Saturday, July 4, 2020

Menjadi Manusia



Lembut ditelapak kakiku
Sejuk menerpa rambut tipisku
Hangat mengaliri kerongkonganku
Sepi mengisi pikiranku

Siang tak lagi terik
Matahari seolah enggan berlaku
Ombak terdengar pilu
Angin bernyanyi mendayu

Karena aku adalah manusia
Maka aku merasa

Bilamana aku adalah pasir, angin, secangkir kopi, atau rasa...
Maka aku hanya berada pada masa dan tempatnya...

Ah, manusia...
Membuat semua menjadi terasa...

#Rasa
#MenjadiManusia

Siang di Lippo Carita,
4 Juli 2020


Saturday, June 27, 2020

Saatnya Mengistirahatkan Jiwa

Tatkala jiwa meronta,
Raga bicara
Tatkala jiwa meminta,
Raga terhina

Lepaskan,
Letakkan,

Tiada guna kita meronta
Tiada guna kita mencerca
Karena yang ada hanya kita
Karena yang rasa hanya kita

Istirahatlah,
Tidurlah,
Esok kita akan bercengkerama lagi dengan alam alam
Dengan gembira dan suka cita


Friday, June 26, 2020

Mimpi Yang Tak Pernah Mati


Saya tidak pernah takut bermimpi, dan saya tidak pernah takut mengatakan seperti apa mimpi saya pada siapa saja yang tertarik. Banyak yang bilang bahwa mimpi ketinggian itu namanya halu, dan saya setuju. Memang yang namanya mimpi ya pasti halu. Halusinasi. Halusinasi yang membayangi otak kita, sehingga kita membayangkan yang indah-indah, yang menyenangkan, dan memberikan kita kepuasan. Itu memang benar. 

Mungkin yang membedakan adalah, apakah kemudian kehaluan itu hanya akan berhenti pada kesenangan sesaat manakala sedang ber halu ria, ataukah kita mencatat kehaluan kita dan menjadikan itu sebagai mimpi yang ingin kita wujudkan suatu saat nanti? 

Bagi partner hidup saya, mungkin yang namanya mimpi dan kehaluan saya itu sudah tidak bisa dihitung lagi. Sejak saya berpacaran dengannya, hingga saat ini kami sudah punya anak yang sudah masuk SD, saya masih memiliki hobby yang sama, yang itu mimpi. Dan sayangnya, Mas Bojo saya ini bukanlah tipe yang supportive pada mimpi istrinya. Bahkan dia lebih cenderung pesimis menurut saya. Setiap mimpi yang saya ceritakan padanya, dia akan menanggapi dengan dingin, atau justru memicingkan mata dan berkata "apaa sih, nggak jelas". Dan itu bukan sekali dua kali. Hampir di semua mimpi yang saya ungkapkan padanya, mendapat respon yang seperti itu. 

Tapi saya tidak menyerah. Saya sakit hati, saya kecewa, dan saya lontarkan kekecewaan saya padanya, namun tidak merubah apapun. Cibiran dan picingan mata juga yang saya dapat ketika saya menyampaikan mimpi saya. Tidak apa-apa. Namanya manusia, tidak akan ada yang terlahir sama. Bahkan cenderung berbeda untuk saling melengkapi, teorinya sih gitu. 

Apakah saya hanya memelihara mimpi saja? 
Tentu tidak ferguso... 
Saya juga mengupayakannya untuk menjadi nyata. Saya memulai dengan mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan mimpi saya, mencari sebanyak-banyaknya referensi, dan lain sebagainya. Setelah itu saya membuat jalan saya menuju mimpi saya dengan bagan. Entah sudah berapa banyak saya punya yang seperti ini. Namun sudah banyak sekali juga yang hilang lenyap entah kemana. Tidak masalah. Seperti itulah mimpi di kehidupan. 



