Thursday, May 28, 2009

Tak ada rekam jejak langkahku

Wuih.....

Ternyata sudah lama sekali aku tidak menyentuh blog ini.
Hampir sebulan lamanya.
Merasa bersalah sekali aku sekarang,
Karena banyak hal amazing yang terjadi padaku bulan ini.
Perjalanan ke Selebes pertama, konferensi internasional pertama,
dan masih banyak lagi hal-hal yang sebenarnya sangat bisa aku tuliskan
sebagai kenangan disini.
kenangan untuk aku bagi suatu saat dengan diriku yang sudah tua....
Namun entah kenapa,
Semakin banyak keinginanku untuk menuliskan apa yang ada di otak dan yang aku alami,
semakin banyak alasan pula yang memaksa aku tidak melakukannya.
Sibuklah....nggak ada waktulah....nggak ada idelah.....
Padahal...
dalam setiap menitku mengalami hal2 luarbiasa,
hanya satu yang bermain-main di otakku.
" dari segi bagaimana aku akan menuliskan pengalaman ini di blogku nanti"ang
Tetapi...
sesampainya aku didepan muka si Leno,
yang ada hanyalah keinginan untuk melakukan yang lainnya.
I'm very sorry blogie...
tetapi tenang aja, semua hal yang terjadi tetap terukir dan tertata rapi dalam otakku.
Aku yakin, suatu saat nanti aku pasti bisa mengukirkannya disini.

Di kamar dimana tidak pernah kutinggalkan selama beberapa hari ini,
28 Mei 2009

Friday, May 1, 2009

Kegilaan anak muda

Seminggu yang lalu, aku mendapatkan 4 buah tiket gratis ke sebuah arena bermain air yang cukup popular di bogor dari seorang teman. Setelah piker-pikir, lumayan juga untuk sekedar refreshing dan menghilangkan penat. Disamping juga karena aku belum pernah kesana. Hehehe….

Akhirnya berangkatlah kami 4 orang penyuka gratisan. Rencana awal kami akan berangkat hari senin jam 2 siang. Namun entah mengapa, akhirnya baru jam 4 kami benar-benar bisa dibilang berangkat. Jam 4 sore itu suasananya mendung parah. Hitam pekat dilangit sana. Tapi entah kenapa juga, kami tetap saja berangkat. Kembali lagi karena kami adalah anak muda…

Baru sepertiga perjalanan, hujan semakin menderas sehingga kami memutuskan untuk menepikan motor masing-masing dan bersiap dengan ponco dan raincoat. Sambil sedikit berbincang-bincang, muncul sedikit keragu-raguan apakah sesampainya di tempat itu, belum tutup wahananya. Tetapi kami seolah tak peduli, dan memutuskan berangkat lagi. Dasar anak muda…

Perjalanan menjadi cukup sulit dan panjang karena rupanya hujan tidak bersahabat dengan kami. Hujan menderas dan petirpun menyambar-nyambar. Baru sekali itu selama aku tinggal dibogor, keluar dalam kondisi hujan yang sedemikian deras. Karena itu akupun terheran-heran melihat jalanan bogor utara yang dibanjiri air. Dalam hatiku….”ya ampuuunn…bogor aja banjir begini, gimana Jakarta nggak lebih banjir lagi ya…”

Setelah kurang lebih setengah jam berkutat dengan hujan dijalanan, akhirnya kami memasuki komplek perumahan megah yang ada di kota Bogor itu. perumahan yang termasuk elite dan keberadaannya masih diperdebatkan oleh paara aktivis lingkungan terkait dengan AMDALnya. Baru pertama aku memasuki kompleks itu. di awal jalanan masuknya tak ubahnya perumahan yang lain. Kecil, banyak toko dikiri kanan jalannya. Semakin kedalam, semakin berbeda penampakannya. Jalanan melebar, pemandangan kiri kanan jalan juga mulai meng-asri. Hal pertama yang membuat ku “wooww” adalah adanya dinding panjat yang berdiri kokoh di sebelah kiri jalan. Sepertinya itu adalah taman bermain yang pertama, karena ada danau, penangkaran rusa, dan penangkaran unggas disekitarnya. Kamipun terus melanjutkan perjalanan. Semakin jauh ke dalam kompleks, semakin terkagum-kagumlah kami dengan perumahan itu. masih banyak sekali lahan kosong dan banyak sekali lahan yang digunakan sebagai sarana fasilitas umum. Hhwaaaa….ada tempat nongkrong baru nih…asyikkk…

