Monday, February 23, 2009
Pangeran Berkuda....
Tidur dulu ah….
Dalam terlelap, aku merasakan kenyamanan yang luar biasa.
Nyaman, empuk, wangi, sunyi, dan menentramkan.
Kasurku yang lebar dan empuk….
Selimut yang tebal dan hangat berisi bulu-bulu angsa…
Bantal yang serupa…
Kelambu yang halus melindungiku dari nyamuk-nyamuk nakal…
Lampu yang temaram…
Jendela yang tebuka, memberikan celah untuk angin sepoi-sepoi,
Meniupkan aroma wangi pepohonan dan tanah…
Sunyi yang menentramkan,
Hanya sesekali terdengar jangkrik dan tonggeret saling menyahut….
Perlahan aku terbangun,
Karena mendengar suara yang jauh namun semakin mendekat…
Suara itu berasal dari luar jendela sana.
Dengan mata yang masih merem-melek,
Aku turun dari ranjangku yang empuk.
Dengan sandal kamar yang cantiq,
Aku mulai melangkah perlahan menuju jendela.
Kubuka daun jendela lebar-lebar…
Aku mundur beberapa langkah sambil menutup mataku,
Karena silau oleh cahaya.
Setelah beberapa detik menyesuaikan diri,
Aku kembali mendekat kea rah jendela.
Kuarahkan pandanganku ke arah matahari terbit,
Yang menjadi sumber suara..
Samar-samar dibatas cakrawala,
Muncul bayangan yang bergerak-gerak menuju kearahku.
Kupicingkan mataku untuk memperjelas pandangan menantang sinar mentari..
Perlahan namun pasti, bayangan itu semakin dekat dan semakin nyata,
Diiringi denga suara yang semakin menggemuruh…
Membutuhkan waktu beberapa lama hingga akhirnya aku bisa melihat jelas
Apa yang sedang bergerak kearahku itu…
Setelah bayangan itu nyata sempurna dimataku, sedikit terpana…
Seorang pangeran tampan dan gagah berani
Sedang menunggang kuda sembrani menuju kearahku.
Dengan sigap, pangeran itu mengendarai dan mengarahkan kuda putih itu….
Oh….sungguh suatu pemandangan yang sempurna…
Dengan terpana, aku terus mamandangi pangeran itu,
Hingga sewaktu tepat berada dihadapanku,
Pangeran berkuda itu tiba-tiba berhenti.
Dia memandangku untuk beberapa lama,
Hatiku menjadi berbunga-bunga….
Dari arah datangnya sang pangeran,
Nampak muncul kembali bayangan-bayangan yang jumlahnya lebih banyak…
Bayangan itu juga bergerak semakin dan semakin dekat…
Jumlahnya pun, semakin lama semakin nyata banyaknya…
Bayangan-bayangan itu mulai menampakkan diri
Sebagai puluhan orang yang berlari,
Sambil mengacung-ngacungkan berbagai macam senjata…
Ada panah, parang, tali, cambuk, dan lain-lain…
Sementara sang pangeran berkuda….
Tanpa mengucapkan sepatah katapun,
Sang pangeran mengulurkan tangannya kepadaku….
Spontan saja aku menerima uluran tangan itu…
Perlahan, aku langkahkan kakiku melewati jendela…
Laksana puteri raja yang hendak diculik oleh pangeran cintanya…
Dibelakang sana,
Orang-orang yang berlarian itu semakin dekat dan semakin dekat…
Pangeran itu memegangi tanganku,
Dan membantuku untuk naik ke punggung kuda sembraninya…
Satu kaki berhasil aku lewatkan punggung kuda itu.
Ternyata tidak mudah untuk bisa melompat dari jendela
Dan langsung duduk dipunggung kuda..
Ketika aku hendak melepaskan kakiku yang satunya dari jendela,
Aku melakukan kesalahan…
Apa daya…sekuat tenaga aku berusaha melompat,
Namun akhirnya aku tidak berhasil mencapainya….