Beberapa waktu belakangan ini saya juga sedang menjalani salah satu mimpi saya. Mimpi saya yang ini sih sudah mulai ketika masih SD. Entah sudah berapa banyak yang hilang sejak saat itu. Tapi saya tetap memelihara mimpi saya hingga saat ini. Karena saya percaya, mimpi yang dipelihara dan dirawat itu, akan menemukan jalannya sendiri suatu saat nanti.

Terbukti dengan dimulainya tahun ini. Secercah harapan dari mimpi saya mulai menampakkan diri. Perlahan semakin menerang dan benderang. Saya ikuti dengan senang hati. Apakah mimpi saya akan jadi kenyataan? Mimpi saya selalu menajdi kenyataan, ketika saya merawatnya sedikit lebih maju, sedikit lagi, sedikit lagi. Semua proses itu adalah mimpi saya. Hasilnya adalah bonus dan berkah.

Sunday, June 14, 2020

Seize The Day

Selamat Hari Minggu!

Pict by: Mas Bojo
Akhir pekan... Adalah dua hari (terkadang 2,5 hari jika menyertakan Jum'at Sore, atau 3 hari jika pula menambahkan Senin pagi) yang selalu berlalu dengan lebih cepat. Lebih cepat dari hari-hari biasanya. Menurut saya.

Meskipun bekerja dari rumah bukanlah hal yang baru untuk saya, namun tetap saja mengatur waktu untuk "Me Time" dihari kerja itu tidak mudah. Terkadang memang saya bisa produktif jika sedang semangadh bangun pagi, atau sedang bisa melek hingga malam. Namun seringnya saya membiarkan alarm pagi saya terus menerus berteriak hingga matahari hadir terlebih dahulu. Dan sering pula saya ikut terlelap mengejar kisah yang saya bacakan untuk anak saya, bahkan ketika anak saya belum mulai tidur. 

Tapi, sebisa mungkin saya masih mengusahakan agar akhir pekan saya tidak berlalu begitu saja tanpa bekas. Seperti banyak akhir pekan di beberapa tahun yang telah berlalu. Saat dimana otak kanan saya sedang hibernasi jangka panjang. Saat-saat itu saya melewati akhir pekan saya dengan kurang bermanfaat. Ada manfaatnya, tapi masih kurang dan belum cukup banyak sepertinya. 

Sekarang-sekarang ini, terlebih dengan banyak bergabung dengan komunitas kreatif, ditambah lagi dengan situasi pandemic yang membuat kita semua harus anteng-anteng dirumah, membuat saya semakin berusaha memaksimalkan akhir pekan saya. Saya perbanyak agenda membaca saya, dengan harapan saudara kembarnya (menulis) bisa mengikuti dibelakang. Saya sesekali merajut lagi, untuk memenuhi tantangan dari group yang isinya orang-orang ahli Craft di Kota Hujan ini. Luar biasa. Saya merasa lebih bersemangat. 

Ternyata, badan kita memang mengikuti niat dan semangat kita. Semakin banyak melakukan sesuatu, semakin semangat dan prima raga kita. Dan ketika lelah datang, saya merasa lelah dengan puas dan lebih bahagia. Saya ingat bagaimana seringnya saya mengeluh lelah, meskipun saya tidak mengerjakan apapun dulu. Badan saya rasanya sakit-sakit semua, walaupun seharian saya hanya duduk, sesekali mengobrol dengan tetangga, scrolling up dan scrolling down hidup orang di media sosial. Jiwa dan raga saya justru lebih sering memberontak. 

Seringkali terbersit dalam benak saya, bahwa bagaimana kita menikmati waktu kita sendiri (ketika sedang sendiri), adalah yang menentukan kulitas hidup kita. Saya bicara mengenai kualitas hidup dilihat dari sisi inti diri kita ya. Maksudnya, akan sangat berbeda sepertinya apabila orang menjalani waktu "sendirinya" untuk dirinya sendiri, dengan orang yang menjalani waktu "sendirinya" dengan melibatkan orang lain. Membaca, membuat prakarya, berkesenian, bermain musik, menyanyi, jogging, mendaki gunung, yoga, kontemplasi, dll adalah jenis spending time untuk diri kita sendiri. Kita melakukan sesuatu untuk diri kita, dan kita yang menikmati setiap detiknya. Bahkan yang menikmati hasilnya juga. Nonton, mengikuti media sosial orang lain, mengobrol dengan teman, mengobrolkan tentang teman, dll adalah bentung spending time yang melibatkan orang lain. Hasilnya terkadang justru tidak memberi ketenangan pada jiwa kita. Dan cenderung menguras energi yang seharusnya diisi. Tapi mungkin ini relatif ya. Hanya pandangan saya saja.

Semoga ikhtiar saya untuk meningkatkan kualitas hidup khususnya di akhir pekan, bisa terus berlanjut dan seterusnya. Aamiin. 

Akhir pekan ini, saya menyelesaikan bacaan saya dari Mitch Albom yang "Five people you meet in heaven", dan saat ini sudah mulai membaca yang "Tuesdays with Morrie" yang juga dari Mitch Albom. Semoga ada semangat untuk menulis review nya juga. Melatih mentransfer apa yang saya baca (meskipun perjuangan sekali membaca, mentranslete, dan menceritakan kembali) kedalam tulisan saya sendiri. Ciayo!!!

Oh iya, hari ini saya sudah berhasil mengirimkan cerita pendek yang nantinya akan menjadi bagian dari Antologi Rasa milik para Alumni Kaizen. Semoga tulisan saya layak dibaca dan banyak yang menikmatinya. Tunggu yaaa... :-)

Love, 
WJ

#WeekendActivity
#AkhirPekanYangProduktif
#QualityTime
#MeTime
#MitchAlbom
#FivePeopleYouMeetInHeaven
#TuesdayWithMorrie

Sunday, June 7, 2020

Hai!!! Apa Kabar?

"Hai!!! Apa Kabar Icha?"


Baik. Sebelum berpanjang dan berlebar, maka perlu digarisbawahi keadaan yang menjadikan error dari segala error ini bermula. Bahkan sampai detik inipun (lebih dari 24 jam dari muncratnya ide random ini), saya masih tidak percaya dengan perbuatan saya sendiri. Halu tingkat dewa...

Begini ceritanya...

Semua berawal dari suasana hening diantara saya dan suami saya, di Jum'at Sore, kemarin. Kami yang duduk terpisahkan oleh meja makan, disatukan dalam diam dan pikiran yang sama-sama mengembara selaras dengan gemericik air terjun kecil kami.

Saya berandai-andai, melanjutkan banyak pengandaian yang telah subur dalam beberapa bulan terakhir ini. Dalam kondisi pandemi seperti, dorongan untuk bisa berbuat banyak, membantu sebanyak-banyak nya orang, meskipun dengan sekecil-kecil pun bentuk bantuan, semakin membuncah. Apa yang bisa saya lakukan dengan keterbatasan sumberdaya seperti ini? Bagaimana bisa menjadi lebih bermanfaat bagi orang yang kita kenal, tanpa harus banyak upaya? Bisakah saya menjadi lebih bermanfaat bagi lingkungan? Adakah cara yang bisa membuat orang-orang merasakan manfaat dan mendapat nilai lebih sari adanya saya didunia?

Entah mendapat dorongan atau kekuatan dari mana, tetiba saya berucap, "Aku mau live IG ah... " Kata saya. Dan suami saya menjawab ringan "Ya udah live aja..." Katanya.
Sayapun mengambil handphone saya, menscroll up scroll down barisan WA status teman-teman saya, tanpa tahu apa yang saya cari. Tetiba pula mata saya melebar dan jemari saya berhenti nye-croll ketika saya baca nama "L Icha Pantera". Seperti sebuah balon pecah didekat saya dengan suara plop nya, disusul dengan bohlam yang mendadak menyala, lengkap dengan sebuah suara didalam kepala "Aha!". Saya menangkap ide.

