Monday, April 5, 2021

Rumah Guguk Bandung, April 2021

Liburan Paskah, 2021

Akhirnya Nala Family mengadakan trip dadakan. Si Ayah ingin membayar waktunya yang hilang untuk bersama dengan Si Anak akibat mulai aktif perjalanan kerja ke lapang, sehingga membisikkan janji manis yang sulit untuk di tolak. Malam terakhir sebelum long weekend, Si Ayah bersabda: 

"Kita long weekend ke Bandung aja..." Dan malam itu kami berdua berusaha mencari penginapan. Namanya juga Bandung dan Long Weekend, apa yang bisa diharapkan? Akhirnya Si Emak menyerah dan tidur, menyerahkan perpenginapan kepada Si Ayah. Tahu beres besok pagi berangkat. T I T I K

Dan pagi pun datang. Meskipun rencana berangkat jam 3 pagi gagal dan baru beranjak dari rumah Jam 5 pagi, namun perjalanan terhitung lancar. Perkiraan sampai di Bandung Jam 8 pagi, kamipun memutuskan untuk langsung ke Rumah Guguk sebelum check in ke penginapan. Cekidot foto-fotonya di bawah ini ya. 

Rumah Guguk ini terletak di kawasan Dago. Ada 2 jenis penawaran yang bisa kita pilih, ataupun kita ambil semuanya. Taman Guguk dan Secret Garden. Kalau membayar satu-satu, biayanya adalah Rp. 50,000. Jika ambil kedua-duanya, maka harganya menjadi Rp. 80,000. 

Kalau Taman Guguk, kita bisa bermain dan berfoto dengan anjing-anjing lucuk di beberapa spot, kucing 1 spot, kafe juga tersedia. Bermain dan berfoto dengan anjing saja, kita tidak dipungut biaya alias gratis. Tapi jika kita ingin berfoto dengan anjing-anjing duduk manis rapi jali berbaris tertib, kita musti beli makanan anjing ke mas-mas penjaganya Rp. 15,000. Well, meskipun hanya mendapat beberapa butir makanan, tapi melihat dan mendapati anjing-anjing itu duduk manis bersama kita dan anteng saat di foto, rasanya sepadan :-)

Setelah K menjelajah setiap area dan berfoto, dia kembali lagi masuk ke area anjing-anjing besar dan bermain sepuasnya. Si Emak dan Si Bapak duduk manis saja di kursi kafe menunggu. 

Ketika masuk ke area Secret Garden, areanya jauh lebih luas. Para anjing berkumpul di 3 spot saja, tapi ada hewan-hewan lain yang bisa dilihat dan diberi makan disana. Ada Angsa, Ikan, Kelinci, Kambing, Ayam, dan burung. Banyak tempat untuk bersantai dengan bean bag, ayunan tali, maupun ayunan kayu. Pohon besar menaungi hingga dinginnya Kota Bandung sangat terasa sekali. 

Rumah Guguk sepertinya akan menjadi tempat yang dikunjungi lagi dan lagi ketika kami ke Bandung. K semakin ingin bisa memelihara anjing. Dan saya dengan semangat mengucapkan mantra: 

"Nanti kalau kamu besar dan ternyata ingin menjadi Vet yang hebat, kamu bisa bikin tempat seperti ini sendiri. Punya banyak anjing sebanyak yang kamu mau" :-)


















Semoga kalian juga menikmati jeda sesaat ketika Liburan Paskah kemarin ya temans... :-)

Monday, March 29, 2021

Maret Yang Seperti Mungkret

Dan terjadi lagi...

Kisah lama yang terulang kembali...

Tek teretek dung dung tek teretek dung dung


***

Mari kita tilik kembali beberapa targetan yang lain. Apakah senasib dengan writing challenge yang hanya konsisten selama 5 hari itu? #malu

1. Writing Challeng: Failed

2. Writing Story: Cuma bisa ngedit dan post berapa bab? Kalau tidak salah 4 bab saja. Ide baru? Nggak ada! Terlele!!! 

3. Berkebun: Itu Tomat mati semua. Padahal yang dikasih sama tetangga, katanya sudah berbuah. Terlele!!!

4. Merajut: Lumayan sih berhasil mengusir beberapa barang buatan jaman lawas. Alhamdulillah ada yang mau. Terima kasih marketing ku yang baik hati, Tante Sita! :-)

5. Kelas Online Siberkreasi untuk Podcast Pemula sih berhasil tuntas. Dan sudah submit editan 1 untuk ulasan. Minggu ini harus bisa selesai ngedit yang Monolog. Siberkreasi Masterclass daftar tapi belum masuk kelas. hehehee. Gagal maning son. Terlele!!!

6. Kelas Online Udemy: Materinya Jesika yang kedua ini belum selesai didengarkan. Terkena imbas dari Kelas Siberkreasi yang mengharuskan download aplikasi Telegram, ditambah info2 gosokan2 cantik dari teman2 tentang Drakor, akhirnya malah saya nonton ulang serial #Bones dari Season 1 sampai 12 setiap malam. Baru tahu kalau di Telegram itu, nonton lebih cihuy. Setelah taman Bones, nyari NCIS cuma ada yang dubbing Bahasa Latin. Jadi pindah Greys Anatomy. Duuuuh... Kapan belajarnya Ni Sanak? Terlele!!!

7. Hobi Baru - Diamond Painting: Nah ini nih. Ini hobby baru yang ternyata cukup menyita waktu tapi menyenangkan sekali. Cuma kok ya masih cukup mahal kalau beli sendiri. Buka jasa pasang, belum ada yang pesan karena memang belum banyak yang kenal/suka dengan Diamond Painting ini. Jadi beli yang semampunya aja dulu. Kabar baiknya, pas beli ke mantan tetangga, dapet diskon 50% plus dikasih bonus pula 1 yang tulisannya "I Love Indonesia". Masya Allah, Patriotik sekali yekan? hahahaha

8. Membaca: Nah, ini juga yang menarik di Bulan Maret 2021 ini. Salah satu hal positif yang membuat saya semakin cinta dan bersyukur bergabung dalam komunitas alumni kelasnya Dee Lestari, Semut Merah Kaizen ini adalah karena anggotanya. Bertemu dengan mereka-mereka yang selalu adaaa aja idenya untuk melakukan sesuatu. Sangat gayung bersambut dengan saya yang adaaa aja maunya ini. Hehehe. Salah satunya adalah Klab Baca SMK ini. Bulan Maret 2021, kami membaca buku yang temanya Hewan. Judulnya bebas. Saya sendiri memilih Buku yang judulnya "The Art of Dancing in The Rain". Review dan kesan pesannya nanti saya upload di Blog satunya saja ya. Biar ada isinya. Kekekeke. Intinya, cerita ini bagus bangettt... Membaca cerita yang di kisahkan dari sudut pandang Enzo (seekor anjing setia). Membuat saya yang ingin sekali punya tapi belum bisa ini, semakin cinta pada para anjing. Worth to read!

Apa lagi ya....

Yang lain sih ya nitty gritty routin dan incidental banyak terjadi juga di Bulan Maret ini. Alhamdulillah, Masya Allah. 

So, meskipun gagal disana kurang disini, Bulan Maret 2021 ini tetap menjadi bulan yang indah untuk saya. Terima Kasih, Maret! 

Monday, February 8, 2021

Dark Spot

Titik Hitam


Ceritanya, saya yang nyalinya tipis ini kan belum juga bisa menyetir mobil. Jadi kemana-mana, saat Mas Bojo tidak ada, ya naik motor ngeng ngeng saja. 

Alhamdulillah sepertinya sudah lebih dari satu dekade saya ber-ngeng-ngeng motor, tidak pernah jatuh. Masya Allah Gusti Allah.

Tapiii, namanya manusia yang merupakan tempatnya lupa dan riya, akhirnya saya kena tegur. Bulan lalu saya jatuh. Tidak tabrakan, tidak serempetan, tidak ini dan itu. Hanya jatuh gedubrak sreeettt, ngesot di aspal bersama dengan motor tercinta saya. Beruntungnya semua parapihak yang berkendara dibelakang saya, dengan sigap menghentikan kendaraan mereka sehingga tidak menggilas saya yang berserosotan mesra dengan aspal dan motor saya. 

Sepertinya mendadak saya black out selama beberapa detik dan berakibat jatuh. Saya hanya cidera ringan yaitu lecet-lecet tangan, dan bagian kaki kanan dekat jempol tercukil sedikit kulit dan dagingnya. Kecil, tapi dalem. Seperti orang patah hati, sakitnya terasa cukup lama, dan bekasnya seperti tak terhapuskan. Eeeaaa.