Dan…
“Gubrak…”
Aku merasakan sakit pada punggung
Dan kepalaku karena terjatuh dan terantuk kursi…
“kursi???” batinku…
Suara-suara kaki yang berderap-derap karena berlarian
Semakin terdengar jelas diluar kamarku…
Masih dengan terheran-heran, aku berjalan untuk melihatnya…
Ternyata banyak sekali orang yang sedang berlarian dan mengejar sesuatu…
Aku memberanikan diri untuk bertanya pada satu orang
Yang larinya lebih lambat karena nampak kecapaian…
“ bapak, kenapa semua orang berlarian dan terburu-buru,
Seperti sedang mengejar sesuatu?” tanyaku.
Si bapak menjawab sambil ngosh-ngosh-an :
“sedang mengejar kuda yang lepas dari istal sebelah neng…”
Aku termangu…..
Lalu aku segera membalikkan badan dan mengamati kamarku…
“Ya tuhan…ternyata itu semua Cuma mimpi….
kamar istana, kuda, pangeran…..
jadi semua itu hanya mimpi???
jadi aku tidak jatuh dari jendela karena terpeleset
ketika hendak pergi bersama pangeran dengan kuda sembraninya???
jadi aku jatuh dari tempat tidurku karena aku bermimpi????” batinku.
“TIIIIIIIIDDDDAAAAAAAAKKKKKKK……….”
Bogor, 23 febuary 2009
Saturday, February 21, 2009
Pencarianku
Aku sedang mencari arti bunga…
Bunga yang konon memiliki perumpamaan arti sendiri-sendiri…
Kenapa aku mencarinya??
Karena aku punya sebuah misi
Apa misi dari pencarian ini??
Tak perlu disampaikan sendiri…
Semoga misi, mimpi, dan keinginan ini bisa nyata dalam waktu dekat
Smangadh…smangadh…!!!
Thursday, February 5, 2009
Tak Ada Lagi Yang Memanggilku “Endeung…”
Ngayogyokarto Hadiningrat, 31 Januari 2009
21.00
Hhiiihhhiiihhiiihheeehhheeee…
(suara handphoneku berbunyi sebagai tanda ada pesan masuk)
Dengan setengah sadar aku buka sms itu karena aku sudah mulai tertidur didepan TV dengan si Hileut di sampingku yang telah lebih dulu pulas. Ternyata pengirim sms itu bernama : more than…. Ouh, dari dia. Batinku. Aku langsung terkejut begitu membaca berita sms itu yang mengabarkan bahwa salah satu teman kami yang juga teman kerjaku dulu sedang dirawat di RS. Swasta di Bogor sana karena mengalami pendarahan otak. Dan saat ini sedang dalam kondisi koma. Semua teman telah berkumpul di rumah sakit itu, dan mohon doa untuk beliau. Setelah beberapa kali berbalas sms, akhirnya aku melanjutkan tidurku.
01.40
Hhiiihhhiiihhiiihheeehhheeee…
(kembali suara anak kecil tertawa membangunkan aku dari tidurku)
Dan kembali lagi dari more than…Kali ini dia mengabarkan bahwa kondisi teman kami semakin kritis dan memburuk. Mohon doa lagi. Dalam hatiku, ya Allah, temanku yang tinggi besar, kekar meskipun hitam itu saat ini sedang berjuang melawan maut karena ada darah yang menekan saraf2 otaknya. Semoga dia diberikan kesembuhan seperti sedia kala. Amien.
02.40
Hhiiihhhiiihhiiihheeehhheeee…
Dering handphone yang menandakan ada panggilan masuk akhirnya terdengar
(sulit menggambarkan bagaimana suaranya dengan kata-kata).
Karena setting profile handphoneku sengaja aku ganti dengan “loud”, maka mau-tak mau aku harus segera mengangkat telephone itu, atau seluruh keluargaku yang akan mengangkatnya.
Dia lagi, dan ketika aku baru berusaha mengumpulkan pikiran, dia menyerbu dengan pertanyaan : udah baca sms terakhirku??
Lalu aku geser handphone itu dari samping kepala kedepan mata, dan ternyata gambar amplop kuning masih berkelap-kelip disudut atasnya. Lalu aku jawab, hehe belum. Kenapa??
Innalillahi Wa’inailaihi Roji’un….
Setelah telepon ditutup, aku hanya bisa diam dan diam.
Kembali teringat tentang temanku yang satu itu.
