Friday, September 9, 2022

Titik Baik Mulai Nampak

 Jadiii... (eeeaaa, penasaran kaaan gimana hari ini?)

Hari ini, Saya yang bertugas mengantar dan menjemput K dikarenakan ada janji temu dengan 2 orang teman 1 grup WAG yang syulit sekali untuk ketemuan. Tadi malam tiba-tiba MedMed nulis di WAG "Ini kapan kita teh mau ngopi-ngopi gitu ketemuan? Jangan sampai kita ketemuannya nanti 2023 pas nonton Indonesia Master doank nih!" 

Saya dan FefFef tertawa membenarkan. Long short story, jadilah kami janjian dadakan harus jadi pagi ini. Berkumpul di tempat yang rupanya sudah buka dari jam 7. Enak banget kan buat emak-emak drive thru kayak kita-kita ini. Hahahaha. 

Setelah mengantar K sampai depan lobby, saya duduk dulu di pos. Menyadari bahwa ponsel saya tertinggal di rumah. Ya sudah lah ya, mau gimana. Saat akan meninggalkan lingkungan sekolah, tiba-tiba mama nya teman K datang dan kami ngobrol dulu. Long short story, tanpa ditanya, beliau bercerita mengenai cerita yang disampaikan anaknya, I. Beliau bilang I bercerita, kalau ada teman laki-laki mereka di kelas yang mencubiti K, tetapi K diam saja dan tidak ingin lapor. Saya tersenyum dan mengatakan bahwa saya merasa lega. Lega karena ternyata ada saksi mata yang melihat perlakuan kurang baik teman K kepadanya. Kamipun bertukar cerita mengenai pengalaman anak-anak di sekolah. 

I juga mengalami keisengan temannya, dan Mama I rupanya sudah lebih dulu bercerita kepada wali kelasnya. Saya jadi merasa sedikit lebih baik lagi karena ada teman seperjuangan. heheheee. 

Lalu, saya undur diri untuk bertemu dengan kedua teman saya. Ngeeeeng... Ngeeeng... 

Pertemuan singkat yang cukup menghibur ya man-teman... Coba kita lihat apakah Senin pagi minggu depan kita bisa benar-benar menggebuk kok bersama, atau hanya akan menjadi wacana seperti biasa :-p

*

 Saya seperti biasa menjemput K dengan perasaan penasaran. Ketika namanya di panggil, saya menjemputnya dan segera bertanya,

S: "Gimana hari ini? Fun?" tanya saya. 

K: "Fine..." jawabnya pendek.

S: "No incident, no tragedy, no crumpled paper flying?" tanya saya.

K: "Nggak ada. Oh iya, aku tadi tanya ke A - Mana, kamu nggak gambar babi lagi buat aku? Aku kirain kamu mau gambar aku babi lagi?- gitu," cerita K. Saya heran dengan pertanyaannya dia.

S: "Memangnya kenapa kamu mau dia kasih gambar kamu lagi? Kalau gambarnya nggak baik lagi gimana?" tanya saya.

K: "Kan aku mau tempel di dinding buat kenang-kenangan gitu." Sayapun tertawa mendengar alasan K. Attagirl! 

S: "Terus A gimana pas kamu tanya gitu?" emak kepo yekaaan.

K: "Dia kayak mikir bingung gitu, terus tanya aku - "Emangnya kamu mau?- gitu. Aku bilang aja mau. Terus dia bilang -Tapi kamu jangan bilang-bilang Pak Ridwan lagi ya-." pungkasnya. 

S: "Tuh kaaan bener, kalau kamu keep nice to him, dia akhirnya jadi bingung kenapa dia nggak baik sama kamu kan?" kata saya. Dalam hati saya bersyukur, sepertinya Pak R sudah menegur A dan A tidak ingin lagi berbuat yang tidak baik pada K. Legaaa kaaan, emak :-)

Kemudian, saya menceritakan pada K mengenai kejadian yang menimpa I, temannya. 

K: "Aku juga gitu bunda...," Katanya. 

S: "Tangan kamu digituin juga?" tanya saya penasaran. 

K: "Iya, sampai sakit gitu," katanya.

S: "Kamu lapor Pak R nggak?" 

K: "Enggak. Karena kan aku masih bisa tahan rasa sakitnya gitu." 

