![]() |
| Pict by: Mas Bojo |
Meskipun bekerja dari rumah bukanlah hal yang baru untuk saya, namun tetap saja mengatur waktu untuk "Me Time" dihari kerja itu tidak mudah. Terkadang memang saya bisa produktif jika sedang semangadh bangun pagi, atau sedang bisa melek hingga malam. Namun seringnya saya membiarkan alarm pagi saya terus menerus berteriak hingga matahari hadir terlebih dahulu. Dan sering pula saya ikut terlelap mengejar kisah yang saya bacakan untuk anak saya, bahkan ketika anak saya belum mulai tidur.
Tapi, sebisa mungkin saya masih mengusahakan agar akhir pekan saya tidak berlalu begitu saja tanpa bekas. Seperti banyak akhir pekan di beberapa tahun yang telah berlalu. Saat dimana otak kanan saya sedang hibernasi jangka panjang. Saat-saat itu saya melewati akhir pekan saya dengan kurang bermanfaat. Ada manfaatnya, tapi masih kurang dan belum cukup banyak sepertinya.
Sekarang-sekarang ini, terlebih dengan banyak bergabung dengan komunitas kreatif, ditambah lagi dengan situasi pandemic yang membuat kita semua harus anteng-anteng dirumah, membuat saya semakin berusaha memaksimalkan akhir pekan saya. Saya perbanyak agenda membaca saya, dengan harapan saudara kembarnya (menulis) bisa mengikuti dibelakang. Saya sesekali merajut lagi, untuk memenuhi tantangan dari group yang isinya orang-orang ahli Craft di Kota Hujan ini. Luar biasa. Saya merasa lebih bersemangat.
Ternyata, badan kita memang mengikuti niat dan semangat kita. Semakin banyak melakukan sesuatu, semakin semangat dan prima raga kita. Dan ketika lelah datang, saya merasa lelah dengan puas dan lebih bahagia. Saya ingat bagaimana seringnya saya mengeluh lelah, meskipun saya tidak mengerjakan apapun dulu. Badan saya rasanya sakit-sakit semua, walaupun seharian saya hanya duduk, sesekali mengobrol dengan tetangga, scrolling up dan scrolling down hidup orang di media sosial. Jiwa dan raga saya justru lebih sering memberontak.
Seringkali terbersit dalam benak saya, bahwa bagaimana kita menikmati waktu kita sendiri (ketika sedang sendiri), adalah yang menentukan kulitas hidup kita. Saya bicara mengenai kualitas hidup dilihat dari sisi inti diri kita ya. Maksudnya, akan sangat berbeda sepertinya apabila orang menjalani waktu "sendirinya" untuk dirinya sendiri, dengan orang yang menjalani waktu "sendirinya" dengan melibatkan orang lain. Membaca, membuat prakarya, berkesenian, bermain musik, menyanyi, jogging, mendaki gunung, yoga, kontemplasi, dll adalah jenis spending time untuk diri kita sendiri. Kita melakukan sesuatu untuk diri kita, dan kita yang menikmati setiap detiknya. Bahkan yang menikmati hasilnya juga. Nonton, mengikuti media sosial orang lain, mengobrol dengan teman, mengobrolkan tentang teman, dll adalah bentung spending time yang melibatkan orang lain. Hasilnya terkadang justru tidak memberi ketenangan pada jiwa kita. Dan cenderung menguras energi yang seharusnya diisi. Tapi mungkin ini relatif ya. Hanya pandangan saya saja.
Semoga ikhtiar saya untuk meningkatkan kualitas hidup khususnya di akhir pekan, bisa terus berlanjut dan seterusnya. Aamiin.
Akhir pekan ini, saya menyelesaikan bacaan saya dari Mitch Albom yang "Five people you meet in heaven", dan saat ini sudah mulai membaca yang "Tuesdays with Morrie" yang juga dari Mitch Albom. Semoga ada semangat untuk menulis review nya juga. Melatih mentransfer apa yang saya baca (meskipun perjuangan sekali membaca, mentranslete, dan menceritakan kembali) kedalam tulisan saya sendiri. Ciayo!!!
Oh iya, hari ini saya sudah berhasil mengirimkan cerita pendek yang nantinya akan menjadi bagian dari Antologi Rasa milik para Alumni Kaizen. Semoga tulisan saya layak dibaca dan banyak yang menikmatinya. Tunggu yaaa... :-)
Love,
WJ
#WeekendActivity
#AkhirPekanYangProduktif
#QualityTime
#MeTime
#MitchAlbom
#FivePeopleYouMeetInHeaven
#TuesdayWithMorrie
#WeekendActivity
#AkhirPekanYangProduktif
#QualityTime
#MeTime
#MitchAlbom
#FivePeopleYouMeetInHeaven
#TuesdayWithMorrie

No comments:
Post a Comment