Tuesday, June 9, 2015

Etika Berkomunikasi

Rencana sih mau nyetor tulisan di sumurdapurkasur. Tapi gegara kemarin komputer gegar otak, dan nggak nemu lagi email dari admin yang satunya lagi, jadilah aku tidak bisa login ke blog. Padahal lagi semangadh2 nya nulis ini. Ya sudahlah... sepertinya saya lapar jadi nyarinya nggak bener. Sementara tulis sini aja dulu nggak papa.

Ceritanya adalah...

Pagi ini aku dan mas bojo sedang asyik berbincang dan berdiskusi mengenai salah satu etika bekerja dan berhubungan dengan orang lain. #gaya bener

Kami sepakat dan sependapat bahwa bagaimana etika kita dalam bekerja dan berhubungan dengan orang, sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat kita bekerja dan dengan siapa kita bekerja.

Salah satu contoh kecilnya adalah dalam berkomunikasi. Komunikasi disini bisa saja melalui berbagai macam media. Bisa by handphone, email, atau semua moda komunikasi.

Pengalaman yang sama yang mas bojo dan aku alami adalah: Sering sekali orang yang kita kirimi berita, tidak merespon dengan baik berita yang kita kirimkan. Arti merespon dengan baik disini bukan berarti mendukung atau tidak mendukung, atau semacamnya. Tetapi ini hanya pada apakah mereka membacanya saja, membaca dan memberi tahu/tanda bahwa mereka sudah membacanya, tidak membacanya, atau mereka tidak menerimanya?

Kapi sepakat bahwa kebanyakan dari orang, mereka hanya membaca saja tanpa memberi tahu/tanda bahwa mereka telah membaca berita itu. Sebagai gampangnya, misalkan kita menggunakan aplikasi WhatsApp atau BBM, maka pesan kita hanya di read saja. Jadi kita tahu bahwa orang itu sudah membaca, namun tidak ingin memberi tahu/memberi tanda pada kita bahwa mereka telah membacanya. Lain halnya dengan email. Susah mengetahui apakah pesan kita sudah terbaca atau belum.

Terkadang aku heran dengan hal ini. Kenapa ya orang bisa mengacuhkan begitu saja pesan yang masuk dari orang lain? Padahal kan mudah saja memberi tahu/tanda kalau kita sudah membaca pesannya. Misalkan saja kalau di WA atau BBM dengan menjawab OK misalkan? atau kalau malas bilang OK, bisa dengan salah satu emoticon yang ada. Atau kalau memang tidak bahagia dengan pesan yang diterima, bilang saja kalau tidak suka dengan pesannya. Lha kan setidaknya si pengirim jadi tahu bahwa kita tidak suka dengan pesannya.

Email juga begitu sepertinya. Banyak yang suka menahan email sebagai hiasan inbox nya. Untuk apa? Entahlah. Jika saja si penerima email memberikan tanggapan meskipun hanya sekedar "saya sedang sibuk, akan saya baca nanti" atau bahkan mungkin "saya tidak tertarik" begitu pun juga boleh. Setidaknya orang yang mengirim tau bahwa email kita sampai ditangan mereka. Entahlah... Mungkin mereka belum pernah bertemu dengan Bu Sa** (bosku). hahahaha.

Oh iya... Ada lagi satu fenomena yang acapkali terjadi dan aku alami. Ketika janjian untuk bertemu. Yang paling membuat aku heran seheran2nya adalah, ketika orang sudah berjanji untuk bertemu, tetapi sampai dengan bertahun2 kemudian tidak ada satu katapun terucap perihal janjian itu. Hahaha... #miris.

Maksudku begini...
Beberapa kali aku alami juga. Kami berjanji untuk bertemu disuatu tempat pada suatu masa. Sampai dengan H-1 adem ayem tidak ada pembatalan, jadi tidak salah kan kalau kita berasumsi bahwa pertemuan tetap dilakukan? Hari H pun tiba. Sampai pada jam yang telah di janjikan, tidak ada kabar pembatalan. Ok. mungkin mereka terlambat. Kan memang sulit hidup menjadi orang tepat waktu diantara orang2 yang tidak tepat waktu (hahahhaa). Satu jam berlalu, seperti pacarku kalau janjian suka telat sejam. Dua jam berlalu, seperti saudaraku kalau telat 2 jam. 3 jam, 4 jam, sehari, dua hari, dan seterusnya sampai mungkin bertahun2 setelahnya. Hahahahhaa...

