Monday, June 1, 2020

Lubang Dalam Sebuah Cerita



Apakah kalian termasuk penggemar sinetron, drama, atau film? Atau membaca buku deh? Sama. Saya juga. Saya suka semuanya itu.

Pernah nggak ketika sedang asik menikmati ceritanya, tetiba kita merasa "eh?", "Loh, koq?", "Lho, aneh banget ya", "ahahaha... Koq gitu banget ya?", "mustinya nggak gitu kali ya?", Atau bahkan "jiah, nggak masuk akal banget..." Atau sejenisnya yang lain?

Saya beberapa kali menemukan hal-hal tersebut diatas. Terkadang samar, terkadang perlu sedikit mikir untuk menemukannya, namun terkadang jelas sekali dengan gamblang bahwa ada lubang dalam alur cerita itu.

Berhubung saya adalah orang yang suka penasaran, maka saya mengikuti beberapa kursus penulisan skenario. Dan juga beberapa kursus penulisan novel. Saya ingin tahu dari dalam. Bagaimana sebuah cerita itu dibangun, dikisahkan, dan disajikan dengan apik kepada para audience. Harapan saya adalah untuk bisa merasakan sensasi dan pergumulan batin para penulis, ketika mencurahkan isi kepalanya kedalam cerita. Sehingga saya bisa mengerti, bagaimana lubang cerita itu bisa terjadi.

Dari beberapa kursus yang saya ikuti, saya jadi tahu. Bahwa lubang cerita itu namanya adalah plot hole. Plot hole bisa terjadi karena penulis lengah atau terlena dalam menuturkan kisahnya. Sehingga tidak mengecek ulang logika alurnya.

Untuk beberapa orang, mungkin plot hole tidak menjadi masalah. Namun bagi beberapa yang lain, adanya plot hole bisa mengganggu. Bahkan kadang membuat kegelian tersendiri yang terngiang-ngiang dikepala. Kan sayang kalau ceritanya bagus, tapi tetiba ditengah-tengah muncul wakwaw nya yekaaan...

Nah, begitu pula dengan cerita yang mungkin bisa atau biasa kita sampaikan dikehidupan nyata. Sudah takdirnya manusia sebagai makhluk pencerita, untuk membuat cerita masing-masing. Terkadang kita ditempatkan pada situasi dimana kita harus menciptakan sebuah plot cerita, untuk berbagai tujuan. Untuk meyakinkan orang lain, untuk membujuk orang lain, atau untuk mengelabui orang lain. Atau alasan yang lainnya.

Ternyata untuk itupun, kita harus berhati-hati dan memastikan tidak ada plot hole yang membuat pendengar kita berpikir "wakwaw...". Karena jika itu terjadi, sudah barang tentu pendengar kita lantas tidak lagi mempercayai keseluruhan cerita yang telah susah payah kita bangun.

Jadi, sebelum kita membuat cerita, pastikan kita tidak meletakkan plot hole ditengah cerita kita. Atau jika belum mampu, sebaiknya tidak perlu mengarang cerita. Kisahkan saja cerita yang sebenarnya terjadi. Rasanya itu lebih elegan dan meyakinkan. Dan juga tidak meninggalkan kesan "yaelah, ketahuan banget ngibulnya" yekaaan

#menuliscerita
#ceritamanusia





No comments: