Friday, May 8, 2020

Kutitipkan Rinduku Pada Bulan, Sekali Lagi

Soh... Atau Suh...

Adakah yang pernah mengenal kata ini? Untuk orang-orang di Jawa sana, sepertinya tidak asing lagi ya. Namun untuk yang belum pernah mendengar kata ini, saya beritahu sedikit.

Suh Sapu Lidi

Soh atau ada yang menyebut Suh, adalah pengikat sapu lidi. Bayangkan, lidi adalah benda kecil panjang dan mudah patah. Jika dia sendirian, apalah yang bisa dilakukannya? Mungkin hanya sebatas untuk menusuk bungkusan dari daun pisang, atau menusuk sate, atau untuk mainan anak-anak (dulu saya suka pakai lidi untuk mencari jaring laba-laba guna menangkap capung. Terkadang juga untuk menjebak ayam dengan daun pisang dan jagung. Atau mainan yang lainnya). Tapi jika dia disatukan oleh sebuah tali, maka ratusan batang lidi akan dapat membersihkan seberapapun luasan area yang kita ingin. Juga dapat digunakan untuk menggebuk kasur atau sofa yang berdebu. Juga bisa digunakan untuk mengusir nyamuk, lalat, kecoa, cicak, atau segala jenis binatang yang kita tidak inginkan keberadaannya.

Kenapa saya menceritakan tentang Suh ini hari ini?

Karena saya sedang rindu... Saya rindu Ibu saya... Ibuk...

Mungkin karena efek PMS (Post Menstruation Syndrome) saya, entah juga mungkin karena efek fullmoon tadi malam, entah karena gabungan keduanya. Hari ini saya rindu sekali pada Ibuk.

Apa hubungannya antara Ibuk dengan Soh/Suh?

Saya dan kakak saya selalu menjadikan ini sebagai bahan obrolan ketika kami mengenang Ibuk. Menurut kami, Ibuk adalah sosok yang sangat penting dalam keluarga kami. Tak hanya keluarga kecil kami, namun keluarga besar baik dari kanan maupun kiri. Beliau adalah Soh/Suh kami semua. Keberadaan Ibuk membuat kami semua bisa bersatu, bisa berdekatan, dan bisa saling berbagi bersama tanpa ada rasa lain selain bahagia sebagai keluarga. Karena kami semua melihat Ibuk...

Sekarang Ibuk telah pergi... Mengikuti jalan ketenangan dan kedamaian yang disiapkan Tuhan Allah SWT untuknya. Untuk melihat kami semua dari tempat tertinggi di Sisi-Nya. Bagaimana dengan kami yang ditinggalkannya?

Sebagaimana sapu lidi yang dilepaskan dari Soh/Suh nya, kami semua ambyar... Iya betul. Ambyar... Se-ambyar-ambyarnya...

Bagaimana kami ambyar, tidak lah perlu dituliskan, cukup kami rasakan dan kami jadikan bahan obrolan didunia nyata saja. Saya lebih ingin berbagi bagaimana peran Ibuk dalam hal menjadi Soh/Suh keluarga kami...

Ibuk akan selalu berkata:

1) Yang sabar... Jangan terlalu diambil hati... --> Ketika kami, anak-anaknya mendapat perlakuan yang tidak baik atau tidak menyenangkan dari siapapun. Baik dari keluarga ataupun dari orang lain. Itu secara tidak langsung membuat kami cepat lupa pada apa yang orang lakukan pada kami. Kami cepat move on.

2) Biarin aja, sudah ada yang mencatatnya sendiri... --> Ketika kami mengungkapkan kekesalan akan apa yang orang lain lakukan pada Ibuk ataupun pada kami, dan berniat untuk membalas mereka. Ini membuat kami mudah memaafkan. Ada malaikat yang siap siaga mencatat amal manusia.

3) Nggak papa, memang orangnya sudah begitu dari dulu... --> Ketika kami menggebu-gebu mengadu bahwa ada yang berusaha mengadu domba kami. Hal ini membuat kami merasa aman dan dipercaya oleh Ibuk.

4) Ibuk tidak pernah berubah sikap pada siapapun, meskipun beliau tahu bahwa orang itu berbuat tidak baik dibelakangnya --> Ini membuat banyak orang disekitar Ibuk merasa nyaman, tidak merasa dinilai, dan tetap saling menyayangi.

Aaahhh... Banyak yang ingin saya bagi sebetulnya, tapi rindu yang membuncah didada saya membuat saya kehilangan kata-kata.

Saya dan kakak saya sering membercandai Ibuk semasa hidupnya, "Buk, Ibuk niku kados Ibu Tin nek kangge anak-anake... " Dan Ibuk hanya akan tertawa tersipu sambil bilang "Mbok ra do edan cah..."

Beberapa bulan lalu, saya dan kakak saya naik odong-odong keliling Taman Mini Indonesia Indah bersama dengan keluarga besar kami dari Ibuk. Taman Mini Indonesia Indah adalah mahakarya Bu Tin pada masa itu. Di atas odong-odong itu, saya dan kakak saya saling lihat, dan saling lempar canda sesaat.

"Kangen Bu Tin kita ya..." Kataku.
"Iya banget... " Kakak saya mengiyakan.
"Bu Tin tindak, Pak Harto ambyar..." Kataku.
"Bubar ambyar..." Kata Kakak saya.

Kamipun tertawa terbahak-bahak.

Hanya kami berdua yang bisa memahami tawa kami waktu itu. Karena kami sama-sama merindukan Ibuk.

Hari ini, saya rindu Ibuk...

Mantra: Jangan dengarkan lagunya andmesh... :-p


Alfathihah untuk Ibuk, Samiyem Binti Admowiyono

No comments: