya izin memilih. Tidddaaaaakkkkk……makanya, langsung saja aku batalkan niat muliaku.. hallah…


Bingung dan serbasalah kalau memikirkan euphoria babeku itu. terkadang aku berfikir, mungkinkah si babe berpikir bahwa anak perempuannya ini memiliki niat mulia membangun desa, atau lulus dengan predikat suma cumlaude gitu ya???? Jadinya kalau pulang tuh harus selalu di jemput dan di elu2kan??? Oh my god…fitnah itu…hehehe.


Mbuhlah, ieur yeuh…..:(