Hujan masih saja turun dengan lebatnya ketika kami sampai pada lokasi yang kami tuju. Petugas parkirnya member kebijakan untuk membayar biaya parkir didalam saja, dikarenakan hujan lebat. Bagus juga…:P

Setiba di tempat parkir, rutinitas pengendara sepeda motor yang kehujanan pun dilakukan. Parkir, buka helm, buka raincoat, beres-beres, ketawa-ketiwi, dll. Melihat sekeliling dan sedikit terheran-heran adalah aktivitas kami selanjutnya. Meskipun ragu apakah wahana masih buka atau tidak saat itu, kamipun berannjak menuju loket penjualan tiket. Banyak sekali orang berada diarena itu, padahal hujan turun dengan lebatnya.

Kamipun mengeluarkan senjata tiket gratis yang kami miliki di depan loket karcis. Mbaknya yang jaga loket mengatakan begini : “apa yakin mbak mau benar-benar ditukerin sekarang(tiketnya_red)??” dan kamipun bertanya dengan sedikit heran : “ emang kenapa mbak, udah tutup ya?” jawab mbaknya : “ oh, belum. Hanya saja sekarang cuacanya sedang buruk. Jadi takutnya kalau mbak masuk sekarang, dan cuaca semakin buruk, maka semua orang harus naik dari kolam dan tidak boleh ada yang berenang.” Hmmmm….bingung juga nih. Akhirnya kamipun mengatakan dengan diplomatis kepada mbak-nya : “tunggu sebentar ya mbak, kami negosiasi dulu dengan kedua teman kami.” Hehehe…

Diskusi…diskusi…pertimbangan…pertimbangan…waktu berenang tinggal 1,5 jam, kalau masuk, hujan dan petir, nggak jadi renang. Kalau pulang lagi, sayang udah jauh-jauh datang. Wuih….gimana ya enaknya…akhirnya para lelaki memilih sholat dulu. Dan para wanita memilih membeli cemilan gorengan dulu. Setelah selesai dengan masing2 hajatannya, kamipun bernegoisasi lagi. Keputusan akhir adalah kami akan pulang saja. Meskipun sudah jauh-jauh, hujan-hujan, petir-petir, tak ada kata menyesal karena kami bertekad akan kembali ketempat itu pada hari Rabu dengan waktu lebih awal, selesai Zuhur.

Kamipun kembali berhujan-hujanan ria menuju kampus. Entah kenapa, tiba-tiba diperjalanan terbersit keinginan untuk tetap berenang saja, tetapi tempatnya didekat kampus. Akhirnya kamipun membelokkan arah ke kolam renang langganan yang biasa. Sekitar magrib, kami menyudahi acara berenang kami, dan mencari kehangatan di warung Baso kesayangan kami.

Hahahaha…..Dasar anak muda…sudah jauh-jauh, hujan-hujan, dan petir-petir menuju tempat berenang yang bagus, jatuhnya koq renang di dekat kampus lagi. Anak muda…anak muda….

Sunday, April 26, 2009

Masalah Etika Yang Kadang Kita Lupa

Hari ini aku melakukan sedikit perjalanan ketengah-tengah keramaian ibu kota Indonesia. Jakarta. Sekedar jalan-jalan, cuci mata, dan mencari beberapa barang elektronik. Aku berangkat dengan kereta cepat jurusan Bogor-Jakarta. Begitupun pulangnya.

Ada sedikit kejadian yang kurang atau bahkan tidak enak didengar ataupun dirasakan ketika aku berada di dalam kereta ekspress menuju Bogor. Suatu kejadian yang menegurku, mengingatkanku, dan sedikit mencoreng nama baik generasiku. Berikut adalah runtutan peristiwa dalam perjalananku sore ini.

Setelah mendapatkan alat elektronik yang aku cari, maka aku dan dia memutuskan untuk makan sebentar di restoran cepat saji yang ada di lantai dasar pusat belanja terbesar di Jakarta itu. kurang lebih setengah jam kemudian, kami sudah berlarian menuju loket kereta api untuk membeli tiket kereta ekspress yang sudah hampir berangkat. Dengan setengah berlari, kamipun berusaha menaiki kereta dari pintu yang masih terbuka. Melintasi satu gerbong, akhirnya kami menemukan bangku kosong, dan memutuskan duduk disana. Satu persatu penumpang memasuki dan mulai memadati gerbong kereta. Sekitar 15 menit kemudian, kereta mulai menutup pintunya, dan perlahan bergerak meninggalkan keramaian ibu kota. Syukurlah, kondisi dalam gerbong kereta tidak terlalu padat seperti hari-hari kerja biasa.

Karena sudah sore, maka kereta ekspress itu berhenti di setiap stasiun untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Aku dan dia mendiskusikan beberapa hal seperti biasa, untuk mengisi waktu. Di salah satu stasiun, obrolan kami berhenti manakala pintu kereta terbuka. Seorang lelaki berpostur tinggi dan berkulit putih (keturunan Arab sepertinya_red) memasuki gerbong tempat kami duduk, dan bertanya kepada orang yang duduk di pinggir pintu : “ ini kereta ke depok ya pak?? Di stasiun Depok berhenti kan??” tanyanya. Dan bapak yang ada di samping pintu masuk itupun mengiyakan. Lalu si laki-laki itu menghadap keluar kea rah beberapa orang remaja putrid : “ ayo…naik ini aja. Berenti di Depok koq.” Katanya. Akhirnya naiklah 3 orang remaja putrid yang tadi menunggu di luar. Mereka berdiri didekat pintu karena memang kursi telah terisi semua.

Beberapa waktu kemudian, para petugas pengecekan karcispun berjalan menyusuri gerbong sambil memeriksa karcis setiap penumpang. Ketika mas-mas yang meminta karcis kami selesai melubangi 2 karcis kami, dia tak kunjung pergi. Rupanya di bagian orang-orang yang berdiri, ada sedikit masalah karena aku bisa mendengar perdebatan kecil. Selidik punya selidik, rupanya pak petugas kereta api menemukan bahwa ke 3 remaja putrid tadi salah menaiki kereta. Mereka membeli tiket kereta AC ekonomi, tetapi naik di kereta ekspress. Bapak petugas menjelaskan peraturan dan segala macam mengenai perkereta apian. Nampaknya salah satu dari 3 remaja itu bersikap ngeyel dan memilih untuk mendebat bapak petugas itu. Dia menyalahkan petugas kereta api yang tidak memberikan peringatan bahwa kereta yang kami naiki ini bukanlah kereta mereka. Sedangkan pak petugas mengatakan bahwa sudah ada pengumuman, baik di bagian loket, ataupun di ruang tunggu kereta api. Rupanya mbaknya itu tetap ngeyel dan membantah pak petugas. Mas yang masuk pertama tadipun berusaha menengahi dan mengatakan : “ ya sudah pak, mbaknya ini bayar aja kurangannya berapa..kasian mereka ini kan mahasiswa pak..” katanya. Bapak petugas justru mendebat lagi upaya mas itu menengahi mereka dengan menjelaskan kesalahan 3 remaja itu dan peraturan perkereta apian. Ketika pak petugas sedang menjelaskan peraturan2 itu kepada mas-nya, remaja itu kembali ngeyel, sehingga pak petugas menjadi emosi. Bapak yang duduk di sampingku selang 1 orang, berusaha mencolek remaja itu untuk sekedar menenangkan dan mengingatkan agar mengalah saja, namun tidak di gubris. Beberapa orang di barisan kursi depanku mulai geleng-geleng kepala dan bergumam, : “ya ampun mbak, bayar sajalah…11 ribu ini kan??”

Entah bagaimana akhir dari perdebatan antara remaja putri dan pak petugas itu, akhirnya pak petugaspun berjalan kembali meneruskan pemeriksaan tiket. Ternyata ibu-ibu yang tepat berada didepanku juga mengalami hal yang sama, yaitu salah menaiki kereta. Namun karena sudah melihat kejadian tadi dan diperingatkan oleh ibu-ibu disampingnya untuk berdamai dan membayar saja, maka dia langsung mengatakan pada pak petugas : “ pak, saya juga salah naik kereta pak. Tapi saya bayar saja disini…beneran pak. Saya nggak tau kalau saya salah naik kereta.” Kata ibu itu bersungguh-sungguh. Si bapak petugas sepertinya masih geram dan kembali mengatakan bahwa ibu itu melanggar peraturan dan bla..bla..bla…

Saat itulah, si remaja yang tadi kembali nyolot dengan kata-kata : “ambil tuh duitnya..” dan entah bagaimana pula ceritanya, si pak petugas mendengarnya, sehingga pak petugas makin emosi saja. Dia melabrak remaja tadi dengan mengatakan bahwa dia itu tidak sopan kepada orang tua, dan dia mengatakan kata2 yang nadanya menyakitkan hati, bla…bla…bla….

Setelah puas mengeluarkan uneg-uneg, si bapak berjalan mennggalkan mereka. Karena melihat ibu-ibu dei depanku simpati dengannya, maka si bapak mengeluhkan sikap para remaja itu kepada ibu-ibu itu. rupanya remaja yang lain kembali tidak menyukai sikap pak petugas dan berteriak, : bapak apa-apaan sih??orang anaknya aja udah diem, koq malah bapak ngadu-ngaduin gitu sama orang?? Beraninya ama perempuan ya pak??” teriak remaja itu. akhirnya pak petugas memutuskan untuk pergi saja. Si ibu yang nampaknya udah gemas dengan sikap anak-anak itu, langsung bilang : “mbak, mbok ini nya itu dijaga (katanya sambil menunjuk mulutnya sendiri_red). Sama orang itu mbok omongnya ati-ati. Sekarang ini nyari kerjaan susah lho…jangan menjatuhkan orang kayak gitu. Nanti kualat lho..” kata ibu itu menggebu-nggebu dan diteruskan dengan membahasnya dengan anak muda yang duduk disampingnya. Dalam hati, aku mengacungi jempol 4 ke ibu itu. hehehe

Setelah panasnya hawa karena kejadian itu, aku dan dia membahas kejadian ini. Aku lalu berkata kepadanya. “ susah ya, yang muda menganggap bahwa fasilitas ini kurang memenuhi kebutuhan pengguna jasa, tapi yang bertugas menganggap ini sebagai professional. Jadi serba salah gitu deh. “ terus katanya : “ kalo pak petugas itu pasti juga dimarahin atasannya kali ya kalo nggak menegur dengan benar..?” dan akupun berkata : “ bisa jadi. Selain itu juga di Indonesia ini kan suka serba salah. Mungkin saja si ibu yang didepan kita ini adalah salah satu orang yang memang benar-benar nggak tau bahwa kereta yang dinaikinya salah. Tapi kan sering juga ada orang yang sengaja salah kereta agar bayar murah, tapi enak. Nah, mungkin saja pak petugas sering melihat yang seperti iitu. Mangkanya tadi rada emosi. “ terus dia berkata lagi : “iya juga sih…Cuma bapak itu juga terlalu emosi sih. Harusnya mungkin dia lebih kalem aja. Kan biasanya yang naik kereta ekspress ini kan orang2 yg rata2 pinter, dan mereka lebih seneng berdebat daripada membayar. Hehehhe” hehehhe…mungkin juga ya…kataku dalam hati.

Akupun kembali terpikirkan sesuatu dan mengatakan padanya : “ tapi ya…diluar bahwa memang fasilitas kuran dan professional, ada juga masalah etika kan. Etikanya antara anak muda dengan orang tua. Itu yang sepertinya hilang dari kejadian tadi. Harusnya paling nggak kan kita bisa menganggap bahwa tidak sopan mengatakan dan bersikap seperti itu dengan orang tua. Kita bolehlah kesal dan nggak suka dengan orang tua, tetapi kan lebih baik kalau ditahan, dan tidak diungkapkan didepannya langsung begitu. “ dan dia menyetujui pernyataan ini. “ iya, betul itu. aduh…jadi makin susah nih ya, mikir bagaimana cara kita dididik dan akan mendidik anak cucu kita nantinya.”

Mendengar kata-kata itu, akupun terdiam dan mulai bermain dengan otakku. Iya ya…yang paling berat adalah bagaimana kita akan mendidik anak-anak kita nanti agar tidak melupakan sisi etika berhubungan dengan orang lain. Thanks to my family yang meskipun dikampung, tapi justru memberikan banyak kesempatan untuk belajar etika, meskipun tak ada yang sempurana di dunia ini.

