Monday, June 29, 2015

What a Wonderful Weekend!

Seperti judul cerita kali ini, What a Wonderful Weekend!

Weekend kemarin adalah weekend istimewa. Penuh dengan kejutan yang mengejutkan, mencengangkan, dan membahagiakan pastinya.

Ceritanya, sekitar hari Rabu itu aku merasa tidak enak badan. Badanku rasanya penuh angin sehingga tulang serasa linu dan perut begah sekali. Akupun memanggil tukang pijat langganan. Pijatan yang melenturkan otot-otot tegang.... Ooooohhh...

Tapi rupanya pijatan yang 2 jam itu tidak mampu 100% mengusir angin2 yang tinggal di badanku. Akhirnya malamnya, tato ikan digambarkan oleh bapaknya Denok K di punggungku. Hitam legam...

Entah kenapa keesokan harinya tetap saja badanku rasanya tidak nyaman. Dan masih begitu sehari setelahnya. Akhirnya kembali aku memanggil tukang pijit, tapi tukang pijit yang lainnya. Badan ini rasanya seperti di gilas dengan penggilas cucian. Dan kembali lagi punggungku di kerok mania. Merah membara....

Aku heran, berapa banyak angin yang bercokol di badan ini, sampai2 segala rupa treatment tidak mempan. Hingga akhirnya Sabtu pagi aku putuskan untuk mengunjungi Dokter umum di salah satu rumah sakit swasta dekat rumah.

Long short story, aku masuk ke rumah sakit itu melalui pintu ruangan dokter umum, namun aku pulang melalui pintu Obgyn... Olallaaaa....
Picture taken from here
Selamat datang dear...
Maafkan aku yang tidak menyadari keberadaanmu sejak dini. Semoga engkau kuat, sehat, dan tumbuh sempurna didalam sana. Maaf atas treatment yang buruk beberapa minggu ini karena ketidak tahuanku.

Be strong, be healthy, be happy, dan be ready....

Mbak K, Bunda, dan Ayah menunggumu dengan bahagia....

Love,
Nala Family



Monday, June 22, 2015

Ketika Dia Pintar Menghibur Dan Menenangkan Kami

Belakangan ini, aku sering meleleh rasanya.

Bukan karena sedang puasa dan panasnya Bogor sedang cetar membahenol, tetapi karena tingkah laku si Denok K yang kadang menurutku sok dewasa istimewa.

Yang paling membuatku meleleh adalah kebiasaan Denok K yang selalu berusaha menenangkan hati Bunda dan Ayahnya. Dia selalu berusaha tampak kuat dan baik-baik saja, meskipun dia sedang kesakitan. duuuhh... Sweet banget sih kamu deekk....

Contohnya:

Kejadian 1:
Suatu malam dia sudah tertidur lelap. Saat aku memasuki kamar untuk mengeceknya, aku melihat seekor nyamuk hinggap dengan nyamannya di tangan dia. Akupun meneok nyamuk itu sampai mecedhel tidak berkutik lagi. Dia dengan mata sayu karena bangun kaget, mengusap2 tangannya yang gatal.
Aku: "Gatel ya dek? Digigit nyamuk ya? Nyamuknya nakal ya gigitin dedek? " kataku sambil mengusap2 bekas gigitan nyamuknya.
Denok K: "Nggak papa.... Nggak papa...." dan diapun berbalik badan dan tidur lagi.

Kejadian 2:
Ketika kami mendatangi Book Fair di salah satu mall di Bogor, dia aku turunkan didekat pintu masuk arena book fair. Sementara ayahnya membayar beberapa buku sudoku, aku berniat meluruskan punggung. Menggendong Denok K beberapa menit saja, sudah membuat lenganku lunglai.
Belum satu menit kulepaskan dia, dia sibuk memegang ini itu. Dan tanpa kusadari, dia memegang lampu sorot kuning yang aku yakin panas sekali karena menyala sepanjang waktu. Kontan saja dia menangis. Sedikit panik aku langsung mencuci tangannya dengan air minumnya. Kulihat semburat merah di jari telunjuk kanannya, tempat yang sama dengan lokasi terbakar knalpot tahun lalu. Hiks... Sedih sekali rasanya. Berkali-kali aku bilang maaf karena lalai padanya. Setelah beberapa saat, tangisnya mereda.
Aku: "Sakit ya dek? Maaf ya... Bunda teledor nggak jagain kamu..." Diapun terisak-isak.

Setelah selesai agenda di bookfair, kamipun pulang. Di perjalanan, dia aku dudukkan di tengah dengan selimut menempel. Sesekali aku dengar dia mendesah:
Denok K: "sshhh... sakiit..."
Aku: "Sakit ya dek? Mana bunda lihat tangannya..." Kataku sambil meraih tangannya dari balik selimut. Namun dia menolak untuk menunjukkan tangannya, dan malah menyembunyikannya lebih dalam.
Denok K: "Nggak papa... Nggak papa...." begitu terus beberapa kali.

Dan aku sedih sekali sampai berkaca2 sepanjang jalan. Anakku...anakku....

Kejadian 3:
Karena aku sedang ada janji call dengan rekan kerjaku, maka sore itu Denok K mandi dibantu tetehnya. Aku dari ruang kerjaku yang letaknya bersebelahan dengan kamar mandi bisa mendengar jelas perbincangan mereka.
Dari diskusinya, sepertinya teteh menyiramkan air sampai terkena matanya Denok K.
Teteh : "Aduh, dek... pedes ya dek?"
Denok K: "Nggak papa... Nggak papa..."
Teteh: "Nggak papa ya... dedek pinter ya... nggak nangis ya..."
Denok K: "Nggak papa... nggak papa...."

Bundanya yang sedang melototin laptop tiba2 pandangan matanya kabur.... hiks... Bijak sekali kamu dekk....

Dan masih banyak lagi kejadian yang berujung dengan "Nggak papa... Nggak papa....". Baiklah miss nggak papa... Thank you so much for making me feel so much better.

Stay health and be happy always ya dear denok K...

We love you to the max and back and forth back and forth pokoknya :-)


Friday, June 19, 2015

Huru - Hara Buka Puasa Pertama

Lagi-lagi nafsu jepret jepret lenyap entah kemana.... Semoga si mood lekas kembali. Aamiin.

Alhamdulillah, kita sudah melewati 1.5 hari puasa. Berbuka dengan apa teman? Mudah2an semua saudara yang berpuasa dapat merasakan manisnya berbuka. Aamiin.

Aku mau sedikit bercerita mengenai huru-hara yang terjadi di dapurnya Denok K kemarin, ketika menyiapkan masakan untuk berbuka. Begini ceritanya:

Jam 11 siang...

Aku: "Teh, kacang merahnya kita rendem sekarang aja. Biar nanti empuk pas direbus sorean. Kan kita mau bikin es kacang merah"
Teteh: "Baik bu..."

Jam 3 Sore...

Aku: "Teh, kita mulai rebus daging aja yuk. Biar nanti empuk. Kan nanti aku musti potong-potong kecil2. Biar nggak panas banget."
Teteh: " Sekalian perkedel kentangnya bu?"
Aku: "Oh iya. Sekalian aja kita mulai goreng kentangnya. Nyicil biar nggak buru2. Aku ada telpon nanti jam 4."

Kamipun khusyuk menyiapkan ini itu sesuai job description masing2.

Saat daging mulai empuk, akupun memotong2nya kecil2 untuk dimasih bumbu rawon.
Aku: "Teh, kacangnya direbus sekarang aja deh. Nanti kalau udah empuk, tinggal kita tambahin pandan sama gula jawa. Santan nya kita pakai separo aja, separonya lagi buat sayur."
Teteh: "iya bu..."

Ditengah asik memotong2 daging sambil ngobrol dengan bapake Denok K, aku mencium aroma wangi pandan. Hmmm... wangiii....

Tak lama kemudian teteh di depan kompor sedikit heboh mematikan kompor.
Aku: "Kenapa teh?"
Teteh: "Santan nya meluap bu..."

tetottt.... Sinyal menyala dikepalaku...

Aku: "Lho, koq santan nya udah di masukin? Kan harusnya nanti direbus terpisah teh? Lah, ini santan nya 1 bungkus semua?"
Teteh: " Iya bu... semuanya...."
Aku: "Lha teh, kan tadi aku bilang setengah aja..." sambil mengaduk santan di panci. Aku merasa ada yang janggal disini.

Aku: "Lho teh, ini koq kacang hijau?"
Teteh: "Iya bu... lha bukannya mau bikin bubur kacang hijau?"
Aku: "Lho, terus kacang merah yang udah direndem dari siang mana?"
Teteh: "Itu di meja..."

Astaga dragon... Aku ketawa ngakak2 sambil geleng2 kepala...

Aku: "teteh...teteh... koq bisa double kuadrat gini sih salahnya? Kenapa teh? laper ya jadi nggak konsen? hahaha. Lha kita ngerendem kacang merah dari tadi siang koq malah yang direbus kacang hijau? Dapat ide dari mana coba?"

Dan akhirnya dengan setengah buru2, aku melanjutkan agenda memasak kacang merah. Bubur kacang hijau akan diteruskan teteh setelah berbuka.

Masih belum ketemu jawabannya, bagaimana bisa kami merendam kacang merah setengah hari, tapi yang masuk panci adalah kacang hijau? Ullaalllaaa.... :-p

Selamat menjalankan puasa hari kedua kawans....

Tuesday, June 16, 2015

Selamat Datang (Lagi) Ramadhan

Ramadhan sudah di depan mata....

Jaraknya hanya tinggal seruangan rapat penentuan Hilal di Jakarta sana. Setelah keputusan diumumkan, maka kita semua akan memasuki Bulan Ramadhan, bulan suci penuh ampunan.

Kemeriahan Ramadhan selalu saja tidak bisa dielakkan. Mulai dari iklan sirup yang mulai berseliweran di televisi, undangan untuk cucurag (makan bersama sebelum memulai puasa), dan beredarnya broadcast minta maaf lahir batin dari keluarga dan teman kita.

Picture taken from here
Banyak hal baru yang aku rasakan menuju Ramadhan kali ini. Salah satunya adalah Ramadhan kali ini kami akan jalani di rumah kami sendiri. Dirumah teko kopi kami. Alhamdulillah... Ramadhan kali ini juga terasa berbeda untukku karena ini adalah kali pertama aku akan kembali berpuasa setelah 2 tahun absen karena hamil dan menyusui. Rasanya sedikit mendebarkan dan menyenangkan. Selain itu Ramadhan kali ini kami jalani di lingkungan baru dengan orang-orang dan kebiasaan yang baru, yang banyak berbeda dengan tahun lalu.

Tahun lalu, kami masih di kontrakan, dengan tetangga dekat yang banyak sekali. Kamipun sibuk bagi-bagi jadwal buka sahur satpam, buka bersama, bazar, dan lain-lain. Tahun ini, kami di rumah sendiri, dengan tetangga dekat sedikit sekali, lebih banyak tetangga jauh. Kami masih mengatur jadwal buka sahur satpam juga. Hanya saja sekarang semua jadwal sudah ditentukan oleh PJ Ramadhan. Lebih simpel sih...

Beberapa hal baru masih perlu aku evaluasi. Sepertinya aku sedikit kesulitan menerima hal-hal baru ini. Maaf kalau jadi sedikit ngomel-ngomel disini. hahahahaa. Saya lapar... padahal puasa belum mulai #eh.

Satu hal yang berbeda dan aku sedikit tidak mengerti logika alasannya adalah sekarang untuk jatah buka dan sahur petugas keamanan, tidak boleh diberikan dalam bentuk uang. Waktu aku iseng bertanya kenapa begitu, katanya alasannya adalah jika diberikan dalam bentuk uang, takutnya uangnya dibelikan rokok, bukan untuk makanan berbuka. Hmm.... Entahlah. Alasan yang sedikit aneh memaksa menurutku. Menurutku yang penganut hal-hal simple yang memudahkan hidup ini, untuk apapun uang itu mereka peruntukkan, adalah hak mereka. Kita yang memberi asal dengan niat ikhlas, sudah cukup. Tapi berhubung saya newbie disini, jadi saya menurut saja. Sambil pusing mencari cara bagaimana menyediakan makanan untuk para petugas keamanan ini. Maklum, nggak bisa masak.... :-p

Oh iya, satu hal lagi yang sedikit membuat hatiku gundah gulana gimana gitu. Berawal dari share informasi dari seorang tetangga di group WA komplek, mengenai daftar rumah makan yang buka selama Ramadhan. Kurang lebih begini obrolannya:

Ibu A: "Berikut adalah daftar rumah makan yang masih buka selama Bulan Ramadhan.........."
Ibu B: "Masih banyak yang buka ya.... (emoticon mendengus)"
Ibu C: "Iya mba... semoga yang punya warung makan masuk neraka. hihihihi...."
Ibu B: "Yang masak, yang jual, yang promosiin, yang beli, yang kerja di wartegnya,,, semoga diberi hidayah. Kirain hanya yang cepat saji saja yang buka saat ramadhan...malahan banyak warteg"

Dan akupun sedikit speechless.... WOW... dengan sok alim akupun menulis:
"Ya nggak papa buka asal ditutupi kain jendelanya kali ya mbak... dan bu .... Kan yang non muslim nggak puasa masih perlu makan. Kasihan mereka kalau semua tutup... (Ikon apa ya yang senyum terus nyengir dan keluar air mata kanan kiri itu lho)"

Eh, rupanya masih juga belum terima beliau2... Keluarlah contoh mulia dari si ibu yang katanya selalu berusaha menghormati keluarganya yang puasa dengan sembunyi2 kalau makan. Menyarankan untuk yang tidak puasa untuk lebih menghormati yang puasa dengan membawa bekal dari rumah. Dan ibu yang satunya berargumentasi bahwa yang kebanyakan makan adalah orang muslim seperti tukang becak, tukang ojeg, dll....

Jujur, saya tidak bisa menangkap logika yang sedang digulirkan. Jadi bingung saya... hehehe

Sepertinya si ibu B lebih setuju jika restoran cepat saji boleh buka tetapi warteg harus tutup. Apakah lebih baik orang kaya yang sudah punya restoran cepat saji saja yang bisa berlebaran dengan uang yang mereka kumpulkan selama bulan puasa, sedangkan pemilik warteg tidak usah mendapatkan penghasilan selama bulan puasa? Karena apa?

Kalau nanti ibu nya dibilang lebih mendukung kapitalis juga pasti nggak mau kaaannn....#kedipkedip.

Beliau menyontohkan betapa mulia beliau dengan sembunyi2 makan ketika keluarganya sedang puasa. Jadi kalau wartegnya di tutup gorden, terus yang makan disitu nggak kelihatan sama yang lain, bukannya itu hampir sama dengan usaha sembunyi2 yang ibu lakukan? Apakah tidak sama? Tunjukkan pada saya bu... saya mungkin tersesat.... :-p

Jika mayoritas yang makan di warteg adalah orang muslim seperti tukang becak, tukang ojeg, dll, terus kenapa? Tukang becak, tukang ojeg, dll itu adalah tumpuan keluarga yang sedang berusaha mencari rizky Allah agar bisa punya uang saku untuk mudik, atau untuk membelikan baju baru anaknya. Mereka bekerja, mereka tidak puasa, mereka merasa lapar, jadi mereka makan di warteg. Bagian mana yang salahkah? Apakah karena warteg buka jadi mereka merasa lapar? Sepertinya bukan... Apakah karena mereka muslim tukang ojeg dan tukang becak jadi tidak boleh makan di warteg? Menurut saya bukan juga...

Kalau boleh saya katakan, jika memang ibu mau sedikit adil terhadap keadaan, mungkin jalan yang bisa ibu lakukan adalah berbicara pada tukang ojeg dan tukang becak "Pak, bapak kenapa nggak puasa? Kan bapak muslim?"

Nah, jika ibu mau melakukan itu, menurut saya itu adalah tindakan yang benar. Karena dengan begitu ibu tidak melanggar apa2. Tidak memutus jalan rizky tukang warteg beserta dengan pekerjanya, tidak mengutuk mereka masuk neraka, tidak melanggar hak asasi manusia, karena ibu sekedar bertanya. Nanti ibu akan tahu jawabannya dari bapak2 pencari rizky halal itu. Tapi ibu juga tidak boleh langsung marah dan menarik urat tinggi ketika mereka bilang tidak puasa karena satu dan lain hal. Menurut paham sederhana saya, yang perlu di ingat adalah Puasa itu hubungan antara Manusia dengan Tuhan - Nya. Itu lebih kepada ujian tingkat keimanan dan ketaqwaan kita  kepada Tuhan kita. Disiplin menjalankan puasa, mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, tanpa ada polisi yang akan menangkap/mencambuk kita, bukan hal yang mudah bukan? Nah, biarkan itu menjadi hubungan dan komunikasi kita masing2 kepada Tuhan kita.

Seperti yang Ustadzah siapa waktu itu yang kita undang untuk memberikan materi pada waktu pengajian rutin bulanan itu lho bu... Kan kata beliau, tugas kita sebagai manusia itu, selain menjalankan semua perintah-Nya, juga menjauhi larangan-Nya. Memutus jalan rizky orang lain, itu adalah sesuatu yang di larang. Memaksakan kehendak dan keyakinan kita pada orang lain juga salah satu larangan-Nya. Apalagi mengutuk orang agar masuk neraka. Naudzubillahimindzalik bu... Saya sih malah takut kalau nanti kita ketemu di neraka kalau gitu.... Naudzubillahimindzalik.... Jangan sampai ya bu...

Akan lebih indah jika kita mulai memutar jari telunjuk kita. Dari yang awalnya menunjuk kepada orang, diputar menjadi kearah kita. Daripada bilang "Kalian pemilik warteg, kami sedang puasa nih. Jadi kalian lebih baik tutup saja", sepertinya akan lebih baik kalau kita bilang "Saya sedang puasa, jadi kalau ada warteg buka, saya tidak mau nengok. Takut tergoda sama tempe gorengnya...". Katanya kalau kita berpuasa dengan godaan besar, dan semakin besar kita bisa menahan diri dari godaan, maka pahala kita akan semakin besar. Lumayan kan bu....?

Begitu ya Ibu-ibu... Selamat menjalankan ibadah puasa. Mudah-mudahan puasa kita lancar, diterima Tuhan, dan kehidupan bersaudara kita di dunia juga tidak terganggu. Aamiin.

Thursday, June 11, 2015

Bukan Pencari Nafkah

Mendadak pengen cerita tentang kisah si Fulan dan si Abdul...

Photo Bapak Penjual Tahu dari Sini

Ceritanya si Fulan ini adalah seorang laki-laki, beristri dan beranak. Dia orang yang cerdik pandai berpengalaman dan pintar bicara. Setiap orang yang berbicara dengannya, akan mudah terhanyut kedalam ceritanya.

Dia menjalani hidup dengan sangat indahnya. Istri cantik, anak pintar, dan keluarga bahagia. Dia tidak pula harus menjadi tulang punggung keluarga, karenanya hidupnya pun semakin mudah dan indah. Dia bisa melakukan segala hal yang bisa membuat orang lain berdecak kagum atau sedikit banyak iri padanya. Setiap tindakan dan keputusannya adalah atas nama nya sendiri. Tidak ada keluarga yang harus di jadikan beban, karena ada orang lain yang sudah bertanggung jawab akan hal itu. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan wahai Fulan...

Si Abdul beda ceritanya...
Abdul adalah seorang laki-laki yang juga beristri dan beranak. Dia orang yang biasa saja, tidak suka menonjolkan apa yang dia bisa. Dan dia menjalani hidup dengan biasa. Dia adalah tulang punggung keluarga, sehingga dia merasa bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup keluarganya. Karenanya, dalam setiap langkahnya, selalu ada keluarga di belakang nya. Setiap keputusan adalah atas nama keluarga. Terpujilah engkau Abdul...

Ceritanya, pada suatu hari si Fulan dan si Abdul bertemu di sebuah ruangan, untuk membicarakan Sapi.

Fulan: Punya siapa sapi ini?
Abdul: Punya kita. Kita yang membeli dan memeliharanya.
Fulan: Apa yang sapi ini berikan pada kita?
Abdul: Kita membeli dan memeliharanya sekian lama, maka dia adalah bagian dari keluarga kita.
Fulan: Macam apa itu... Kalau dia tidak bisa memberikan apapun pada kita, untuk apa kita pelihara dia? Kita jual saja. Atau kita sembelih untuk makan.
Abdul: Tega sekali engkau wahai Fulan. Sapi ini adalah bagian dari kita. Kita tidak bisa menghilangkannya begitu saja. Kita harus terus memeliharanya.
Fulan: Hidup ini adalah untung dan rugi. Kalau tidak memberi untung, hanya akan merugikan.
Abdul: Aku sudah menganggapnya sebagai keluargaku.... Setega itukah engkau merebutnya?
Fulan: Aku bisa mengganti sapi ini dengan sapi yang lebih baik. Bahkan kalau perlu engkau juga bisa kugantikan dengan yang lainnya....
Abdul: Aku punya keluarga, yang harus kuhidupi dan harus kuperhatikan. Aku masih membutuhkan susu sapi ini.
Fulan: Itu bukan urusanku. Itu urusanmu sendiri.
Abdul: Baiklah... Terserah saja apa maumu. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Toh engkau memang tidak tahu rasanya bertanggung jawab pada keluarga. Kau tidak mengenal rasa susah menanggung beban keluarga. Kau tidak tahu bagaimana rasanya menghidupi keluarga. Percuma saja aku menentangmu. Hatimu tidak hidup kawan...

Dan Abdul pun berpisah dengan Fulan saat itu dengan segudang rasa kecewa. Fulan yang memang tidak mengetahui bagaimana rasanya menjadi tumpuan hidup keluarga, tidak merasakan kegalauan Abdul. Sedangkan Abdul merasa satu beban bertambah di pundaknya.

Begitulah kisah si Fulan dan si Abdul kali ini.

Sebagai pelajaran, bahwa laki-laki ditakdirkan agar menjadi pencari nafkah untuk keluarga, agar dia bisa merasa bertanggung jawab lebih. Tidak hanya bertanggung jawab pada keluarganya sendiri, tetapi juga kepada orang-orang yang berkeluarga. Agar dia tidak bersikap sewenang-wenang dan sembrono. Kasihan orang-orang seperti Fulan. Tidak memiliki hati seluas pencari nafkah, dan tidak memiliki empati sedalam pencari nafkah. Karena dia tidak pernah merasakan sulitnya kehidupan menempa para pencari nafkah keluarga.

Untuk semua pencari nafkah bagi keluarga di luar sana, mudah2an Tuhan senantiasa melapangkan rizky kalian, melonggarkan jalan kalian, dan melancarkan setiap rencana kalian. Serta di jauhkan dari orang-orang seperti Fulan. :-p

Tuesday, June 9, 2015

Etika Berkomunikasi

Rencana sih mau nyetor tulisan di sumurdapurkasur. Tapi gegara kemarin komputer gegar otak, dan nggak nemu lagi email dari admin yang satunya lagi, jadilah aku tidak bisa login ke blog. Padahal lagi semangadh2 nya nulis ini. Ya sudahlah... sepertinya saya lapar jadi nyarinya nggak bener. Sementara tulis sini aja dulu nggak papa.

Ceritanya adalah...

Pagi ini aku dan mas bojo sedang asyik berbincang dan berdiskusi mengenai salah satu etika bekerja dan berhubungan dengan orang lain. #gaya bener

Kami sepakat dan sependapat bahwa bagaimana etika kita dalam bekerja dan berhubungan dengan orang, sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat kita bekerja dan dengan siapa kita bekerja.

Salah satu contoh kecilnya adalah dalam berkomunikasi. Komunikasi disini bisa saja melalui berbagai macam media. Bisa by handphone, email, atau semua moda komunikasi.

Pengalaman yang sama yang mas bojo dan aku alami adalah: Sering sekali orang yang kita kirimi berita, tidak merespon dengan baik berita yang kita kirimkan. Arti merespon dengan baik disini bukan berarti mendukung atau tidak mendukung, atau semacamnya. Tetapi ini hanya pada apakah mereka membacanya saja, membaca dan memberi tahu/tanda bahwa mereka sudah membacanya, tidak membacanya, atau mereka tidak menerimanya?

Kapi sepakat bahwa kebanyakan dari orang, mereka hanya membaca saja tanpa memberi tahu/tanda bahwa mereka telah membaca berita itu. Sebagai gampangnya, misalkan kita menggunakan aplikasi WhatsApp atau BBM, maka pesan kita hanya di read saja. Jadi kita tahu bahwa orang itu sudah membaca, namun tidak ingin memberi tahu/memberi tanda pada kita bahwa mereka telah membacanya. Lain halnya dengan email. Susah mengetahui apakah pesan kita sudah terbaca atau belum.

Terkadang aku heran dengan hal ini. Kenapa ya orang bisa mengacuhkan begitu saja pesan yang masuk dari orang lain? Padahal kan mudah saja memberi tahu/tanda kalau kita sudah membaca pesannya. Misalkan saja kalau di WA atau BBM dengan menjawab OK misalkan? atau kalau malas bilang OK, bisa dengan salah satu emoticon yang ada. Atau kalau memang tidak bahagia dengan pesan yang diterima, bilang saja kalau tidak suka dengan pesannya. Lha kan setidaknya si pengirim jadi tahu bahwa kita tidak suka dengan pesannya.

Email juga begitu sepertinya. Banyak yang suka menahan email sebagai hiasan inbox nya. Untuk apa? Entahlah. Jika saja si penerima email memberikan tanggapan meskipun hanya sekedar "saya sedang sibuk, akan saya baca nanti" atau bahkan mungkin "saya tidak tertarik" begitu pun juga boleh. Setidaknya orang yang mengirim tau bahwa email kita sampai ditangan mereka. Entahlah... Mungkin mereka belum pernah bertemu dengan Bu Sa** (bosku). hahahaha.

Oh iya... Ada lagi satu fenomena yang acapkali terjadi dan aku alami. Ketika janjian untuk bertemu. Yang paling membuat aku heran seheran2nya adalah, ketika orang sudah berjanji untuk bertemu, tetapi sampai dengan bertahun2 kemudian tidak ada satu katapun terucap perihal janjian itu. Hahaha... #miris.

Maksudku begini...
Beberapa kali aku alami juga. Kami berjanji untuk bertemu disuatu tempat pada suatu masa. Sampai dengan H-1 adem ayem tidak ada pembatalan, jadi tidak salah kan kalau kita berasumsi bahwa pertemuan tetap dilakukan? Hari H pun tiba. Sampai pada jam yang telah di janjikan, tidak ada kabar pembatalan. Ok. mungkin mereka terlambat. Kan memang sulit hidup menjadi orang tepat waktu diantara orang2 yang tidak tepat waktu (hahahhaa). Satu jam berlalu, seperti pacarku kalau janjian suka telat sejam. Dua jam berlalu, seperti saudaraku kalau telat 2 jam. 3 jam, 4 jam, sehari, dua hari, dan seterusnya sampai mungkin bertahun2 setelahnya. Hahahahhaa...

Yang mengherankan adalah:
Seberapa sulitnya mengatakan bahwa "Su, sorry ya pertemuan batal. Gw gak nafsu ketemu elu", misalkan. Atau "Njing, males ah ketemu elu. Nggak menaril". Atau bisa juga "Aduuh... maaf yaaaa... aku tiba2 begini2 dan begitu2... mendadak ini itu.... si ini itu si itu ini....". Toh contoh pesan2 itu bisa saja dituliskan beberapa hari sebelum Hari H, beberapa menit sebelum Hari H, atau bahkan pun ketika sudah terlambat dari waktu yang di janjikan. Ya sudahlah.... mungkin mereka juga lapar. :-p

Mungkin orang2 yang terbiasa melakukan hal2 tersebut diatas memang tidak terbiasa berada/berhubungan dengan orang tepat waktu, atau orang yang punya jadwal aktivitas harian. Jadi menurut mereka, santai ajalah membuat orang menunggu atau menghabiskan waktu mereka buat nunggu. Toh mereka yang ditunggu juga begitu. Hahaha... sungguh miris terkadang kalau memikirkan hal ini. Terkadang itu membuat malas untuk kembali berjanji temu. Biasanya kalau sudah pernah berpengalaman buruk seperti itu, dan di undang lagi untuk bertemu, aku hanya bisa bilang "ya, mudah2an nggak ada halangan dan bisa sambil mengagendakan acara kesana". Jadi kalaupun janji temu batal lagi, aku tidak akan merasa rugi. Kan cuma agenda sampingan saja. hahahhaa #licik

Apakah aku dulu begitu? Entahlah.... Sudah lupa. Tapi kalau mas bojo mengakui bahwa dulu dia pernah berada pada masa seperti itu. Tetapi karena mendapat dorongan dari teman kerjanya, maka perlahan dia tidak lagi begitu. Mudah2an semakin baik kedepannya ya mas bojo... :-)

Aku ingat sekali pernah ngobrol dengan teman kerjaku dulu mengenai hal ini. Temanku itu berkata:
Kalau saya, kalau ngasih kerjaan ke orang, lebih senang kalau diberitahu bisa atau enggaknya, terus dikerjain. Meskipun salah, tidak apa2. Daripada tidak dikerjakan atau diam saja. Kalau dikasih tau bisa atau tidak, terus dikerjakan tapi salah, kan mudah. Saya tinggal bilang untuk kerjakan ulang. Tapi kalau didiamkan saja atau tidak dikerjakan, kan saya jadi tidak tahu juga harus bagaimana. Marah atau apa?

Sampai sekarang, kata2 itu selalu aku pegang sebagai dasar bekerja. Thanks Mbak Am***a. :-)

Ayo teman2... Kalau ada yang mendapatkan pesan dari orang lain baik di sms, wa, bbm, line, email, atau apapun itu jenis nya, luangkan lah waktu beberapa detik untuk membalasnya. Biarkan orang yang mengirim merasa senang, karena membuat orang merasa senang kan mendapat pahala kan ya?

Dan belajar menempatkan diri di posisi orang lain juga baik. Keren nya sih katanya "always put yourself in other shoes" gitu... :-p

Kalau dari postingannya #dagelan yang aku baca hari ini, ada satu yang menarik dan cocok untuk tulisan ini. Bunyinya:
The Raid Dua emang sadis sih...
Tapi...
Di Read Doang jauh lebih sadis...

Salam Damai dan Saling Menghargai! Aamiin :-p

Wednesday, June 3, 2015

Merasa Malu Sendiri

Jadi ceritanya weekend kemarin kami Keluarga Nala ini jalan-jalan ke curug lagi. Tapi kali ini arahnya beda, bukan ke arah Gunung Bunder, tetapi ke arah Puncak sana. Nama Curug nya Curug Cilember. Cerita perjalanannya nanti aku post di sumurdapurkasur aja ya... Udah lama nggak nyetorrr... Semangat setor nya ikut neng Safi pelatihan. hahahaha #ngeles

Yang mau aku ceritain disini sih lebih ke pengalaman spiritual pribadi yang aku rasakan ketika melihat sesuatu. Sedih, terharu, dan ujungnya adalah malu. Lebih ujung lagi adalah aku kekenyangan. Haiyah...

Gambar dari sini
Jadi lagi, ceritanya waktu itu kami tiba pas banget pas waktunya makan siang. Ya udah, akhirnya kami memutuskan untuk mengisi perut dulu diwarung sebelum bergerak ke air terjun. Kata anak-anak mapala kan logika nggak jalan tanpa logistik. :-p

Akhirnya kami masuk ke sebuah warung yang dulu waktu pacaran kami datangi juga. Memesan gado-gado dan es jeruk untuk si Ayah, dan Mie telur sama Jeruk panas buat si Bunda. Buat Denok K? Dia kan pasti minta mie telor nya bunda bawa bekel komplit, jadi nggak dipesenin.

Ditengah keasyikan kami menunggu makanan, makanan datang, dan akhirnya menyantap makanan, terlihat seorang bapak sepuh yang terseok-seok mengangkut 4 kardus air mineral. Rupanya si bapak menyetor air mineral ke warung itu. Akupun bertanya pada si Ayah, "Itu si Bapak bawa dari bawah yah?" dan di jawab "Iya". Terbayang aku yang hanya membawa back pack isi baju ganti dan bekal sambil nenteng tas perbekalan saja sudah engap nya iyyuhh ampun, dan si bapak itu membawa 4 kardus air mineral?

Setelah meletakkan bawaan nya, Bapak itu beristirahat sambil kipas-kipas menggunakan topinya... Tak lama es jeruk dihidangkan oleh Ibu Warung. Dan kemudian menyusul Mie Telor.

Dengan sudut mataku, kuperhatikan si bapak. Aku jadi ingat bapak ku di kampung. Memang sih bapak ku di kampung tidak harus memanggul kardus air mineral, tetapi aku tahu beliau juga memanggul banyak beban.

Saat aku asyik memperhatikan si bapak, Denok K mulai bosan dan minta jalan-jalan. Karena si Ayah menyudahi makannya ditengah jalan karena gado-gadonya kepedesan sudah cukup kenyang, maka Ayah dan Denok K berjalan meninggalkanku dengan mie telor tanpa telor telornya habis sama Denok K yang ngepul-ngepul.

Gado-gado Ayah sih menggoda, tapi kan aku sedang program mengurangi makan. Eits... tapi koq ketika sudut mataku kembali melihat si Bapak yang duduk menikmati mie nya, aku jadi malu. Aku malu punya pikiran untuk membiarkan gado-gado itu terlantar. Aku malu sempat merasa acuh pada makanan yang kami pesan. Dan malu ku semakin bertumpuk mengingat berapa banyak makanan yang kami sisakan ketika makan.

Kenapa tiba-tiba aku jadi malu?
Entahlah... Mendadak begitu saja rasa malu itu datang. Mungkin saya sedang insyaf. Aku merasa malu karena si Bapak yang sudah sepuh itu, masih bekerja sedemikian kerasnya. Untuk apa? pasti untuk menghidupi keluarga, dan memenuhi kebutuhan mereka. Bapak yang sudah sepuh itu masih bekerja dengan kerasnya untuk bisa membuat keluarganya bahagia dan berkecukupan. Sedikit banyak rejekinya adalah hasil dari perasan keringatnya.

Sedangkan aku? kami? yang muda yang belum banyak pengalaman ini, masih belajar hidup, masih belajar bekerja, masih belajar berkeluarga, tapi sudah menyia-nyiakan rejeki yang diberikan Tuhan melalui makanan. Mungkin si Bapak itu sering melihat anak berkelakuan seperti aku, dan apa komentarnya ya? Mungkin "anak-anak muda jaman sekarang, kurang menghargai usaha" atau yang lainnya? Entahlah...

Mungkin jika bapak ku melihat juga akan merasa malu? Anaknya tidak bisa menghargai rejeki yang didapatnya dengan cukup mudah, sedangkan orang lain mengusahakannya dengan susah payah? Mungkin saja....

Yang jelas perjumpaan tidak langsungku dengan si bapak ini benar-benar membuatku merasa malu. Mudah-mudahan aku dan keluargaku bisa menjauhi kebiasaan buruk itu. Mudah-mudahan kami semua bisa menjaga perasaan Bapak dan semua bapak di dunia agar tidak merasa malu dan sedih karena tingkah anak-anaknya.

Anakku, mudah-mudahan suatu saat, dimanapun kamu berada, kamu selalu membawa kami, Ayah dan Bundamu dalam setiap langkah dan semangadhmu. Sehingga bisa menjadi batas kebaikan yang bisa kamu andalkan setiap waktu. Sehingga kamu tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang sekiranya akan membuat keluargamu malu.

Cerita ini hanya satu dari ribuan cerita yang ingin aku ceritakan padamu nak... Karena kami mencintaimu dan ingin bersamamu selamanya baik didunia maupun di kehidupan setelah dunia. Letakkan orang tuamu di setiap langkahmu... :-)