Hari ini aku melakukan sedikit perjalanan ketengah-tengah keramaian ibu kota Indonesia. Jakarta. Sekedar jalan-jalan, cuci mata, dan mencari beberapa barang elektronik. Aku berangkat dengan kereta cepat jurusan Bogor-Jakarta. Begitupun pulangnya.
Ada sedikit kejadian yang kurang atau bahkan tidak enak didengar ataupun dirasakan ketika aku berada di dalam kereta ekspress menuju Bogor. Suatu kejadian yang menegurku, mengingatkanku, dan sedikit mencoreng nama baik generasiku. Berikut adalah runtutan peristiwa dalam perjalananku sore ini.
Setelah mendapatkan alat elektronik yang aku cari, maka aku dan dia memutuskan untuk makan sebentar di restoran cepat saji yang ada di lantai dasar pusat belanja terbesar di Jakarta itu. kurang lebih setengah jam kemudian, kami sudah berlarian menuju loket kereta api untuk membeli tiket kereta ekspress yang sudah hampir berangkat. Dengan setengah berlari, kamipun berusaha menaiki kereta dari pintu yang masih terbuka. Melintasi satu gerbong, akhirnya kami menemukan bangku kosong, dan memutuskan duduk disana. Satu persatu penumpang memasuki dan mulai memadati gerbong kereta. Sekitar 15 menit kemudian, kereta mulai menutup pintunya, dan perlahan bergerak meninggalkan keramaian ibu kota. Syukurlah, kondisi dalam gerbong kereta tidak terlalu padat seperti hari-hari kerja biasa.
Karena sudah sore, maka kereta ekspress itu berhenti di setiap stasiun untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Aku dan dia mendiskusikan beberapa hal seperti biasa, untuk mengisi waktu. Di salah satu stasiun, obrolan kami berhenti manakala pintu kereta terbuka. Seorang lelaki berpostur tinggi dan berkulit putih (keturunan Arab sepertinya_red) memasuki gerbong tempat kami duduk, dan bertanya kepada orang yang duduk di pinggir pintu : “ ini kereta ke depok ya pak?? Di stasiun Depok berhenti kan??” tanyanya. Dan bapak yang ada di samping pintu masuk itupun mengiyakan. Lalu si laki-laki itu menghadap keluar kea rah beberapa orang remaja putrid : “ ayo…naik ini aja. Berenti di Depok koq.” Katanya. Akhirnya naiklah 3 orang remaja putrid yang tadi menunggu di luar. Mereka berdiri didekat pintu karena memang kursi telah terisi semua.
Beberapa waktu kemudian, para petugas pengecekan karcispun berjalan menyusuri gerbong sambil memeriksa karcis setiap penumpang. Ketika mas-mas yang meminta karcis kami selesai melubangi 2 karcis kami, dia tak kunjung pergi. Rupanya di bagian orang-orang yang berdiri, ada sedikit masalah karena aku bisa mendengar perdebatan kecil. Selidik punya selidik, rupanya pak petugas kereta api menemukan bahwa ke 3 remaja putrid tadi salah menaiki kereta. Mereka membeli tiket kereta AC ekonomi, tetapi naik di kereta ekspress. Bapak petugas menjelaskan peraturan dan segala macam mengenai perkereta apian. Nampaknya salah satu dari 3 remaja itu bersikap ngeyel dan memilih untuk mendebat bapak petugas itu. Dia menyalahkan petugas kereta api yang tidak memberikan peringatan bahwa kereta yang kami naiki ini bukanlah kereta mereka. Sedangkan pak petugas mengatakan bahwa sudah ada pengumuman, baik di bagian loket, ataupun di ruang tunggu kereta api. Rupanya mbaknya itu tetap ngeyel dan membantah pak petugas. Mas yang masuk pertama tadipun berusaha menengahi dan mengatakan : “ ya sudah pak, mbaknya ini bayar aja kurangannya berapa..kasian mereka ini kan mahasiswa pak..” katanya. Bapak petugas justru mendebat lagi upaya mas itu menengahi mereka dengan menjelaskan kesalahan 3 remaja itu dan peraturan perkereta apian. Ketika pak petugas sedang menjelaskan peraturan2 itu kepada mas-nya, remaja itu kembali ngeyel, sehingga pak petugas menjadi emosi. Bapak yang duduk di sampingku selang 1 orang, berusaha mencolek remaja itu untuk sekedar menenangkan dan mengingatkan agar mengalah saja, namun tidak di gubris. Beberapa orang di barisan kursi depanku mulai geleng-geleng kepala dan bergumam, : “ya ampun mbak, bayar sajalah…11 ribu ini kan??”
Entah bagaimana akhir dari perdebatan antara remaja putri dan pak petugas itu, akhirnya pak petugaspun berjalan kembali meneruskan pemeriksaan tiket. Ternyata ibu-ibu yang tepat berada didepanku juga mengalami hal yang sama, yaitu salah menaiki kereta. Namun karena sudah melihat kejadian tadi dan diperingatkan oleh ibu-ibu disampingnya untuk berdamai dan membayar saja, maka dia langsung mengatakan pada pak petugas : “ pak, saya juga salah naik kereta pak. Tapi saya bayar saja disini…beneran pak. Saya nggak tau kalau saya salah naik kereta.” Kata ibu itu bersungguh-sungguh. Si bapak petugas sepertinya masih geram dan kembali mengatakan bahwa ibu itu melanggar peraturan dan bla..bla..bla…
Saat itulah, si remaja yang tadi kembali nyolot dengan kata-kata : “ambil tuh duitnya..” dan entah bagaimana pula ceritanya, si pak petugas mendengarnya, sehingga pak petugas makin emosi saja. Dia melabrak remaja tadi dengan mengatakan bahwa dia itu tidak sopan kepada orang tua, dan dia mengatakan kata2 yang nadanya menyakitkan hati, bla…bla…bla….
Setelah puas mengeluarkan uneg-uneg, si bapak berjalan mennggalkan mereka. Karena melihat ibu-ibu dei depanku simpati dengannya, maka si bapak mengeluhkan sikap para remaja itu kepada ibu-ibu itu. rupanya remaja yang lain kembali tidak menyukai sikap pak petugas dan berteriak, : bapak apa-apaan sih??orang anaknya aja udah diem, koq malah bapak ngadu-ngaduin gitu sama orang?? Beraninya ama perempuan ya pak??” teriak remaja itu. akhirnya pak petugas memutuskan untuk pergi saja. Si ibu yang nampaknya udah gemas dengan sikap anak-anak itu, langsung bilang : “mbak, mbok ini nya itu dijaga (katanya sambil menunjuk mulutnya sendiri_red). Sama orang itu mbok omongnya ati-ati. Sekarang ini nyari kerjaan susah lho…jangan menjatuhkan orang kayak gitu. Nanti kualat lho..” kata ibu itu menggebu-nggebu dan diteruskan dengan membahasnya dengan anak muda yang duduk disampingnya. Dalam hati, aku mengacungi jempol 4 ke ibu itu. hehehe
Setelah panasnya hawa karena kejadian itu, aku dan dia membahas kejadian ini. Aku lalu berkata kepadanya. “ susah ya, yang muda menganggap bahwa fasilitas ini kurang memenuhi kebutuhan pengguna jasa, tapi yang bertugas menganggap ini sebagai professional. Jadi serba salah gitu deh. “ terus katanya : “ kalo pak petugas itu pasti juga dimarahin atasannya kali ya kalo nggak menegur dengan benar..?” dan akupun berkata : “ bisa jadi. Selain itu juga di Indonesia ini kan suka serba salah. Mungkin saja si ibu yang didepan kita ini adalah salah satu orang yang memang benar-benar nggak tau bahwa kereta yang dinaikinya salah. Tapi kan sering juga ada orang yang sengaja salah kereta agar bayar murah, tapi enak. Nah, mungkin saja pak petugas sering melihat yang seperti iitu. Mangkanya tadi rada emosi. “ terus dia berkata lagi : “iya juga sih…Cuma bapak itu juga terlalu emosi sih. Harusnya mungkin dia lebih kalem aja. Kan biasanya yang naik kereta ekspress ini kan orang2 yg rata2 pinter, dan mereka lebih seneng berdebat daripada membayar. Hehehhe” hehehhe…mungkin juga ya…kataku dalam hati.
Akupun kembali terpikirkan sesuatu dan mengatakan padanya : “ tapi ya…diluar bahwa memang fasilitas kuran dan professional, ada juga masalah etika kan. Etikanya antara anak muda dengan orang tua. Itu yang sepertinya hilang dari kejadian tadi. Harusnya paling nggak kan kita bisa menganggap bahwa tidak sopan mengatakan dan bersikap seperti itu dengan orang tua. Kita bolehlah kesal dan nggak suka dengan orang tua, tetapi kan lebih baik kalau ditahan, dan tidak diungkapkan didepannya langsung begitu. “ dan dia menyetujui pernyataan ini. “ iya, betul itu. aduh…jadi makin susah nih ya, mikir bagaimana cara kita dididik dan akan mendidik anak cucu kita nantinya.”
Mendengar kata-kata itu, akupun terdiam dan mulai bermain dengan otakku. Iya ya…yang paling berat adalah bagaimana kita akan mendidik anak-anak kita nanti agar tidak melupakan sisi etika berhubungan dengan orang lain. Thanks to my family yang meskipun dikampung, tapi justru memberikan banyak kesempatan untuk belajar etika, meskipun tak ada yang sempurana di dunia ini.
No comments:
Post a Comment