Showing posts with label Lupa. Show all posts
Showing posts with label Lupa. Show all posts

Tuesday, July 28, 2009

Penyakit Lupa

Sampai sekarang aku masih sering mendengar dan mengatakan bahwa lupa itu adalah suatu penyakit. Tapi bener nggak sih kalau kita bilang lupa adalah suatu penyakit??? Kalau akibat lupa bisa menjadi sakit sih bener banget tuh…tapi kalau lupa nya sendiri??? hh…..entahlah….


Yang jelas, yang namanya lupa sudah mendarah daging didalam ragaku. Setiap hari selalu saja ada yang terlupa. Sekuat tenaga aku melawan dan berusaha lepas dari kebiasaan lupa dan lupa lagi ini. Namun sedemikian parah pula lupa ini mendatangiku. Jadi maklum dengan lagunya Band Kuburan yang lupa…lupa…lupa…lupa…lupa lagi syairnya….


Apa yang sudah pernah aku lupakan, atau dalam hal apa aku pernah lupa, sudah tidak bisa di hitung lagi. Dan mulai hari ini, aku tidak berniat untuk mengingat dan menghitungnya lagi. Biarkan semua menjadi misteri….heheehhe


Yang ingin aku ceritakan sekarang adalah apa yang sudah aku lupakan atau lebih terpatnya yang sudah terlupakan olehku hari ini. Dan jika besok masih ada yang terlupakan, semoga aku masih bisa menuliskannya lagi disini.


Tadi pagi sewaktu bangun tidur, aku sudah mulai mengumpulkan energy dan bersemangat untuk mengembalikan LCD yang kemarin dipinjam untuk workshop, ke kantor temanku. Niat itu aku laksanakan sempurna tadi siang. Setelah menggendong tas LCD dengan mantap, akupun melangkahkan kakiku keluar rumah menuju ke garasi sepeda motorku yang ada di rumah sebelah. Sesampainya disana, rupanya sedang ada ritual makan siang. Maka akupun bergabung bersama Melly dan Mbak Dion menyantap asinan. Nyummy….


Di saat kami sedang menikmati panas dan pedasnya asinan itu, maka datanglah seorang wanita bule yang memang sedang mengerjakan film di kantor Melly itu. dan yang aku sayangkan, aku lupa untuk berkenalan dengannya. RUGI banget kan….itulah akibat penyakit lupa nomor 1 ku hari ini. Tapi tidak apa-apa, semoga masih ada kesempatan untukku bertemu dengannya esok hari.


Kamipun membahas mengenai apa saja yang kami makan dengan bule itu. Dia makan gado-gado tanpa nasi, tidak seperti om dwi yang makan gado-gado sambil makan nasi. Terjadi satu insiden kecil manakala bule itu ingin memulai makan siangnya. Dia bertanya,

“which one gado-gado??” dan Melly pun menunjukkan

“this one”


Diapun langsung membuka makanannya. Kami melanjutkan bincang2 siang kami. Si bule masih belum memulai makannya, malah nampak kebingungan sambil melihat-lihat kantong plastic didepannya yang masih berisi satu bungkusan makanan. Dan diapun bertanya

“this is for eat gado-gado??” Aku dan Melly menjawab dengan kompak.

“ oh no…for gado-gado just krupuk”

Si bule pun makin bingung. Akhirnya mbak Dion yang berhasil memecahkan masalahnya.

“lho Mel, itu kan nasi putih…gado-gadonya mana??” tanyanya.


Dan kamipun tertawa bersama menyadari bahwa bungkusan yang di berikan kepada bule itu salah. Baru setelah bungkusan yang berisi gado-gado sesungguhnya, bule itu makan dengan lahap. Kemudian Yudi dan Om dwi bergabung makan siang bersama kami. Kemudian bahan obrolan kami beralih pada salah satu menu pilihan Yudi. JENGKOL.


Secara iseng aku bertanya pada bule itu.

“ do you know jengkol??”

“no..what is that??its look spicy…”

Giliranku bingung menjawab…

“oh, foor jengkol, its not about spicy but about smell…hehehe…jengkol is smell so good..”