Goes To Eropa

Saat ini, kesibukan tengah melanda lingkungan rumah. Tidak berhubungan bermasalahnya pemilu legislative awal April 2009 kemarin, dan tidak berhubungan pula dengan pemilu presiden Juni nanti. Kali ini hanyalah kesibukan keluarga, yang sedang mempersiapkan keberangkatan sang ibu ke Eropa. Eropa???? Wooowww…..

Si Ibu harus pergi ke Eropa selama 2 minggu untuk menjalankan tugasnya dari kantor. Dengan berat hati, meninggalkan si Anak yang masih berumur 3 tahun itu dirumah bersama Ayah, Kakek, dan Neneknya. Selama beberapa hari terakhir, Ibu dan Ayah berusaha menjelaskan kepergian Ibu itu kepada si Anak. Dalam setiap kegiatan persiapan (packing) si Anak senantiasa di libatkan, dengan harapan agar si Anak mengerti pelan-pelan.

Selama 1 tahun terakhir, si Ibu sudah jarang meninggalkan rumah untuk waktu yang lama, terlebih lagi ke luar negri, yang otomatis membuatnya semakin dan semakin dekat dengan si Anak. Tentunya, hal itu akan semakin membuat hati menjadi berat untuk meninggalkan si Anak. Tetapi Nenek mengatakan bahwa : “ Kalau anak kecil itu ditinggal, satu dua hari pasti nangis dan nyariin. Tetapi setelahnya masih mudah lupa.” Entahlah….semoga saja begitu.

Kembali tentang Eropa…..

Sebuah benua yang namanya tak asing di telingaku, karena sejak SD pun dipelajaran sejarah telah disebut-sebut. Sepanjang perjalanan sekolah, nama Eropa semakin sering didengarkan. Belum lagi kenyataan bahwa teman-temanku pun ada yang sekolah disana, dan bercita-cita tinggal disana. Apa yang terbayang ketika mengatakan Eropa??? Bagiku, masih sama dengan membayangkan bagaimana itu Bulan. Karena memang kita mendapat banyak informasi tentangnya, tanpa sekalipun menginjakkan kaki disana.

Belanda, Paris, Rusia, Austria, Britania raya, Italia, Irlandia, Jerman, Portugal, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Yunani…..adalah beberapa Negara yang sering atau terlampau sering melintasi benak ini. Kenapa??? Karena terlalu banyak tempat-tempat yang konon katanya indah, bersejarah, atau penting untuk dikunjungi ketika kita mendapat kesempatan keliling Eropa. Negara sepak bola….salah satu julukan untuk Negara Eropa bukan??? Hehehe….scara atlet-atlet pesepakbolanya banyak yang ganteng-ganteng booossss….

Salah satu teman pernah bertemu dengan pelatih sepak bola klub mana gitu…(lupa_red) dan sempat berfoto. Hehehe….dan si Ibu yang sekarang mau berangkat ke Eropa ini, berharap dapat bertemu dan sempat berfoto dengan Christiano Ronaldo yang ganteng itu. hehehhe…semoga terwujud. Amin

Eropa…sekarang ini masih menjadi mimpi untukku. Tetapi aku harus punya keyakinan untuk dapat menuju kesana. Menginjakkan kakiku di tanah Eropa masuk sebagai daftar mimpiku yang nomor sekian. Hope my dreams come true…. amin

Seperti cerita lascar pelangi bukan??? Bahwa kita tidak perlu takut untuk bermimpi, karena mimpi itu akan mencarikan kita jalan menuju nyata. Kalau lagu Nidji menyebutkan “ Mimpi….Adalah kunci….untuk kita….Menaklukkan dunia….”

Seperti cerita yang beberapa waktu belakangan ini banyak mendatangi emailku mengenai istri dari mantan petinggi Indonesia Bpk. Hoegeng. Ibu Hoegeng (lupa namanya, Irma atau siapa gitu_red), sudah lama mendirikan klub Hawaian Senior yang mempopulerkan lagu-lagu Hawai, dan memiliki sahabat sejati di Hawai. Satu hal yang beliau impikan adalah untuk dapat pergi ke Hawai. Akan tetapi karena permasalahan politik lama yang membelit Bapak hoegeng, maka upaya keberangkatan beliau yang telah dengan susah payah mengumpulkan uang, ditolak atau dipersulit oleh pihak Indonesia dan Amerika Serikat. Namun beliau tidak pernah berhenti bermimpi untuk dapat pergi ke Hawai. Hingga akhirnya teman dan keluarganya memberikan kejutan yang sangat besar padanya. Bukan hanya dapat pergi ke Hawai, akan tetapi beliau juga dipertemukan dengan sahabat lamanya yang tinggal di Hawai. Sungguh akhir yang membahagiakan.