Setiap bertemu, dimanapun dan kapanpun, dia pasti selalu menyapaku dengan panggilan : “eh, si endeung”
Memang semenjak aku tidak lagi satu tempat kerja dengan dia, kami tak lagi sering mengobrol sesuatu yang serius. Ketika masih kerja bersama, paling tidak kami selalu bertukar cerita tentang masing-masing dari kami.
Satu hal yang membuat aku sedih, adalah ketika aku mengingat bagaimana dia berusaha menahan aku untuk tetap bekerja dikantor kami. Dia bahkan memberikan alas an kepada bos kami bahwa pekerjaanku mengurus administrasi dan keuangan itu sangat berat. Jadinya gajiku haruslah dinaikkan, sehingga aku tidak jadi keluar dari pekerjaanku.
Padahal aku sudah meykinkan padanya kalau aku tidak keluar dari pekerjaan karena itu. Sungguh terharu jika aku mengingat itu….
Dulu, kita berkenalan
Dulu, kita berteman
Sekarang, kita bersahabat
Sekarang, kita bersaudara
Semoga perjalananmu menyenangkan teman,
Semoga rumahmu nyaman kawan,
Semoga engkau mendapat yang terbaik saudaraku….
~Wilis~
Friday, January 23, 2009
Sebut Saja Namanya Bunga....
“Di sebelah mana kami masih bisa bangga?”
Sebut saja namanya “Bunga” (bukan nama sebenarnya, hanya lebih kepada kesan agar seperti acara2 diradio jaman dulu_red)
Bunga adalah seorang murid dari sekolah tinggi yang terkenal dengan para alumni yang banyak berkhianat terhadap identitas almamaternya. Bunga yang bertubuh subur makmur, juga merupakan penumpang dari mobil sebelum cerita ini (baca:mobil itu supirnya satu, kalau banyak malah bikin runyam). Hari kemaren (kamis_red), aku mendengar keluh kesahnya tentang sikap seseorang yang menurutnya kurang layak sebagai seorang penumpang mobil yang sama.
Begini ceritanya (menurut Bunga_red) :
Bunga yang masih termasuk baru bergabung dengan penumpang mobil itu, di “wulang” pelajaran oleh salah satu penumpang lama mobil itu juga. Sebagai seorang penumpang yang baru, maka sudah sewajarnya kalau dia masih aktif dan bersemangat dalam melakukan banyak hal seputar kegiatan penumpang mobil itu. Sayangnya, hal tersebut membuat dia ketinggalan beberapa jam belajarnya bersama dengan penumpang lama itu. Hal tersebut rupanya membuat Bunga terganjal untuk ikut ujian akhir. Maka, menghadaplah Bunga ke hadirat si penumpang lama. Setelah beberapa kali mendatangi tempat penumpang lama itu, Bunga baru bisa bertemu.
Berikut ini adalah cuplikan obrolan antara Bunga dengan penumpang lama itu :
Bunga (B) : Selamat siang pak
Penumpang Lama (PL) : selamat siang, ada apa?
B : Nama saya Bunga pak (untung tidak mengenalkan diri dengan :sebut saja nama saya Bunga. Hehehe)
PL : iya, kenapa?
B : saya ingin mengurus masalah absensi pak
PL : kenapa?
B : iya pak, waktu itu saya tidak bisa ikut belajar karena sedang ada kegiatan pak. Dan saya pernah lupa tidak mengisi absen. Jadi saya tidak mengisi absen 3 kali.
PL : kenapa kamu ikut kegiatan itu?
B : karena saya penumpang mobil yang baik pak
PL : orang tuamu bagaimana??
Bla…bla…bla….
(akhirnya si penumpang lama itu memberikan ceramah, wejangan, atau siraman rohani kepada Bunga tentang hal-hal yang kurang substansial)
B : iya pak, jadi bagaimana pak? Apakah saya masih bisa ikut ujian?
PL : saya nggak tahu
B : kalau UTS bisa pak?
PL : bisa
B : kalau UAS-nya pak?
PL : saya bilang saya nggak tahu…lha wong absennya juga bukan di saya
B : terus gimana pak?
PL : Kamu termasuk anggota penumpang mobil itu ya?
B : iya pak
PL : kamu tahu nggak kalau saya juga penumpang mobil itu?
