Thursday, February 5, 2009

Tak Ada Lagi Yang Memanggilku “Endeung…”

Ngayogyokarto Hadiningrat, 31 Januari 2009

21.00

Hhiiihhhiiihhiiihheeehhheeee…


(suara handphoneku berbunyi sebagai tanda ada pesan masuk)
Dengan setengah sadar aku buka sms itu karena aku sudah mulai tertidur didepan TV dengan si Hileut di sampingku yang telah lebih dulu pulas. Ternyata pengirim sms itu bernama : more than…. Ouh, dari dia. Batinku. Aku langsung terkejut begitu membaca berita sms itu yang mengabarkan bahwa salah satu teman kami yang juga teman kerjaku dulu sedang dirawat di RS. Swasta di Bogor sana karena mengalami pendarahan otak. Dan saat ini sedang dalam kondisi koma. Semua teman telah berkumpul di rumah sakit itu, dan mohon doa untuk beliau. Setelah beberapa kali berbalas sms, akhirnya aku melanjutkan tidurku.

01.40

Hhiiihhhiiihhiiihheeehhheeee…

(kembali suara anak kecil tertawa membangunkan aku dari tidurku)
Dan kembali lagi dari more than…Kali ini dia mengabarkan bahwa kondisi teman kami semakin kritis dan memburuk. Mohon doa lagi. Dalam hatiku, ya Allah, temanku yang tinggi besar, kekar meskipun hitam itu saat ini sedang berjuang melawan maut karena ada darah yang menekan saraf2 otaknya. Semoga dia diberikan kesembuhan seperti sedia kala. Amien.

02.40

Hhiiihhhiiihhiiihheeehhheeee…

(suara itu kembali berbunyi, namun kali ini tak mampu membangunkkan aku dari tidur lelapku)
Dering handphone yang menandakan ada panggilan masuk akhirnya terdengar
(sulit menggambarkan bagaimana suaranya dengan kata-kata).
Karena setting profile handphoneku sengaja aku ganti dengan “loud”, maka mau-tak mau aku harus segera mengangkat telephone itu, atau seluruh keluargaku yang akan mengangkatnya.
Dia lagi, dan ketika aku baru berusaha mengumpulkan pikiran, dia menyerbu dengan pertanyaan : udah baca sms terakhirku??
Lalu aku geser handphone itu dari samping kepala kedepan mata, dan ternyata gambar amplop kuning masih berkelap-kelip disudut atasnya. Lalu aku jawab, hehe belum. Kenapa??

Innalillahi Wa’inailaihi Roji’un….

Ternyata dia mengabarkan padaku bahwa saudara kami telah menyerah dan berpulang kepada-Nya. Sedih, kaget, tapi masih setengah percaya. Hanya doa semoga perjalanan beliau lancer, mendapat tempat yang selapang-lapangnya, diterima segala amal perbuatannya, dan diampuni setiap dosanya.
Setelah telepon ditutup, aku hanya bisa diam dan diam.
Kembali teringat tentang temanku yang satu itu.
Setiap bertemu, dimanapun dan kapanpun, dia pasti selalu menyapaku dengan panggilan : “eh, si endeung
Seperti terakhir kali bertemu dia, yaitu suatu pagi menjelang siang dikandang tokek. Saat itu aku baru bangun tidur (ketika matahari sudah mulai bosan menungguku muncul), dan begitu ke dapur mucullah sosoknya yang tinggi besar. “ eh, si endeung….” Seperti biasa, sapaan itu yang selalu aku dengar pertama kali. Kemudian, interaksi kami lebih kepada saling mengejek, saling bercanda, dan sedikit berhaha-hihi.
Memang semenjak aku tidak lagi satu tempat kerja dengan dia, kami tak lagi sering mengobrol sesuatu yang serius. Ketika masih kerja bersama, paling tidak kami selalu bertukar cerita tentang masing-masing dari kami.
Satu hal yang membuat aku sedih, adalah ketika aku mengingat bagaimana dia berusaha menahan aku untuk tetap bekerja dikantor kami. Dia bahkan memberikan alas an kepada bos kami bahwa pekerjaanku mengurus administrasi dan keuangan itu sangat berat. Jadinya gajiku haruslah dinaikkan, sehingga aku tidak jadi keluar dari pekerjaanku.
Padahal aku sudah meykinkan padanya kalau aku tidak keluar dari pekerjaan karena itu. Sungguh terharu jika aku mengingat itu….

Dulu, kita bertemu
Dulu, kita berkenalan
Dulu, kita berteman

Sekarang, kita berteman
Sekarang, kita bersahabat
Sekarang, kita bersaudara

Semoga perjalananmu menyenangkan teman,
Semoga rumahmu nyaman kawan,
Semoga engkau mendapat yang terbaik saudaraku….

~Wilis~

No comments: