Friday, June 26, 2009
Buka Matamu Lebar-Lebar
Kemarin, aku kembali merasakan detak keberadaan luka itu.
Untuk hal yang sama, untuk orang yang sama, dan untuk lingkungan yang sama.
Sebenarnya, sejak saat “hal itu” terjadi, aku selalu enggan melangkah menuju tempat itu.
Tempat dimana aku terlalu berlebih dalam berharap.
Tempat dimana aku terlalu pede dalam bersikap.
Tempat dimana semua orang bersikap lain.
Tempat dimana jarak selalu ada.
Ketika kemarin kakiku kembali menginjak wilayah itu,
Aku harus bertemu dengannya yang pernah melukaiku.
Dia berlaku seolah tak ada aku, aku biarkan saja.
Saat aku kembali harus menginjak wilayah itu, kali ini dari sisi yang berbeda.
Dengan terpaksa dia harus melihatku, menyapaku.
Dan akupun menyapanya seperti biasa.
Jarak itu ada, jarak itu terasa, sebagaimana aku merasakan adanya luka itu.
Dia mengeluarkan pertanyaan retorik kepadaku.
Namanya saja pertanyaan retorik, maka tak ada kewajibanku untuk menjawabnya.
Dan semua itu juga hanyalah basa-basi yang basi menurutku.
Kutinggalkan semua itu begitu saja.
Karena aku tak ingin lebih jauh terperosok dalam jurang.
Kalau memang mereka layak di awan, biarkan aku ada di tanah.
Jikalah mereka yang layak di tanah, biarkan aku ada di sudut saja.
Sebuah pelajaran besar untukku, yang selalu menyukai hal-hal yang berlebihan.
“kurangilah semua yang lebih itu, jadikan semua menjadi biasa-biasa saja”
Semakin ingin ku tutup mata,
Maka semakin kubuka mata ini lebar-lebar.
Karena aku tak ingin lari dari kenyataan…
Wednesday, June 24, 2009
Ketika Jarak dan Waktu Memisahkan Kita, Maka Perpisahan Membentang di Depan Mata
Aku berjalan sendiri di jalanan kayu yang disusun rapi menjadi sebuah jembatan panjang. Samping kanan kiri jalan adalah rumput alang-alang setinggi pinggang yang mulai menguning, dengan latar belakang gunung tinggi yang menjulang. Bayangan sinar matahari yang tertutup awan menimbukan kesan cantik yang berselang-seling. Ingin rasanya aku abadikan pesona alam itu banyak-banyak dalam kameraku. Namun sayang, aku baru menyadari kalau aku tidak membawa kamera kesayanganku itu.
Aku terus berjalan menyusuri jalanan itu. Jalanan yang seolah tidak asing dimataku. Serasa déjà vu, aku berusaha mengingat dimana kiranya aku pernah melihat pemandangan seindah ini. Aku juga tidak memahami kenapa jalanan seindah ini sepi dari orang. Kuikuti terus titian kayu ini, karena aku merasa penasaran dengan ujung dari jalan ini. Akan dibawa kemana aku jika terus mengikuti jalanan ini??
Lama berjalan, akhirnya aku melihat ada orang lain didepan sana. Dengan setengah berlari aku mengikuti dan berusaha mengejar orang itu. Entah karena kekuatan lariku yang sangat di bawah rata-rata atau mereka yang berjalannya terlalu cepat, rasanya aku tidak mampu menggapai mereka. Aku berteriak untuk memanggil mereka, namun sepertinya mereka tidak bisa mendengar suaraku.
Ternyata di depan sana banyak orang. Maka aku mempercepat jalanku. Setelah sampai di kerumunan orang yang sama-sama bergerak maju ke satu arah itu, aku bertanya ada acara apa di sini. Tapi tak seorangpun mau menjawabku. Mereka hana menatapku dengan heran, kaget atau lebih tepatnya kasihan. Kenapa mereka melihatku seperti itu??tanyaku dalam hati.
Karena tak satupun dari mereka mau berbicara denganku, maka aku ikuti saja arus kemana mereka berjalan. Semakin lama semakin banyak orang yang bergabung dibarisan itu. Disela-sela orang yang tidak aku kenal, aku bisa melihat beberapa orang yang sangat aku kenal. Ketiga sahabatku dari SMU, teman-teman kuliahku, dan beberapa orang dari masa laluku.
“Kenapa mereka ada disini??apakah mereka saling mengenal??”tanyaku dalam hati.
Aku berteriak memanggil mereka, namun mereka sepertinya tenggelam termakan barisan orang-orang itu. Sekuat tenaga aku berusaha bergerak ke arah mereka. Begitu aku sudah mencapai ketiga sahabatku, aku bertanya kepada mereka tentang tujuan mereka di tempat ini.
Bukan menjawab, mereka malah menatapku dengan tatapan yang sama dengan orang-orang yang pertama tadi aku temui. Salah satu sahabatku memegang pundakku sambil berusaha tersenyum. Namun hanya senyum kesedihan yang aku temui disana. Ada apa dengan semua ini?? Kenapa semua serba membingungkan?
Namun sebuah suara dalam kepalaku mengatakan, ikuti saja kemana mereka berjalan. Mungkin mereka hanya berusaha memberikan kejutan padaku. Dengan rasa penasaran yang menumpuk, akupun mengikuti arus itu.
Tiba-tiba terdengar sayup-sayup musik jawa dimainkan. Aku mengenal sekali musik itu sebagai musik pengiring pernikahan adat jawa. Rasa penasaranku kembali memuncak, siapakah yang menikah hari ini?apakah saudaraku, temanku, atau siapa?ataukan aku lupa untuk membaca undangan temanku?
Barisan yang awalnya berantakan itu mulai merapikan diri dengan antrian satu-satu. Rupanya didepan ada acara salaman dengan penerima tamu. Benarlah dugaanku bahwa aku sedang mendatangi pesta pernikahan, hanya saja aku belum mengetahui pernikahan siapa. Sepertinya giliranku untuk bersalaman dengan penerima tamu sudah dekat, namun karena orang-orang didepanku tinggi-tinggi, aku tidak bisa melihat kea rah depan.
Betapa kagetnya aku ketika aku mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan penerima tamu yang pertama. Dia adalah kakak perempuan lelaki itu. Dia juga tampak terkejut melihatku di depannya. Aku bersalaman sambil bertanya,
“mbak, siapa yang menikah ini?”tanyaku.
Namun dia tidak menjawab, justru dia tersenyum sedih dengan mata berkaca-kaca menatapku. Melihatnya seperti itu, aku jadi ingin melihat penerima tamu yang lain. Kupalingkan kepalaku menuju para penerima tamu yang lainnya. Rupanya mereka adalah kakak ipar, ibu, dan ayah lelaki itu. Aku semakin penasaran. Semua orang itu menatapku dengan tatapan sedih.
Dengan terburu-buru aku menyibakkan barisan dan mendahului untuk sampai ke depan pelaminan. Serasa jantungku lepas dari tangkainya manakala aku melihat siapa yang duduk di pelaminan itu. Rupanya dia yang telah menikah dengan perempuan yang tidak aku kenal. Aku tidak bisa berkata-kata, dan diapun terkejut melihat aku.
Tanpa sadar aku melangkah ke depan menuju pelaminan. Aku yakin semua mata sedang mengarah pada kami. Perlahan aku melangkah sambil terus menatapnya dan pasangannya yang telah berdiri. Setelah aku berhadap-hadapan dengannya, aku hanya mampu mengucapkan sepatah kata,
“kenapa?”tanyaku. Perlahan namun jelas terdengar di telingaku dia berkata,
“Maafkan aku…”. Tiba-tiba semua berputar seolah aku sedang melewati lorong waktu. Lalu dunia terasa gelap, dan aku tak sadarkan diri.
Kubuka mataku perlahan-lahan karena rasanya seluruh tubuhku baru saja dihimpit batu besar, sakit sekali. Entah bagian mana yang sakit, namun sungguh terasa sakit sekali. Setelah terbiasa dengan keadaan di sekelilingku, aku kembali terheran-heran. Aku merasa sangat mengenal ruangan tempat aku berbaring, dan kemana perginya orang-orang tadi?kemana dia?
Aku meraih gelas yang di sediakan di meja dan buru-buru aku reguk semua isinya. Rupanya dingin air putih yang masuk ke tenggorokanku mampu menyadarkan aku dari kelinglungan. Aku kembali menyadari bahwa aku masih berada dikamarku tercinta. Dan aku mengerti bahwa yang baru saja aku alami adalah sebuah mimpi buruk. Badanku terasa dingin sekali. Rupanya peluh sudah benar-benar menghabiskan ruangan kering pada baju yang aku pakai.
Langsung saja aku mengambil gagang telpon yang ada di atas meja. Ku tekan nomor yang selama 4 tahun ini selalu berada di urutan pertama dalam daftar otakku. Lama tak ada yang mengangkatnya. Aku coba lagi sampai beberapa kali, masih juga tak ada yang mengangkat. Sampai berkali-kali aku menekan tombol redial, tapi tetap saja dering telpon diseberang sana nyaring mengambang.
Aku merenung di pinggir ranjang, memikirkan apa yang baru saja aku alami. Apa gerangan arti mimpi itu? Benarkah dia menikah dengan wanita lain? Tapi kenapa tidak ada yang memberitahu aku? Apakah dia memang sudah menjadi milik orang lain?Kulirik jam dinding dan rupanya baru pukul 4 pagi. Ku ambil handuk dan baju ganti, lalu aku mandi sambil memikirkan dan mengira-ira apa arti dari mimpi burukku tadi.
Untuk dia, dan untuk mereka yang telah ditinggalkan, akan ada hari esok yang lebih baik.
Tapi sangat penting bagi kalian untuk mencintai hari ini......
Indah Pada Waktunya
“Indah Pada Waktunya”
By. Delon feat Irene
Kau lihat aku di sini seutuhnya
Sendiri merasa bahagia karenamu
Setelah air mata kehilangan dan juga kecewa
Kini hanya satu yang ku percaya
Kau membuatku bahagia
Jika memang ini saatnya
Mimpiku akan menjadi nyata
Ku percaya kuatnya cinta
Semua akan menjadi indah pada waktunya
Kelembutan cintamu semua jawaban yang kudambakan
Kini hanya satu yang ku percaya
Kau membuatku bahagia
Oh jangan sembunyikan
Perasaanmu saat ini
“Indah Pada Waktunya”
By : Feby Febiola feat Wawan
Ada waktu untuk berduka
dan ada waktu tuk tertawa
Untuk segala sesuatunya
ada waktunya
Ada waktu untuk merombak
dan ada waktu tuk membangun
Kau jadikan semuanya indah
pada waktunya
Walau kini ku menabur benih
sambil mencucurkan air mata
ku percaya suatu saat
ku kan menuai bekasnya
sambil bersorak-sorak
Ada waktu untuk merombak
dan ada waktu tuk membangun
Kau jadikan semuanya indah (semua indah)
pada waktunya
Walau kini ku menabur benih
sambil mencucurkan air mata
ku percaya suatu saat
ku kan menuai berasnya
sambil bersorak-sorak
Ho~ ho ho ho…
Walau kini ku menabur benih
sambil mencucurkan air mata
ku percaya suatu saat
ku kan menuai bekasnya
sambil bersorak-sorak
Suatu saat ku kan menuai bekasnya
sambil bersorak-sorak
Tiba-tiba aku teringat sebuah kalimat yang diberikan oleh salah satu teman dan juga saudaraku untuk menghiburku waktu itu. Sebuah kalimat sederhana yang bahkan tidak sempurna EYD nya, namun dapat mengembalikan semangat dan gairahku (lebay*mode on).
Seperti biasa, assisstenku Mr. Google itu selalu saja memberikan keterangan yang melebar. Setelah aku buat mengkerucut, ternyata ada beberapa kunci yang bisa aku simpulkan sendiri.
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."
Tony and Maureen Wheeler
Mungkin aku tergolong terlambat dalam mengetahui keberadaan dua orang hebat itu di muka bumi ini, karena aku baru tahu seluk-beluknya awal tahun ini. Ketika sedang melihat-lihat buku di toko buku besar yang ada di pusat kota, “Dia” menyodorkan buku berwarna biru dengan gambar sampul berupa foto dua orang bule.
“apaan itu??” tanyaku.
“ Cob abaca ini. Cocok banget sama mimpimu.” Katanya
“ tentang apa??” kebiasaanku malas membaca dan lebih memilih mendapat kesimpulannya dulu kumat lagi.
“ Tentang bule yang jalan-jalan, terus mendokumentasikan perjalanannya dan dijadikan buku panduan perjalanan. Kalau kamu jalan-jalan ke tempat wisata di dunia yang banyak dikunjungi bule-bule, pati mereka pegang buku ini sebagai panduan. Waktu aku di Angkorwat juga iya, semua bulenya pegang buku ini.tapi ini edisi cerita bagaimana usaha itu dimulai” Jelasnya panjang lebar.
Akupun langsung mengambil buku itu dan membaca ringkasannya. “The Lonely Planet” memang ternyata buku itu adalah buku yang menginspirasiku. Langsung deh aku beli satu buku itu. namun sayang, sampai saat ini aku masih belum bisa menyelesaikan membaca buku itu. ada saja alasan untuk tidak jadi menuntaskan buku itu.
Tony and Maureen Wheleer memang merupakan pasangan yang dahsyat sekali menurutku. Dari seorang backpacker yang hidup pas-pasan, kemudian menjadi konglomerat dengan mendalami hobinya.
Apakah suatu saat nanti aka nada Wilis Juharini yang sanggup seperti itu?? hehehhee
Tuesday, June 23, 2009
Antara lelaki itu, Wanita itu, dan Kami
Sekitar 2 tahun yang lalu, ketika kami semua masih menyukai pergosipan dan belum naik tingkat perfaktaan seperti sekarang ini, ada berita atau desas-desus yang mengatakan bahwa mereka telah menjalin hubungan. Namun entah mengapa, tak ada satupun dari mereka yang mengakui hal itu.
Mereka selalu menghindar jika ditanya mengenai hubungan mereka. Sungguh bukan sifat dasar kekeluargaan yang kami bangun selama ini.
Ada beberapa saksi kunci yang melihat bagaimana mereka menjalin hubungan di belakang kami semua. Hehehe…..mungkin mereka memang menyukai sesuatu yang berjalan di belakang, sehingga terasa lebih menantang.
Saudaraku yang hitam, cerewet, dan otaknya selalu penuh dengan hal-hal yang nggak jauh-jauh dari selangkangan (istilah untuk hal2 porno dan jorok_red) kita akan memanggilnya “si hitam”, pernah pergi bersama mereka dalam sebuah survey kecil. Mereka membawa tenda yang digunakan bersama. Kebetulan sewaktu tidur, si hitam itu mengambil tempat di tengah, diantara kedua orang itu. entah bagaimana caranya, tengah malam dia terbangun. Saat itu dia merasakan adanya gerakan-gerakan di samping kanan kirinya. Diapun menyimak dengan seksama, apa yang terjadi saat itu. semakin lama pergerakan2 itu semakin ritmis dan menuju ke satu arah, yaitu bagian atas kepalanya. Dan tanpa di duga tanpa dinyana, si hitam akhirnya mendengar suara yang sangat tidak asing buatnya (karena diapun sering membuat bunyi2 semacam itu_red).
“mmmmuuuuaaacccchhhh….”
“ astaga, apa yang sedang terjadi di atas kepalaku ini???” Tanya si hitam dari dalam hati.
Setelah “insiden suara” itu, si hitam mengaku tidak bisa tidur. Selain jadi memikirkan apa dan siapa yang sedang mabuk ini, dia juga merasakan bahwa gerakan-gerakan itu masih saja terus terjadi.
Pada akhirnya dia merasakan bahwa wanita itu memelukkan tangannya di perut si hitam. Hampir saja si hitam itu terharu karena dipeluk seorang sahabat, jika saja tidak segera menyadari bahwa ternyata ujung tangan wanita itu berada di tangan lelaki itu. hwaaaaaa…..
Akhirnya, pagi pun menghampiri mereka semua. Karena harus begadang malam itu, si hitam bangun paling akhir. Dan ketika matanya sudah terbiasa dengan cahaya terang dalam tenda itu, dia menyadari bahwa dia tinggal sendiri. Diapun berniat keluar untuk sekedar mencuci muka melalui pintu belakang tenda. Saat menjulurkan kepala keluar, kembali lagi dia dihadapkan pada kejutan pagi hari.
Dia melihat si lelaki itu berdiri memandang kea rah sungai. Dan wanita itu berjalan dari belakangnya, dan langsung memeluk si lelaki dari belakang. Mereka terlihat sangat romantic…. Mungkin kalau si hitam itu adalah “fitri tropika”, maka dia akan segera berteriak :
“ooohhhh…..so sweeeetttt…..romantic…” hehehe
Dan si hitampun tak dapat bicara, dan memlih untuk masuk kembali ke peraduan sambil tersenyum2 karena banyak sekali bukti/fakta yang akan bisa dibagi dengan saudara-saudara yang lainnya.
Fakta-fakta kecilpun terungkap setelah kejadian yang kami sebut dengan “tenda bergoyang” itu. tetapi dari sekian banyak fakta, ada satu fakta yang sangat penting karena akibat yang ditimbulkan dari fakta itu masih ada sampai hari ini.
Saat itu, aku dan saudaraku yang tak kalah hitam dan tak kalah cerewet dengan si hitam sedang berjalan2 ke sebuah kota. Sebutlah namanya si hitam 2. Kami pergi selama beberapa hari dan sempat tinggal di rumahku juga. Saat hari sudah menjelang akhir kepulangan kami, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di pusat kota membeli oleh-oleh. Dengan naik motor, kami keliling kota dan akhirnya mentok di pusat perbelanjaan.
Rupanya saat itu memang musim liburan, sehingga pusat kota itu sangatlah penuh sesak. Parkir penuh dimana-mana. Orang2 berjalan kaki di kanan kiri jalan. Akhirnya kami mendapatkan tempat parkir. Si hitam 2 pun turun dan aku berusaha menyelipkan motorku di barisan motor-motor lainnya.
Sekilas lalu, aku melihat sosok yang aku kenal. Tanpa piker panjang dan tanpa mempertmbangkan apakah itu benar dia atau bukan, aku langsung berteriak “lelaki…….” Hahaha….sampai2 pak parkir ikut kesulitan membantuku memarkir motor karena terlalu terburu-buru.
Si hitam 2 kebingungan melihat aku berteriak nggak jelas begitu. Namun setelah melihat apa yang telah membuatku berteriak, diapun ikut-ikutan berteriak. Aku melihat sewaktu berjalan, lelaki itu bersama dengan orang lain. Dan ternyata setelah kami hampiri, orang itu adalah si wanita. Hayyoooo……liburan ke luar kota ya???
Apa yang terjadi setelah itu, bukan merupakan hal yang mengenakkan akibatnya. Oleh karena itu, tidak akan aku ceritakan. Hehehe….
Monday, June 22, 2009
Tetap Ada Yang Terbaik.....
Dia menemukanku dalam kondisi culun, muda, baru, masih hijau kalau kata orang.
Aku menemukan dia dalam kondisi rapuh, bebas, sendiri, tertekan.
Pertemuan yang bukan tanpa sengaja dan tidak secepat kilat itu membuat warna tersendiri dalam perjalanan ini.
Waktu memang membuat kita semakin tua. Namun waktu tidak memaksa kita untuk menjadi dewasa. Waktu juga yang memberikan kesempatan kepada kita untuk membuat warna baru dalam hidup, tanpa melupakan warna-warna yang silam.
Sekarang aku masih bisa menemukannya, dan diapun masih bisa menemukan aku.
Kami masih bisa saling menemukan dengan mudah. Aku menemukannya dalam kondisi rentan, stabil, lepas. Dia menemukan aku dalam kondisi rapuh, gamang, tapi optimis. Waktu telah berkata sedikit. Dia mengatakan padaku bahwa kami masih tak jauh beda dengan waktu itu. hampir tidak ada yang berubah.
Meskipun tak banyak perubahan dari aku dan dia, namum perubahan warna dalam perjalanan kami sangatlah bervariasi.
Jarak, waktu, dan perbedaan. Selalu berjalan sejajar dengan perjalanan hidup ini. Banyak hal yang mengisi perjalanan ini, yang menambah warnanya.
Banyak hal yang aku temui, banyak hal yang menemuiku. Meskipun banyak kebaikan dan ketidakbaikan, tetapi tetap saja ada yang terbaik.
Sampai saat ini….Dia masih menjadi salah satu yang terbaik dari yang baik...
Penikmat Kopi
Tak ada hari tanpa aku minum kopi. Memang bukan kopi hitam sih…hanya kopi susu. Kadang yang pake coco granule, kadang yang masih ada ampasnya. Tapi tetep aja namanya kopi yang berkafein.
Dalam kondisi normal, aku pasti minum kopi sekali dalam sehari. Nah, kalau udah ngantuk parah pasti bisa sampai 2 gelas sehari. Bayangkan coba ya….betapa aku sudah sangat tergantung pada zat yang bernama kopi.
Lalu, pertanyaannya adalah : apakah benar kopi itu membuat kita tidak mengantuk??mungkin untuk kebanyakan orang, hal itu benar adanya. Tetapi, sepertinya pula untukku tidak berlaku sedemikian persisnya. Terkadang memang aku merasa begitu, langsung melek setelah minum segelas kopi. Tetapi tidak jarang pula, setelah aku minum secangkir kopi, mata malah semakin berat dan semakin pulas tidurku. Hwakaakakkaka…..
Saat ini, aku sudah jarang merasakan sensasi minum kopi yang membuat darah seolah mengalir deras, energy seolah bertambah, dan mata seolah semakin jernih. Mungkin saat ini, aku minum kopi selayaknya minum air the manis.
Padahal saat aku menyeduh kopi, aku selalu menggunakan air segelas penuh lho….sampai seringkali aku diprotes oleh orang-orang disekitarku. Mereka banyak berkomentar :
“Ih, bikin kopi apa bikin kolak..”
“Aduh, hambar banget rasanya..”
“Ppuah….rasa air doank…”
“Mana kerasa kalo airnya segentong kayak gini..”
Hahahaa……
Ya begitulah soddara-soddara….kalau aku bikin kopi, bukan kentelnya yang aku cari, tetapi yang penting ada rasa kopi, ada rasa manis, dan ada rasa hangatnya. :P
Jadi, aku tidak layak disebut sebagai pencinta kopi, tetapi lebih tepat disebut penikmat kopi.
-
The second thing, is song about change... This is art Quotes, poem, paint, and then song (dance sometimes) This song is good We can see on t...
-
You have your own responsibility to be happy, to make your life happy, to make your body happy, to make your days happy, and to make you...
-
Tahun ini, K naik ke kelas 6. Mungkin terdengar klise ya. Biasanya diikuti dengan kalimat lanjutan seperti, "Rasanya baru kemarin sekol...