B : tahu pak
PL : saya ini sekarang sudah tidak menyukai lagi mobil dan penumpang2nya itu.
B : oh ya pak? Baik pak terima kasih
Bunga langsung meninggalkan ruangan dengan perasaan yang tidak nyaman. Dalam hatinya dia merasa bahwa orang ini sangat tidak mencerminkan seorang penumpang mobil yang dia naiki juga. Sikapnya terlalu sombong dan aneh untuk seorang penumpang mobil. Tetapi Bunga menjadi maklum karena beberapa waktu ini, dia sudah banyak melihat penumpang2 lain yang bersikap sama. Termasuk dengan penumpang2 lama yang berusaha menjadi supir lagi.
Melihat kenyataan bahwa para penumpang lama sudah tidak bisa membuat penumpang baru merasa segan, timbul satu perasaan dihati bunga bahwa memang kebanggaan akan cantik, molek, anggun, kokoh, dan berjayanya mobil yang dia sayangi itu telah runtuh. Menyusutlah kebanggaan yang selama ini dia pupuk. Layulah kuncup2 cinta yang selama ini dia semikan didalam hati.
Kebanggaan seperti apa yang tersisa saat ini?? Beruntunglah kami masih mampu membangun kekeluargaan yang cukup erat di antara kami yang masih searah dan sejalan. Kami semua masih bisa tersenyum bersama di tingginya gunung, dalamnya goa, ramainya mall, serunya café, sederhananya warteg, dll.
Thursday, January 22, 2009
Mobil Itu Supirnya Satu, Kalau Banyak Malah Bikin Runyam
Malam ini aku kembali bertemu dengan supir mobil yang selama ini aku dan teman-teman tumpangi. Mobil yang berjalan mengarah pada satu tujuan. Tujuan yang sangat jelas tertulis dipapan pengumuman, dan selalu diteriakkan oleh teman-teman kami ketika ada diantara kami yang mulai lupa. Mobil yang tak pernah penuh dengan penumpang, bahkan ketika dia selalu menaikkan penumpang tanpa mengeluarkannya.
Kembali pada supir kami….
Malam ini aku bertemu dengan dia ketika aku mengantarkan titipan buah dari salah satu penumpang lama mobil kami, yang baru dibawanya dari pulau sebrang. Ketika aku dating, supir kami sedang asyiknya bermain game seperti beberapa hari ini.
Beberapa obrolan kami lakukan, termasuk tentang kondisi mobil kami saat ini. Kata dia, mobil kami sekarang ini sedang sakit. Layak untuk dimasukkan ke bengkel. Kalau ibaratnya manusia, layak dibawa kerumah sakit. Kami yang ada diruangan yang sama malah jadi bingung, dan akhirnya bertanya kepadanya mengenai maksud dari perkataannya. Ya, kata supir kami, mobil kami sedang sakit karena para penumpangnya sudah banyak yang ingin menjadi supir. Kebanyakan dari penumpang mobil kami, saling berlomba, saling menunjukkan kehebatannya untuk dapat menjadi supir mobil kami. Padahal sudah jelas bahwa kami mempercayakan setir mobil kami kepadanya seorang.
Dia juga mengatakan bahwa awalnya kita semua sangat menghormati, menghargai, dan menyegani para penumpang yang terlebih dahulu memasuki mobil ini dan menempatkan diri selaku penumpang yang baik. Namun belakangan ini kami semua merasa bahwa memang ada pergeseran nilai tersebut. Mungkin karena seperti apa yang dibilang oleh supir kami tadi, yaitu karena semua ingin menjadi supir, maka mobil ini justru menuju kehancuran dan sakit.
Satu kalimat yang membuatku tersentak adalah ketika dengan tegas supirku mengatakan : “gila ya, mereka(pera penumpang lama_red) sekarang sudah tidak mendapatkan rasa simpati dari kita lagi. Kita sudah kehilangan rasa simpati dan respect kita sama mereka”
Bagi yang mengenal supir kami, maka kalimat sepanjang itu adalah mukjizat, karena bisa keluar dengan lancar dari mulutnya. Wouw…..
Dan yang tak kalah mencengangkan sekaligus memberikan aku semangat adalah ketika dia kembali berkata : “kalau mobil itu, dimana-mana yang nyetir Cuma satu. Kalau mereka mau, suruh daftar jadi kernet ajah…”
Hahahaha……boleh juga tuh. Tidak sedikit koq satu mobil sampai punya 3-4 kernet….
Mantap pak sopir…..smangadh ya….
Air Mengalir Sampai Jauh
Pelajaran Pertama Hari Ini
“Air Mengaliiirrrr……Sampai Jaaaauuuuhhhh….”
Kenapa air sebegitu pentingnya dalam hidup manusia?
Wueleh…pastinya kalau pertanyaan itu dipertanyakan kepada orang-orang yang kita temui, pasti jawaban yang beragamlah yang akan kita dapati. Setiap orang akan mengungkapkan jawaban yang berbeda, meskipun ada kemungkinan juga mereka menjawab dengan hal yang sama. (ya…scara kan guru SD biasanya menjelaskan hal2 yg seragam dari sabang sampai merauke. Dan ingatan waktu SD biasanya masih saja melekat dalam ingatan kita. BIASANYA lho…)
Kembali ke air…
Aku bukan ingin membahas tentang air yang berhubungan dengan perubahan iklim dunia, banjir, privatisasi, atau yang berat-berat lainnya. Ini hanyalah kisah tentang hari-hariku bersama dengan si makhluk bernama air. Jadi, kita tidak perlu mengkernyitkan dahi dan memonyongkan mulut ketika membaca ini. (kepedean_red).
Jam 06.00 wib aku mulai membuka mata (meskipun merupakan anugerah jika aku bisa seminggu penuh aja bangun jam segini). Yang pertama aku lakukan adalah mengucek-ucek mataku hingga berair. Terkadang ditambah dengan mengusap air yang sempat mengalir disamping mulut (iler_red). Setelah puas dengan air yang menempel, maka aku akan berjalan ke kamar mandi yang pasti lantainya berair karena memang belum di desain sbg kamar mandi kering. Lalu aku akan menggunakan air di bak untuk cuci muka, serta membersihkan sisa-sisa buang air.(hhiiii…). Kadang-kadang kalau mood-nya lagi bagus, aku langsung mengguyur badan dengan bergayung-gayung air alias mandi.
Keluar dari kamar mandi, aku lalu berjalan kedapur dan mengambil gelas untuk membuat the/kopi. Eh, gelasnya masih berair yang berarti si teteh pasti baru selesai mencucinya. Yo wis….
Segelas air the atau air kopi kemudian memasuki perutk u yang masih polos ini.
Puas dengan kopi dan sedikit gossip yang dibawakan pembawa acara favorit, aku kembali membaca-baca artikel dilayar kompie. Sejam dua jam masih ok, paling diselingi dengan membuang air atau membuat air minuman. Lama-lama, mataku pasti mulai berair karena kelamaan melototin layar kompie. Istirahat lagi sambil nonton berita di TV tentang banjir air di Jakarta. Wuih….tabah ya saudara-saudaraku di Jakarta, Kalimantan, pekalongan, dll….air yang banyak, malah membuat kalian susah.
Siang hari, waktunya makan. Menu andalanku jika di kampus adalah nasi seperempat, ikan bandeng yang dimasak pake air bumbu, sayur yang pake kuah, tempe goreng(sayangnya goreng pake minyak, bukan air_red). Kalau sedang di geko, menu andalanku adalah mie ayam diruko yang baru dengan air yang melimpah. Pastinya masih harus ditambah air minum donk….
Bogor, Bogor, Bogor…..
Belakangan ini, nampaknya matahari kalah tender sama hujan. Jadinya hujan lebih eksis menampakkan dirinya dengan tumpahan airnya. Dengan ditmani gemericik air hujan itu, aku kembali memelototi kompie dan membaca beberapa artikel dengan kecepatan super lambat. Mata berair kembali, istirahat, balik lagi, begitulah seterusnya.
Malam hari, waktunya minum air putih…(gila, kurang bgt asupan air putih kedalam tubuhku ini). Sambil makan malam, biasanya aku pesan air minum dari sari-sari buah(sebut saja namanya juice_red). Sebelum tidur cuci muka pake air. Dan kebersamaanku dengan air akan dimulai kembali esok paginya.
Eit, jangan lupa lho….
Ini hanya yang berhubungan langsung dengan aku. Padahal behind the scene nya juga banyak banget lho. Kayak ada tukang warung nganterin gallon isi air, ada ibu-ibu nyiram bunga pake air, ada bapak-bapak yang nyuci mobil pake air, dan masih banyak hal lagi yang membuat kita berhubungan dengan air.
Tapi kalau menurut simbah “…….”, aku ini nggak cocok hidup di air. Jadinya ya tetep hidup di darat dan sebisa mungkin mengurangi hubungan dengan air. Salah satunya ya jangan terlalu sering mandi (hahahaha…..intinya ini sih)
Alesannya sih hemat air, padahal males juga
Wednesday, January 21, 2009
Intinya adalah : Pengendalian Diri
Pelajaran Pertama Hari Ini
Intinya adalah : Pengendalian Diri
Satu hal remeh temeh yang hari ini muncul dikepalaku. Remeh temeh karena bukan menyangkut perang Israel-palestina, bukan tentang banjir Jakarta, bukan tentang harga-harga yang naik-naik tapi nggak turun-turun, bukan juga tentang artis selebrity Indonesia, apalagi tentang politik, ekonomi, dan budaya (hehehe…kayak slogan apa gitu).
Kenapa hal ini sedikit banyak mengusikku ditengah ke-lieuran-ku membaca artikel2 berbahasa dewa? Karena aku sedang memulai banyak hal. Memulai kesadarn untuk selalu mempertimbangkan, memikirkan, menimbang, dan menganalisa sesuatu. Apakah sesuatu itu akan menyinggung, mengusik, mengganggu, atau malah melukai orang-orang yang ada disekitarku. Hahaha….(intronya kayak nyeremin nggak sih)
Simple sih….
Beberapa jam terakhir, aku cukup menerima beberapa pesan/email dan mengirimkan beberapa pesan juga. Setelah selesai mengirimkan email terakhir yang aku tujukan ke beberapa orang, aku baru menyadari beberapa hal. (hehehe….kebanyakan pakai kata beberapa kayaknya).
Aku baru sadar kalau ada perbedaan yang sangat nyata dalam cara orang bertukar pesan. Dan yang membuatku miris adalah : ternyata aku masih harus banyak belajar bagaimana etika ber-pesan-ria lewat pesan elektronik.
Karena penasaran, aku membuka kembali beberapa pesan dari teman-temanku.
Kembali aku tersenyum miris, sambil geleng2 kepala tentunya.
Bahasaku jauh dari yang namanya indah, bagus, atau apalah yang menunjukkan etika.
Maaf untuk teman-teman yang menerima pesan dariku mulai tadi dan terhitung mundur ke waktu-waktu sebelumnya.
Sedikit pelajaran yang dapat aku petakan :
1. Kalau orang-orang banyak menanyakan kabarku dulu sebelum ke inti persoalan, aku malah langsung aja ke inti, tanpa mengingat dan men-cek n ricek bar-kabari teman-temanku. (dasar nggak peka aja lu wil)
2. Kalau orang mengirimkan pesan yang berisi nasehat, penyemangat, dll, jarang aku buka. Malah nggak jarang juga langsung aku archive, bahkan pernah juga ku delet. (hehehe…)
3. Dll aja deh….(kecil2 koq)
Selain dalam hal pesan-pesanan, aku juga sedang berusaha untuk menahan dan memilah tulisan-tulisan yang menyangkut hajat hidup orang banyak (dapur orang katanya_RM 2009).
hehehe
Hayoo…..smangadh untuk perbaikan…
Kalau kata si ibu di sebelahku yang “namanya tak boleh disebut”, saat ini aku sedang dalam masa P*********N. katanya lagi : “Well come to de Club”
-
The second thing, is song about change... This is art Quotes, poem, paint, and then song (dance sometimes) This song is good We can see on t...
-
You have your own responsibility to be happy, to make your life happy, to make your body happy, to make your days happy, and to make you...
-
Tahun ini, K naik ke kelas 6. Mungkin terdengar klise ya. Biasanya diikuti dengan kalimat lanjutan seperti, "Rasanya baru kemarin sekol...