Beberapa hari ini adalah waktu dimana semua orang menyusun dan menghabiskan waktunya untuk sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan. Berkumpul bersama untuk menghabiskan liburan, merayakan natal, dan menyambut tahun baru 2010 yang diharapkan menjadi tahun yang gemilang. Ya….akhir tahun ini ada cukup banyak waktu untuk liburan. Libur natal yang bisa dilanjutkan dengan libur tahun baru. Bagaimana dengan aku?
Awal liburan aku jalani dengan sebuah kepahitan. Pahit dan cukup sakit. Luka kembali tertoreh di atas luka lama yang belum juga mengering. Hinaan, hujatan, dan sikap merendahkan itu muncul kembali dari seorang yang lemah lembut dan penyayang. Entah apa yang menjadi pemicunya. Aku hanya bisa bilang “akulah yang telah memicu semuanya”. Sikap tak peduli dan acuh menjadi kelanjutan episodenya. Betapa tidak terasa ketiadaanku di sampingnya di dalam sebuah gerbong kereta Jakarta Bogor.
Aku menghabiskan waktu di sore itu sendirian di stasiun Pasar Minggu, menunggu kereta yang akan membawaku kembali ke tempat asal kami datang. Aku hanya bisa melihat ke ujung batas kemampuanku melihat, untuk sekedar mengalihkan mataku dari sebuah pandangan kosong. Aku melihat ke arah kereta dari keberangkatanku. Hanya satu yang tersirat di benakku saat itu “tiga jam yang lalu, semua masih terasa normal”. Dan segurat senyum tipis ku sungginggkan dari bibirku, senyuman miris yang di iringi dengan merebaknya suatu zat cair di kedua mataku. Bergegas akupun mengalihkan pandanganku ke atap peron stasiun. Bukan pada tempatnya wilis…..kataku dalam hati.
Satu kereta berhenti di depanku, kuacuhkan saja. Ibu yang duduk di sampingku mulai berdiri dan berkata “dik, mau naik yang ini?” dan akupun menjawab dengan sebuah senyum yang entah wajar atau tidak “terima kasih bu, saya nanti saja. Silakan ibu duluan. Hati2 ya bu..”. dan kereta itu berlalu membawa si ibu dan ratusan orang yang lainnya. Aku kembali melihat pantat kereta yang semakin menjauh dari stasiun itu. Kupandangi saja sampai dia benar2 tidak terlihat. Setelah dia menghilang dan aku merasa yakin dia tidak akan bergerak mundur, ku alihkan pandanganku kea rah yang berlawanan.
Seorang ibu yang lain mengisi bangku kosong di sampingku. Sambil tersenyum, aku bertanya “ ke bogor bu?” dan si ibu dengan ramah menjawab “iya mbak…baru lewat ya keretanya? Penuh bukan?” dan akupun berkata “iya bu, penuh sesak. Sampai di atas2 juga penuh”. Kulanjutkan acara mengamati rel, kereta api yang bergantian masuk stasiun, dan juga calon2 penumpang di sekitar tempatku duduk. Ramai…penuh dengan orang yang sedang menunggu. Menunggu kereta yang entah kapan datangnya, dan entah dapat membawa mereka atau tidak.
Di seberang rel sana, di bangku yang cukup tersinari lampu, kulihat dua orang muda-mudi seumuran SMU sedang berpacaran. Tangan si cowok memeluk mesra pinggang si cewek dan si cewek duduk menghadap kea rah cowoknya. Mereka bercanda, bercengkerama, dan juga saling menyentuh…romantic, tapi terlalu berani…. Peduli amat dengan orang2 di sekitar (termasuk aku), mereka terus bermanja2an dan saling bergelayutan. Entah kenapa terasa ada yang sakit didalam sini (kusentuh dadaku perlahan). Sakit…dan bergetar…. (bukan mupeng tapi ya…hahaha).
Tiga atau empat jam yang lalu aku menuruni pintu kereta dan menjejakkan kakiku di lantai ini dengan masih tertawa dan tersenyum. Karena aku tidak sendiri. Aku datang beramai2, yaitu dengan dia, dengan harapan, dengan keceriaan, dengan doa, dan dengan impian. Tapi sayang….sekarang aku hanya sendiri, paling2 berdua dengan sepi. Dia dan semuanya pergi begitu saja tanpa menengok ke belakang, dimana aku masih memilih untuk duduk diam. Sakit….
Sebuah kereta yang padat hingga ke atap kembali lewat, dan akupun masih membiarkannya dengan acuh. Si ibu yang duduk di sampingku bergerak berdiri untuk bergabung dengan para penumpang yang lain, tetapi tidak dengan aku. “saya mau pulang sekarang saja mbak, saya sudah tidak tahan. Terlalu malam dan lelah” katanya. “iya bu, lebih baik ibu pulang saja. Angin malam semakin kencang” kataku. Dan diapun tenggelam dalam penuh sesaknya pintu kereta. Aku? Masih saja duduk dan terdiam.
Para calon penumpang datang, peron penuh, kereta lewat, dan peron kembali kosong. Beberapa kali rutinitas itu berjalan, namun aku tetap di tempat yang sama. Duduk, diam, hanya sesekali menengokkan kepala ke arah tertentu. Menunggu. Apa yang sebenarnya aku tunggu? Entahlah….
Sepertinya aku hanya menunggu sampai saat di mana semua penat, sesak, pedih, dan gerah itu luruh di perons stasiun itu. Aku tidak ingin membawanya pulang lagi ke tempatku tinggal, karena hanya akan membuat kotor dan membuat keadaan semakin buruk. Setelah semuanya luruh dan aku kembali merasa ringan tanpa beban, akupun berjalan memasuki pintu kereta yang telah terbuka menyambutku. Meskipun semua sudah kulepaskan di peron stasiun itu, rupanya ada setitik sedih yang masih bergelayut mesra di pundakku. Kubiarkan saja dia menemani perjalanan pulangku.
No comments:
Post a Comment