S: "Eeehhh... Nggak boleh dooonk. Kalau kamu mulai sakit, harus lapor sama wali kelas. Takutnya kalau kamu menahan sakit, ternyata tangan patah gimana? Memangnya kamu ngapain sampai digituin?" 

K: "Kan dia challenge aku bunda. Nantangin aku?" emaknya mulai mencium aroma-aroma sesuatu. 

S: "Coba sini praktekin sama bunda, gimana kalian pas lagi kejadian!" pinta saya. K maju dan mengambil tangan saya, lalu menggenggam telapak tangan saya dan menindihnya di meja. Sayapun tertawa menyadari bahwa misteri tragedi jepit tangan hari pertama terpecahkan. 

K: "Mbak, itu sih namanya kalian adu panco! Kalau kata orang jawa, itu namanya engkol. Itu kan consent kalian berdua, jadi bukan attack. Beda sama yang kamu di dorong kemaren itu." Kata saya. 

Saat saya tanya alasan kenapa dia mau di ajak adu panco dengan A, K menjawab bahwa dia ingin mencoba dirinya sendiri. Apakah bisa menahan A yang badannya besar, lebih tua, suka nakal, dan ketua kelas itu. Kemudian saya menjelaskan bagaimana membedakan serangan dan permainan semacam tantangan adu panco. Saya anjurkan K untuk tidak lagi menerima tantangan fisik dengan teman, terlebih dari yang jelas-jelas ukuran badannya lebih besar. Berbahaya. 

Fffiiiuuuhhh... Akhirnya hari ini tak ada drama di antara kita ya kakak... :-p

Have a good weekend, teman-teman!!!

Thursday, September 8, 2022

3rd Bad Day at School

Hari ini, saya menjemput K dengan H2C. Penasaran juga sih alias kepo ala emak-emak. hehehe

Setelah anaknya muncul di pintu dan namanya dipanggil oleh wali kelasnya, saya menjemputnya dan langsung bertanya seperti biasa. 

S: "Hai, gimana hari ini? Fun?" Dia tertawa dan menggandeng saya. Kamipun berjalan menuju pintu keluar hall. 

K: "Today is funny lho bunda..., " katanya. Saya penasaran. Hmmm... Sounds good, right? 

Karena hari ini hujan cukup lebat, saya mengajak K untuk duduk lesehan di depan Hall dulu sembari mendengarkan ceritanya. 

S: "Kita di sini dulu aja. Kamu cerita dulu. Kan setelah kamu cerita, nanti bunda perlu mikir apa jadi ke wali kelas kamu atau enggak." Kata saya. 

K: "Jadi, tadi kan aku jalan di kelas. Terus A berdiri di depanku gitu. Dia bilang - Hey K! Item jelek! Ngapain kamu? - gitu, terus dia dorong aku sampe aku mundur gitu," ceritanya. Saya menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Lagi-lagi ya bocah itu, hahaha. 

S: "Terus kamu ngapain?" 

K: "Ya aku diem aja pergi. Terus dia gambar sesuatu gitu kan. Habis itu dia crumple terus di lempar ke aku gitu. Pas aku buka ada gambar babi nya. Terus ada tulisannya K = B**i G****l gitu. Aku sobek2 aja kertasnya, aku buang di tempat sampah." Ceritanya. 

S: "Lhooo, jangan di sobek donk. Lain kali kalau dia bikin sesuatu lagi, masukin aja ke tas ya biar bunda bisa lihat," saya kepo, hahahha. 

K: "Ini ada nih satu lagi (dia mengeluarkan dua gumpalan kertas dari kantongnya dan saya mengambil salah satu yang menggelinding) jangan yang itu, itu aku yang bikin." Katanya. 

S: "Lho kamu bikin juga? Sama jeleknya jangan2 kayak bikinan dia?" tanya saya.

K: "Tapi itu cuma buat aku aja kok. Karena kan aku kesel jadi need to draw it," hmm, make sense kata saya dalam hati. 

S: "Apa itu tulisannya?" Saya melihat gambar yang telah di uwel-uwel itu dan geleng-geleng kepala. Sebuah gambar Babi, dengan tulisan "K = Jeruk Babi"

Saya bilang kepada K bahwa kami perlu menghadap wali kelas, karena sudah 3 hari berturut-turut A melakukan tindakan yang tidak seharusnya. Apalagi sudah pakai mendorong. Saya khawatir kalau kontak fisik seperti itu dibiarkan, akan semakin menjadi. 

Maka kami berdua mencari wali kelasnya, dan duduk bertiga saling curhat. Kenapa saling curhat? Karena pada akhir sesi konsultasi saya, si bapak gantian curhat mengenai anak-anak yang ikut pelajaran tambahan. Heuheuheu.

Intinya, saya merasa lega telah menyampaikan uneg-uneg dan kekhawatiran saya, dan berharap wali kelas bisa menyelipkan lebih banyak nilai-nilai pertemanan pada anak-anak. 

Dalam perjalanan pulang, di atas motor seperti biasa, saya ngobrol dengan K. Kadang harus berteriak-teriak untuk mengalahkan suara hujan. 

S: "Bunda masih berfikir kalau A itu sebetulnya pengen main aja sama K, jadi dia caper gitu. Cuma dia nggak tau harus bagaimana, jadi dia choose to be bad boy aja." Kata saya.

K: "Maybe...," dia sepertinya mengedikkan bahunya. 

S: "Kan kayak di Petualangan Sherina itu, Sherina sama Saddam kan juga gitu. Awalnya berantem melulu, lama-lama berteman. Kamu nyanyiin lagu Sherina aja kalau gitu ke A, yang - Dia pikir, dia yang paling hebat...-" kata saya. 

K: "Itu dulu aku udah nyanyi buat J Bunda." Katanya. 

S: "Lho, memangnya J juga nakalin kamu?" Saya kaget.

K: "Dulu. Sekarang udah temenan sama aku." Katanya. 

S: "Banyak amat yang nakalin kamu?" saya kepo.

K: "Dulu bunda, sekarang nggak lagi. Dulu pas aku nyanyi gitu ke J, dia ketawa terus bilang -Memangnya dia ayam jago?- gitu." Kamipun tertawa. 

S: "Tapi you see the point right? At the end, everything will be just fine, you all will be good friend. Seperti yang di film Sherina itu. Meskipun sekarang you feel hurt, tapi nggak papa. It will be fine." Saya berusaha menghibur K dan saya sendiri. Mengaminkan kalimat saya sendiri dengan keras di hati. 

K: "Iya."

S: "Nanti kalau A bikin gambar lagi pakai jeruk babi, kamu bilang aja -Kamu tuh mau nulis Jeruk Bali ya A? Kalau jeruk bali aku tau, kalau jeruk babi aku nggak tau. Pasti dia kesel." K tertawa terbahak-bahak di jok belakang saya.

K: "Pasti bunda dulu di bully juga ya pas sekolah?" giliran saya yang tertawa. 

S: "Haha, iya. Kayaknya kalau kita pengen biasa-biasa aja di sekolah, malah suka kena bully gitu ya. Oh iya K, bunda mau tanya. Kalau A berbuat tidak baik gitu, ada temennya nggak sih? Atau dia sendirian aja?" tanya saya.

K: " Ada. Si E. Kan bunda tau kan, kayak di film-film juga kalau ada bad boy, pasti ada helper nya gitu kan. Nah E itu helpernya A," kata K. 

S: "Atau kamu ngomong aja kali mbak sama A, Hey A, kamu tuh kenapa sih? Mau temenan sama aku? Kalau mau temenan jangan gitu. Kalau dia bilang nggak mau temenan, kamu bilang aja, kalau nggak mau temenan juga jangan kayak gitu. Pokoknya jangan kayak gitu aja." 

K tertawa mendengar saran absurd saya. 

Rasa penasaran saya terobati, dan sisa perjalanan kami habiskan dengan bercandaan mengenai film Petualangan Sherina dan kejadian yang menimpa K. Saya menggoda K bahwa jika nanti saya bertemu dengan A dan K, saya akan meminta mereka berdua berfoto dengan gaya Sherina dan Saddam di film itu. Untuk kenang-kenangan kalau sudah besar nanti. 

It still beautiful day, isn't it K? :-)



Wednesday, September 7, 2022

2nd Bad Day at School of K

Well, what can I say... Selain daripada sebuah disclaimer bahwa "Tulisan ini adalah berdasarkan satu sisi anak saya, belum di konfirmasi dengan pihak lain".

Rupanya, hari ini masih menjadi bad day untuk K di sekolah. Walaupun tanpa ada air mata lagi, karena K sudah lebih siap dan kuat hatinya. Tapi saya sedih dan hampir menangis mendengarnya. Maklum bendungan air mata saya ini suka ambrol kalau mendengar sesuatu yang sensitif. 

Begini cerita K saat saya menjemputnya di sekolah: 

S: "Gimana hari ini?" Pertanyaan standar saya setiap kali menjemputnya di Hall. 

K: "Hari ini even worst bunda..." Heee??? Saya deg-degan mendengarnya, tetapi berusaha untuk tidak kelihatan kaget. 

S: "What is the story?" 

K: " Tapi bunda don't say a word sebelum aku finish cerita. ok? Not a word." Yaelah, bikin emak makin was-was aja. 

S: "Iyaaa... Janji," jawab saya.

K: "Jadi, tadi A ngomong sama aku gini - Heh kamu anak m*s**m, ngapain kamu di sini? Ini kan tempat anak K***t*n sama K***l*k doank- gitu coba bunda." Saya yang mendengar cerita K, benar-benar sedih. 

Hal ini sudah saya duga akan terjadi, tetapi saya tidak menyangka secepat ini dia bertemu dengan teman yang 'begini'. Saya perhatikan raut wajah K saat dia bercerita, hati saya menghangat karena dia tidak sedih ataupun tertekan. Dia bercerita dengan ceria. 

S: "Masak sih dia ngomong gitu? Kok mean sekali temen kamu?" Saya sambil sedikit tertawa menutupi kesal di hati. 

K: "Terus dia bilang lagi gini, coba K kamu ngaca. Eh jangan deh nanti kacanya pecah. Soalnya wajah kamu kan jelek banget." Kekagetan saya belum berhenti.

S: "Hah? Beneran dia bilang gitu?" 

K: "Iya."

S: "Kamu bilang Pak R nggak?" tanya saya.

K: "Enggak." Katanya. 

S: "Terus pas dia bilang kayak gitu, kamu gimana? Aku dance floss aja di depan dia sambil bilang oke... oke... gitu"

S: "Kok gitu ya A..." kata saya. 

K: "Tapi bunda... The funny thing is... Kan tadi hasil ulangan Bahasa Indonesia dibagiin. Aku nilainya nggak remed sih, tapi passs banget sama KKM (eeeaaa... pembuukaan yang ciamik). Tapiii, A nilainya berapa coba? 31 donk. Kayaknya Tuhan menegur dia karena kemarin dia mean sama aku ya bunda," saya terkekeh mendengar kata-katanya dan mengangguk-angguk saja. 

S: "Tapi so sad juga ya ada temen kamu yang masih ngebeda-bedain teman karena agama. Poor A...," kata saya. 

K: "Kok poor A? kenapa bunda kasihan sama dia?" tanyanya nge-gas.

S: "Ya maksudnya berarti dia nggak open minded gitu. Sama hatinya juga nggak terbuka. Kan kasihan. Dia perlu bimbingan lebih dari orang tua atau gurunya." Kata saya.

K: "Padahal kan di pelajaran BK susternya udah ngasih tau. Kayaknya A nggak dengerin susternya pas BK. Jadi kayak gitu." Sungutnya. 

S: "Iya, makanya kasihan dia ya... Nggak papa deh. Kan kamu sudah maafkan tadi malam. Nanti malam pas berdoa kamu maafkan juga aja. Biar Tuhan kasih jalan ke A untuk jadi lebih baik." kata saya. 

Kamipun berkendara motor menuju salah satu resto makanan cepat saji sebelum ke tempat K les. Hari ini, pilihannya berbeda dengan yang kemarin, tapi yang lokasinya di seberangnya. Makan ayam goreng. Eeeaaa. 

Sungguh hari ini hati saya pun masih gemassshhh... Rencanya, kalau besok masih ada kejadian lagi dengan anak yang sama, maka saya akan mengambil tindakan dengan memberitahu wali kelasnya. Supaya beliau lebih memantau anak tersebut, jika saja ada yang perlu dikhawatirkan. 

Life is not always rainbows and butterflies ya Mbak K... But it's still sad to know that you have to start this early year :-)

Tuesday, September 6, 2022

Today is K's 1st Bad Day at School

Hari ini, saya ingin menceritakan cerita anak saya, K, saat saya menjemputnya di sekolah tadi siang dan juga malam ini saat dia bersiap tidur. 

Seperti biasa, saya menunggu giliran dipanggil untuk mengambil K dari wali kelasnya. Saya melihat K yang berada di baris ke-3,  menatap saya dengan sayu. Kelelahan sepertinya, pikir saya. 

Setelah nama K di sebut, saya bergerak maju menggandeng tangannya. Saat itu dia langsung menubruk saya, dan menangis. Saya tunggu sejenak sebelum menanyakan kenapa dia menangis. Rupanya, ada kejadian tidak menyenangkan di kelasnya tadi. Katanya, temannya yang bernama A menjepit tangannya di meja. Saya menenangkan dan mengajaknya berjalan keluar dari Hall sekolah menuju pinggiran lapangan basket. 

Setelah duduk dengan nyaman, saya minta dia yang masih terus menangis menceritakan apa yang terjadi, dan meluncurlah cerita dari bibir mungilnya. 

Saya: "Jadi apa yang terjadi mbak?"

K: "Jadi, tadi kan aku lagi main sama temen-temen aku. Terus aku bercanda ambil penggaris A gitu kan, tapi aku kembalikan kok bunda. Tapi A langsung pegang tangan aku gini (dia peragakan dengan tangan) terus tanganku di tindih pakai tangannya gini di meja. Sakit banget bunda. Tadi warnanya sampai biru gitu" katanya. 

S: "Ya ampun, sakit banget ya? Coba telapaknya diginiin, bisa nggak?" tanya saya sambil memperagakan buka tutup telapak tangan. 

K: "Bisa tapi masih sedikit sakit" katanya lagi. 

S: "Duh, kasihan kamu mbak. Nggak papa, yang penting sekarang udah nggak terlalu sakit ya?"

K: "Terus ada lagi bunda. Dia blaming aku mencuri penggarisnya gitu. Padahal kan udah aku balikin. Malah dia blaming aku mencuri." Tangisnya semakin deras, membuat saya ikut bersedih merasakan patah hatinya K dibilang pencuri. Duh, anakku yang halus hatinya... 

S: "I am sorry to hear that. Bunda tahu kamu nggak bakal mencuri kok. Dan kan sudah dikembalikan. It's okay. Jangan sedih lagi ya. Temen-temen kamu lihat nggak pas kejadian itu?" tanya saya. 

K: "Lihat. Terus WP yang temennya A aja, jadi males main sama A gitu." Katanya lagi. 

S: "Tuh kan, berarti kamu nggak usah sedih lagi. Karena temen kamu juga tahu kan kalau kamu anak baik, dan A berbuat tidak baik sama kamu. Nanti Tuhan yang kasih teguran sama dia ya." Kata saya. 

Akhirnya K berhenti menangis dan bisa tersenyum lagi. Meskipun mengalami hari yang panjang, melelahkan (Pelajaran Olahraga dan Ekskul Pramuka di hari yang sama), dan juga patah hati, K masih mau berangkat les. Sebagai hiburan, dia makan siang di salah satu restoran cepat saji yang terkenal dengan burger nya. Good Job K!

*** 

Tadi sore, K mengulangi kembali cerita sedihnya pada ayahnya. Dari suaranya, dia tidak lagi sesedih tadi siang, bisa menceritakan pengalamannya dengan tertawa-tawa. 

Sebelum tidur, seperti biasa dia minta dibacakan cerita dan berdoa bersama. Saat berdoa, sepertinya K kembali merasa kesal dan marah saat saya minta dia mengikuti kalimat saya setelah berdoa Bismika Allahumma Ahya Wabismika Wa'ammut. 

S: "..... Ya Allah, saya maafkan A... " hening... K tidak mau mengikuti saya. Saya ulang beberapa kali, K tetap tidak mau mengikuti saya. 

S: "K, kalau misalkan A minta maaf sama kamu, dan kamu memaafkan dia, point dia 1, point dia juga 1. Kalau A nggak minta maaf tapi kamu memaafkan, itu dia nggak dapet point, tapi kamu dapet point. Malaikat di pundak kanan kamu mencatat itu. Jadi nanti Tuhan mudah untuk memutuskan, konsekuensi apa yang layak A dapetin" 

K tetap tidak mau berdoa untuk memaafkan A. Akhirnya saya ganti kalimatnya,

S: "Ya Allah... Saya maafkan semua teman yang berbuat tidak baik pada saya hari ini. Semoga saya bisa tidur dengan hati yang lebih damai malam ini. Aamiin." K mengikuti doanya, dan Ia pun tidur. 

Saya mengerti perasaan K hari ini. Semoga besok, hari-hari di sekolahnya lebih lancar, ringan, dan menyenangkan untuknya. Aamiin. 

Saturday, July 23, 2022

Dilemma Twibbon

 Sebetulnya saya sudah lama ingin menuliskan kegelisahan saya akan hal ini, di sini. Tapi belum menemukan semangat yang cukup. Hari ini, saya ngobrol ngalor-ngidul bersama teman saya yang sedang merantau di salah satu pulau cantik di timur sana, hingga berujung pada topik yang satu ini. Mumpung masih ada semangatnya, jadi saya bagi sekalian di sini ya. 

Twibbon

Saat saya memasukkan kata "Twibbon adalah" di laman pencarian G****e, maka yang muncul paling atas adalah kalimat ini: 

Singkatnya, Twibbon adalah sebuah gambar yang bersifat overlay dan dapat dipasang pada foto profil akun sosial media, termasuk Twitter untuk menunjukkan dukungan terhadap sesuatu. Twibbon pastinya hadir dengan format PNG (Portable Network Graphic).

Saya sering juga menggunakan twibbon, untuk mendukung kegiatan-kegiatan tertentu. Desain nya lucu-lucu dan menarik. Membuat orang mudah menyukainya. 

Lalu, kenapa saya merasa dilemma dengan twibbon? 

Jawaban saya adalah karena twibbon menjadi salah satu ajang promosi sekolah yang (memang) bagus dan efisien, tetapi saya termasuk orang tua yang tidak ingin terlalu banyak berbagi mengenai tempat sekolah anak saya. Seperti kita tahu, sekali lihat twibbon, pasti langsung bisa diketahui di mana anak kita sekolah yekan?

Selama ini, saya membatasi (inginnya menghindari, tetapi kadang masih suka kelepasan) berbagi informasi mengenai sekolah anak saya di media-media online selain blog. Bahkan jika menampilkan foto saat anak saya menggunakan seragam khusus sekolahnya yang sangat mudah dikenali itu, saya biasanya mensensor dengan stiker. Hanya orang-orang yang memang sensitif dan mengenal baik motif seragam sekolah itu yang mengerti. Namun, jika bertemu muka, saya dengan senang hati berbagi informasi karena saya tidak bermaksud menyembunyikannya juga.

Ada beberapa alasan mengapa saya tidak ingin banyak berbagi mengenai tempat sekolah anak saya. Seperti yang hari ini saya bagi pada teman saya tadi.

Yang pertama adalah keamanan. Sebagaimana kita tahu semakin ke sini, ancaman kejahatan anak semakin beragam dan juga semakin parah. Beberapa artikel menyebutkan bahwa banyak orang jahat mulai mengancam di sekitaran sekolah anak. Dan dari artikel-artikel juga saya kemudian mengikuti paham untuk tidak terlalu vulgar membagi tempat sekolah anak. 

Alasan yang ke dua adalah karena saya terlalu banyak mikir. Mungkin kalau orang tua lain santai dengan hal ini, saya kurang bisa santai. Tapi tidak apa-apa, karena sepertinya paham saya ini tidak akan melukai orang lain juga. hehee. Saya berpikir bahwa bisa bersekolah, apalagi memilih sekolah seperti yang kita inginkan karena alasan A, B, C, dst adalah sebuah privilege. Privilege yang tidak semua orang punya. Saya yakin banyak orang di luar sana yang ingin bersekolah di sekolah pilihannya tetapi tidak bisa karena berbagai alasan. Bahkan mungkin banyak juga yang ingin bersekolah, tetapi tidak bisa karena banyak alasan. Jadi saya memilih untuk mensyukuri nikmat "anak bisa sekolah," titik, sampai di situ saja. 

Teman saya memberikan komentar mengenai alasan ke dua saya ini, begini: "Kamu beda banget sama orang tua yang anaknya les sama aku mbak. Anaknya sekolah di sekolah favorit, dan dia update terus gitu di medsos". Saya tertawa dan menjawab, "Itu adalah 1000% alasanku untuk melakukan sebaliknya. Dunia ini sudah terlalu sedih dengan iri, dengki, pamer kemewahan & previllege, dan juga pretending2 - an itu. Nggak usah nambah2i."

Alasan lainnya adalah karena saya ingin menghindari perasaan jumawa. Jika ada orang yang melihat atau membaca tempat anak saya, mungkin beberapa yang mengenal akan berkata "Wah, anakmu sekolah di situ ya". Ini beberapa kali terjadi. Dan mau tidak mau, sebagai manusia normal ada perasaan senang yang lebih dari sekedar senang biasa saat mendengarnya. Saat saya menjawab "Iya", mungkin ada berbagai intonasi di belakangnya. Saya tidak ingin lebih banyak mengalami hal itu. Karena semakin banyak saya merasa 'iya' dengan sedikit berbeda, ditambah sedikit lagi, dan lagi, lama-lama tanpa saya sadari saya akan menjadi jumawa. Saya takut juga, di saat saya menjadi jumawa, ada orang lain yang kemudian memiliki perasaan 'tidak nyaman'. You know what I mean... 

Sekolah anak saya bukan sekolah yang luar biasa, bukan sekolah yang mahal-mahal itu. Sekolah anak saya hanyalah sekolah yang saya lihat sudah sangat matang kurikulumnya. Melahirkan banyak alumni yang sering terdengar gaungnya. Saya harap anak saya bisa bertumbuh baik dan mengikuti jejak baik para alumninya, dengan membawa semangat cinta kasih yang ditanamkan oleh pendidiknya. Aamiin. Itu yang terpenting menurut saya. 

Jadiii... 

Saya memutuskan tidak menggunakan twibbon yang selalu dibagikan oleh para guru. Mohon maaf ya pak, bu. Saya selalu mempromosikan sekolah kita, tetapi dengan cara yang lain. :-)

Semoga anak-anak bisa segera mendapatkan kesempatan belajar, bermain, dan bertumbuh bersama dengan situasi yang seharusnya mereka jalani di usia sekolah dasar. Aamiin. 

Selamat Hari Anak Internasional, Nak!!!

Thursday, July 21, 2022

Mbak K, I need your opinion

Mungkin saya ini salah satu emak-emak yang lebay. Mas Bojo saya juga kadang melihat saya dengan pandangan aneh, seperti melihat makhluk luar angkasa. Tapi ya mau bagaimana, saya ya beginilah adanya... #eeeaaa 

Saya senang sekali memancing anak saya dengan obrolan, diskusi, dan hal-hal kecil yang memancing jawaban. Hal yang menurut Mas Bojo remah-remah receh, sehingga dia menganggap saya kurang kerjaan. Tapi kan yang penting anaknya senang, emaknya juga riang. 

Saya pernah cerita belum ya tentang pengalaman berkeliling naik motor bersama K, dengan obrolan dari Sabang sampai Merauke? Duh, kalau belum, sayang sekali. Saya suka obrolan kami saat itu, tetapi sudah tidak terlalu ingat persis detailnya. :-p 

 Kali ini saya cerita yang pendek saja ya. Biar nggak lupa dan berlalu begitu saja. 

Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu salah satu teman kami memberikan goodie bag dari ulang tahun cucunya. Sebagai emak-emak, tentunya jiwa ekonomisnya bekerja yekan. hahaha. Saya tanya teman yang lain: 

 Saya: "Sis, beliin kado buat cucunya Mbak ****** nggak?" 

 Dan berdasarkan obrolan kami yang demi menjaga privacy tidak perlu saya tulis ulang di sini, maka saya mengikut beliau saja. Tidak membelikan kado. 

 Tadi malam sebelum tidur, seperti biasa saya haha hihi dengan K dulu. Tiba-tiba saya iseng nanya: 

Saya : "Mbak K, I need your opinion" 
K : "About what?" 
Saya : "If someone give you goodie bag from their birthday, do you think we should give them gift? Even if it small gift?" 
K : ...Diam sejenak sebelum akhirnya menjawab "I think we should." 
Saya : "Why?" K : "Because like you always said, when people give you something, we should give things back to them. Specially because that is their birthday." 
Saya : "Point taken." 

 Rasanya saya sedikit meleleh tadi malam. Tidak menyangka rupanya si anak wedhok itu mengingat satu dari sekian juta haha hihi yang saya semburkan padanya. Dan Dia menggunakan hatinya untuk mengolah setiap informasi. Aaahhh Mbak K, I am sooo blessed to be your mother!!! 

Tetaplah memegang tegung kasih dan juga empathy mu di sepanjang langkahmu ya nak. Hanya itu yang bisa orang tuamu berikan sebagai bekal :-) 

Love, 
Bunda Yang Mudah Meleleh Hatinya