Saya buka WA status Icha, dan melihat sebuah foto persiapan foto session. Dimana banyak sekali properti foto yang ada didalam frame foto itu. Saya kirimkan pesan "masteeerrr". Dan dibalas oleh Icha dengan "master limbad...". Ahhahaa. Sa ae si Icha. Tanpa pikir panjang atau bertele-tele, saya todong dengan "sharing ilmu donk cha... Live instagram yuk..." #eeeaaa

Dan meskipun awalnya si Icha bingung mau saya apa, akhirnya gayung bersambut, dia setuju. Curhat aja laaah... Ngobrol ngalor ngidul ajaaa... Kata saya saat itu. Deal. Live IG bersama Icha.

"Yah, jadi. Live IG sama Icha besok" kata saya kepada Mas Bojo.
"Ok. Nanti tak buatin flyernya" saya iyain aja padahal nggak tau flyer kek mana yang dia mau buat.
"Paling nanti isinya kamu doank ya..." Kata saya yang disusul dengan tawa bersama.
"Tagline nya -Hai!!! Apa Kabar?" -Aja..." Kata saya.

Entah kenapa saya tetiba mikir, "Hai!!! Apa Kabar?" Adalah tag line nya. Saya merasa, itu adalah ciri khas saya aja. Setiap mencoba berkomunikasi dengan teman-teman, saya pasti menggunakan kata itu. "Hai!!! Apa Kabar?" Sampai pernah ada teman saya heran dan bertanya "gw koq ngerasa kayak ditunggu-tunggu banget gitu sama elu, kayak udah lama nggak ketemu gitu. Terus ngerasa di perhatiin gitu ditanyain kabar". Katanya. Saya bilang "masak sih? Gw setiap ketemu orang begitu memang nyapanya lhooo..."
Heheheee... Dan juga, saya merasa live IG saya ini memang tujuannya  adalah untuk menyapa teman-teman lama saya yang sudah lama tak bersua. Beberapa mungkin masih bersua sesekali, atau masih bersua secara daring. Tapi tetap, menanyakan kabar rasanya sangat pas dalam situasi seperti sekarang ini. Dan suami saya setuju.

Sayapun melanjutkan memasak, dan Mas Bojo mandi lalu membuatkan saya Flyer.

Setelah flyer jadi dan dikirim ke saya, saya termenung. Seolah saya dibeturkan ke keran hingga baru menyadari bahwa saya ini pernah amnesia. Berbuat sesuatu diluar nalar saya. Beneran ini? Dih, demi apa ya?Aku kan nggak pernah berani ngomong didepan orang? Pake IG aja jarang. Sok-sokan mau live. Ngomongin apaaa? Hwaaa... Mas Bojo tertawa, dan berkata menenangkan saya "Selow aja... Ngobrol biasa aja..." Katanya.

Dan saya mulai terlihat errornya. "Gimana sih caranya Live IG?" Mas bojo saya gemas dan menunjukkan caranya pada saya. "Terus kalau mau live berdua gimana?" Tanya saya lagi. Kali ini mas bojo tidak bisa membantu. Akhirnya saya gugling. Saya rasa, saya mengerti. Teorinya :-p

Tapi karena masih nerveous, akhirnya saya colek salah satu teman saya yang 'sepertinya pernah live'. Dan dengan baiknya dia langsung membuat live dadakan untuknya sendiri hanya demi membuatkan saya screenshot. Aaah, baiknya kamu Dew... Makasih banyak yaaa. Kapan-kapan lo yang akan muncul di acara "Hai!!! Apa Kabar?" gw yaaa :-)

Sayapun mulai dengan ragu dan malu, men-share flyer dari Mas Bojo ke beberapa teman saya. Mereka bersemangadh ikut. Bukan karena materinya, tapi karena rindu pada ceriwisnya saya semata. Eeerrr... Saya teruskan flyer nya ke beberapa grup WA yang jumlahnya kecil dulu... Sambutannya positif. Salah satu teman nge-host zoomie land saya, bersemangadh sekali menyemangati saya. Mungkin karena dia juga sudah ikut berbagi host bersama saya, jadi rada PD saya akan bisa bertahan selama satu jam. Nge-host zoomie land untuk alumni angkatan kami saja, bisa tahan sampai 9 jam yekaaan. Hahaha

Saya perluas peredaran flyernya ke grup yang lebih besar. Beberapa japri mulai masuk dan bilang "Insya Allah aku join...". Uhuk... Mulai grogi. Kirain bakalan cuma saya, Icha, Mas Bojo, dan beberapa teman yang juga rindu Icha aja yang bakal join. Baiquelah... Endak mashalah... Paling juga 10 orang lah yess...

Kata Mas Bojo "udah aku share ke grup L, pada semangadh tuh... Mantuls mantabs katanya..." Eeeaaa... Grup L itu adalah grup organisasi dimana saya, Icha, mas bojo, dan beberapa teman yang sudah konfirmasi alan join tadi bernaung semasa mahasiswa. Ya ndak heran lah kalau nambah seorang dua orang dari grup itu, karena Icha masih banyak di kenal juga. Mereka pasti rindu Icha (iya, Icha, bukan saya hahaha).

"Share laaah ke status sama IG stories... Sekalian orang udah ke grup-grup" kata suami saya memanasi. Dan seperti biasa, pinternya saya koq ya nurut. Saya post di WA status dan IG stories.... Wadidaw... Beberapa teman yang saya tidak sangka-sangka mulai menjapri. "Waaah, aku mau join yaaa, lagi mulai usaha makanan juga nih. Pengen belajar food potography..." Atau "Aku join ya, penasaran banget food photography" atau yang lain-lainnya sejenisnya... Duh

Saya jadi grogi beneran. Jadi musti nanya apa donk besok ke Icha biar manfaatnya buat audience lebih maksimal? Ahahahha... No idea.

Bismillah... Semoga diberi kelancaran pikiran dan juga lisan untuk kegiatan berbagi ilmu esok hari. Aamiin.

Selamat malam semuanya.

Monday, June 1, 2020

Lubang Dalam Sebuah Cerita



Apakah kalian termasuk penggemar sinetron, drama, atau film? Atau membaca buku deh? Sama. Saya juga. Saya suka semuanya itu.

Pernah nggak ketika sedang asik menikmati ceritanya, tetiba kita merasa "eh?", "Loh, koq?", "Lho, aneh banget ya", "ahahaha... Koq gitu banget ya?", "mustinya nggak gitu kali ya?", Atau bahkan "jiah, nggak masuk akal banget..." Atau sejenisnya yang lain?

Saya beberapa kali menemukan hal-hal tersebut diatas. Terkadang samar, terkadang perlu sedikit mikir untuk menemukannya, namun terkadang jelas sekali dengan gamblang bahwa ada lubang dalam alur cerita itu.

Berhubung saya adalah orang yang suka penasaran, maka saya mengikuti beberapa kursus penulisan skenario. Dan juga beberapa kursus penulisan novel. Saya ingin tahu dari dalam. Bagaimana sebuah cerita itu dibangun, dikisahkan, dan disajikan dengan apik kepada para audience. Harapan saya adalah untuk bisa merasakan sensasi dan pergumulan batin para penulis, ketika mencurahkan isi kepalanya kedalam cerita. Sehingga saya bisa mengerti, bagaimana lubang cerita itu bisa terjadi.

Dari beberapa kursus yang saya ikuti, saya jadi tahu. Bahwa lubang cerita itu namanya adalah plot hole. Plot hole bisa terjadi karena penulis lengah atau terlena dalam menuturkan kisahnya. Sehingga tidak mengecek ulang logika alurnya.

Untuk beberapa orang, mungkin plot hole tidak menjadi masalah. Namun bagi beberapa yang lain, adanya plot hole bisa mengganggu. Bahkan kadang membuat kegelian tersendiri yang terngiang-ngiang dikepala. Kan sayang kalau ceritanya bagus, tapi tetiba ditengah-tengah muncul wakwaw nya yekaaan...

Nah, begitu pula dengan cerita yang mungkin bisa atau biasa kita sampaikan dikehidupan nyata. Sudah takdirnya manusia sebagai makhluk pencerita, untuk membuat cerita masing-masing. Terkadang kita ditempatkan pada situasi dimana kita harus menciptakan sebuah plot cerita, untuk berbagai tujuan. Untuk meyakinkan orang lain, untuk membujuk orang lain, atau untuk mengelabui orang lain. Atau alasan yang lainnya.

Ternyata untuk itupun, kita harus berhati-hati dan memastikan tidak ada plot hole yang membuat pendengar kita berpikir "wakwaw...". Karena jika itu terjadi, sudah barang tentu pendengar kita lantas tidak lagi mempercayai keseluruhan cerita yang telah susah payah kita bangun.

Jadi, sebelum kita membuat cerita, pastikan kita tidak meletakkan plot hole ditengah cerita kita. Atau jika belum mampu, sebaiknya tidak perlu mengarang cerita. Kisahkan saja cerita yang sebenarnya terjadi. Rasanya itu lebih elegan dan meyakinkan. Dan juga tidak meninggalkan kesan "yaelah, ketahuan banget ngibulnya" yekaaan

#menuliscerita
#ceritamanusia





Dari Sebuah Ruang Kaca



Hampir dua jam aku duduk disudut ini. Menunggu. Banyak hal kulakukan sedari tadi, untuk membunuh waktu. Telah kurampungkan buku setebal 160 halaman tentang Visual Aids for Mindfulness, menarik. Telah kutandaskan kopi classic yang kuseduh dari rumah dan kubawa dalam tumbler starbuck Spanyol. Entah berapa banyak pesan WA yang telah kubaca dan kubalas diantaranya. Selain dari kesibukanku ke toilet, dan menyeka hidung yang mendadak gatal berair.

Selepas halaman terakhir dari buku yang judulnya "Calm" itu, aku diam sesaat dan baru sempat mengamati sekelilingku. Ada beberapa orang selain aku yang juga menunggu. Satu orang sudah ada di kursi itu ketika aku datang, dan dua orang lagi baru saja datang. Kamu semua menunggu antrian.

Kulihat acara TV yang disiarkan, acara yang sama ketika dua minggu lalu aku datang ke tempat ini. Acara dakwah. Lebih tepatnya kontes dakwah anak-anak. Puluhan (mungkin ratusan) anak-anak sholeh dan sholehah yang pintar menghafal dan melafalkan alquran, berkumpul ditempat itu. Beberapa diantaranya maju bergantian dan mengikuti kontes menjadi hafidz/hafidzah terbaik. Luar biasa. Sesekali aku merasa merinding.

Tak lama acara kontes tersebut selesai. Berganti dengan acara dakwah orang tua. Segala macam dakwah dengan beberapa topik disampaikan oleh beberapa orang yang berbeda. Aku mendengar sekilas lalu, karena mataku nyalang ke cahaya terang dibawah TV itu. Pintu kaca.

Dari pintu kaca itu, aku bisa melihat aktifitas kesibukan diluar sana. Mobil bergantian parkir, datang dan pergi. Mobil, motor, sepeda, becak, berseliweran silih berganti. Sesekali orang yang berjalan kaki.
Seorang pengendara motor nampak berusaha berputar didepan area parkir klinik ini. Dia nampak kesulitan. Dia majukan motor sedikit, dan mundurkan sedikit lagi. Hingga akhirnya motornya berbalik 160 derajat. Namun dia tak kunjung melajut, dan masih terlihat kesulitan. Setelah lama kucermati dan kuperhatikan, ternyata motornya ditautkan dengan sebuah gerobak. Gerobak kayu berisi aneka barang perabot rumah tangga. Eh tunggu. Ada sayur mayur juga.