Tangan kanan saya terkilir lumayan hingga sulit untuk diangkat atau digunakan memegang sesuatu. Tapi saya masih bisa pulang sendiri. Yang sedih adalah, ketika saya sampai di garasi, berteriak memanggil Mas Bojo dan mengatakan bahwa saya jatuh, yang pertama dia lakukan adalah berjalan ke belakang untuk mencari obeng. 

Saya: "Kalau orang normal, tahu kalau istrinya jatuh itu yang pertama dilakukan adalah bertanya dan melihat, apa yang sakit, gimana kondisinya, diambilin minum dan lain-lain lho... Bukan nyari obeng dan ngecek motornya" Saya berlalu ke belakang untuk mencuci tangan. 

Mas Bojo dengan cengengesan mengikuti saya ke belakang dan mengambil beberapa obat dari kotaknya. 

Long short story, pertolongan pertama pada kecelakaan sudah dilakukan. Setelah semalaman tidur, ternyata esok harinya tangan saya semakin sakit. Saya memanggil ibu yang biasa melakukan pijat keseleo. Saya menangis ketika pijatannya sampai ke bagian pundak. Hiks... 

Setelah dipijat, saya merasa enakan. Namun sayang hanya untuk semalam saja. Esok harinya, saya merasa lebih sakit. Akhirnya diantar oleh teman, saya ditemani Mas Bojo untuk pergi ke ahli pijat tulang Cimande cabang Cilebut. Haji Ghoni. 

Mau tahu rasanya bagaimana saya ditangani oleh ahli tulang nya Cimande cabang Cilebut ini? Subhanallah sekali kakak. Saya merasa seperti di KDRT oleh si akang pijat. Pergelangan tangan saya yang terkilir, di kepret (literally) atau digampar dengan telapak tangannya bolak balik, sampai si akang lelah. Dan saya hanya bisa pasrah sambil berpikir "Si akang ini punya istri apa enggak ya? Kalau punya, berantem sedikit terus nggampar istrinya bisa langsung koprol pasti". 

Si akang nya sih bilang pada saya bahwa saya dipersilakan untuk berteriak jika merasa sakit. Tapi oh ya please, itu tempat rame banget. Malu kakak kalau mau nangis. Padahal, saya ini kan lumayan bisa dan biasa menahan rasa sakit, level tahan sakit saya cukup tinggi. Namun kepretan Cimande ini luar biasa sekali deh pokoknya. Tetapi semua pedih perih panas dan nyeri akibat kepretan itu semua terbayar dengan sangat-sangat berkurangnya sakit ditangan saya. Saat pulang, dengan rasa sakit memar, bukan lagi sakit keseleo. Alhamdulillah

Meski hingga kini rasa nyeri masih sering muncul ketika saya mengangkat beban sedikit berat, namun saya bisa melakukan banyak hal hampir normal. How blessed I am... 

Nah, 

Sekarang beranjak mengenai judul yang saya pilih untuk ocehan saya hari ini. Dark Spot. Titik Gelap. 

Entah bagaimana dengan orang lain dalam menghadapi 'sesuatu yang pernah terjadi dimasa lalu dan meninggalkan nyeri'. Mungkin ini yang biasa disebut dengan trauma? Mungkin. 

Yang jelas, untuk saya, kecelakaan saya sebulan lalu itu meninggalkan sebuah titik gelap atau remang-remang untuk saya. Selama ini saya tidak pernah merasa takut naik motor di jalanan. Namun setelah kecelakaan itu, setiap kali mendekati atau melewati lokasi kecelakaan itu, secara otomatis tubuh saya bereaksi. Dengan sendirinya tangan saya akan menekan rem lebih dalam dari sebelumnya dan kecepatan saya turunkan sedemikian rupa. Fokus dan perhatian saya mendadak tersedot pada jalanan itu, berusaha untuk tetap waspada. 

Saya merasa sedikit terganggu dengan kondisi ini, namun jika dilihat dari sisi cerahnya, maka mungkin bisa dibilang saya belajar dari pengelaman lalu. Dan mencoba menjadi driver yang sedikit lebih baik dari sebelumnya. Meskipun hanya diwilayah itu saja. Hahaha... 

Anyway...

Be careful and mindful ketika berkendara ya temans... Stay safe...

#UdahItuAja

#KepanjanganIntronya

#SelamatMenyambutImlek

#HaveALongWeekend

Friday, January 29, 2021

Untitled Bad Day

Well, today is just another (bad) day... I Guess

Sepertinya saya PMS. 

Nafsu untuk memamah (bukan biak) manusia memenuhi dada dan kepala. Tapi on the bright side, ini membuat saya menambah deretan dunia khayal saya. Jikalau suatu saat saya kebanjiran uang dan peluang, saya akan mengumpulkan teman-teman yang pintar berbahasa inggris dan ingin mengajar bahasa inggris, ataupun merekrut orang yang ingin mengajar bahasa inggris. Syaratnya cuma satu (selain daripada kemampuan bahasa inggrisnya pastinya), yaitu mengedepankan pelayanan dan memiliki mental melayani. 

Dalam kegemasan saya hari ini, saya semakin memahami ke-masuk akal-an biaya sekolah yang nilainya bisa membuat kita geleng-geleng kepala di jaman now. Apalagi kalau sekolahnya sudah menggunakan tagline "International school" atau "English as a daily language" nya. Kenapa? Karena anak-anak akan mendapatkan pelajaran dan praktek bahasa inggris lebih banyak, dilingkungan yang menyenangkan (setidaknya mostly menyenangkan). Bukan di lingkungan yang kadang terasa diskriminasi atau mengecilkan orang lain, entah dengan pertimbangan apa. 

Long short story, akhirnya K, Saya, dan Mas Bojo memutuskan untuk bergabung dengan sebuah lembaga bahasa inggris yang konon katanya cukup melegenda dengan pengalamannya yang lebih dari 40 tahunan itu. Long story nya sangat long, jadi saya simpan untuk kapan-kapan (kalau mau) ya. 

Sebetulnya saya ingin bercerita panjang lebar mengenai pengalaman yang menggemaskan hari ini, namun saya kok malas membuang lebih banyak energi untuk itu. Tapi saya juga tidak ingin memendam kesal karena PMS hari ini didalam hati. Jadi, saya keluarkan banyak-banyak, namun sedikit saja tulisan disini. Sekedar pengingat mengenai konsekuensi yang pernah kami ambil bersama. Seperti sebuah kata bijak yang berbunyi, "Tidak ada kesalahan, yang ada hanyalah sebuah keputusan dan konsekuensi yang harus kita terima dan jalani". Exactly. 

Obrolan saya hari ini bersama teman yang anaknya ikut kelas bahasa yang sama, namun ditempat yang lain: 

Saya: "Hei, selama ini, komunikasi tentang kelasnya M di situ, pakai apa? WA? lancar?"

Teman 1: "Halo, iya pake WA. Lancar. Selalu dibalas cepet. Aku punya 3 nomer, 3-3 nya selalu fast respond"

Saya : hhh... okay, catet dulu. 


Kemudian saya bertanya pada teman yang anaknya ikut kelas di tempat yang sama dengan K, hanya berbeda level: 

Saya: "Hei, lo komunikasi sama itu, via WA juga? Lancar?" 

Teman 2: "Enggak bangettt... Nggak lancar... bla bla bla bla... Cuma karena gw udah bayar sekaligus aja ini jadi mau nggak mau terus... Bingung mau pindah kemana... Males kalau blah blah blah..." 

Curhatnya lebih panjang dari saya. Catet dulu. 

Sayapun bertanya pada tetangga yang anaknya juga ikut kelas di tempat yang sama, berbeda level juga. 

Saya: "Tante, komunikasi sama itu pake apa? WA? Lancar?"

Teman 3: "Enggak mbak. Nggak lancar blasss. Awalnya saya pikir karena beda level sama murid lain. Maklum yang lain dijemput pake alphard atau mercy. Tapi setelah online kok ya sama aja"

Saya tertawa mendengar alasan tetangga saya. Mas Bojo yang mendengar alasan tetangga saya, mengiyakan karena dia banyak mendengar berita tentang diskriminasi yang terjadi di lembaga itu. Catet lagi. 

