Saya tidak pernah takut bermimpi, dan saya tidak pernah takut mengatakan seperti apa mimpi saya pada siapa saja yang tertarik. Banyak yang bilang bahwa mimpi ketinggian itu namanya halu, dan saya setuju. Memang yang namanya mimpi ya pasti halu. Halusinasi. Halusinasi yang membayangi otak kita, sehingga kita membayangkan yang indah-indah, yang menyenangkan, dan memberikan kita kepuasan. Itu memang benar.
Mungkin yang membedakan adalah, apakah kemudian kehaluan itu hanya akan berhenti pada kesenangan sesaat manakala sedang ber halu ria, ataukah kita mencatat kehaluan kita dan menjadikan itu sebagai mimpi yang ingin kita wujudkan suatu saat nanti?
Bagi partner hidup saya, mungkin yang namanya mimpi dan kehaluan saya itu sudah tidak bisa dihitung lagi. Sejak saya berpacaran dengannya, hingga saat ini kami sudah punya anak yang sudah masuk SD, saya masih memiliki hobby yang sama, yang itu mimpi. Dan sayangnya, Mas Bojo saya ini bukanlah tipe yang supportive pada mimpi istrinya. Bahkan dia lebih cenderung pesimis menurut saya. Setiap mimpi yang saya ceritakan padanya, dia akan menanggapi dengan dingin, atau justru memicingkan mata dan berkata "apaa sih, nggak jelas". Dan itu bukan sekali dua kali. Hampir di semua mimpi yang saya ungkapkan padanya, mendapat respon yang seperti itu.
Tapi saya tidak menyerah. Saya sakit hati, saya kecewa, dan saya lontarkan kekecewaan saya padanya, namun tidak merubah apapun. Cibiran dan picingan mata juga yang saya dapat ketika saya menyampaikan mimpi saya. Tidak apa-apa. Namanya manusia, tidak akan ada yang terlahir sama. Bahkan cenderung berbeda untuk saling melengkapi, teorinya sih gitu.
Apakah saya hanya memelihara mimpi saja?
Tentu tidak ferguso...
Saya juga mengupayakannya untuk menjadi nyata. Saya memulai dengan mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan mimpi saya, mencari sebanyak-banyaknya referensi, dan lain sebagainya. Setelah itu saya membuat jalan saya menuju mimpi saya dengan bagan. Entah sudah berapa banyak saya punya yang seperti ini. Namun sudah banyak sekali juga yang hilang lenyap entah kemana. Tidak masalah. Seperti itulah mimpi di kehidupan.
Beberapa waktu belakangan ini saya juga sedang menjalani salah satu mimpi saya. Mimpi saya yang ini sih sudah mulai ketika masih SD. Entah sudah berapa banyak yang hilang sejak saat itu. Tapi saya tetap memelihara mimpi saya hingga saat ini. Karena saya percaya, mimpi yang dipelihara dan dirawat itu, akan menemukan jalannya sendiri suatu saat nanti.
Terbukti dengan dimulainya tahun ini. Secercah harapan dari mimpi saya mulai menampakkan diri. Perlahan semakin menerang dan benderang. Saya ikuti dengan senang hati. Apakah mimpi saya akan jadi kenyataan? Mimpi saya selalu menajdi kenyataan, ketika saya merawatnya sedikit lebih maju, sedikit lagi, sedikit lagi. Semua proses itu adalah mimpi saya. Hasilnya adalah bonus dan berkah.


No comments:
Post a Comment