Itulah….akupun selalu berusaha menempatkan mimpi-mimpi itu didepan dahiku sejauh 5 cm (mengambil kata-kata dari buku 5 cm_red). Yang seperti dituliskan dalam buku 5 cm itu, bahwa kita selayaknya meletakkan mimpi atau impian itu 5 cm didepan dahi, agar selalu dapat dilihat dan tak terlupakan.

Wish de dreams come true….

Saturday, April 25, 2009

Benarkah Mereka Suka Ikut Campur ????

Dalam waktu sekitar 2 bulan ini, sudah tak terhitung berapa banyak teman, saudara, keluarga, ataupun orang yang baru kukenal menanyakan hal yang sama temanya. Semua itu berhubungan dengan apa yang telah terjadi di bulan Februari 2009 kemarin. Seberapa besar pengaruh bulan Februari dalam hidupku ini?? Sepertinya menjadi cukup besar karena memang disanalah status baru dipaksa berikan untukku.

Apa yang mereka tanyakan??? Merupakan pertanyaan yang wajar, lazim, dan lumrah untuk ditanyakan bagi penyandang status baru sepertiku. Setahun yang lalupun aku mendapatkan pertanyaan yang wajar, lazim dan lumrah ditanyakan kepada orang setingkatku. Waktu itu mereka akan dan sudah menanyakan : kapan kamu lulus??? Dan saat ini mereka sudah dan mungkin akan menanyakan : kamu kerja dimana???

Ada salah seorang temanku yang cukup dekat denganku, dan mengalami apa yang aku alami sekarang ini lebih dulu. Dia sangat terganggu dengan pertanyaan2 semacam itu. bahkan dalam tulisannya didalam blognya, dia mengatakan bahwa orang yang bertanya seperti itu adalah orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain. Apakah memang seperti itu???

Kalau menurutku pernyataan temanku yang satu itu tak sepenuhnya benar. Aku kurang setuju juga dengan pernyataan itu. kenapa?? Karena bagiku itu hanyalah sebuh bentuk interaksi social dengan lingkungan sekitar kita. Dengan saling bertanya, menanyakan, dan mendiskusikan sesuatu dengan orang lain, aku rasa itu adalah sebuah komunikasi biasa dan bahkan menurutku perlu dilakukan. Karena jika tidak ada yang saling peduli, atau jika semua orang didunia ini sudah bersikap seperti temanku itu, maka hidup ini akan sangat sepi. Bagaimana tidak, orang akan hidup dengan individualis, dan tidak peduli. Dalam setiap kegiatannya, orang akan mengenakan earphone di kupingnya yang entah untuk mendengar lagu atau radio seperti keseharian temanku itu. hhhwwaaaa……parah sekali.

Kembali kepada apa yang mereka tanyakan padaku. Kelulusankupun tak lepas dari keberadaan pertanyaan-pertanyaan itu. mungkin 40 % kelulusanku berdasarkan banyaknya pertanyaan yang semakin lama semakin membuatku terpacu menyelesaikan skripsi yang sempat molor 1,5 tahun itu. mereka dengan rajin menanyakan padaku : hayoo…kapan lulus??, koq nggak lulus2 sih??? Dan sebagainya.

Dan akhirnya, bulan Februari kemaren adalah titik dimana mereka harus membuat, mengarang, menciptakan, dan mempersiapkan pertanyaan baru untukku. Sekarang masalahnya adalah kapan kamu kerja??? Kerja dimana??? ngapain aja kerjanya??? Dan sebagainya, dan sebagainya…

Semoga saja dengan semakin dipertanyakan, maka garis pekerjaanku semakin jelas dan rejeki itu tetap mengalir. Amin.

Oh iya, ada satu lagi pertanyaan yang mengikuti kebiasaan pertanyaan mengenai pekerjaan setelah seorang mahasiswa lulus kuliah. Kapan kamu menikah??? Hallllaaaahhhh…..:P

Friday, April 24, 2009

Mobil ini sudah terbiasa sakit

Kembali pada masalah mobil, dan mobil ku sayang. Mobil ini sepertinya sudah terbiasa sakit, bahkan sepertinya sudah sangat menikmati rasa sakit itu. kecenderungannya, saat ini bukan hanya telah mampu menikmati rasa sakit itu, namun telah menganggap bahwa sakit itu adalah bagian dari dirinya.

Dahulu kala, ketika hama penyakit, borok dan pengganggu dari luar datang untuk yang pertama kali dan kedua kalinya, mobil itu meronta dan berusaha melepaskan diri. Dia menganggap bahwa semua penyakit itu aadalah ancaman. Dia berteriak ke kanan dan kekiri untuk mencari dan meminta bantuan. Sampai dengan penyakit itu pergipun, rasa sakit dan penderitaan itu masih membekas di dalam hati mobil ini. Sampai ada niat untuk memberontak dan memboikot saja para penyakit itu agar tidak berani lagi mendekatinya. Sungguh suatu semangat yang luar biasa dan meledak-ledak. Semangat yang mampu mempengaruhi sekitarnya, karena memang itu sangat berarti bagi kelangsungan hidup mobil itu kedepannya.


Setelah wabah penyakit yang pertama berlalu, kondisi mobil ini membaik dan semakin stabil. Diapun mulai beraktivitas seperti sedia kala. Dia juga mulai merancang dan menyusun rencana-rencana perjalanan jauh menaklukkan dunia. Jiwa mudanya kembali berkobar dan membara.

Namun malang tak dapat ditolak, dan untung tak dapat di raih. Beberapa waktu terakhir ini, si mobil ini mengalami penyakit yang beruntun. Memang tidak bersamaan, tetapi beruntun dan tanpa henti. Sembuh penyakit yang satu, maka muncul penyakit yang lain. Baru beberapa hari sembuh, penyakit lain sudah membayangi. Sungguh malang nasib mobil ini belakangan ini.

Setelah runtutan penyakit ini menghilang, seakan muncul ketidakpercayaan diri terhadap jiwa mobil ini. Pernah muncul satu opsi, apakah perlu kita ruwat/mandi kembangkan sang supir karena mobilnya selalu bermasalah ??? atau dia perlu membuang kolornya ke pantai selatan agar semua kesialan ini berlalu dan selesai??? Entahlah….tak ada yang punya solusi pasti untuk 6 penyakit yang beruntun menimpa mobil ini.

Yang terbaru dan aku yakin bukan yang terakhir, adalah kambuhnya penyakit lama mobil ini. Penyakit yang gejalanya muncul pada saat penyakit pertama menyerang, rupanya kembali lagi mendatangi tubuh mobil ini. Penyakit yang datang dari lingkungan dekat si mobil yang memberikan efek merasa terintimidasi dan dipaksa untuk bergerak. Mobil ini merasa ada yang berusaha menggerakkan dia, padahal sebenarnya dia tidak ingin bergerak demikian. Penyakit yang datang pelan-pelan, tidak berbau/seolah-olah menyamarkan bau, dan datang dengan santun. Sayangnya, saat ini si mobil tidak begitu merasakan bahwa dia sedang dalam ancaman suatu penyakit. Mungkin karena terlalu sering terjangkit penyakit, maka rasa peka itu semakin berkurang. Karenanya, dia tak lagi merasakan ini sebagai ancaman yang berbahaya. Parahnya, saat ini, ketika penyakit itu mengarahkannya untuk bergerak kekanan, dia justru menganggap bahwa dia memang seharusnya kekanan. Ketika penyakit itu mengarahkannya ke sungai, maka dia menganggap bahwa memang dia seharusnya ke sungai. Saat penyakit menggerakkannya ke gedung, maka dia menganggap bahwa memang seharusnya dia kegedung.

Bagaimana nasibnya mobil ini kedepan??? Entahlah…semakin tidak ada kejelasan dan samar-samar.

Friday, April 17, 2009

Mulutmu....Harimaumu.....

Tuhan…..please forgive me…

Hari ini aku udah melakukan tindakan bodoh karena sikap dan perkataanku yang ceplas ceplos…

Hope it doesn’t make some problem for them….

Now….i was feel very-very guilty…

Hwa……

Once more : I’m very-very sorry sis…