Rupanya dia adalah pedagang kelontong sekaligus sayur mayur keliling. Menilik jumlah dagangannya, tak lagi banyak tersisa. Mungkin dia sudah mulai berdagang dari pagi hari sehingga belum tengah hari, dagangannya sudah banyak laku. Tapi bisa jadi dia memang tidak memiliki banyak barang untuk dijual? Entahlah. Ketika motor dan gerobaknya akhirnya menghadap kearah yang sama, raut ceria dan puas tergambar diwajah si bapak. Dan diapun menarik setang kanannya dan melaju. Melanjutkan perjalanan yang aku tak tahu. Mungkin pulang, mungkin lanjut berdagang.

Tetiba, aku diam. Berusaha merangkai setiap kejadian dengan keadaanku dan sekitarku saat ini. Saat manusia melihat dunia, dari sebuah kotak kaca.

Acapkali kita sibuk melihat, mengamati, dan menilai apa yang terjadi didepan mata kita. Kita berasumsi pada setiap hal yang terjadi. Kita mengira-ira, kita turut merencanakan strategi, kita menyayangkan, kita menyemangati, kita menyalahkan, hingga akhirnya entah memuji atau mencaci. Kita melakukan sesuatu yang menguras energi dan waktu kita, untuk sesuatu yang terjadi diluar arena kita. Sesuatu yang berada jauh dari jangkauan kita. Sesuatu yang bukan ranah kita. Dan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kita.

Acapkali pula kita melakukan semua itu sambil tekun mendengarkan dakwah dari TV maupun dari acara-acara secara langsung. Otak kita diisi dengan dakwah mengenai keadaan ideal yang sebaiknya manusia lakukan dan kehidupan yang semestinya manusia jalani, dari sisi satu agama. Namun mata, hati, pikiran kita terfokus pada orang lain diluar sana. Bagaimana bisa? Itulah uniknya manusia.

Ingatanku kembali pada isi buku yang tadi kubaca.



Kusadari bahwa beberapa waktu belakangan ini, ada kegelisahan tersendiri yang bergejolak dalam diri ini. Ada gelitik-gelitik dari ringan sampai berat yang memancing kegelian dan kegelisahan, yang belum ketemu sebabnya. Analisa dini berdasarkan kesotoy an ku mengatakan bahwa mungkin aku sedang berada ditahap jenuh.

Tapi satu sisi jiwa yang lain mengatakan ini lebih dari itu. Bagaimana jika ini adalah proses bertumbuh kedalam ku? Aku lebih sering mempertanyai diri sendiri, apa yang sebetulnya kuinginkan. Apa yang sebetulnya sedang terjadi? Bagaimana aku bisa mengurai semua kesemrawutan yang rasanya bagaikan benang kusut carut marut didalam kepala yang terkadang muncrat ke hati?

Jika benar begitu, pun tak mengapa. Aku rasa baik kiranya kita menyadari saat-saat sesuatu terjadi, dari dalam. Agar kemudian kita bisa pula mengetahui apa kebutuhan yang harus dipenuhi. Bagaimana cara memenuhi kebutuhan itu. Dan sejauh apa kita harus bekerja sama dengan semua gejolak dari dalam itu.

Kembali lagi pada jeda yang sering kuungkapkan dalam tulisan-tulisan sebelum ini. Aku sering berkata "manusia memerlukan jeda". Kini, aku sampaikan bahwa "aku memerlukan jeda".

Sekali lagi ini mengingatkanku pada semboyan atau tagline yang dulu selalu dimiliki oleh almarhum senior yang (sampai saat saat inipun tidak berhenti) saya kagumi. "Sumuk Ra Kringeten"