Tuesday, November 23, 2021

Baik, Saya Akan Mulai Yoga Lagi

Ada saat di mana pikiran, perasaan, dan juga anggota badan merasa lelah satu sama lain. Benarkah? 

Memang jika dilihat lagi, selalu ada masa seperti itu untuk saya. Khususnya setelah selesai masa haid. Jika orang sering mengatakan bahwa mereka PMS menjelang haid, maka saya sebaliknya. PMS saya adalah Post. Setelah selesai haid, saya baru mulai PMS. 

Di saat PMS, seperti yang saya bilang. Seolah pikiran, perasaan, dan anggota badan saling merasa lelah satu sama lain. Bagaimana caranya agar mereka bisa saling beristirahat dan mendapatkan hak sehat mereka sendiri-sendiri? Entahlah...

Mungkin seharusnya saya melakukan yoga kembali. Saat yoga, bukankah kita akan mendapatkan ketiganya kembali sehat? 

Yoga membuat kita mengistirahatkan pikiran yang hobinya jalan-jalan jauh. Mereka akan kita tarik dan paksa kembali untuk fokus pada nafas saja. Tentunya sudah bukan hal baru juga dengan peluh mengucur setelah yoga bukan? Di situ artinya anggota badan kita bekerja, direntangkan dan dilemaskan hingga kemudian bisa di istirahatkan dengan sempurna. Saat pikiran dan anggota badan dapat dikondisikan, maka tentunya perasaan akan mengikuti? Mustinya begitu...

Baik, saya akan mulai yoga... Besok... :-)

Monday, November 22, 2021

It Is Not That Easy

You might say that I am lebay... Maybe I am... 

Tapi gimana donk. Tidak bisa serta merta begitu saja terjadi. 

Jadi ceritanya, minggu lalu dari sekolah K untuk mata pelajaran agama, semua murid di minta melakukan satu hal yang intinya berbagi dan memberi bagi yang membutuhkan. Orang tua diminta mengambil foto dan mengunggahnya di Google Classroom. That's it! Simple kan? 

Nah, untuk hal simpel itu, rupanya tidak serta merta menjadi simpel untuk saya. Saat membaca tugas di google classroom, saya sudah bisa membayangkan bahwa saya akan membelikan K makanan atau gorengan untuk Pak Satpam komplek, atau para petugas kebersihan di komplek. Sekali jepret, upload, selesai. Batas waktunya satu minggu. Ah, sehari juga cukup kalau cuma gitu aja sih. Batin saya waktu itu. 

A week passed by... 

Rupanya tugas belum juga terkerjakan. Tadi pagi, saat ada acara google meet dengan guru mata pelajaran, K bilang pada saya: 

"Bunda, cuma aku yang belum ngumpulin tugas agama. Tapi Bu Martha nice, aku di beri second chance untuk mengerjakan, tapi harus segera" katanya. Saya hanya tersenyum tipis mengiyakan.  

Apakah saya malas? Atau saya berlindung pada banyaknya pekerjaan seperti yang selama ini saya lakukan? Tidak. Kali ini bukan seperti itu. Ada alasan lain yang membuat saya menunda tugas ini. 

Sedari minggu lalu, hampir setiap hari saya membeli makanan atau cemilan tambahan. Dengan niat untuk diberikan kepada orang, sekaligus untuk mengerjakan tugas K. Tapi, saat mendekati target (orang yang akan kami beri_red), mendadak bibir saya kelu. Tidak mampu mengatakan "maaf saya foto dulu ya, untuk tugas sekolah". Jadi, makanannya saya berikan begitu saja. Keesokan harinya juga begitu, dan seterusnya. 

Entah kenapa nyali saya ciut sekali. Saya merasa tidak mampu mengalahkan rasa tidak enak hati saya. Bahkan hanya untuk tugas sekolah sekalipun. :-(

Beberapa waktu lalu, saat sedang di atas motor menuju tempat les nya K, saya berbicara mengenai tugas ini padanya. Kira-kira begini: 

B(unda) : Mbak, kamu tahu nggak kenapa tugas agama kamu belum bunda kumpulkan?

K : Kenapa?

B : I doesn't feels right aja gitu. Bunda nggak bisa bilang minta foto setelah ngasih sesuatu ke orang. Do you get that?

K : Ya, short of. It feels weird memang ya. 

B : You know why?

K : Ya kan kalau kita mau give things to others, we just give it. Kalau pakai foto-foto itu jadi weird kan?

B : Exactly... Karena kan sebetulnya kalau kita mau give things to people, ya you give aja. Bahkan katanya kan if you give by your right hand, don't let your left hand know.

K : So now you understand my feelings when you ask me untuk mengerjakan tugas kan? (hahaha, totally melenceng from the subject). 

B : What do you think I should do?

K : I don't know... Tell Bu Martha maybe?

B : Tapi nanti kita kayak chicken out gitu nggak? 

K : Hahahahhaa... That's sounds funny

B : Besok kita coba lagi sama Bi Enih aja yuk. Kan kalau sama Bi Enih kita bisa sambil bercanda gitu kan? 

K : Iya bisa. That's good idea...

OK. Deal. Besok kami akan coba dengan Bi Enih. Kalau masih tidak juga bisa keluar dari mulut ini permintaan untuk foto, K saya titip aja ke Bu Tedjo. Biar ngerjain tugas sama beliau. hahahaha


I know it should be simple... 

Just say "This is for school assignment". 

Everyone would understand. 

But still... 

It's hard to do... 

My mouth simply can not be opened to say so...

Monday, November 15, 2021

The Hate You Plant

Hanya soal rasa... 

Hanya soal rasa... 

Hanya soal rasa...


Setelah mengendap, akan menghilang

Setelah menguap, akan melayang


Telan

Telan

Telan


Tak akan ada yang berubah

Hanya hatimu yang akan berubah

Dari peduli, menjadi blah


Kamu tidak sendiri, 

Walaupun tidak ada siapapun di sampingmu

Ada Dia di atas sana, 

Di hati... 

Wednesday, October 27, 2021

Airo Menyusul FeetThree ke Surga


Petang hari ini, suasana duka menyelimuti diri Mbak K...


Berawal dari sebuah unggahan di WAG komplek, yang mengumumkan berita kucing tertabrak mobil. Disertai dengan foto kucing tergeletak dengan darah menggenang di bawah kepalanya, dan seekor kucing lain terlihat menunggui disampingnya. Terbayang rasanya menjadi si kucing coklat. Melihat saudaranya mati tertabrak di depan mata kepalanya sendiri.

Saya seperti sering melihat kucing itu berkeliaran. Saya tanyakan kepada Mbak K, "Mbak, kamu tahu ini kucing siapa?"

Dengan terkejut dia setengah berteriak, "Itu Airo!!!"

Dia menjelaskan pada saya bahwa kucing yang meninggal namanya Airo. Yang menunggui di dekat kucing mati namanya Aiko, saudaranya. Mereka masih memiliki satu saudara lagi bernama Aiki. Sebetulnya ada satu lagi saudara tertua mereka yang sudah meninggal terlebih dahulu, namanya Kitty. Tetapi Mbak k tidak sempet mengenalnya, karena saat mereka lahir, kami masih di Bali. Dan semua kucing-kucing itu adalah milik temannya, Kirana.

Setelah menjelaskan silsilah keluarga Airo, Mbak K mulai terlihat digelayuti duka. Wajahnya mulai murung, bibir tipisnya tertarik ke bawah. Dan tak lama kemudian, dua bola air bening menetes di ke dua pipinya. Sudah saya duga...

Segera saya peluk tubuh mungilnya, namun suara tangisnya semakin keras dan meraung. Dia sedih untuk kematian kucing temannya. Kesedihan yang teramat pilu, dari seorang anak berhati sensitif (seperti emaknya).

Sabar ya Mbak K...

Turut berduka cita untuk berpulangnya Airo. Airo pergi menyusul FeetThree, menemani Ibuk di surga...

God bless your heart, my little sweetpie... 

Wednesday, October 20, 2021

Ketika Hati Memilih Menjadi Peduli


Sudah 2 tahun rupanya... 2 tahun lalu, bertemu dengan 2 orang baik hati yang bahkan nama pun tak sempat kita saling tahu... I just knew they're living in Pisa. Their big heart and thoughtful, kept me warm all the way Europe to home, till now... Wish you both well!!! T H A N K Y O U!!! #JacketRescuer 🥰🥰🥰


***

Mungkin bagi beberapa orang, ini terasa lebay. Hanya karena bertemu irang yang mengembalikan jaket saja, sampai harus dikoar-koar, digembar-gembor, atau dibuat status dan postingan...

Benar. Saya memang lebay, dan senang melebay-lebaykan kisah ini.

Karena, di jaman di mana orang semakin apatis, anti sosial, acuh, dan sedikit peduli dengan orang lain, ternyata masih ada mereka. Yang dengan hatinya, bersusah payah menanyakan pada awak pesawat daerah tujuan saya, bersabar mencari dan menunggu saya selama lebih dari satu jam di gate saya (saat saya di pintu lain sedang berburu waktu bersama awak darat airlines saya), dan tersenyum lebar saat akhirnya saya berjalan lunglai mendekat.

Saya akan selalu mengingat momen itu, semoga selamanya.

Dari mereka, saya yang terkadang mulai menumpul nuraninya, berusaha mencoba untuk mengasah lagi nurani itu, sedikit demi sedikit. Di saat saya merasa ragu untuk berbuat sesuatu untuk orang lain di tempat asing ataupun tidak asing, untuk orang asing maupun orang yang saya kenal, maka saya mengingat mereka. Dua orang anak muda yang sangat asing, yang bahkan keberadaannya di samping saya selama penerbangan, saya acuhkan karena mata saya memilih lengket dan terpejam, yang tersenyum lega karena berhasil menemukan saya. Sehingga saya memilih untuk melakukan sesuatu juga...

Belakangan saya membaca sebuah artikel mengenai seorang perempuan, di perkosa di gerbong kereta. Sedih sekali membaca beritanya. Dan yang lebih menyedihkan adalah karena dia tidak sendirian saat perbuatan keji itu dilakukan padanya. Ada beberapa orang lain yang berada di gerbong yang sama, mengetahui bahwa dia sedang di perkosa, tetapi memilih untuk tidak berbuat apa-apa. Hati saya menangis membaca artikel-artikel itu. Dan kembali, ingatan saya melayang kepada dua orang baik hati dari Pisa. Bersyukur saya pernah di pertemukan dengan mereka.

Bagaimana bisa mereka yang berada di gerbong yang sama, mengacuhkan orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan? Mungkin mereka memiliki alasan dan pertimbangan sendiri. Namun, tetap tidak habis pikir bagaimana itu bisa terjadi.

Saya selalu berfikir, jika saja saat itu dua orang baik itu memilih untuk acuh saat melihat jaket saya tertinggal, sangat wajar. Atau jika mereka memilih mengambil jaket saya, dan memberikan kepada awak pesawat, bisa juga dan itupun sudah membuat mereka menjadi orang baik. Atau bahkan jika mereka memilih menjadi orang jahat, mengambil jaket saya dan membawanya pulang karena di tempat mereka tinggal, udara juga sangat dingin? Sangat bisa.

Tetapi mereka memilih untuk tidak melakukannya. Mereka memilih untuk menggunakan nuraninya, membawa jaket saya, mencari arah tujuan saya, menunggu saya sekian lama, dan dengan senyum penuh kelegaan menyerahkan jaket saya. Jaket yang memang sangat saya butuhkan untuk melanjutkan perjalanan panjang saya. Karena hati mereka tergerak, maka saya bisa merasa hangat sepanjang perjalanan. Dan karena hati mereka tergerak, saya terhindar dari amukan massa si pemilik jaket (baca: salmul). Karena mereka...

Dunia membutuhkan lebih banyak orang-orang seperti mereka. Orang yang lebih memilih untuk menjadi baik. Orang yang dengan tulus hati memikirkan orang lain. Orang yang may bersusah karena mereka tahu jika mereka acuh, akan ada yang lebih susah lagi hidupnya. Dunia membutuhkan orang baik seperti mereka, lebih banyak lagi.

Lagi dan lagi, saya bersyukur kepada Allah SWT, karena dipertemukan dengan mereka. Mereka bukan hanya sekedar penyelamat jaket dan juga diri saya. Namun, mereka adalah pahlawan pembangkit nurani bagi saya. Di saat saya ragu, saya akan mengingat mereka.

Ya Allah, keterbatasanku sebagai manusia yang banyak alpa, membuatku bahkan tak menanyakan nama mereka. Pun tak terpikir menanyakan email ataupun cara untuk menghubungi mereka. Tetapi, melalui tanganmu alu yakin tidak ada yang tidak mungkin. Jaga mereka, berikan kelancaran dalam setiap rencana dan upaya mereka. Mudahkanlah urusan mereka, sebagaimana mereka memudahkan urusanku dan orang lain. Jika menurut-Mu kami seharusnya bertemu kembali, maka akan terjadi.

Terima kasih, dua hati baik dari Pisa...
You warm my heart,
All the way Doha to Europe to home...
Till now and then...
I wish you well,
Thank you!!!

#BigHeart
#GoodPeopleFromPisa
#ChooseToBeGood
#Doha
#QatarAirlines

Saturday, October 16, 2021

Bunda Biasa Saja

Saya senang membaca, dan ingin anak saya menyukai kegiatan favorit saya ini. Namun misi untuk mensukseskan keinginan saya tersebut, belum berhasil sejauh ini. K selalu saja ngeles kalau saya minta membaca, atau untuk lebih banyak membaca. Dia akan segera menjawab: "That's not my thing Bunda. That's your thing" Bhaique... 

Saya pernah bertanya kepada almarhumah Ibuk, bagaimana beliau membuat saya senang membaca. Karena saya ingat, sejak saya bisa membaca di usia TK, saya senang sekali membaca semua hal yang bisa di baca. Mulai dari buku-buku PKK ibu saya, majalah jawa bapak saya, koran-koran yang ada di rumah, bahkan kadang koran bekas bungkus tempe yang di beli Ibu. Semua saya baca. 

Anak saya, dari sebelum lahir sudah mulai saya belikan buku, setiap mau tidur saya bacakan buku, setiap BBW mulai saya tidak pernah ketinggalan ikut berjubel ngantri, tetapi akhirnya tetap saya "That's not my thing, Bunda" Bhaiquelah!

Saya sering menyelipkan dalam setiap kesempatan, bagaimana pentingnya membaca. Membaca adalah jendela dunia. Membaca membuat kita pintar, membuat kita lebih tahu daripada teman yang tidak membaca. Dan orang yang pintar, akan banyak dibutuhkan, akan banyak dicari, dan banyak bisa membantu orang yang membutuhkan. Dan lain sebagainya. 

Ya sudahlah... Mungkin memang belum waktunya. Saat nanti dia menemukan kesenangan dan kenikmatan membaca, maka dia akan membaca dengan sendirinya. Aamiin. 

Sampai pada akhirnya hari ini, saya hampir tersedak risoles saat sedang sarapan. Saya sedang makan risoles sambil membaca buku "The secret library - Bibbi Boken" di handphone. K rupanya memperhatikan saya, dan mengeluarkan komentar terbaiknya... (ehem).

Seperti berikut:

👧: "Bunda..."

🧑: "Ya"

👧: "Bunda kan bilang, katanya the more you read, the more you clever. Bisa jadi cantik dari hati karena pinter."

🧑: "Yak betul"

👧: "Bunda sering baca, tapi kok biasa aja?"

🧑: "Makasih 😌😌😌😌😌"


Ya sudah ya sudah... Kalau memang belum ada pencerahan untukmu, tak mengapa... :-p


#CelotehAnak

#ObrolanEmakDanAnak