Mau tahu obrolan saya dengan mereka? It's be like:

(Ini setelah sebelumnya pernah kejadian juga, pesan tidak dibaca sampai dengan waktunya trial. Ketika selesai trial, Mbak nya bilang "Nanti kalau ada pertanyaan, silakan di WA saja bu". Dan saya langsung menjawab "Oh, ok. Tapi mungkin WA saya kemarin dibaca dulu kali ya mbak?" eeerrr) 

Date: 27 January 2021 - 10 pagi

Saya: Pagi, maaf mau nanya kalau buku les K ready kapan ya?

.

.

.

08.30 malam

Mereka: Baru dibaca dan dibalas, mengatakan bahwa akan mengecek dengan finance.


Date: 29 January 2021 - 1 siang

Saya: Udah ada hasil ngeceknya belum ya? (Sudah malas bermanis-manis rasanya)

Jam 2 siang dibalas (cepet hitungannya ini yekaaan)

Mereka: Siang ibu, bukunya baru ready di hari ini, maaf baru mengabari kembali. Sudah dapat diambil ya mama K. Terima kasih. 

Saya: Ok. Saya kirim gojek. 


Setelah buku tiba, saya melihat benar-benar hanya 2 buah buku tanpa petunjuk apapun. Jadi saya WA lagi mereka. Sangking malasnya basa-basi, saya WA: 

Saya: "Would you mind to give us guidance on how to join the class next week, please? "

Ajaib!!!

Langsung dibuka, langsung dibalas. Amazing, huh? 

Saya: "Nice to hear your quick respond. finally. for once. Thank you. 

Dan ternyata ketika saya log in ke web nya, jadwalnya belum ada. Aaarrrggghhh... Malas banget sebenernya balik lagi nanya. Apbolbu lah ya. Apa boleh buat... 

Saya: "One more question please. When will the schedule of the class available in the website?"

Dan amazingly, langsung dibuka, dan dibalas. 


Well, it is what it is...

Sudah bayar, sudah komitmen ikut kelas selama kurang lebih 4 bulan, jadi ya Suck It Up, Wilis!!! 


Sekian curahan erosi jiwa emak-emak yang lagi PMS ini. You guys have a good weekend! :-)

Monday, January 18, 2021

January School From Home - Writing Challenge #Day6

 January School From Home - Writing Challenge #Day6


Challenge hari ini sebetulnya membuat saya pengen tertawa, tapi juga ikut prihatin. 

Pelajaran pertama adalah pelajaran Agama. 

K: "Bu M***** kalau di video suaranya pelan, halus. Kok kalau google meet jadi galak?" 

Saya: "Bukan galak, tapi suaranya nadanya tinggi aja. Kan nada suara macam-macam. Ada sopran, dll"

Saat tanya jawab, 

K: "Aku kok nggak pernah dipanggil sih? Ibunya nggak suka sama aku jadi aku nggak dipanggil"

Saya: "Bukan nggak suka, tapi muridnya kan banyak. Jadi nggak semua dipanggil" 

Dan beberapa menit kemudian, drama rengekan dan tangisan karena K merasa tidak diperhatikan gurunya berlanjut. 

Saya: "Nggak usah sedih, nanti Bunda tanya Bu T****. Siapa tahu karena ini pelajaran Agama Katolik, jadi cuma yang agamanya Katolik saja yang dipanggil" 

Drama 1 selesai. 

Pelajaran kedua adalah pelajaran Olah Raga, tidak ada drama yang berarti. Good girl! 

Pelajaran selanjutnya adalah pelajaran BK. Ada guru baru, jadi perkenalan. Karena perkenalan, jadi mic lebih banyak menyala. Seperti biasa, drama per-berisik-an mulai.

K: "Berisik banget bunda, aku nggak denger apa-apa gurunya bilang. Sakit kepalaku... "Dan seterusnya, mantra yang diucapkan K. #eeerrr

Pelajaran terakhir adalah Bahasa Inggris. Ini adalah puncak drama hari ini. Karena K tidak juga disebut namanya. 

K: "Aku itu uselesss banget makanya nggak dipanggil sama gurunya" nangis. 

Saya: "Enggak donk sayang. Bukan useless. Tapi belum aja. Nanti juga dipanggil"

1 menit, 2 menit, 3 menit...

K: "Tuh kan, I am so weak jadi gurunya nggak mau panggil aku" nangis semakin keras, dan saya sedih.

