Berkali-kali aku mendengar cerita tentang saung calobak. Tapi aku tak pernah tertarik karena aku pikir yang dmaksud adalah kandang pupuk ketika aku ikut pertemuan pertama dengan mpca. Tapi karena sering dan makin seringnya anak-anak membicarakan tempat itu, maka ketika salah satu seniorku bilang akan melakukan survey penelitian disana, aku mengajukan diri untuk ikut.
Alhasil, sore hari itu aku, bersama dengan senior dan satu juniorku berangkat menuju saung di calobak. Kami berangkat kesorean, sehingga sampai dikampung calobak hari sudah gelap. Kami mampir ke rumah pak wardi yang memang dikenal lebih dulu oleh para lawalata’ers. Kami melakukan sosialisasi sedikit mengenai tujuan kami datang malam itu.
Sekalian seniorku meminta ijin untuk menginap di atas selama beberapa hari.
Karena hujan tiba-tiba turun, maka kami melanjutkan ngobrol dengan pak wardi. Kami menanyakan asal muasal saung itu ada. Menurut pak wardi, saung itu dibuat oleh beberapa orang yang memiliki kebiasaan ritual dimakam sebelah atas saung. Karena awalnya mereka selalu beristirahat dengan tenda, maka ketika bertemu dengan pak wardi dan orang taman nasional, mereka langsung meminta ijin untuk membuat saung.
Pada awalnya pak wardi mengaku sedikit keberatan karena wilayah itu masuk pada pengelolaan taman nasional, sehingga beliau merasa tidak berhak memberi ijin. Namun kemudian pak wardi memperboehkan mereka membangun saung itu dengan syarat saung tersebut dapat digunakan oleh umum dan tidak eksklusif. Maka, berdirilah saung itu hingga sekarang.
Kami juga menanyakan perihal dibangunya fasilitas keran air yang mempermudah orang dalam mengambil air. Masih menurut pak wardi, pemilik villa di dekat pura sukamantri berminat untuk menyalur air dari tempat itu. Oleh karena itu dia meminta ijin pak wardi untuk memasang pipa ke arah vilanya. Karena pak wardi menilai pemilik vila itu adalah orang yang baik, maka beliau mengijinkan pemilik vila untuk menyalur air.
Namun dia mengajukan syarat agar dibangun keran air untuk memberikan kemudahan bagi para pegguna saung dalam mengambil air. Dan usul itupun disetujui oleh pemilik villa itu. Maka, tersedialah keran air setinggi kurang lebih 1 meter itu.
Setelah beberapa topik kami bicarakan, kami memutuskan untuk segera menuju saung. Masih dengan mobil avansa hitam itu, kami melalui jalan aspal yang sangat kecil dan menanjak. mobil itu kami titipkan dirumah pak RT yang biasa dipanggil Tapol. lalu kami bertiga bergegas ke arah saung.
Aku masih berpikir bahwa saung itu letaknya pasti jauh di atas sana. terlebih lagi ketika diberitahu jaraknya sekitar 30 menit jalan kaki. wuih….kami berjalan dikegelapan karena aku dan kliwon tidak membawa senter. Perjalanan kami hanya diterangi oleh senter listrik saja (sedikit malu karena udah melupakan standar jalan lapang). Beruntung hujan sudah reda dan meniggalkan kilatan-kilatan petir sesekali yang justru sangat membantu perjalanan kami.
Rupanya apa yang aku bayangkan tentang saung, sangat berbeda dengan kenyataannya. Belum sampai 30 menit, kami sudah tiba di saung. Dan apa yang aku lihat??? Wow…enak sekali tempat ini. itulah kata-kata yang keluar pertama dari mulutku.
Saung itu terletak diatas kebun pinus yang cukup datar. sekitar saung sangat bersih sekali. Saung yang dimaksud adalah semacam rumah panggung yang terbuat dari papan dengan atap daun-daunan. Ukurannya sekitar 4 x 3 m, dengan dinding hanya setinggi setengah meter dan selebihnya tanpa dinding. tak jauh dari saung terdapat kera air setinggi 1 meter dan ada tempat yang fungsinya sama dengan toilet tetapi hanya berupa dinding bamboo yang di buat dibawah pohon. Kondisi itu mengingatkanku tentang pos jojorokan yang lawalata buat setiap SLK ke halimun. Jika kita melihat kearah kiri, maka akan terlihat tampilan pura yang biasa digunakan untuk bersembahyang umat hindu.
hmmm….nyaman sekali tempat ini memang. kami segera mengeluarkan segala perlengkapan yang diperlukan malam itu. Terutama kompor dan makanan yang digunakan untuk menghangatkan tubuh.
No comments:
Post a Comment