Yang mengherankan adalah:
Seberapa sulitnya mengatakan bahwa "Su, sorry ya pertemuan batal. Gw gak nafsu ketemu elu", misalkan. Atau "Njing, males ah ketemu elu. Nggak menaril". Atau bisa juga "Aduuh... maaf yaaaa... aku tiba2 begini2 dan begitu2... mendadak ini itu.... si ini itu si itu ini....". Toh contoh pesan2 itu bisa saja dituliskan beberapa hari sebelum Hari H, beberapa menit sebelum Hari H, atau bahkan pun ketika sudah terlambat dari waktu yang di janjikan. Ya sudahlah.... mungkin mereka juga lapar. :-p

Mungkin orang2 yang terbiasa melakukan hal2 tersebut diatas memang tidak terbiasa berada/berhubungan dengan orang tepat waktu, atau orang yang punya jadwal aktivitas harian. Jadi menurut mereka, santai ajalah membuat orang menunggu atau menghabiskan waktu mereka buat nunggu. Toh mereka yang ditunggu juga begitu. Hahaha... sungguh miris terkadang kalau memikirkan hal ini. Terkadang itu membuat malas untuk kembali berjanji temu. Biasanya kalau sudah pernah berpengalaman buruk seperti itu, dan di undang lagi untuk bertemu, aku hanya bisa bilang "ya, mudah2an nggak ada halangan dan bisa sambil mengagendakan acara kesana". Jadi kalaupun janji temu batal lagi, aku tidak akan merasa rugi. Kan cuma agenda sampingan saja. hahahhaa #licik

Apakah aku dulu begitu? Entahlah.... Sudah lupa. Tapi kalau mas bojo mengakui bahwa dulu dia pernah berada pada masa seperti itu. Tetapi karena mendapat dorongan dari teman kerjanya, maka perlahan dia tidak lagi begitu. Mudah2an semakin baik kedepannya ya mas bojo... :-)

Aku ingat sekali pernah ngobrol dengan teman kerjaku dulu mengenai hal ini. Temanku itu berkata:
Kalau saya, kalau ngasih kerjaan ke orang, lebih senang kalau diberitahu bisa atau enggaknya, terus dikerjain. Meskipun salah, tidak apa2. Daripada tidak dikerjakan atau diam saja. Kalau dikasih tau bisa atau tidak, terus dikerjakan tapi salah, kan mudah. Saya tinggal bilang untuk kerjakan ulang. Tapi kalau didiamkan saja atau tidak dikerjakan, kan saya jadi tidak tahu juga harus bagaimana. Marah atau apa?

Sampai sekarang, kata2 itu selalu aku pegang sebagai dasar bekerja. Thanks Mbak Am***a. :-)

Ayo teman2... Kalau ada yang mendapatkan pesan dari orang lain baik di sms, wa, bbm, line, email, atau apapun itu jenis nya, luangkan lah waktu beberapa detik untuk membalasnya. Biarkan orang yang mengirim merasa senang, karena membuat orang merasa senang kan mendapat pahala kan ya?

Dan belajar menempatkan diri di posisi orang lain juga baik. Keren nya sih katanya "always put yourself in other shoes" gitu... :-p

Kalau dari postingannya #dagelan yang aku baca hari ini, ada satu yang menarik dan cocok untuk tulisan ini. Bunyinya:
The Raid Dua emang sadis sih...
Tapi...
Di Read Doang jauh lebih sadis...

Salam Damai dan Saling Menghargai! Aamiin :-p

Wednesday, June 3, 2015

Merasa Malu Sendiri

Jadi ceritanya weekend kemarin kami Keluarga Nala ini jalan-jalan ke curug lagi. Tapi kali ini arahnya beda, bukan ke arah Gunung Bunder, tetapi ke arah Puncak sana. Nama Curug nya Curug Cilember. Cerita perjalanannya nanti aku post di sumurdapurkasur aja ya... Udah lama nggak nyetorrr... Semangat setor nya ikut neng Safi pelatihan. hahahaha #ngeles

Yang mau aku ceritain disini sih lebih ke pengalaman spiritual pribadi yang aku rasakan ketika melihat sesuatu. Sedih, terharu, dan ujungnya adalah malu. Lebih ujung lagi adalah aku kekenyangan. Haiyah...

Gambar dari sini
Jadi lagi, ceritanya waktu itu kami tiba pas banget pas waktunya makan siang. Ya udah, akhirnya kami memutuskan untuk mengisi perut dulu diwarung sebelum bergerak ke air terjun. Kata anak-anak mapala kan logika nggak jalan tanpa logistik. :-p

Akhirnya kami masuk ke sebuah warung yang dulu waktu pacaran kami datangi juga. Memesan gado-gado dan es jeruk untuk si Ayah, dan Mie telur sama Jeruk panas buat si Bunda. Buat Denok K? Dia kan pasti minta mie telor nya bunda bawa bekel komplit, jadi nggak dipesenin.

Ditengah keasyikan kami menunggu makanan, makanan datang, dan akhirnya menyantap makanan, terlihat seorang bapak sepuh yang terseok-seok mengangkut 4 kardus air mineral. Rupanya si bapak menyetor air mineral ke warung itu. Akupun bertanya pada si Ayah, "Itu si Bapak bawa dari bawah yah?" dan di jawab "Iya". Terbayang aku yang hanya membawa back pack isi baju ganti dan bekal sambil nenteng tas perbekalan saja sudah engap nya iyyuhh ampun, dan si bapak itu membawa 4 kardus air mineral?

Setelah meletakkan bawaan nya, Bapak itu beristirahat sambil kipas-kipas menggunakan topinya... Tak lama es jeruk dihidangkan oleh Ibu Warung. Dan kemudian menyusul Mie Telor.

Dengan sudut mataku, kuperhatikan si bapak. Aku jadi ingat bapak ku di kampung. Memang sih bapak ku di kampung tidak harus memanggul kardus air mineral, tetapi aku tahu beliau juga memanggul banyak beban.

Saat aku asyik memperhatikan si bapak, Denok K mulai bosan dan minta jalan-jalan. Karena si Ayah menyudahi makannya ditengah jalan karena gado-gadonya kepedesan sudah cukup kenyang, maka Ayah dan Denok K berjalan meninggalkanku dengan mie telor tanpa telor telornya habis sama Denok K yang ngepul-ngepul.

Gado-gado Ayah sih menggoda, tapi kan aku sedang program mengurangi makan. Eits... tapi koq ketika sudut mataku kembali melihat si Bapak yang duduk menikmati mie nya, aku jadi malu. Aku malu punya pikiran untuk membiarkan gado-gado itu terlantar. Aku malu sempat merasa acuh pada makanan yang kami pesan. Dan malu ku semakin bertumpuk mengingat berapa banyak makanan yang kami sisakan ketika makan.

Kenapa tiba-tiba aku jadi malu?
Entahlah... Mendadak begitu saja rasa malu itu datang. Mungkin saya sedang insyaf. Aku merasa malu karena si Bapak yang sudah sepuh itu, masih bekerja sedemikian kerasnya. Untuk apa? pasti untuk menghidupi keluarga, dan memenuhi kebutuhan mereka. Bapak yang sudah sepuh itu masih bekerja dengan kerasnya untuk bisa membuat keluarganya bahagia dan berkecukupan. Sedikit banyak rejekinya adalah hasil dari perasan keringatnya.

Sedangkan aku? kami? yang muda yang belum banyak pengalaman ini, masih belajar hidup, masih belajar bekerja, masih belajar berkeluarga, tapi sudah menyia-nyiakan rejeki yang diberikan Tuhan melalui makanan. Mungkin si Bapak itu sering melihat anak berkelakuan seperti aku, dan apa komentarnya ya? Mungkin "anak-anak muda jaman sekarang, kurang menghargai usaha" atau yang lainnya? Entahlah...

Mungkin jika bapak ku melihat juga akan merasa malu? Anaknya tidak bisa menghargai rejeki yang didapatnya dengan cukup mudah, sedangkan orang lain mengusahakannya dengan susah payah? Mungkin saja....

Yang jelas perjumpaan tidak langsungku dengan si bapak ini benar-benar membuatku merasa malu. Mudah-mudahan aku dan keluargaku bisa menjauhi kebiasaan buruk itu. Mudah-mudahan kami semua bisa menjaga perasaan Bapak dan semua bapak di dunia agar tidak merasa malu dan sedih karena tingkah anak-anaknya.

Anakku, mudah-mudahan suatu saat, dimanapun kamu berada, kamu selalu membawa kami, Ayah dan Bundamu dalam setiap langkah dan semangadhmu. Sehingga bisa menjadi batas kebaikan yang bisa kamu andalkan setiap waktu. Sehingga kamu tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang sekiranya akan membuat keluargamu malu.

Cerita ini hanya satu dari ribuan cerita yang ingin aku ceritakan padamu nak... Karena kami mencintaimu dan ingin bersamamu selamanya baik didunia maupun di kehidupan setelah dunia. Letakkan orang tuamu di setiap langkahmu... :-)

Monday, June 1, 2015

Salah Satu Kesuksesan di Mataku

Hari ini melihat di media sosial-nya seorang mentalist Indonesia, inisialnya D e d y C. Dia memposting satu video karya anaknya yang masih berusia 8 tahun (iya kan ya?) yang berisi curahan hati sang anak.

Aku tersentuh dan sangat tertarik dengan behind the scene cerita itu. Ini dia videonya....


Yang menarik menurutku adalah kisah panjang yang terjadi diantara kedua manusia dewasa yang disebut mom and dad dan si pembuat cerita, yaitu si anak. Iya... Karya yang begitu baik, begitu indah, dan begitu bermakna yang dibuat oleh seorang anak yang umurnya belum genap 9 tahun itu, tidak akan terjadi tanpa sesuatu yang luar biasa di antara mereka.

Mungkin di dunia yang fana dan banyak orang yang masih berpikiran "cuma gw dan kepercayaan gw yang paling bener ini", akan banyak yang kontra dengan isi dan niat si anak dalam membuat cerita ini. Seperti banyak komentar yang ada di bawah video itu langsung, ataupun di medsos nya si ayah.

Kebanyakan akan bilang 'setiap perceraian akan selalu mengorbankan anak'. "orang tua egois karena bercerai dan mengorbankan anak". Atau banyak komentar lain yang serupa tapi tak sama. Mungkin memang ada yang benar... Namun tidak 100% benar menurutku.

Meskipun begitu, aku tidak mau juga kalau harus melewati tahap itu. Naudzubillahimindzalik... Mudah2an Tuhan melindungi ku dan keluargaku dan memberikan kebahagiaan dalam keluarga ini. Aamiin.

Kembali ke cerita si anak. Si anak dalam ceritanya menyatakan bahwa dia merasa bahagia melihat mom & dad nya berpisah, karena itu membuat dia tidak harus melihat mereka bertengkar. Mungkin juga membuat dia tidak lagi melihat ibunya menangis. Karena jujur deh buat yang para anak, melihat ibunya menangis adalah hal yang sangat menyiksa kita bukan? Aku sih iya... Sampai pernah terfikir bahwa siapapun yang membuat ibuku menangis lagi, harus beradu pedang sama aku. hahaha....#alay.

Mungkin saja itu adalah jalan indah dan nyata dan terbaik yang diambil oleh Dedy, Kalina, dan Azka. Dan kelebihannya lagi adalah mereka berasal dari keluarga berada, jadi mau beli rumah yang deketan dan tetap liburan bareng kemana-mana ya tetap bisa. Eits, bukan itu pointnya... hehehe

Menurut pendapat goblok ku, mereka begitu dan akhirnya memilih untuk begitu, adalah hasil dari kedewasaan mereka dalam berhubungan. Cieeh, sok tau. Ya keleus....

Bayangkan...

Suami istri berantem, damai, berantem lagi, damai lagi, berantem lagi dan lagi sampai lupa cara damai. Biasanya apa endingnya? Cerai kan? Iya...

Apa bedanya sama Dedy dan Kalina? Mereka toh juga berantem melulu seperti digambarkan anaknya. Bedanya kemudian mereka (mungkin) diam, menarik nafas panjang, menatap (photo) si anak, dan saling berbicara secara dewasa. Mereka menarik diri dari pertengkaran mereka yang entah apalah itu sebabnya, kemudian meletakkan anak mereka ditengah2 mereka. Apa yang mau kita lakukan demi anak kita? Dan (mungkin) mereka memutuskan untuk lebih baik berpisah secara baik-baik.

Nah, tidak sedikit sebetulnya yang berpisah secara baik-baik begini di kehidupan nyata para artis. Beberapa ada yang memang baik. Beberapa ada yang awalnya baik, tapi menjadi tidak baik ketika sampai pada pembahasan hak asuh anak (yang ujungnya duit), bahkan ada yang katanya pisah baik-baik tapi cuma pas konferensi pers doank. Dibelakang itu kalau diajak ketemu, pasti lebih jago dari bajaj ngelesnya. hehehe... Namanya juga artis. Kenapa harus artis contohnya? Ya karena yang banyak diberitakan detailnya kan para artis... :-p

Aku sempat melihat dan mengingat sekilas ketika Dedy dan Kalina mengumumkan perceraian mereka beberapa tahun lalu. Aku melihat bagaimana Kalina menangis sedih dan dipeluk oleh Dedy, dan Dedy mengatakan bahwa "saya mencintai istri saya, dan saya yakin istri saya mencintai saya dengan sangat. Karena itu kami harus mengambil jalan ini agar tidak lagi saling menyakiti." Kayaknya sih gitu bunyinya.... Atau sedikit banyak deh... Atau mungkin aku lebay. hehehe

Tapi betul... Melihat bagaimana cara mereka menikah, kemudian punya anak, memutuskan untuk berpisah, dan menjalani konsekuensi mereka setelah berpisah dengan adanya anak, patut di acungi jempol. Sampai bisa membuat anaknya tidak merasa kehilangan/broken home karena perpisahan orang tua? Luar biasa. Sampai bisa menyimpulkan sendiri bahwa tidak ada yang berubah dari status anak, dan yang berubah hanya bukan lagi suami dan istri? Another luar biasa.

Hanya satu yang masih membuatku bertanda tanya, karena aku masih merupakan anak perempuan yang lahir di ndeso dan dengan pikiran ndeso yang nggak hilang-hilang. Bagaimana si azka ini nanti melihat 'Pernikahan'? Bagaimana Dedy dan Kalina menyiapkan anaknya pada tahap itu? Ataukah akan sama dengan yang sudah terjadi dengan ayah dan ibunya?

Ini adalah penasaranku yang serius... Tidak main-main... Karena pengalaman orang bisa kita gunakan sebagai lahan belajar yang tak terbatas. Diambil yang baik dan ditinggal yang buruk.

BTW, Great Job Dedy Corbuzer!!!

Monday, May 25, 2015

Bye Speedy, Almost Bye Laptop, and Finally Bye Data too

What a wonderful Weekend!

Akhir pekan kemarin ini, sedikit suram rasanya. Masih edisi lanjutan dari program bye bye speedy yang kemarin, rupanya tak hanya speedy yang membuatku pusing. Ada bagian-bagian lain yang ikut menambah pusing pala ini.

Bye picture taken from here

Entah kenapa pada hari Kamis siang, laptop ini mendadak dangdut mati. Ketika aku mencoba menyalakannya, hanya layar biru yang muncul dengan deretan tulisan yang bahasannya kelas dewa. Satu yang aku mengerti sepertinya bunyinya "Jika masalah ini baru muncul sekali, silakan restart komputer anda. Jika masalah ini sudah berulang kali muncul, maka .... " apaaa gitu katanya. Lupa persisnya. Karena memang seingatku baru sekali terjadi, maka aku merestart nya. Namun kemudian dia tak lagi sekali muncul. Setelah direstart, muncul lagi dan lagi dan lagi....

Saatnya pergi ke Dokter Komputer. Hmmm... Laptop ku perlu general check up sepertinya. Jadi akupun pergi ke tempat service computer di sekitaran kampus dan mas nya bilang akan membantu menganalisa apa yang terjadi. Menurut dia sekitar sejam juga selesai, dan nanti aku akan dikabari.

Sejam kemudian aku cek hp, belum ada sms. Dua jam kemudian, belum juga. 3 jam kemudian, tak ada sms tentang laptopku, akupun menelponnya. Hhmm... Mas nya pun pakai ngeles ini itu ketika aku tanya kenapa nggak jadi sejam selesainya. Nggak papa lah.... Namanya juga bukan hal yang bisa ditebak secara pasti. Si mas nya pun memintaku untuk memberikan external hardisk untuk menyimpan semua data yang ada. Kuberikan external hardisk yang kapasitasnya cukup besar.

Hari itu, proses peng-kopian data ke external hardisk selesai. si mas nya bilang kalau akan memulai mencari masalah yang menjangkiti laptop ku. Kemungkinan adalah windows nya yang crash, atau kemungkinan lain adalah hardisk nya yang error. Aku padamu mas...

Hari Jum'at...

Paginya aku mendatangi kembali tempat service laptopku. Rupanya sudah selesai... ppffiiuuhhh... lega. Komputerku seperti perawan kembali. Bersih sih sih... Tak lupa akupun memesan baterai yang baru karena baterai lama sudah soak parah. Besoknya baru ada baterai nya ceunah...

Sesampai di rumah, akupun langsung menjalankan rutinitas seperti biasa ketika komputer baru pakai. Yaitu kontak Allwyn yang di Bangkok sana untuk mengecek dan mensetting segala rupa yang diperlukan. Maklum, saya kan pengguna saja... hohoho

Seperti biasa Allwyn dengan majic tools nya meng klik sana dan klik sini untuk mengecek dan mensetting segala rupa. Sesekali ketika dia nanya password, aku ketik di layar. Atau ketika harus restart, aku restart dan kemudian kasih dia akses monitoring laptop lagi. Jaman sekarang memang semua-mua bisa dilakukan dengan ongleng...

Data yang berhubungan dengan pekerjaan aku pindahkan ke laptop. Untuk data yang lain, nanti saja lah aku pindahkan. Sekalian dirapikan. Untuk sementara dibuka langsung saja dari external hardisk.

Hari Sabtu...

Baterai sudah ada. Akupun mengambilnya.
Seperti kata mas nya yang jual, lebih baik di charge 8 jam posisi mati. Jadi hari itu agendanya adalah ngecharge baterai sampai setelah magrib.

Malamnya, rencana online untuk mengerjakan satu dan lain hal yang tertunda karena proses perbaikan laptop.

Setelah mengerjakan satu dan lain hal, terpikir untuk membersihkan dan sekaligus mengatur ulang susunan folder untuk data pribadi di external hardisk dan komputer. Malam minggu nggak ada pasangan dan anak sudah tidur lelap, hal apalagi yang lebih cantik selain cleaning up laptop? hahaha...

Pas di buka folder dengan namaku, eng ing eng... Folder couldn't opened. dan bla bla bla lainnya yang aku tidak mengerti... Broken heart... Hatiku patah... Ku keluarkan external hardisk dengan gently dan kumatikan laptop. Sedikit berharap kusisipkan doa agar folder yang error itu bisa di buka di MacB**k suamiku. Beberapa kali kejadian bisa, harapanku pun sedikit nyempil untuk itu...

Hari Minggu pagi - sore...

Tak ada gairah untuk membuka komputer, terlebih lagi external hardisk... Jalan-jalan, meet up with friends, berkebun (lagi).

Hari Minggu malam...

Aku lihat suamiku membuka laptopnya... Kuceritakan apa yang terjadi pada data-dataku, dan diapun mencoba membukanya melalui laptopnya. Hasilnya? kosong melompong... Hmmm... Ok... Numb. Nggak ngerasa apa-apa. Ya sudah... biarkan....

Hari Senin pagi...

Kembali online untuk bekerja, nggak merasa apa-apa dengan ketidak adaan folder itu. Feels nothing. Mungkin memang ada saatnya ketika kita lelah merasa galau (minggu lalu karena berbagai hal), dan kemudian mengalami kehilangan, akhirnya justru perasaan netral yang ada. Hahaha... aneh memang. Tapi sepertinya aku sudah melepas secara ikhlas semua data yang hilang itu. Nanti juga bisa dibuat lagi... simple...

Terbayang sih memang kumpulan cerita, kumpulas link, kumpulan ide, kumpulan gambar, kumpulan obrolan, kumpulan buku, dan kumpulan-kumpulan hal lain yang ada di folder itu. Tapi tidak membuatku stress sama sekali.

Satu hal yang justru membuat suamiku stress, adalah hilangnya kumpulan catatan ID dan password. HAH! Iya betul. Selama ini aku yang punya memori sepanjang 1 mm ini memang mengandalkan semua ID dan password di catatan itu. Dan hari ini, bersama dengan virgin nya laptopku dan hilangnya catatan itu, aku jadi sedikit bingung dan bertanya pada suamiku. Password iniku apa ya? ituku apa ya? yang ini apa? yang itu apa? Maklum, jaman sekarang semua main ID dan password...

Tentu saja suamiku dengan bahagianya mengeluarkan dalil :
Suami: Kamu ini parah sekali... masak password yang begitu bisa lupa? itu kan penting...
Aku: Makanya itu, karena penting aku catat semuanya disitu. Lha sekarang malah ilang?
Suami: Tapi koq bisa lupa sih? Mana bisa orang lupa password yang begituan?
Aku: Lha kamu kan tau sendiri, aku ini lemah mengingat
Suami: Kayak orang amnesia aja
Aku: Soalnya banyak sekali password dan ID yang musti di inget... Banking lah... ATM lah... Email lah... Medsos lah... Belanja onlen lah... Duh, mana inget semuanyaa.... #ngeles
Suami: Kayak aku donk... simpen di note HP...
Aku: Hahahha... nggak salah nyuruh aku nyimpen begituan di HP? Udah lebih dari 5 kali keleus HP ku ilang... Lha kalau ilang lagi? Oh no... tambah perkara aja sibuk blokir sana sini...

Diskusi selesai...

******

Begitulah... Akhir pekan yang sesuatu sekali... Mulai dari Bye bye Speedy, disusul dengan hampir saja bye bye laptop, dan akhirnya bye bye data...


#AbaikanNoteIni:
Jam 11 siang mendadak internet mati.
Aku (by WA): Yah, tet tot... Internet mati...
Suami : Astaga... kamu ini nggak bisa jauh dari aku ya. Ditinggal dikit adaaaa aja masalah...
Aku: Iyaaa... Aku tanpamuuu... Butiran debuuu... #menyanyi

Eeeaaa... Eeeaaa... Eeeaaa...

Thursday, May 21, 2015

Akhir dari Hubungan Kita

Akhirnya aku memutuskan hubunganku dengannya...
Bukan keputusan yang mudah, tetapi memang harus dilakukan. Berjalan bersamanya, banyak suka dan dukanya, tapi sangat menguras emosi jiwa. Dan kadang menambah dosa.

I have to let You go!

Bertahun-tahun sudah kami hidup bersama, memulai semuanya dari hal kecil. Dia sudah banyak sekali memberikan hal-hal baru dan indah bagiku. Banyak hal-hal positif karenanya. Namun, rupanya hatiku tak bisa berdusta. Tekanan demi tekanan, kebohongan demi kebohongan, ketidakjelasan, dan ketidakpedulian itu membuatku muak dan memutuskan untuk meninggalkannya.

Kami sudah bersama, bahkan ketika aku belum bisa memilikinya. Kamipun mulai bersatu disebuah rumah kontrakan mini yang menyenangkan. Lebih dari 2 tahun kami tinggal di rumah kontrakan itu. Naik turun hubungan, suka duka perjalanan, kemarahan, kebencian, namun selalu kembali karena kebutuhan. Begitu terus menerus tiada henti, dan selalu berulang kembali.

Ketika akhirnya kami punya rumah sendiri, harapanku adalah agar hubungan kita lebih harmonis tanpa cela. Tanpa emosi yang menguras energi, tanpa makian-makian baik langsung ataupun dalam hati, dan tanpa hal-hal buruk itu. Yang ada, hubungan kita justru semakin memburuk. Tak pernah ada hari berjalan mulus dalam hubungan kita dirumah baru ini. Hatiku pun bertanya-tanya... Ada apa sebenarnya denganmu? Kenapa harus seperti ini??? Kenapaaaa???

Terlalu banyak janji manismu yang hanya membuatku semakin dan semakin sakit hati...

Sudah sejak lama aku merasakan ketidakcocokan ini. Namun apa daya... Aku tak punya pilihan yang lebih baik dari yang aku jalani ini. Aku sudah berusaha untuk membicarakan hal ini pada banyak orang, pada ahlinya. Namun memang pilihan yang lebih baik belum mau mendekat kearahku. Sedih... sedih sekali... Melihat teman-temanku berbahagia dengan pilihan mereka, kenapa tidak ada pilihan yang lebih baik untukku??? Siapa yang harus kusalahkan????

Puncaknya adalah beberapa waktu lalu. Entah mendapat kekuatan darimana, saat itu juga aku memutuskan untuk menyudahi prahara ini. Mengakhiri hubungan ini adalah jalan satu-satunya yang paling mungkin. Masalah kemudian aku mendapatkan yang lebih baik atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting adalah aku tidak lagi dibuat emosi olehnya, tidak lagi dibuat sakit hati olehnya, tidak lagi dibuat berdosa olehnya, dan energiku bisa aku gunakan untuk yang lainnya.

Iya... Beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan menahun ini. Dan sehari setelah aku putuskan untuk berpisah, akhirnya perpisahan itu terjadilah. Dan hari ini, aku sama sekali tak berhubungan lagi dengannya. Lupakan semua rupiah atau dollar yang sudah kuikhlaskan untuknya. Mudah-mudahan diganti dengan yang jauh lebih besar nantinya. Selamat tinggal... Kalau memang kita jodoh, kita akan berhubungan lagi suatu saat nanti.

Kenapa tiba-tiba aku bisa menguatkan diri dan memutuskan hubunganku dengannya? Iya... dengan sangat menyesal aku harus katakan bahwa ada yang lain. Ada yang lain yang bisa membuatku lebih tenang, lebih damai, dan lebih menerima kenyataan. Ada yang lain yang lebih memberikanku keberlanjutan hubungan, bukan hubungan putus nyambung dan tidak jelas sepertinya. Ada yang lain yang membuatku lebih percaya diri. Ada yang lain yang aku harap bisa semakin baik lagi setelah aku memutuskan bersamanya.

Memang yang lain ini belum sepenuhnya membuatku puas begitu saja. Tapi setidaknya aku mau mencoba. Jika hubungan ini berhasil, maka aku harap hubungan ini bisa selamanya. Namun jika harus kembali gagal ditengah jalan, maka aku akan kembali mengikhlaskannya dan mencoba mencari yang lain lagi. Dunia terus berputar meskipun kita tunduk terpuruk oleh sesuatu. Rugi kan?

Akhirnya tiba saat mengucapkan selamat tinggal...
Selamat tinggal Speedy... Kau tak layak lagi mendampingi hari-hariku... Hubunganku denganmu hanya akan sebatas namamu tertulis di tagihan bulanan ke kantorku untuk dua bulan terakhir. Selebihnya tidak... Router mu pun sudah lenyap dari pandangan, disungsepkan entah kemana oleh suamiku yang sama sebelnya sama kamu. Kami sudah sangat bersabar selama ini, namun kesabaran kami sudah kau habiskan sendiri.

Kalau suatu saat nanti kamu sudah menepati janjimu dengan menggunakan fiber optik dan koneksi cepat sesuai janji dan akad, maka mungkin saja kami kembali. Tapi jika tidak, ya sudahlah... mungkin kita belum berjodoh.

Saat ini kami akan berjuang dengan Bolt.... Mudah-mudahan Tuhan berkati. Bismillahirrohmanirrohim...

PS: Mudah-mudahan tidak ada yang membaca dengan serius cerita ini, karena ini hanya tentang Aku dan Speedy, bukan cerita yang laiinya.. :-)


Monday, May 18, 2015

Begini Mungkin Dulu Ibuku Melewati Beberapa Harinya Denganku

Ya Tuhan...

Mungkin memang tepat jika dibilang Karma akan selalu ada. Tapi karena ini melibatkan anak kecil, maka Karma tidak menjadi kata yang tepat. Mungkin lebih tepat jika dibilang "Cara Tuhan Menunjukkan Bagaimana Perasaan Ibu Dulu Kala?"

Ceritanya, si Denok K sedang dalam masa penyembuhan dari demam 3 hari nya kemarin. Kemarin pagi akhirnya kami bawa dia ke Nenek Salim untuk pijat. Namun tidak seperti setelah pijat kemarin2nya, pulang dari pijat dia masih menolak makan. hiks... Nongkrong di Momo Barn nya kurang berfungsi jika anak malas makan... #alibi

Lanjut ke tadi malam. Entah kenapa Denok K ini malam2 menangis bombay sebentar2. Terus tidur lagi. Nangis lagi, sambil ngigau 'pukul... pukul...' sambil memperagakan tangan di samping kepala siap memukul. Hhhh... Ini adalah teka-teki yang menyelimuti selama beberapa hari ini. Denok K jadi hobi sekali berniat memukul atau benar2 memukul sambil bilang 'pukul...pukul...'. dan belum ketahuan darimana dia mendapatkan itu semua. Selidik ke tetehnya, tidak terkonfirmasi apakah ada temannya yang suka begitu.

Hari ini rupanya berlanjut sesi ehm nya denok K. Kemana2 minta gendong kain... gendong kain... Terus minta sesuatu nggak pake bilang tapi pake nangis. Nah loh... Gimana kita ngerti ndhok... ndhok...

Belum lagi sebangun dia dari boci -yang dengan sukses ditemani bundanya- nya, dia mendadak menangis kejer laksana disiksa. Berpegang pada kamus per-tantrum-an, akupun mencoba tegar dan tak tergoda untuk menyuap nya dengan apapun. Hanya dengan setia menunggui dan memeluk erat. Namun rupanya jurus tangan maju semuanya juga belum berhenti. Pukul, jambak, dan cakar... Duuh... Dapet darimana sih kamu sayangku?

Kalau sudah begini, aku jadi serasa mengingat jauh ke belakang sana, melihat pada Wilis kecil yang adalah mirip dengan Denok K kecil ini. Dulu aku juga sering begini. Menangis tanpa alasan dan tanpa batas sambil melancarkan jurus2 cubitan ke punggung Mas Aris. Duuh... maaf ya Mas Aris ku sayang... Mudah2an dihitung dengan pahala berlipat ganda dari Tuhan YME. Aamiin.

Belum lagi Wilis kecil adalah anak yang uhuk sekali. Seperti halnya ibu-ibu yang lain, jika anaknya menangis dimalam hari, ibuku akan bilang "hussh...cup,..cup... jangan nangis. Itu ada hantu. Kalau nangis terus nanti kamu di bawa pergi hantu". Dan entah darimana aku selalu bilang "Mana hantunya? Aku mau lihat hantu... Aku mau ikut hantu saja...".

Terus kalau susah disuapin, ibuku akan bilang "tuh lihat itu ada pesawat lewat. Ada pak presiden itu. kalau kamu nggak makan, nanti diambil pak presiden...". Dan dengan semangadh aku akan bilang "Aku mau ikut pesawat... Aku mau ikut pak presiden...." Dan ibuku diam dengan tatapan -sebaiknya piring ini kubanting saja-.

Ada juga saat dimana aku mendadak pengen makan, sedangkan ibu dan bapak sedang memerah susu di kandang. Dan dengan lebaynya aku akan duduk lemes didepan rumah sambil menangis sendu tersedu-sedu agar ditanyain orang. hahahaa. How Drama Queen am I?

Ya Allah... Berikanlah kesehatan kepada semua keluargaku tercinta... Limpahkanlah rizky, berkah dan anugerahMu kepada mereka semua. Sekarang aku belajar menjadi mereka kala itu. Dan ternyata itu tidak mudah.

Terima kasih Ibu, Bapak, Mas Aris, Pakdhe Suhar... You raised me so well... Kalian semua menyimpan setiap cakaran dan kebandelanku sepanjang masa. I love you all and God will always bless all of you every single day. Aamiin

Denok K.... Yang pinter... Yang baik... Yang nurut... Yang cerdas... Membanggakan hari Ayah dan Bunda... Besok kita main dengan gembira saja yaaa... Seperti dulu-dulu itu lho... Bangun dengan ceria... Makan yang banyak... Mandi dengan bahagia.... Main yang banyak... Bobok yang pules... Ok?

Kata Denok K: "OoooKeeee"


Tuesday, May 12, 2015

Lepehan - Lepehan Yang Terserak

Ada yang nggak tahu apa itu lepehan? Melepeh? Dilepeh? atau lepeh-lepeh lainnya?

Googling gih...! Pasti banyak artinya. Aku sih males gugling.

Namanya lepehan, itu pasti nggak enak, makanya jangan dimakan lagi. Namanya melepeh, itu bukan perbuatan yang baik, jadi jangan dilakukan didepan orang lain. Namanya dilepeh itu pasti karena nggak enak, tapi coba mikir juga itu yang dilepeh. Pasti yang dilepeh juga nggak enak... Kasihan lah pokoknya...

Kalau bisa jangan deh berhubungan atau melakukan yang lepeh-lepeh gitu... Sama-sama nggak enak. Nggak enak dilihat, dan nggak enak dirasa.

Apalagi abis diangkat-angkat terus dilepeh...

Berdasarkan kajian seseorang, lepeh-lepeh ini bisa menyebabkan penyakit hati. Sulit sekali diobati. Dan konon katanya bisa menjalar kemana-mana. Bahkan menimbulkan kematian.

Untuk yang suka melepeh-lepeh, lebih baik mulai banyak beristighfar.... hahaha. Apa hubungannya? Banyak. Males menjabarkannya.

Untuk yang suka dilepeh-lepeh, yang sabar ya lepehan... Deritamu jadi lepehan.... Hahaha... Makin nggak jelas deh...

Hidup Lepeh!