Showing posts with label Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Bisnis. Show all posts

Tuesday, July 28, 2009

Mimpi Kami Untuk Almamater

Masih dari hasil buka-buka file lama....:)

Minggu, 19 Oktober 2008

Kembali lagi mimpi aneh dan ide gila muncul dalam kepala ini. Dan lagi-lagi ide itu muncul ketika aku ngobrol dengan mbak dian. Sepertinya auraku digabung dengan aura mbak dian memang akan selalu berakhir menjadi “ide”… heehhehe

Mimpi kami kali ini adalah bagamana caranya membuat para petani di Indonesia menjadi lebih makmur, dan bagaimana cara membuat IPB mengambil peranan dalam majunya pembangunan pertanian Indonesia. idenya sih sebenarnya simpel, tapi pada akhirnya karena simpul syaraf kami mulai melebar dan otak kami mulai menggila, jadinya ide itu jauh lebih gila dari kami yang gila ini.

berawal dari Frenchise…

Belakangan ini bisnis frenchise di Indonesia dan di Dunia semakin marak dan meledak, bahkan menguasai sebagian pasar. lihat saja KFC, McD, Alfamart, Indomaret, dll. kayak gimana ya konsep frenchise? wuih…ternyata membicarakan sistem frenchise itu membuat pusing, capek, tapi bergairah. sebegitu menggairahkannya bisnis retail ini, sampai-sampai ada temannya mbak dian rela menjual konsep frenchise usaha bakso ikannya jika ada yang berminat paling tidak Rp. 25 juta. wuih….

Kembali pada konsep mimpi kami yang menggila dan membangkitkan semangat hidup….Kami ingin IPB membuat sebuah bisnis frenchise tentang produk-produk pertanian, perikanan, peternakan, dll di berbagai daerah di Indonesia, sehingga masyarakat yang membutuhkan fasilitas ataupun produk pertanian bisa memperolehnya dengan mudah.

kalau missal frenchise diberbagai daerah dirasa berat, maka kita bisa pakai satu contoh wilayah dulu. Misalkan di Yogyakarta. IPB bisa mendirikan IPB Mart di Kota Yogyakarta berupa bangunan/toko semacam Alfamart. didalamnya terdapat beberapa tempat yang digunakan untuk meletakkan produk-produk IPB Mart. misalkan saja ada Pojok/kamar pertanian, Pojok/kamar perikanan, Peternakan, dll. dalam masing-masing space itu di isi dengan produk hasil dari IPB.

Masalah Produk : produk yang disediakan di IPB mart adalah produk yang dihasilkan oleh masing-masing fakultas di IPB. sehingga secara langsung bisa menerapkan dan mendayagunakan hasil karya mahasiswa ataupun para akademisi lainnya di IPB. selain itu dengan didayagunakannya produk hasil karya mahasiswa dan institusi pendidikan, maka diharapkan masyarakat dapat lebih menjangkau harganya. misalkan fakultas pertanian dengan bibit jagung manis kualitas unggulnya, fakultas peternakan dengan bubuk skim penambah asupan gizi yang bagus untuk ternak, fakultas perikanan dengan ikan hiasnya, fakultas teknologi pertanian dengan traktornya, dll.

selain produk berupa barang, IPB Mart juga harus menyediakan pelayanan masyarakat. Jika ada petani, nelayan, peternak, dll yang memiliki masalah/keluhan dengan usaha mereka, maka keluhan itu akan dilayani oleh IPB mart. untuk itu diperlukan para ahli IPB yang bisa dari mahasiswa ataupun dari kalangan pengajar/dosen.

masalah para ahli : ketika IPB mart dibikin, maka harus disiapkan juga instrumen-instrumen pendukungnya. diantaranya persiapan prosuk yang berkualitas, serta para ahli dibidang masing-masing. para ahli yang dimaksud adalah orang-orang yang memiliki keahlian misalkan dalam bidang pertanian(dari fakultas pertanian), bidang peternakan(dari fakultas peternakan atau kedokteran hewan), dll.

Para ahli ini bukan semua orang, namun hanya orang-orang yang memang dari awal bersedia meluangkan waktunya untuk membantu masyarakat baik turun lapang maupun hanya sebatas konsultasi(bisa beberapa jam dalam seminggu). jika memang di daerah IPB mart berada terdapat masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh staf IPB Mart(yg juga dari mahasiswa IPB), maka para ahli ini yang akan dimintai pendapat.

Jika memang IPB tidak bisa menyediakan para ahli dalam segala bidang, maka mungkin saja bidang-bidang yang kosong itu di isi oleh para ahli dari universitas lain, UI misalnya. dengan begitu IPB tidak menjadi eksklusif dalam usaha memajukan pertanian Indonesia.

contoh kasus kebutuhan petani :

petani membutuhkan bibit(bisa tanaman ataupun ikan, dll), dan mendatangi IPB Mart. IPB mart akan mencari stock di IPB Mart dan juga IPB sendiri. ketika petani mengalami masalah(serangan hama misalnya), maka petani bisa mendatangi IPB Mart dan berkonsultasi dengan staf yang ada di IPB Mart. jika permasalahan tidak bisa diselesaikan secara langsung, maka staf dapat menghubungi ahli di IPB.

permasalahan-permasalahan masyarakat seperti di atas bisa di alami oleh petani dibidang apa saja. dan IPB beserta jaringannya sudah tentu memiliki keahlian di bidang-bidang tersebut. Kapan dan dimana lagi IPB bisa mengimplementasikan apa yang menjadi kebanggaanya?
Saat ini masalah petani adalah harga pupuk yang mahal dan hampir tak terjangkau. bukankah ini bisa menjadi peluang IPB untuk mengamalkan ilmunya di bidang Hama dan penyakit tanaman? Jika bisa ditangani secara ilmiah dengan bantuan IPB (apa mungkin dengan cara predator alami atw yang lainnya), maka petani dapat lebih menekan biaya operasionalnya.

IPB mart juga diharapkan menyediakan satu ruang dimana ditempat itu khusus untuk produk-produk masyarakat setempat dipasarkan. sebagai sample tentunya, karena produk masyarakat pasti dalam jumlah besar. disitulah Pascapanen IPB berperan. apakah hasil masyarakat itu bisa langsung dipasarkan atau bagaimana. selain itu ekspor juga dapat dibantu oleh IPB yang memiliki link luas ke mancanegara.

Masyarakat juga pasti akan sangat menerima jika wilayah mereka digunakan sebagai tempat magang mahasiswa, karena mereka merasa terbantu dalam menyelesaikan masalah-masalahnya.

Jika permasalahan masyarakat dari kebutuhan awal hingga pemasaran telah mendapat pendampingan dari IPB, maka bukan tidak mungkin akan tercipta Community Farming, Community Fishing, Community Veterinering, dll. semua orang akan menganggap bahwa IPB sangat membantu menigkatkan pertanian IPB.

Betapa bangganya rakyat Indonesia terutama alumni IPB melihat hal itu. Jika metode frenchise IPB Mart ini diberlakukan dibanyak wilayah di Indonesia, apa yang akan terjadi dengan perekonomian masyarakat?sistem frenchise IPB mart mungkin dilakukan melalui pemerintah daerah jika memang dirasa berat untuk perseorangan. Pemda juga mungkin akan antusias menerima itikad baik IPB membantu masyarakatnya.

Masalah branding :

IPB Mart bisa menjalankan sistem maklon pada produk-produk masyarakat yang memiliki standar kualitas tertentu, sehingga dalam ekspansi pasar baik dalam negri maupun luar negri akan lebih lancar.

Misalkan ada produk jagung manis organic, kemudian standarisasi kualitasnya dilakukan oleh IPB. maka IPB berhak mencantumkan identitasnya kedalam kemasan produk tersebut, tanpa menghilangkan cirri khas atau asal muasal produk tersebut(contoh : jeruk Palembang, Duren Sumatra, dll).

Masalah Putra daerah :

Jika selama ini sebagian besar mahasiswa IPB adalah utusan daerah yang kemudian menetap di jabodetabek karena bekerja disana, maka dengan adanya IPB Mart yang bekerjasama dengan pemda tersebut permasalahan itu bisa di atasi. caranya adalah dengan mengganti metode pengutusan putra daerah jika selama ini utusan daerah hanya melalui seleksi sekolah, maka hendaknya diadakan pula seleksi tingkat provinsi untuk memperebutkan kursi ikatan dinas (1 angkatan 1 orang). mahasiswa yang merupakan ikatan dinas dengan pemda ini akan kuliah di IPB dan setelalh lulus dari IPB, harus kembali ke daerahnya untuk mengembangkan pertanian di wilayahnya. tentunya dalam koridor IPB Mart.

MANTABBBB….!!!!

Thursday, July 16, 2009

Lebih Baik “Pernah” Dari Pada “Tidak Sama Sekali”

Lagi-lagi aku belajar untuk berbisnis. Entahlah….apakah memang apa yang aku lakukan sekarang ini layak disebut sebagai belajar bisnis, ngikut-ngikut, atau malah hanya sebuah tindakan tanpa pikiran. Whateverlah……yang penting happy.


Berawal dari info bahwa hari itu teman-temanku pergi ke pusat alat-alat outdoor di Jakarta. Mereka memberitahukan bahwa tepat itu sedang mengadakan diskon besar-besaran untuk barang-barang lisensi luar negri. Dan layaknya jamur, anak-anak pun langsung rajin menyambangi tempat itu. sampai suatu saat salah satu dari mereka mengungkapkan sebuah ide untuk berjualan barang-barang itu disekitar kampus. Dan akupun mengiyakan saja untuk ikut menanam modal.


Alhasil, transaksi untuk mentransfer uangpun segera dilakukan. Dengan modal Rp. 3.000.000 dari 3 orang, kamipun memulai belajar berjualan barang-barang outdoor khususnya daypack dan carrier. 2 orang partner kerjaku kembali ke Jakarta dengan naik motor untuk membeli barang-barang yang menurut kami layak jual. Dan rupanya sejumlah 17 item menjadi pilihan mereka.


Sayangnya, setelah beberapa hari menyimpan barang dan merancang akan seperti apa model jualan kami, 2 orang partner kerjaku itu punya agenda di luar kota semua. Tinggalah aku yang nggak punya banyak waktu keliling menjual barang-barang ini. How come????


Tetapi, rupanya factor lucky masih saja bersahabat denganku. Entah bagaimana caranya, selama mereka pergi, aku ternyata bisa menjual hampir setengah dari barang yang ada. Horraaayyy….

Menyenangkan memang ketika kita bisa melakukan apa yang kita sukai dan didukung oleh orang-orang yang dekat dengan kita. Masalah bagaimana usaha ini nanti kedepannya, bisa kita pikirkan nanti. Kalaupun memang hanya sebatas menghabiskan barang yang adapun, aku tidak merasakan itu sebagai masalah. Toh aku memang senang mencoba sesuatu, daripada mati karena rasa penasaran. Sebagaimana dulu aku mencoba jualan jus strawberry dan kertas daur ulang.


And the nexy agenda to try is “Improvement Kaki Langit-Citarik River with the Diva’s as artist manager.” Hwaakkakakaka…..smangadh girls…!!!