Saya: "K, muridnya kan ada 36 enam, waktunya sedikit banget... Jadi nggak semua anak dipanggil. Terus kan itu belum selesai. Siapa tahu nanti di panggil, jadi harus tetap menyimak penjelasan biar nanti kalau ditanya bisa" 

1 menit, 2 menit, 3 menit 

K: "Aku memang weak banget, useless banget. Gurunya nggak mau manggil aku. Itu D***** dipanggil 2 kali" nangis kejer.

Saya: "Gurunya nggak bikin list ini mungkin ya. Jadi lupa kalau tadi dia udah dipanggil. Tuh dengerin, yang dipanggil kan anak-anak yang nggak nyimak, yang malah main. You're so great in english, jadi gurunya nggak khawatir sama kemampuan nya kamu..." Mulai kehilangan stok penjelasan. 

K: "Tapi kan aku juga mau dipanggil. Aku nggak mau sekolah lagi kalau gitu. Useless banget nggak dipanggil juga" Menghadap jendela.

Saya: "Nanti bunda kasih masukan ke bu guru biar dibikinin abses jadi semua dapet giliran ya... Next time will be better". 

Google meet end. Drama end. 

#Smangadh









Saturday, January 16, 2021

It Is Time To Be Leh Leh Luweh

Hellow... 

Selamat pagiii... Cuma mau berbagi cerita sedikit sih pagi ini. Karena rasanya semangadh sedang muncul, jadi pengen meninggalkan jejak disini. 

Sepertinya, energi perpindahan tahun 2020 ke 2021 memang berbeda ya. Atau hanya saya saja yang merasakannya? 

Rasa optimis, semangadh, lebih legowo, semeleh, dan leh leh luweh beriringan mengiringi hari demi hari yang berganti di tahun yang baru ini. 

Untuk beberapa teman yang sudah tahu, bukan hal yang baru kan kalau saya ngomong tentang rajut merajut. Untuk saya yang berpedoman pada kalimat "Karena Merajut Tak Hanya Untuk Yang Berusia Lanjut" ini, merajut banyak sekali gunanya. Sudah banyak saya ceritakan juga di postingan sebelum-sebelumnya. 

Nah, sudah cukup lama juga sebetulnya saya membuat akun IG jualan untuk barang-barang rajutan saja. Well, sebetulnya bukan khususon untuk jualan sih. Lebih tepatnya untuk pamer alias show room barang yang pernah saya bikin saja. Selama ini saya selalu malu kalau ingin menjual hasil karya saya, karena sepertinya belum ada yang sempurna gitu hasilnya. Jadi kebanyakan barang-barang tersebut jadi hadiah untuk orang-orang tersayang, ataupun untuk doorprize acara saja. Malu bo'! :-)

Namun tahun ini saya tidak ingin malu lagi. Saya terinspirasi dari Kakak Ayunda yang sekarang sedang tinggal di Belanda, dia bekerja, banyak membaca, banyak menulis, banyak merajut, dan membuat toko online untuk produk-produknya. Saya juga jadi ketularan semangadh nya. Semoga segera sehat pulih ya kakak! 

Salah satu manfaat dari medsos walking yang dilakukan sesekali, adalah mencari suntikan semangadh yang kadang stoknya menipis dalam diri. Asal kita mencari pada sudut-sudut yang benar. Jangan malah terjebak pada sudut yang menguras habis semangadh kita yang tinggal digaris merah itu yekaaan :-)

Nah, kembali pada leh leh luweh yang saya rasakan di tahun ini, akhirnya saya dengan bangga memasang nama "kaena.ku" di bio IG saya. Mencatatkan diri saya sebagai owner dari sebuah usaha kecil yang masih berdasar hobi. Tapi saya bangga. Saya merasa senyum saya bertambah satu cm ke kanan dan satu cm kekiri setiap melihat rajutan saya selesai. Entah apakah akan dibeli orang ataukah berakhir untuk hadiah. Doesn't matter. I am owner of my own business line. Yeayyy!!! 

Ini juga salah satu bentuk ikhtiar untuk mengisi waktu dengan hal yang lebih berarti. Wish it goes well yaaa ^_^

Itu saja sih sharing weekend ini. Have a nice and productive weekend dear good people! 

