Monday, June 1, 2020

Dari Sebuah Ruang Kaca



Hampir dua jam aku duduk disudut ini. Menunggu. Banyak hal kulakukan sedari tadi, untuk membunuh waktu. Telah kurampungkan buku setebal 160 halaman tentang Visual Aids for Mindfulness, menarik. Telah kutandaskan kopi classic yang kuseduh dari rumah dan kubawa dalam tumbler starbuck Spanyol. Entah berapa banyak pesan WA yang telah kubaca dan kubalas diantaranya. Selain dari kesibukanku ke toilet, dan menyeka hidung yang mendadak gatal berair.

Selepas halaman terakhir dari buku yang judulnya "Calm" itu, aku diam sesaat dan baru sempat mengamati sekelilingku. Ada beberapa orang selain aku yang juga menunggu. Satu orang sudah ada di kursi itu ketika aku datang, dan dua orang lagi baru saja datang. Kamu semua menunggu antrian.

Kulihat acara TV yang disiarkan, acara yang sama ketika dua minggu lalu aku datang ke tempat ini. Acara dakwah. Lebih tepatnya kontes dakwah anak-anak. Puluhan (mungkin ratusan) anak-anak sholeh dan sholehah yang pintar menghafal dan melafalkan alquran, berkumpul ditempat itu. Beberapa diantaranya maju bergantian dan mengikuti kontes menjadi hafidz/hafidzah terbaik. Luar biasa. Sesekali aku merasa merinding.

Tak lama acara kontes tersebut selesai. Berganti dengan acara dakwah orang tua. Segala macam dakwah dengan beberapa topik disampaikan oleh beberapa orang yang berbeda. Aku mendengar sekilas lalu, karena mataku nyalang ke cahaya terang dibawah TV itu. Pintu kaca.

Dari pintu kaca itu, aku bisa melihat aktifitas kesibukan diluar sana. Mobil bergantian parkir, datang dan pergi. Mobil, motor, sepeda, becak, berseliweran silih berganti. Sesekali orang yang berjalan kaki.
Seorang pengendara motor nampak berusaha berputar didepan area parkir klinik ini. Dia nampak kesulitan. Dia majukan motor sedikit, dan mundurkan sedikit lagi. Hingga akhirnya motornya berbalik 160 derajat. Namun dia tak kunjung melajut, dan masih terlihat kesulitan. Setelah lama kucermati dan kuperhatikan, ternyata motornya ditautkan dengan sebuah gerobak. Gerobak kayu berisi aneka barang perabot rumah tangga. Eh tunggu. Ada sayur mayur juga.

Rupanya dia adalah pedagang kelontong sekaligus sayur mayur keliling. Menilik jumlah dagangannya, tak lagi banyak tersisa. Mungkin dia sudah mulai berdagang dari pagi hari sehingga belum tengah hari, dagangannya sudah banyak laku. Tapi bisa jadi dia memang tidak memiliki banyak barang untuk dijual? Entahlah. Ketika motor dan gerobaknya akhirnya menghadap kearah yang sama, raut ceria dan puas tergambar diwajah si bapak. Dan diapun menarik setang kanannya dan melaju. Melanjutkan perjalanan yang aku tak tahu. Mungkin pulang, mungkin lanjut berdagang.

Tetiba, aku diam. Berusaha merangkai setiap kejadian dengan keadaanku dan sekitarku saat ini. Saat manusia melihat dunia, dari sebuah kotak kaca.

Acapkali kita sibuk melihat, mengamati, dan menilai apa yang terjadi didepan mata kita. Kita berasumsi pada setiap hal yang terjadi. Kita mengira-ira, kita turut merencanakan strategi, kita menyayangkan, kita menyemangati, kita menyalahkan, hingga akhirnya entah memuji atau mencaci. Kita melakukan sesuatu yang menguras energi dan waktu kita, untuk sesuatu yang terjadi diluar arena kita. Sesuatu yang berada jauh dari jangkauan kita. Sesuatu yang bukan ranah kita. Dan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kita.

Acapkali pula kita melakukan semua itu sambil tekun mendengarkan dakwah dari TV maupun dari acara-acara secara langsung. Otak kita diisi dengan dakwah mengenai keadaan ideal yang sebaiknya manusia lakukan dan kehidupan yang semestinya manusia jalani, dari sisi satu agama. Namun mata, hati, pikiran kita terfokus pada orang lain diluar sana. Bagaimana bisa? Itulah uniknya manusia.

Ingatanku kembali pada isi buku yang tadi kubaca.



Kusadari bahwa beberapa waktu belakangan ini, ada kegelisahan tersendiri yang bergejolak dalam diri ini. Ada gelitik-gelitik dari ringan sampai berat yang memancing kegelian dan kegelisahan, yang belum ketemu sebabnya. Analisa dini berdasarkan kesotoy an ku mengatakan bahwa mungkin aku sedang berada ditahap jenuh.

Tapi satu sisi jiwa yang lain mengatakan ini lebih dari itu. Bagaimana jika ini adalah proses bertumbuh kedalam ku? Aku lebih sering mempertanyai diri sendiri, apa yang sebetulnya kuinginkan. Apa yang sebetulnya sedang terjadi? Bagaimana aku bisa mengurai semua kesemrawutan yang rasanya bagaikan benang kusut carut marut didalam kepala yang terkadang muncrat ke hati?

Jika benar begitu, pun tak mengapa. Aku rasa baik kiranya kita menyadari saat-saat sesuatu terjadi, dari dalam. Agar kemudian kita bisa pula mengetahui apa kebutuhan yang harus dipenuhi. Bagaimana cara memenuhi kebutuhan itu. Dan sejauh apa kita harus bekerja sama dengan semua gejolak dari dalam itu.

Kembali lagi pada jeda yang sering kuungkapkan dalam tulisan-tulisan sebelum ini. Aku sering berkata "manusia memerlukan jeda". Kini, aku sampaikan bahwa "aku memerlukan jeda".

Sekali lagi ini mengingatkanku pada semboyan atau tagline yang dulu selalu dimiliki oleh almarhum senior yang (sampai saat saat inipun tidak berhenti) saya kagumi. "Sumuk Ra Kringeten" 




No comments: