Tuesday, February 28, 2023

Siniar SMK - Dusun Fiksi Febuari 2023

 Sekedar ingin berbagi di sini, barangkali ada yang ingin mendengarkan suara merdu sumbang saya di Siniar SMK yang legendary itu. hahahaa

Bulan Febuari 2023 adalah giliran Dusun Fiksi dari Komunitas Semut Merah Kaizen yang unjuk gigi dalam tantangan paling spektakulernya Tim Siniar SMK #365HariBersuara. 

Dan seperti biasa mbak sis ini juga nggak mau ketinggalan, ikut mendaftar buat numpang nampang yekaaan. 

Karya terbaru saya yang terbit bersama dengan team Antologi Sastra Anak, judulnya Rapundress, ikut mejeng di Siniar SMK. Lumayan lah pokoknya. 

Kalau ada yang berminat mendengarkan, atau ketinggalan pas waktu tayangnya bulan ini, bisa di simak di sini yaaa...

Rapundress by Wilis J

Makasih!


Tuesday, February 14, 2023

Saat Anak 9 tahun Valentin-an

Hello February!


Kata orang, Febuari adalah bulan penuh cinta, serba pink-pink, serba manis semanis coklat. Banyak di antara kita yang ikut merayakan Hari Valentine dengan berbagai cara, sesuai dengan kesenangannya masing-masing. 

Saya sendiri, tidak merayakan Valentine, dan tidak ikut memakai baju pink atau memberi/menerima coklat. Bukan karena anti, lebih karena nggak punya waktu dan nggak punya duit buat dialokasikan ke sana. hahahahaa. 

Tetapi saya selalu ikut berbahagia menikmati keriuh-ramaian Bulan Februari. Senang melihat di minimarket banyak dipajang coklat dengan tema Valentine, melihat orang membeli coklat-coklat itu, dan melihat orang mendapatkan buket-buket cantik dari kesayangan masing-masing. Dan yang paling seru menurut saya dan suami adalah saat melihat di pinggir-pinggir jalan, anak-anak sekolah (terutama laki-laki), membawa setangkai mawar merah. Saya dan suami sering tertawa karena menskenariokan bagaimana mereka akan memberikan setangkai bunga itu pada orang yang mereka sayangi. Mungkin Ibu, mungkin juga kekasih hati. Menghangatkan hati bukan? 

Tahun ini, selain dari cerita-cerita yang berulang dari tahun ke tahun di atas, saya ketambahan cerita yang 'close to home' banget. Siapa lagi kalau bukan gendhuk cah ayu adol gendruk ra payu semata wayang yang sedang berusia 9 tahun itu. Tahu kan siapa?

Tahun ini K melewati Hari Valentine di kelas 3. Sekitar 2 minggu yang lalu, di tengah obrolan random kami, dia tiba-tiba berkata:

K: "Bunda, Hari Valentine itu kapan ya?" tanyanya.

Saya: "14 Febuary. Pas ulang tahunnya Tante Lucy," kata saya.

K: "Oh, okay." Saya curiga dengan tanggapan pendeknya, karena seringnya mengandung perkataan yang tidak diucapkan. 

Saya: "Kenapa?" saya penasaran yekan.

K: "I think I'm gonna confess my feelings," jawabannya yang diucapkan dengan kalimat lempeng tanpa ekspresi tambahan, membuat saya hampir menanggapi dengan lebay. Tapi saya tahan.

Saya: "Wow. To who?" Dalam hati saya sudah terngakak-ngakak, tapi berusaha memasang tampang lempeng juga.

K: "I am not gonna tell you. Nanti Bunda kebanyakan tanya-tanya kalau aku bilangin." Serius, dia bilang begini juga dengan ekspresi yang sangat lempeng. 

Saya: "Bukannya kita janji untuk selalu berbagi cerita apapun itu?" pancing saya masih penasaran.

K: "Soalnya nanti Bunda itu jadinya nanya terus kalau aku bilangin. Tapi nggak papa sih sebenernya. Aku tuh punya banyak temen cowok. Kalau Bunda tahu yang satu, aku tinggal ganti aja." Di sini saya tak lagi bisa memasang tampang lempeng. Jadi saya tertawa ngakak beneran.

Saya: "Okay. Go for it, K!" hanya itu yang bisa saya katakan, sebagai ikhtiar menjadi Ibu yang Cool. 

Untuk sejenak saya tidak menanyai K lagi tentang obrolan kami saat itu. Saya berlagak itu hanya obrolan biasa yang tidak terlalu membuat saya kepo. Walaupun sebetulnya saya sudah muncrat-muncrat ke ayahnya, dan juga ke beberapa teman. Saya butuh teman untuk mentertawai kepolosan anak-anak kecil jaman now ini. 

Minggu lalu, saat kami sedang berkendara di atas motor, secara iseng saya tanyai K:

Saya: "So, K about the boy that you want to confess to. Is he from school, or from the course?" 

K: "School." 

Saya: "Okay." Sependek itu pertanyaan dan jawaban emak dan anak ini. 

Beberapa hari kemudian, saya bertanya lagi saat kami bersiap tidur:

Saya: "Mbak, is there any plan for Valentine? Related to your mission to confess your feelings?" 

K: "I think it'll be coklat, candy, notes, and talk." Fineeeee... Banyak ya siiiiissss... hahahaha

2 hari kemarin, K minta diantarkan ke minimarket di depan komplek untuk membeli coklat. Saya diam tidak bertanya karena sudah tahu rencananya dengan Valentine's day. Dia membeli coklat yang berisi 2 dalam 1 kemasan. Saat di rumah, baru saya tanya:

Saya: "K, kamu mau kasih 2 ke temen kamu?" 

K: "Enggak, 1 aja." 

Saya: "Oh, yang 1 buat ayah atau bunda ya?" 

K: "Enggak donk, buat aku. Kan aku suka coklat." Saya dan ayahnya hanya berpandangan sambil mesam-mesem. Memang K adalah pelahap coklat, jadi walaupun pesona Hari Valentine cukup membuatnya tergerak memberi temannya, tetapi tidak tergerak berbagi dengan Ayah atau Bundanya. Efffaaaiiiineee mbaaak :-p

Hari ini, pulang sekolah K menceritakan bahwa teman-temannya juga berbagi coklat kepada teman lain dan juga gurunya. Saat saya tanya kenapa dia tidak memberi gurunya coklat, dia menjawab bahwa dia tidak terpikirkan. Sepertinya pikirannya hanya kepada temannya yang ingin dia beri coklat saja. Menurut cerita K, proses dia memberi coklat tidak berjalan selancar rencananya, karena akhirnya hanya coklat saja yang dia berikan, tanpa permen, tanpa ucapan ataupun notes seperti yang sudah dia bayangkan. Sepertinya dia grogi, karena katanya teman-temannya sempat menyorakinya. That's the fun part, mbak! :-p

Untuk beberapa orang, mungkin mendukung anaknya untuk memaknai Hari Valentine, dianggap sebagai hal yang tidak perlu. Bagi saya dan juga suami, rasanya perlu. Bukan untuk membuat anak meyakini hal-hal diluar ajaran agama kita, melainkan agar mereka tumbuh organik dalam merespon hal yang terjadi dilingkungannya. Saya tidak mengenalkan dia tentang Hari Valentine, dia mengenalnya melalui teman-teman dan iklan yang dia temui di berbagai tempat. Saat dia bertanya mengenai Valentine, saya jelaskan bagaimana tradisi Valentine masuk ke dalam kehidupan kita. 

Saya dan suami menggunakan lirik lagu 'The Night" nya Avicii sebagai gambaran kehidupan, mencangkoknya untuk kami mengenalkan dunia nyata pada anak kami. Bagian favorit kami adalah: 

"He said, - One day, you'll leave this world behind... So live a life you will remember..."

Mbak K, live your life!

Love, 

Bunda & Ayah

Friday, January 6, 2023

The Things You Can See Only When You Slow Down

Kali ini saya ingin menceritakan betapa senangnya saya saat melihat kalender masih menunjukkan angka 6. Artinya, Bulan Januari 2023 belum habis separuh, dan saya sudah masuk ke Buku Ke-2 saya. Ini di luar buku cerita yang saya bacakan untuk K tentunya ya. Yuhuuu... Coba setiap bulan bisa istikomah begini, pasti rekor tahunan membaca saya bisa semakin baik. Bismillah aja dulu yekan... :-p

Buku yang kedua ini adalah buku dari Haemin Sunim yang judulnya The Things You Can See Only When You Slow Down. 



Buku ini sudah ada di wishlist bacaan saya di Google Playbook dari lama sekali. Namun, baru akhir tahun kemarin saya beli. Karena ada diskon besar-besaran pastinya. ahhahaa. Monmaklum ya emak-emak banyak nganunya ini memamng nganu lah pokoknya. 

Buku ini sebetulnya adalah kumpulan tulisan-tulisan pendek yang Haemin Sunim tulis di media sosialnya. Karena banyak yang suka, akhirnya dibukukan. Setelah membaca beberapa halaman, saya jatuh cinta. Tidak hanya pada tulisannya yang ringan, penuh isi, dan penuh ajaran bagus, tetapi saya juga jatuh cinta pada gambar-gambar ilustrasi yang ada di dalamnya. 



Gambar-gambar nya sederhana, menenangkan, penuh makna, tapi masih tetap menghibur menurut saya. Satu aura dengan tulisannya. Memberikan rasa nyaman. Konon pembuat ilustrasinya adalah Younacheol Lee. Kapan-kapan saya mau kepoin juga beliau. Siapa tahu lebih banyak lagi gambar-gambar ciamiknya. 

Oh iya, kenapa sih saya bisa mendarat di buku ini, hingga akhirnya suka sekali? 

Jadi, beberapa tahun terakhir ini saya memang merasa betapa waktu berlalu sangat cepat. Cepat sekali malahan. Sehingga saya sering sekali keteteran menuntaskan tanggung jawab atau target-target saya. Pada akhirnya, saya akan selalu merasa "haduh, belum sempet ini itu udah akhir tahun lagi", dan sebagainya. Saya paham betul bahwa waktu kita didunia itu sama saja 24 jam dalam 1 hari. Yang tidak sama adalah kegiatan yang kita lakukan, kecepatan badan kita menjalankan, serta kecepatan pikiran kita merencanakan. dan memikirkan. 

Saat waktu berlalu begitu cepat, saya mengerti bahwa semua itu terjadi karena aktifitas saya yang banyak melakukan kegiatan rutin dan perpindahan ke banyak tempat dalam satu hari. Sehingga tak terasa hari sudah petang atau malam saat saya mengistirahatkan badan di rumah. Keesokan harinya, semua berulang, lagi, dan terus-terusan. 

Saya banyak membaca artikel dan mencari tahu bagaimana cara agar kita tidak terlalu termakan oleh rutinitas harian ini. Setidaknya, meskipun kegiatannya banyak berpindah-pindah, tetapi hati dan pikiran kita tidak menjadi lelah ataupun merasa kehilangan waktu. 

Saat mencari itulah saya mendarat di buku ini. Menurut banyak artikel yang saya baca, buku ini layak dibaca saat kita merasa terlalu sibuk. Buku ini diyakini dapat membantu kita lebih rileks dan membumi. Nanti saya bagikan lebih lanjut mengenai isinya ya. Sekarang lebih kepada latarbelakang kenapa saya membaca buki ini dulu saja. :-)

Meskipun anak saya bilang kalau saya tetap biasa saja walaupun senang membaca buku, bukan berarti saya harus berhenti membaca buku kan.  hahaha. Jadi yuks kita mulai lagi baca-baca buku. Lumayan buat mengisi waktu, kalau sedang jenuh dengan drakor ^_^



Saturday, December 31, 2022

Last Day of The Year 2022

Fffiiiuuuhhh... Hari terakhir di Tahun 2022 gaesss... 

Tidak terasa ya waktu di Tahun 2022 ini terasa sangat cepat berlalu. Kalau teman saya bilang, 2022 ini pak pik puk banget. Kalau saya bilang, 2022 ini waktu saya terlalu lahap dimakan oleh rutinitas. Sehingga seolah hari berganti hanya dalam kedipan mata. 

Kali ini saya belum ingin berbagi mengenai resolusi apa yang sukses dicapai di Tahun 2022, atau harapan untuk 2023, atau list-list yang lain yang biasanya saya buat sebelum tahun berganti. Nanti saya buat postingan sendiri untuk itu. 

Saya hanya ingin mengunggah beberapa kegiatan yang kami jalani menuju penghujung tahun ini saja dulu ya. Tidak banyak, tetapi cukup membuat segar semangat menyambut tahun berganti. 

Diantaranya adalah: 

1. Movie days. Maklum ya, setelah kembali dari Banten, kami praktis tidak kemana-mana. Di sekitar rumah saja. Saya jadi memindahkan bibit cabai dan kenari Maluku saya ke polibag, serta mengerjakan dollhouse nya K. Walaupun Dollhouse nya belum selesai sempurna, tetapi sudah bisa digunakan. Lumayan. 

Selebihnya, kami bertiga bermarathon menonton acara TV. Bergantian acara favorit kami bertiga, kadang rebutan karena tidak mau mengalah (ini sih K sama bapaknya aja). :-)

2. Saya memenuhi janji saya untuk membelikan K komik Saint Seiya yang belakangan ini sedang Ia gandrungi. Setelah komiknya tiba, dia senang sekali. Selain dari komiknya, ada juga 3 buku Enid blyton hasil jastipan BBW saya juga datang. Ahhhh senangnya. 2023 reading activity should be better than 2022 yesss mbak :-)

3. Drakor & diamond Painting. Seperti emak-emak jaman now, Drakor tetap nomer sathuuuu yekaaan. Di akhir tahun ini saya nonton School 2013, karena ada Kim Wo Bin. Hahahahha

Nah, sambil nonton drakor, seperti biasa tangan saya tidak bisa diam. Mulai dari main game, merajut, hingga akhirnya ingat kalau masih punya 1 diamond painting dari Mr. D*Y tahun kemarin yang belum di kerjakan. Saya kerjakan hingga selesai. Aseeekkk... 

Yuks siapa yang mau adopsi karya mini dan sederhana ini. Gratissss... Beli frame sendiri tapi ya 30x30 cm. :-)

Friday, December 30, 2022

The Culture of Looking Perfect

Sebelum mulai menuliskan apa yang ingin saya tuliskan, saya perlu menggaris bawahi beberapa hal. Yang pertama adalah, saya menulis ini tidak karena perasaan saya terhadap sikap orang lain pada saya. Yang kedua, saya menulis ini bukan berarti saya tidak suka terhadap kebiasaan/orang yang melakukan hal-hal terkait. Dan yang ketiga, saya menulis ini hanya karena saat ini saya sedang membaca buku "Raising A Screen-Smart Kid" - nya Julianna Miner. Dan kebetulan ada beberapa bab yang membuat saya ingin menulis di sini. Beberapa hal yang tidak saya unggah di sini, saya simpan di catatan agar suatu saat saya perlu, mudah mencarinya. Begitu yaaa :-)

Membaca buku ini sekarang-sekarang (tanggal 30 Desember 2022), memiliki cerita tersendiri. Rasanya otak saya tidak cepat memuat informasi, banyak godaan untuk tidak melanjutkan, terlebih lagi karena K tiba-tiba demam seharian. Namun, rasa penasaran tetap menyeret saya tertatih untuk maju. Bhaiquelaaah... 

Nah, bagian yang ingin saya bagi kali ini adalah bagian yang ada di tangkapan layar di bawah ini:

Tidak bisa di pungkiri, saat kita berfoto baik sendiri maupun bersama teman, hal pertama yang kita lakukan setelah selesai adalah mereview foto yang diambil. Sayapun demikian. Beberapa pertanyaan bisa jadi kemudian mengikuti, seperti: 
- Bagaimana hasilnya? Bagus nggak?
- Bagaimana penampakanku? 
- Aku kelihatan gendut nggak? 
- Apakah perutku kelihatan besar? 
- Apakah mataku merem?
- Apakah aku kelihatan pendek? 
- Aku keliatan masih muda kan? 

And the list go on and go on....

Semua itu wajar kok saudara-saudara, bahkan banyak penelitian dan juga buku/jurnalnya. :-)

Untuk saya sendiri, seringkali pertanyaan berhenti di pertanyaan pertama saja. Gimana? Bagus? Namun kadang saat teman-teman mulai membahas pertanyaan yang lain, saya ikut menyimak sambil senyum-senyum. Kadang saya juga bilang "eh buset, gw gendut banget ya". Tapi, bukan berarti saya tidak rela atau bahkan menolak kenyataan hingga ingin fotonya di delete saja. Saya juga tidak pernah mempermasalahkan orang mau upload foto (yang ada sayanya) manapun dalam kondisi bagaimanapun. Karena itu saya sempat merasa geli ketika suatu waktu berfoto bersama dengan teman, setelah beberapa kali take foto, teman saya bilang "gw tutupin perut lo pake ini ya" katanya. 

Saya tertawa dan bilang "santai aja, gw nggak masalah kok perut keliatan gendut..." Namun, mungkin untuk beberapa orang, ada perut menonjol itu membuat pemandangan kurang nyaman. Which is normal juga. Seperti itu. 

Hubungan dengan buku ini, saya sedikit concern mengenai Culture Of Looking Perfect ini, sebetulnya lebih ke anak saya nantinya. Saat nanti dia mengenal media sosial, bukan tidak mungkin diapun akan mengalami hal yang sama. Fokus pada penampakan, untuk diperlihatkan kepada khalayak online. Tidak apa-apa sih. Hanya saja kalau bisa, saya ingin membuatnya sedikit kurang fokus pada hal tersebut. Mungkin saja nanti ada teman-temannya yang kemudian minder atau tidak nyaman hanya karena hal yang kurang prinsipil? Kan sayang sekali. Tapi ya nanti semua itu kembali pada diri K sih. Saya hanya bisa berharap sambil sedikit banyak membisikkan mantra-mantra padanya, berharap bisa mujarab pada masanya. Aamiin :-)

Saya tidak antipati pada media sosial. Hanya saja, karena alasan tahu diri sendiri - yang sering kehilangan kendali kalau sudah mulai memainkan jari ke atas ke bawah melihat-lihat keseruan dunia maya -, saya memilih untuk sangat membatasi penggunaannya. Saya tidak meng-install media sosial di ponsel saya, kecuali saat saya mengikuti acara-acara tertentu, atau saat saya ingin membagikan karya tulisan saya. Saya juga sangat jarang sekali masuk ke media sosial melalui browser laptop/ponsel, hanya jika perlu melakukan sesuatu yang mendesak saja. 

Satu kutipan dari tulisan di atas yang sangat seirama dengan prinsis saya dalam ber-media sosial adalah "What you choose to share about yourself on your social media feeds, says a lot about what matters to you." 

Suatu saat, mungkin itu juga yang akan saya tanamkan pada anak saya, jika waktunya tiba. :-)

Selamat menyambut Tahun Baru 2023, temans!!! 

Tuesday, December 27, 2022

To The Most West of West Java

Karena liburan Natal & Tahun Baru kali ini kami tidak membuat rencana ke mana-mana, maka saya nurut saja saat Mas Bojo mengajak pulang ke Banten. Akhirnya, sekalian saja kami main ke lahannya temen kantor yang letaknya berdekatan dengan Taman Nasional Ujung Kulon. 

Berada di pelosok Ujung Kulon, tidak menjadi masalah saat kami pergi bersama dengan keluarga Banten. Adek ipar dan istrinya adalah guru sekolah negri, begitu pula tante-tante dari suami yang juga pengawas sekolah. Mereka punya banyak rekanan di kawasan itu. Belum lagi mantan anak2 asuh mertua yang dulu belajar di pondok pesantren di dekat rumah dan menjadi langganan nasi uduknya. Masih terasa dekat hingga saat ini. 

Dan akhirnya hari ini kami sampai ke Taman Jaya. Cuaca sedang tidak mendukung untuk camping ataupun menyeberang ke Pulau Peucang, sehingga kami hanya berniat untuk pulang hari saja. 

Setelah silaturahmi ke rumah teman adek ipar dan juga kerabat mertua, kami melipir ke lahan nya Mbak G yang terletak di pinggir pantai. Asik sekali lokasinya. Kami bersantai bakar2 ikan asin yang diberi oleh kerabat mertua, dan makan bersama bekal dari rumah. 

Oh iya, tadi kami melihat ada banyak ibu-ibu dan anak kecil berkumpul di pantai di kejauhan. Saya penasaran akhirnya berjalan mendekati mereka diikuti Mas Bojo dan K. Rupanya mereka sedang mengumpulkan haremis atau kerang kecil-kecil gitu. Saya dan K ikut mengorek-ngorek, rupanya tak mudah. Pengalaman yang menyenangkan ya K!

Lalu kami bersilaturahmi dengan teman Mbak G yang mengelola lahannya selama ini. Kapan2 kami akan kembali dan camping di situ. 

Jalanan menuju Taman Jaya ini mantab sekali. Mengingatkan saya saat masih di Kampung di Lereng Merapi. Berlubang dengan air banjir ke jalanan. Seru deh... 

Pulangnya kami mampir di Baso Ikan Sumur, langganan setiap ke daerah sana. K sampai nambah. Hahaha

Monday, December 26, 2022

Namiko 2022 Concert Performance

Hari Sabtu, 17 Desember 2022. Adalah hari yang sibuk untuk saya. Diantara nganu dan nganu, ina dan inu, ita dan itu, ada Performance Namiko Tahun 2022. Seperti biasa, di Botani Square Mall.

Saya fokus untuk menceritakan acara performance K saja ya...

Seperti biasa, sebagai acara tahunan dari tempat les Gambar Manga dan Piano Kiran, kembali Kiran tampil di Botani Square. Karena alasan ina dan inu, saya minta agar K tampil pertama di sessi nya, dan dikabulkan. Resikonya, penontonnya belum banyak sehingga dia merasa yang tepuk tangan untuknya hanya sedikit sekali. Sedih dia. Hehehe

Karena K ikut les gambar dan piano, maka ada gambar yang dipajang di layar, dan juga penampilan piano bersama Kak Hansen. Seperti biasa. Kali ini K memainkan lagu ABC Song. Lancar kok, alhamdulillah. 

Udah itu aja ya, saya unggah video dan fotonya saja untuk mewakili... :-)