Wednesday, January 13, 2021

January School From Home - Writing Challenge #Day3

January School From Home - Writing Challenge #Day3


Whatsapp Group PJJ: "Besok, Rabu 13 January 2021 materi PJJ adalah Matematika" 


Selasa malam menjelang tidur: 

Saya: "Mbak K, besok kita sekolahnya belajar Matematika"

K: "Asik, I love Matematika" Katanya. 

Saya: "I know. Jadi besok kita kerjasama yang baik ya sekolahnya biar lanca, selesai cepat, dan semua happy. Ok?" Kata saya dengan yakin, untuk meyakinkan diri sendiri.


 Rabu, 13 January 2021

06.00 WIB

Saya: "K, Ayok bangun kan mau sekolah" 

K: "Sebentar Bunda... Aku masih ngantuk bangettt...." 

Setelah berkali-kali dibangunkan dan mendapat jawaban yang sama, akhirnya dia bangun jam 06.40 WIB.


06.45 WIB

Saya: "K, ayok kita sarapan dulu terus mandi. Udah mau masuk ini sekolahnya" Kata saya.

K: "Sebentar Bunda... Aku kan baru banguuun.." 

Setelah berkali-kali diajak, baru berhasil bersiap jam 07.40 WIB.


08.00 WIB

Saya: "K, Ayok kita mulai sekolah. Matematika. Sudah terlambat ini kita" Kata saya.

K: "Iyaaa... Sabaaarrr..." 

Saya: "Berdoa dulu yuk..." 

K: "!@##$$%%^" Berdoa dengan nada tidak jelas.

Saya: "Yang betul berdoanya biar Tuhan mudah mengabulkan" Kata saya mulai pasang kuda-kuda, K berdoa dengan benar. 

Saya: "Kita belajar dari Power Point nya dulu ya... Baru nanti menonton video nya biar lebih mengerti... Sekarang kita belajar penempatan bilangan, penjumlahan bersusun. Penempatan bilangan itu..." Belum selesai saya menjelaskan, K menyahut...

K: " Iyaaa... Aku udah tahu. Ini gampil. Aku udah belajar di TK" Katanya

Saya: "Kita belajar lagi biar lebih mengerti ya"

K:" Ish, Bunda nih... Aku udah tahuuu.... Lanjut aja" Saya mulai menghela nafas sedikit lebih banyak.

Saya: "Ya udah, bener ya udah bisa. Kalau gitu kita belajar penjumlahan bersusun saja. Nih, bentuknya begini.... Yang ini, kan angkanya 16. Berarti 1 puluhan ditambah 6 satuan. Yang ini angkanya 3, berarti 3 satuan. 6 ditambah 3 sama dengan 9, ditulis dibawahnya. Yang angka 1 puluhan... " Lagi-lagi, belum selesai saya menjelaskan, K memotong kalimat saya...

K: "Haduh bunda, I don't understand banget itu apa... I can not think..." Nafas saya 3 detik lebih panjang dari biasanya. 

Saya: "Ya udah kalau gitu nonton video nya Bu Guru saja. Siapa tahu kamu jadi lebih paham" Saya putarkan video yang disiapkan oleh ibu guru nya, dan dia nampak menyimak. 


Saat video tutorial nya selesai, sampailah dihalaman yang memuat halaman tugas yang harus dikerjakan. 

Saya: "Sudah selesai kan? Yuk kita kerjakan tugasnya" Saya menyiapkan bukunya. 

K: "Aku kok mulai ngantuk lagi ya bunda" Katanya sambil menguap. 

Saya: "Nanti malam tidurnya jangan malam lagi. Tidur sore lagi biar pagi semangat" 

K: "Aku memang nggak semangat kalau sekolah" Otak saya sudah mulai menghangat. 

Saya: "Nih, yang halaman pertama gampil banget. Kamu pasti bisa" Kata saya menunjukkan halaman buku yang dimaksud.

K: "Iya, ini sih gampang banget. Easy peasy lemon squeesy" Katanya sambil mengerjakan. 


Saya duduk di sofa dibelakang kursi K, dan memilih untuk merajut. Jaga-jaga kalau ternyata butuh pengalihan. 


K: "Kalau aku bilang ping ping... Berarti I need help ya Bunda... Jadi Bunda kesini" Kata K. Saya tertawa dan mengiyakan. 

K: "Ping ping" Katanya

Saya: "I am coming"

K: "Ini banyak banget gambarnya. Kalau aku tambahkan semuanya ini sama ini sama ini, udah banyak banget aku menghitungnya..." Katanya. 

Saya: "Ya kan nggak disuruh menghitung semua. Mana sekarang yang belum bisa? Eh udah semua yang ini. Ok kita ke halaman selanjutnya ya... " 

K: "Sebentar Bunda, aku mau ambil minum dulu" K beranjak ke dapur dan saya menyiapkan halaman selanjutnya. 

Lamat-lamat saya mendengar suara ayahnya K ngobrol dengan K. 

Ayah: "Sudah selesai sekolahnya?" Tanya Ayahnya

K: "Belum, aku mau ambil minum dulu" Suara K.

Ayah: "Ambil minum kok malah tiduran di kursi?" Suara Ayahnya. Saya yang mendengar, langsung keluar. 

Saya: "Katanya ambil minum, kok malah tiduran?" 

K: "Iiih... Ayah nih spoiler. Aku nggak mau belajar lagi kalau ayah spoiler gitu..." 

Dan drama pertama pagi ini (kalau yang sebelumnya masih belum termasuk drama), dimulai. K ngambek dan lari ke balkon sambil bilang bahwa dia tidak mau belajar lagi karena ayahnya spoiler. 

Baiquelah... Setelah beberapa menit berlalu hanya untuk membujuk anak wedhok, akhirnya dia mau duduk manis kembali untuk sekolah. 

Saya: "Yuk kerjain yang ini. Ini tadi yang bunda jelasin itu. Tulis dulu berapa puluhan dan berapa satuan, baru ditulis angka hasilnya" Kata saya kemudian merajut untuk mengurai emosi yang mulai bangkit. 

K (baru selesai 1 nomer): "Aduh bunda... Aku headache banget ini... Bentar aku minum dulu..." 

Dia ke dapur untuk minum (menolak membawa cangkirnya ke tempat sekolah), dan kembali duduk meneruskan pekerjaannya. Setelah beberapa nomor selesai, dia kembali lagi berkata.

K: "Bunda, aku beneran headache ini sekarang. Kenapa ya?" Tanyanya. 

Saya: "Karena kemarin-kemarin otaknya kebanyakan istirahat. Sekarang diajakin mikir jadi terasa sedikit sakit. Bunda juga kalau lagi banyak pekerjaan begitu. Yuk lanjutin masih banyak ini tugasnya" Kata saya. 

K: "Sebentar, aku stretching dulu ya... Mungkin nanti headache aku hilang" Dan dia bergerak-gerak pemanasan kecil, baru kemudian melanjutkan tugasnya. 

Saya: "K, kalau kamu ngerjainnya banyak selingan begitu, malah nggak selesai-selesai lho. Jadi lama" 

K: "Bunda ini nggak sabaran banget. Sabar donk Bunda. Coba saja Bunda yang ngerjain. Memang nya dulu Bunda juga mengerjakan begini?" 

Emosi yang sempat mereda dengan rajutan, kembali terusik. Namun seolah mendapat angin segar untuk memompa semangat K, saya mulai bernostalgia. 

Saya: "Iya donk... Dulu tuh ya, Bunda kalau ada tugas begini, semangat banget ngerjainnya. Pengen cepet selesai karena kalau sudah selesai, kan tinggal main nggak mikir tugas lagi. Terus kalau ada buku begini, Bunda seneng banget, karena bisa buat latihan sendiri" Kata saya panjang lebar. 

K: "Pameeerrr... Sombooong... Bunda ini senengannya pamer deh" Bah! Gimana ini ceritanya. Saya diam. 

Dan beberapa obrolan/diskusi/perdebatan/drama diatas, berulang dan berulang beberapa kali. Hingga akhirnya tugasnya benar-benar selesai. 

Hari ini saya cukup senang, karena ternyata sambil merajut, saya bisa meredam emosi yang kemarin sempat meledak-ledak hingga saya nyaris menangis. 


*** 


Dear Covid, please hear my voice from deep down of my heart. 

You are so mean

You make million people suffer. 

Suffer from the lost of loved one, suffer from being isolated with very limited access, suffer for having double triple job in the same time as Mother/Wife, worker, teacher, and many other things. 

Please, go away. Aamiin

#DramaSFH #DramaPJJ #WhenMomBecomeAnEnemy