Hwakakakka…….


Setelah selesai dengan urusan ritual makan siang, akupun segera berangkat menuju kantor temanku di daerah Warung Jambu untuk mengembalikan LCD. Sendirian kukendarai motor kesayanganku yang bernama “si black”, dengan slebor seperti biasa. Hehehe


Apa daya, sesampainya di kantor temanku itu rupanya kantornya tertutup rapat. Tidak ada orang sama sekali. Sepi…senyap…itulah penyakit lupa nomor 2 ku. Aku lupa tidak menghubungi orangnya dulu. Biasanya aku selalu menghubungi orang itu dulu untuk memberitahukan bahwa aku akan mengembalikan barang ke kantor, dan tadi pagi aku lupa melakukannya. Good…


Maka, aku segera menelpon dia, dan syukur Alhamdulillah dia bilang sedang menuju ke Warung Jambu dan aku diminta menunggu sekitar seperempat jam dulu. Ok deh….akhirnya orang itu datang dan akupun segera memberikan LCD kepadanya.


Sambil mengendarai si black menjauhi kantor temanku itu, aku berpikir untuk sekalian saja mampir ke Jambu Dua mall untuk membeli beberapa barang yang sedianya akan aku berikan kepada beberapa temanku. Lalu, berbeloklah aku ke mall itu. setelah mencari tempat parkir yang sedikit ternaungi pepohonan, akupun segera melepas help dan menggantungkannya di bagasi motor. Sambil bersiap-siap, akupun membuka tas kecil yang aku bawa untuk memasukkan karcis parkirku.


Oh my god…..inilah penyakit lupa nomor 3 ku dan sekaligus yang paling parah untuk hari ini. Aku baru menyadari bahwa aku pergi tanpa membawa harta. Memang ketika akan berangkat, aku memindahkan SIM dan uang Rp. 20.000,- ke dalam tas kecilku dengan tujuan agar barang bawaanku ringan saja. Toh aku memang tidak berencana mampir kemanapun setelah mengembalikan LCD. Dan itulah, SIM yang bertengger manis bersamaan dengan handphone dan uang Rp. 20.000,- di dalam tas kecilku.


Dalam hati, aku tertawa mengingat kebodohanku hari ini. Ya sudahlah…akupun membatalkan rencana belanja dan segera membuka kembali bagasi, mengambil dan memakai helm, serta menyiapkan karcis parkir dan uang Rp. 20.000,- yang merupakan uang semata wayang itu. mas-mas penjaga pintu parkirpun sampai harus menukarkan uang itu kepada petugas lain. malang betul nasib uangku akibat kelalaianku itu….

Sunday, April 26, 2009

Masalah Etika Yang Kadang Kita Lupa

Hari ini aku melakukan sedikit perjalanan ketengah-tengah keramaian ibu kota Indonesia. Jakarta. Sekedar jalan-jalan, cuci mata, dan mencari beberapa barang elektronik. Aku berangkat dengan kereta cepat jurusan Bogor-Jakarta. Begitupun pulangnya.

Ada sedikit kejadian yang kurang atau bahkan tidak enak didengar ataupun dirasakan ketika aku berada di dalam kereta ekspress menuju Bogor. Suatu kejadian yang menegurku, mengingatkanku, dan sedikit mencoreng nama baik generasiku. Berikut adalah runtutan peristiwa dalam perjalananku sore ini.

Setelah mendapatkan alat elektronik yang aku cari, maka aku dan dia memutuskan untuk makan sebentar di restoran cepat saji yang ada di lantai dasar pusat belanja terbesar di Jakarta itu. kurang lebih setengah jam kemudian, kami sudah berlarian menuju loket kereta api untuk membeli tiket kereta ekspress yang sudah hampir berangkat. Dengan setengah berlari, kamipun berusaha menaiki kereta dari pintu yang masih terbuka. Melintasi satu gerbong, akhirnya kami menemukan bangku kosong, dan memutuskan duduk disana. Satu persatu penumpang memasuki dan mulai memadati gerbong kereta. Sekitar 15 menit kemudian, kereta mulai menutup pintunya, dan perlahan bergerak meninggalkan keramaian ibu kota. Syukurlah, kondisi dalam gerbong kereta tidak terlalu padat seperti hari-hari kerja biasa.

Karena sudah sore, maka kereta ekspress itu berhenti di setiap stasiun untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Aku dan dia mendiskusikan beberapa hal seperti biasa, untuk mengisi waktu. Di salah satu stasiun, obrolan kami berhenti manakala pintu kereta terbuka. Seorang lelaki berpostur tinggi dan berkulit putih (keturunan Arab sepertinya_red) memasuki gerbong tempat kami duduk, dan bertanya kepada orang yang duduk di pinggir pintu : “ ini kereta ke depok ya pak?? Di stasiun Depok berhenti kan??” tanyanya. Dan bapak yang ada di samping pintu masuk itupun mengiyakan. Lalu si laki-laki itu menghadap keluar kea rah beberapa orang remaja putrid : “ ayo…naik ini aja. Berenti di Depok koq.” Katanya. Akhirnya naiklah 3 orang remaja putrid yang tadi menunggu di luar. Mereka berdiri didekat pintu karena memang kursi telah terisi semua.

Beberapa waktu kemudian, para petugas pengecekan karcispun berjalan menyusuri gerbong sambil memeriksa karcis setiap penumpang. Ketika mas-mas yang meminta karcis kami selesai melubangi 2 karcis kami, dia tak kunjung pergi. Rupanya di bagian orang-orang yang berdiri, ada sedikit masalah karena aku bisa mendengar perdebatan kecil. Selidik punya selidik, rupanya pak petugas kereta api menemukan bahwa ke 3 remaja putrid tadi salah menaiki kereta. Mereka membeli tiket kereta AC ekonomi, tetapi naik di kereta ekspress. Bapak petugas menjelaskan peraturan dan segala macam mengenai perkereta apian. Nampaknya salah satu dari 3 remaja itu bersikap ngeyel dan memilih untuk mendebat bapak petugas itu. Dia menyalahkan petugas kereta api yang tidak memberikan peringatan bahwa kereta yang kami naiki ini bukanlah kereta mereka. Sedangkan pak petugas mengatakan bahwa sudah ada pengumuman, baik di bagian loket, ataupun di ruang tunggu kereta api. Rupanya mbaknya itu tetap ngeyel dan membantah pak petugas. Mas yang masuk pertama tadipun berusaha menengahi dan mengatakan : “ ya sudah pak, mbaknya ini bayar aja kurangannya berapa..kasian mereka ini kan mahasiswa pak..” katanya. Bapak petugas justru mendebat lagi upaya mas itu menengahi mereka dengan menjelaskan kesalahan 3 remaja itu dan peraturan perkereta apian. Ketika pak petugas sedang menjelaskan peraturan2 itu kepada mas-nya, remaja itu kembali ngeyel, sehingga pak petugas menjadi emosi. Bapak yang duduk di sampingku selang 1 orang, berusaha mencolek remaja itu untuk sekedar menenangkan dan mengingatkan agar mengalah saja, namun tidak di gubris. Beberapa orang di barisan kursi depanku mulai geleng-geleng kepala dan bergumam, : “ya ampun mbak, bayar sajalah…11 ribu ini kan??”

Entah bagaimana akhir dari perdebatan antara remaja putri dan pak petugas itu, akhirnya pak petugaspun berjalan kembali meneruskan pemeriksaan tiket. Ternyata ibu-ibu yang tepat berada didepanku juga mengalami hal yang sama, yaitu salah menaiki kereta. Namun karena sudah melihat kejadian tadi dan diperingatkan oleh ibu-ibu disampingnya untuk berdamai dan membayar saja, maka dia langsung mengatakan pada pak petugas : “ pak, saya juga salah naik kereta pak. Tapi saya bayar saja disini…beneran pak. Saya nggak tau kalau saya salah naik kereta.” Kata ibu itu bersungguh-sungguh. Si bapak petugas sepertinya masih geram dan kembali mengatakan bahwa ibu itu melanggar peraturan dan bla..bla..bla…

Saat itulah, si remaja yang tadi kembali nyolot dengan kata-kata : “ambil tuh duitnya..” dan entah bagaimana pula ceritanya, si pak petugas mendengarnya, sehingga pak petugas makin emosi saja. Dia melabrak remaja tadi dengan mengatakan bahwa dia itu tidak sopan kepada orang tua, dan dia mengatakan kata2 yang nadanya menyakitkan hati, bla…bla…bla….

Setelah puas mengeluarkan uneg-uneg, si bapak berjalan mennggalkan mereka. Karena melihat ibu-ibu dei depanku simpati dengannya, maka si bapak mengeluhkan sikap para remaja itu kepada ibu-ibu itu. rupanya remaja yang lain kembali tidak menyukai sikap pak petugas dan berteriak, : bapak apa-apaan sih??orang anaknya aja udah diem, koq malah bapak ngadu-ngaduin gitu sama orang?? Beraninya ama perempuan ya pak??” teriak remaja itu. akhirnya pak petugas memutuskan untuk pergi saja. Si ibu yang nampaknya udah gemas dengan sikap anak-anak itu, langsung bilang : “mbak, mbok ini nya itu dijaga (katanya sambil menunjuk mulutnya sendiri_red). Sama orang itu mbok omongnya ati-ati. Sekarang ini nyari kerjaan susah lho…jangan menjatuhkan orang kayak gitu. Nanti kualat lho..” kata ibu itu menggebu-nggebu dan diteruskan dengan membahasnya dengan anak muda yang duduk disampingnya. Dalam hati, aku mengacungi jempol 4 ke ibu itu. hehehe

Setelah panasnya hawa karena kejadian itu, aku dan dia membahas kejadian ini. Aku lalu berkata kepadanya. “ susah ya, yang muda menganggap bahwa fasilitas ini kurang memenuhi kebutuhan pengguna jasa, tapi yang bertugas menganggap ini sebagai professional. Jadi serba salah gitu deh. “ terus katanya : “ kalo pak petugas itu pasti juga dimarahin atasannya kali ya kalo nggak menegur dengan benar..?” dan akupun berkata : “ bisa jadi. Selain itu juga di Indonesia ini kan suka serba salah. Mungkin saja si ibu yang didepan kita ini adalah salah satu orang yang memang benar-benar nggak tau bahwa kereta yang dinaikinya salah. Tapi kan sering juga ada orang yang sengaja salah kereta agar bayar murah, tapi enak. Nah, mungkin saja pak petugas sering melihat yang seperti iitu. Mangkanya tadi rada emosi. “ terus dia berkata lagi : “iya juga sih…Cuma bapak itu juga terlalu emosi sih. Harusnya mungkin dia lebih kalem aja. Kan biasanya yang naik kereta ekspress ini kan orang2 yg rata2 pinter, dan mereka lebih seneng berdebat daripada membayar. Hehehhe” hehehhe…mungkin juga ya…kataku dalam hati.

Akupun kembali terpikirkan sesuatu dan mengatakan padanya : “ tapi ya…diluar bahwa memang fasilitas kuran dan professional, ada juga masalah etika kan. Etikanya antara anak muda dengan orang tua. Itu yang sepertinya hilang dari kejadian tadi. Harusnya paling nggak kan kita bisa menganggap bahwa tidak sopan mengatakan dan bersikap seperti itu dengan orang tua. Kita bolehlah kesal dan nggak suka dengan orang tua, tetapi kan lebih baik kalau ditahan, dan tidak diungkapkan didepannya langsung begitu. “ dan dia menyetujui pernyataan ini. “ iya, betul itu. aduh…jadi makin susah nih ya, mikir bagaimana cara kita dididik dan akan mendidik anak cucu kita nantinya.”

Mendengar kata-kata itu, akupun terdiam dan mulai bermain dengan otakku. Iya ya…yang paling berat adalah bagaimana kita akan mendidik anak-anak kita nanti agar tidak melupakan sisi etika berhubungan dengan orang lain. Thanks to my family yang meskipun dikampung, tapi justru memberikan banyak kesempatan untuk belajar etika, meskipun tak ada yang sempurana di dunia ini.