“Di sebelah mana kami masih bisa bangga?”
Sebut saja namanya “Bunga” (bukan nama sebenarnya, hanya lebih kepada kesan agar seperti acara2 diradio jaman dulu_red)
Bunga adalah seorang murid dari sekolah tinggi yang terkenal dengan para alumni yang banyak berkhianat terhadap identitas almamaternya. Bunga yang bertubuh subur makmur, juga merupakan penumpang dari mobil sebelum cerita ini (baca:mobil itu supirnya satu, kalau banyak malah bikin runyam). Hari kemaren (kamis_red), aku mendengar keluh kesahnya tentang sikap seseorang yang menurutnya kurang layak sebagai seorang penumpang mobil yang sama.
Begini ceritanya (menurut Bunga_red) :
Bunga yang masih termasuk baru bergabung dengan penumpang mobil itu, di “wulang” pelajaran oleh salah satu penumpang lama mobil itu juga. Sebagai seorang penumpang yang baru, maka sudah sewajarnya kalau dia masih aktif dan bersemangat dalam melakukan banyak hal seputar kegiatan penumpang mobil itu. Sayangnya, hal tersebut membuat dia ketinggalan beberapa jam belajarnya bersama dengan penumpang lama itu. Hal tersebut rupanya membuat Bunga terganjal untuk ikut ujian akhir. Maka, menghadaplah Bunga ke hadirat si penumpang lama. Setelah beberapa kali mendatangi tempat penumpang lama itu, Bunga baru bisa bertemu.
Berikut ini adalah cuplikan obrolan antara Bunga dengan penumpang lama itu :
Bunga (B) : Selamat siang pak
Penumpang Lama (PL) : selamat siang, ada apa?
B : Nama saya Bunga pak (untung tidak mengenalkan diri dengan :sebut saja nama saya Bunga. Hehehe)
PL : iya, kenapa?
B : saya ingin mengurus masalah absensi pak
PL : kenapa?
B : iya pak, waktu itu saya tidak bisa ikut belajar karena sedang ada kegiatan pak. Dan saya pernah lupa tidak mengisi absen. Jadi saya tidak mengisi absen 3 kali.
PL : kenapa kamu ikut kegiatan itu?
B : karena saya penumpang mobil yang baik pak
PL : orang tuamu bagaimana??
Bla…bla…bla….
(akhirnya si penumpang lama itu memberikan ceramah, wejangan, atau siraman rohani kepada Bunga tentang hal-hal yang kurang substansial)
B : iya pak, jadi bagaimana pak? Apakah saya masih bisa ikut ujian?
PL : saya nggak tahu
B : kalau UTS bisa pak?
PL : bisa
B : kalau UAS-nya pak?
PL : saya bilang saya nggak tahu…lha wong absennya juga bukan di saya
B : terus gimana pak?
PL : Kamu termasuk anggota penumpang mobil itu ya?
B : iya pak
PL : kamu tahu nggak kalau saya juga penumpang mobil itu?
B : tahu pak
PL : saya ini sekarang sudah tidak menyukai lagi mobil dan penumpang2nya itu.
B : oh ya pak? Baik pak terima kasih
Bunga langsung meninggalkan ruangan dengan perasaan yang tidak nyaman. Dalam hatinya dia merasa bahwa orang ini sangat tidak mencerminkan seorang penumpang mobil yang dia naiki juga. Sikapnya terlalu sombong dan aneh untuk seorang penumpang mobil. Tetapi Bunga menjadi maklum karena beberapa waktu ini, dia sudah banyak melihat penumpang2 lain yang bersikap sama. Termasuk dengan penumpang2 lama yang berusaha menjadi supir lagi.
Melihat kenyataan bahwa para penumpang lama sudah tidak bisa membuat penumpang baru merasa segan, timbul satu perasaan dihati bunga bahwa memang kebanggaan akan cantik, molek, anggun, kokoh, dan berjayanya mobil yang dia sayangi itu telah runtuh. Menyusutlah kebanggaan yang selama ini dia pupuk. Layulah kuncup2 cinta yang selama ini dia semikan didalam hati.
Kebanggaan seperti apa yang tersisa saat ini?? Beruntunglah kami masih mampu membangun kekeluargaan yang cukup erat di antara kami yang masih searah dan sejalan. Kami semua masih bisa tersenyum bersama di tingginya gunung, dalamnya goa, ramainya mall, serunya café, sederhananya warteg, dll.
No comments:
Post a Comment