Saturday, May 26, 2018

Keputusan Terakhir Manusia

Mungkin orang tidak terlalu memikirkan hal ini, namun entah mengapa belakangan ini saya kepikiran. Berawal dari obrolan saya bersama teman tersayang, mengenai hidup dan mati (iya, setelah obrolan mengenai cring cring dan lain sebagainya... ahahah). Dan mungkin juga karena saat ini sedang Bulan Ramadhan, jadi bawaannya mellow dan jauh-jauh mikirnya...


Rasanya benar juga kalau dikatakan bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang bisa hidup sendiri. Setiap daripadanya adalah membutuhkan orang lain. Mungkin di jaman now, banyak orang yang percaya bahwa semua hubungan dengan orang lain bisa dilakukan dengan profesional, yaitu dengan perhitungan angka rupiah atau istilahnya dengan bayaran. Perlu sesuatu? tinggal beli. Mau kemana? tinggal pesen taksi. Pengen sesuatu? Tinggal order. dan seterusnya. Banyak yang tidak kepengen lagi diribetkan dengan hubungan sosial seperti minta tolong atau saling pinjam lagi... Mungkin mereka akan mengandalkan orang di lingkungan paling dekatnya yaitu keluarga untuk hal darurat? Atau mungkin bisa dengan memanggil layanan darurat jika tidak ingin ribet dengan keluarga juga... Ada juga... 

Kalau saya sendiri? Duh... Saya ini orangnya cerewet bin bawel bin ember... Kalau hanya mengandalkan orang terdekat untuk menampung semua cerewet bawel dan ember saya, mungkin keluarga saya sekarang sudah gendut sekali. Karenanya saya lebih memilih mengandalkan semua orang di sekeliling saya. Keluarga, teman, tetangga, bahkan kadang orang yang saya baru kenal juga. Tolong ya mas... tolong ya bu... tolong ya pak... tolong ya mbak... Ahahahhahaa

Saya termasuk yang sering nyusahin tetangga juga sepertinya. Suka pinjem ini atau itu. Pernah saya pinjem uang buat ke rumah sakit karena saya buru-buru berangkat darurat, dan tidak pernah simpan uang cash banyak dirumah. Pernah juga saya pinjam nasi karena teteh memasak nasi liwet sedangkan K tidak suka nasi liwet. Dih... Wilis... Malu-maluin aja... 

Tapi saya suka. Karena long short story, tetangga saya yang paling dekat dengan rumah saya setidaknya (saya menyebutnya #tetanggakikadebel - Tetangga kiri kanan depan belakang), baik-baik semua orangnya. Seperti contohnya Bulan Puasa ini. Hampir setiap sore mangkuk dan piring seliweran bertukaran. Ada yang isi kolak, Es Buah, Es coklat, bubur kacang, bubur ketan hitam, soto, dan lain-lainnya. Duuuh... saya terharu sekaliiii....

Nah, hasil ngobrol sama mbak sis yang onoh, entah kenapa ujungnya kita sampai pada obrolan absurd macam:

Saya: "Nanti kalau kita mati, orang harus tau kan ya kalau kita mau diproses bagaimana... dimana... secara apa...?"
Mbak Sis: "Nah itu... Iya lah. Kalau enggak nanti gentayangan menghantui gimana...?
Saya: "Gw sih udah mulai sounding sama nyokap gw. Kalau gw mati, gimana kalau dikubur di kampung halaman? Nyusahin nggak ya?"
Mbak Sis: "Nyokap bilang apa?"
Saya: "Katanya hush, aku aja masih hidup koq kamu ngomongin mati." 

Dan kamipun tertawa... 

Bagaimanapun juga, ada hal yang memang hanya bisa kita bicarakan dan putuskan bersama dengan keluarga. Karena ketika kita Mati, yang sedihnya lama pasti keluarga kita, yang kehilangan juga keluarga kita, yang ngurusin juga keluarga kita. Jasad layu kita, tidak akan bisa berkata dengan gagah "Aku bisa sendiri" dan jalan ke tempat peristirahatan terakhir kita... 

Sekian. 




Saturday, May 19, 2018

She and Her Outfit

Jago kalik doi mencari celah

Sailor Pluto Gets Tired After Saving the World



Sunday, May 6, 2018

After Hours Project - Blue Monokini

Setelah vakum beberapa lama dari per-crochet-an, akhirnya lahirlah kembali sebuah karya dari Kaena.ku Production.

Weekend selalu lebih bersemangadh manakala ada hasil yang dicapai... Semangadh juga lebih membubung tinggi manakala si anak senang dan bersemangadh memakai produk buatan ibunya... :-)


Next project adalah Green Two Piece Swimsuit... ^_^

Send me DM should you're interested! hahahaha

Tuesday, May 1, 2018

Perfect Time for Camping in the Garden

Background nya sama setiap si Ijah pulang kampung

Jadi ceritanya, salah satu teman baik kami yang tinggal di Austria mau mudik. Siapa lagi kalau bukan Zhe the Chrutz. Dari beberapa bulan yang lalu sudah di sounding kan bahwa dia akan pulang. Dan seperti biasa pula appointment demi appointment segera disusun. Maklum artis, kalau pulang jumpa fans nya harus di jadwalkan betul-betul... :-p

Kami... You know kami means kan? Selain penghuni Jadew 919, tentunya ada Salmul, Nonet, dan Geng Pasar Minggu. Sebetulnya banyak yang lain yang di undang, tapi seperti biasa juga yang jadi personel tetap penyambutan ya cuma itu aja... ahahaha

Kami... Kebagian di Hari Libur Nasional May Day. Kami agendakan untuk bersantai di sungai Cibunian sana... Ya ok. Kalau gitu saya sudah merencanakan untuk membawa teteh dan bahan masakan yang banyak. Jadi nanti kami mandi-mandi di sungai, teteh dan Ibu Uci memasak. Beres mandi, tinggal makan deh.... Eeennaaaakkkk.... :-p

Beberapa minggu sebelum kepulangan si artis, terjadi kegalauan rencana... Bener mau mandi di sungai? Secara 2 jam perjalanan, hanya ada sawah dan sungai dan makan. Nothing else. Atau mau kemping di gunung bunder aja? Ada air terjun, bisa tracking ke Kawah Ratu kalau mau paginya. Ok. Deal... We'll go camping!

Minggu berganti, terjadi galau lagi... Yang lain pada sibuk. Baru sampai di Jadew 919 malam. Kalau harus ke Gunung Bunder, pasti tengah malam baru sampai. Bangun tenda, danlain-lain pasti udah pagi. Ahahahhaa... Dan seperti biasa, Salmul datang dengan ide cemerlang "Kita camping di samping rumah aja... Kalau ujan deres tinggal ngesot ke dalem...." Ahahaa. Brilliant kaaan?

Hari berganti... Rasanya masih pengen camping in the real nature world.... Jadi Plan A Gunung Bunder, Plan B camping in the garden... Tapi kemudian ada berita duka dari Geng Pasarminggu. Adeknya BS meninggal. Jadi mereka nggak bisa ikut camping. Kalau ngumpul di Jadew 919 sih masih mau. So sad news....

Hari yang di tunggu tiba. Geng Pasar Minggu datang paling pertama... Semakin sore, artisnya datang... Akhirnya kita bulatkan saja pendapat untuk kemping di samping rumah. Mulailah kita mendirikan tenda. Semakin sore, Bu Pejabat datang. Dan ketika malam, Nonette datang. Eh, rupanya masih ada tambahan personel lagi pas malamnya... Bapak-bapak komplek pada mau nobar sepak bola, nongkrong juga di sebelah. Jadi malam May Day ramai sekali di sekitar Jadew 919. ahahahhaha

Daripada diskusi tak berujung, sudahlah kita dirikan tenda saja di kebon

Mpek-mpek Bu Shanti yang selalu hadir
Jane is practicing new climb trick she got from Tarzan

Siang jadi Jane, Malam jadi Little Gaudi

Beautiful full moon and it's star above us... Perfect!!!
Time well spent...

Yang kuat begadang cuma saya dan Nonette (selain daripada bapak-bapak komplek)... Bu Pejabat jauh-jauh datang dari Jekardah, molor syantiek begitu Bulan menampakkan sinarnya. Cieeehh....

Geng Pasarminggu tidak bergabung kemping, karena Azel nya shy shy cat sama Stevan, sibuk pengen pulang ke yangti. Akhirnya mereka tidur di dalam. Ahahahahaha

Stevan tak jauh beda sama Bu Pejabat. Molor dini. Mungkin karena kita sibuk berkicau pakai bahasa yang dia nggak paham juga. Ahahahaha

Melek malam ini di temani oleh Empek-Empek Bu Shanti, Cemilan-Cemilan dari Ine, Buah dari IndoM***t. Dan tidak ketinggalan tentunya kita buka kedai kopi dadakan, pakai Coffee bean yang di bawa Nonette.

Gegara Nonette Ngasih kita Bean yang super,
Mas Bojo jadi galau pengen beli Grinder... Ahahaha

Selasa Pagi - May Day

Setelah semua bangun dan keluar dari tenda masing-masing, kita sarapan bubur ayam yang beli di Bara. Dulu itu bubur legendary gitu deh... Sambel nya rasanya cetar. Enaaakkk....

Setelah makan, akhirnya menggalau, dan mulai sahut-sahutan ide mau kemana. Akhirnya kita sepakat untuk ke Curug Nangka saja. Cusss...

Ternyata sudah cukup lama juga saya tidak menengok Curug Nangka. Banyak yang berubah. Terakhir kali saya ke Curug Nangka adalah ketika K umur 1.5 tahun. Masih tidak seramai sekarang. Warung juga baru sampai di atas Curug Buatan. Sekarang warung sudah bablas sampai atas. Hiks... Sedih... Tapi kami tetep ngopi di warung itu juga sih. Sambil beli gorengan tahu dadakan.... :-p

Nonet felt upset melihat banyaknya dam-dam buatan di sepanjang sungai. Dia jadi sedikit bad mood. Dia bersama teman berjuang membersihkan sungai di Kota sana, tapi di sumber airnya skarang malah pengrusakan di depan mata. Sabar ya net...

Photo ala-ala Band jaman now

Things may changes, but lot of things remain the same
Fresh Water from it source


Favorite Aunty, always bringing joys and laugh
Sebagai buruh, kami adalah buruh yang tertib sekali. Tertib dalam memanfaatkan libur nasional. Salah satunya ya Hari Buruh ini. Hari Buruh kami artikan sebagai penghargaan pemerintah kepada kaum buruh seperti kami ini, untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama dengan yang terkasih, untuk menambah quality time dari setiap buruh. Thanks #mayday.

Begitulah... It's always nice to spending time with you guys...
Semoga sehat, selamat, sukses, dan bahagia senantiasa mengiringi setiap langkah kalian, kemanapun kalian pergi.

Love,
L-268

Monday, April 23, 2018

Talking About Insurance


Saya sepertinya layak menjadi member manusia galau. Dalam setiap hal yang melibatkan 'memilih' selalu membuat galau dan maju mundur syantiek cukup lama. ahahaha

Salah satu hal yang sudah membuat saya maju mundur syantiek selama kurang lebih setahun ini adalah masalah health insurance. Yup. Asuransi kesehatan. Berapa orang yang sudah saya jadikan narasumber untuk membantu saya meyakinkan diri sendiri. Mungkin mereka sudah mual juga kalau saya sudah mulai nanya"
"Kamu pake asuransi kesehatan enggak?"
"Menurut kamu, BPJS aja itu udah cukup apa belum?"
"Perlu nggak sih kita bikin asuransi kesehatan selain BPJS?"

Dan masih banyak pertanyaan lain yang sejenis. Hampura nyaakkk....

Dulu saya pernah punya asuransi kesehatan dari lembaga yang map nya warna hijau tua. Tapi saya matikan setelah umur sekitar 3 tahunan karena saya malas membayar premi nya. Sayang duitnya. ahahahaha

Kemudian ketika kantor saya berganti kebijakan, akhirnya semua staff di daftarkan BPJS, dan ditambah dengan asuransi pribadi dari BUPA. Sayangnya, asuransi pribadi ini hanya menanggung satu orang, tidak termasuk keluarga. Untungnya kantor saya berbaik hati dengan mengijinkan kami untuk memilih opt in atau opt out dari program asuransi itu. Kalau kita tidak ingin menggunakannya, kita dapat allowance atau pengganti yang nilainya sekitar Rp. 1,300,000. Lumayan juga kan. Sejak dimulainya masa penggantian kebijakan kantor saya itu, saya sudah mulai ragu-ragu. Apakah sebaiknya saya daftarkan lagi allowance insurance ini untuk asuransi lain yang bisa meng-cover saya, suami, dan anak saya? Ataukah cukup dengan BPJS saja? (untuk BPJS ini sampai saat ini juga masih belum bisa meng-cover suami dan anak saya karena pas nyabut kesertaan nama saya dalam BPJS fakir miskin di Jogja, saya lupa mencabut kesertaan mereka sekalian. Eeerrrrrr). Atau uang allowance nya untuk jajan saja? Hiiiissssshhhh

Sambil galau, seperti biasa saya searching dan browsing dan nanya tentang produk asuransi yang bisa meng-cover yang saya inginkan. Sambil mencari dan mencari, uang allowance nya saya pakai untuk jajan. Ahahahhahaha

Beralih sebentar ke asuransi saya yang lain, sebelum nanti di lanjut ke asuransi kesehatan ini ya...

Jadi, sekitar 2 tahun lalu mengikuti metodenya darina juga saya mendaftarkan Mas Bojo saya sebuah asuransi jiwa syariah, yang logo map nya hijau muda. Menurut tips perencana keuangan keluarga di internet hasil pencarian saya, sebaiknya keluarga itu memiliki asuransi jiwa bagi pencari nafkah utama, dengan UP yang jumlahnya lumayan. Agar jika terjadi sesuatu dengan si pencari nafkah utama, anak dan istri masih bisa bertahan dan melanjutkan hidup. Katanya juga, lebih baik asuransi jiwa nya yang pure asuransi jiwa seperti Term Life gitu. Biar bisa dapat UP maksimal dengan premi yang tidak terlalu besar. Memahami ini saja, kalau tidak salah saya juga harus browsing dan baca selama setahunan. hahahaha

Akhirnya saya mendaftarkan Mas Bojo ke asuransi jiwa term life itu. Namanya term life, itu seperti kita sewa hidup. Kalau terjadi sesuatu dengan si pencari nafkah utama, maka kita dapat UP senilai 1 M. Tapi kalau kita diberi umur dan jodoh panjang, maka uangnya menguap dan hilang begitu saja. Ya nggak papa kan. Dengan premi 5 jutaan setahun, menurut saya it worth every penny.

Nah, sejalan dengan kegalauan dalam asuransi kesehatan tadi. Akhirnya saya bertemu dengan sesama wali murid di sekolah anak saya. Dia adalah agen salah satu Asuransi yang berasal dari Italia. Saya banyak sekali bertanya ini itu kepadanya. Untungnya orangnya santai kek dipantai. Mau ditanya hal yang sama berapa hari berturut-turut juga dia ketawa aja. Akhirnya saya minta dia buatkan banyak ilustrasi deh. Misalkan premi sekian, kamar sekian untuk sendiri. Premi sekian, kamar sekian untuk keluarga. Untuk keluarga, yang kamarnya sekian, preminya berapa. Dan semacam itulah permintaan saya. Dibuatkan donk sama dia... Duh, lu baik banget ya vit. Ahahahahaha

Setelah dibuatkan ilustrasi nya, saya semedi lagi selama beberapa bulan. Ada kalik setengah tahun. Memelototi ilustrasi, nyoret sana sini, nambah note sana-sini, nyolekin Vita untuk ditanya spontan kapan aja saya nemu pertanyaan. Ahahahaa... Idih banget pokoknya klien yang satu ini.

Singkat kata, saya akhirnya fokus pada ilustrasi yang untuk 3 orang (Saya, Mas Bojo, dan Anak), dengan harga kamar standar (Rp. 500 rebu, sepertinya untuk ukuran Bogor masih bisa dapat kamar bagus dengan harga segini), dan UP nya 1 M juga. Preminya masih tidak terlalu jauh dari allowance yang saya dapat dari kantor. Tinggal nambah beberapa ratus ribu. Masih bisa lah ya mengurangi jatah jajan kopi. Toh sekarang saya ngopi di pangkalan, bukan di kafe. Jadi instead of 50-70rebu sekali ngopi, saya hanya perlu 10rebu (kopi dan air mineral sebotol) sehari. hehehehehe

Nah, kemudian saya kembali berfikir dengan rumus bego saya. Kan ini UP nya 1 M. Yang Asuransi Jiwa juga 1 M. Sepertinya saya akan menutup asuransi jiwa suami saya yang syariah itu saja. Ahahahaha... Bayar premi nya kalau doble sayang juga. Meskipun sebetulnya juga nggak terlalu mahal, tapi koq tetep aja ya. Sayang kalau berdoble-doble. Padahal kata consultant keuangan, beda lho antara Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan. Proteksi yang wajib keluarga punya itu sebetulnya. Entahlah... Nanti saya pikir lagi ya... Semoga ada rejekinya jadi nanti saya bisa lanjutkan lagi itu asuransi jiwa... Sedikti ragu sih sebenernya.... hehhehehehe

Jadi begitulah. Akhirnya saya mendaftar pada Asuransi Kesehatan untuk keluarga saya ke Asuransi yang dari Italia itu. Semoga saja saya bisa membayar preminya dengan lancar, semoga bisa membantu keluarga saya jika nanti terpaksa butuh, dan semoga berkah semuanya. Aamiin.

Akhirnya saya nulis sesuatu yang berbau planning dan planner... Ahahahaha...
Sekian cerita mengenai insurance dari saya. Asuransi pendidikan nggak usah dibahas. Udah mau ditutup bulan depan. Kekekekekekkekee

Sunday, April 22, 2018

Kepo Itu Baik





Pertama:
Homaigat, gw nge-tweet lageeeee!!! #sumpahalay #alaybanget #lebaybanget
Ahahahaa... Iya, gara-garanya gatel sekali tangan ini untuk mengetik. Tapi karena topik sekolah belumlah menjadi hal favorit yang ingin saya diskusikan dengan orang (atau sudah terlalu banyak diskusi dink), jadi saya pilih tweeterland aja buat nyampah. Dan akhirnya diumumin dimari. Errrrrr...

Kedua:
Gw kepo banget!!!!! #alaylagi #demamalay
Jadi ceritanya, saya ini kan punya level curiosity level enough to kill an elephant. Jadi bawaannya kalau pengen sesuatu, saya suka jadi sering browsing dan mencari bahan/literatur guna mengetahui lebih lanjut perihal yang saya pengen itu.

Contohnya dulu ketika K masih bayi baru brojol. Karena sebelum punya anak saya sudah naksir dengan sekolah K yang sekarang ini, maka begitu K lahir, saya mulai rajin searching informasi mengenai sekolah itu. Namun sayang, keberadaan sekolah itu di dunia maya sangatlah minim info. Googling sampai halaman akhir juga, minim data yang bisa didapat. eeerrrrrrrr deh...

Putus asa? oh, bukan saya...
Akhirnya insting emak jaman now mungkin yang mengarahkan saya untuk kepo ke medsos orang-orang. Sasarannya? FB dan instagram lah yesss....
Meskipun saya adalah orang yang mem-private kan semua medsos, namun saya yakin dan percaya bahwa banyak orang di luar sana yang tidak membuat medsos mereka private. Berbekal keyakinan itulah maka kursor saya arahkan ke instagram dan facebook, dengan berbagai macam kata kunci yang di cari. Ahahahaa... So persistent lah pokoknya...

Akhirnya saya menemukan banyak sekali beberapa gambaran foto, kegiatan, fasilitas sekolah, dan lain-lain dari medsos orang-orang disana. Selain itu juga saya buka-buka halaman demi halaman obrolan orang di web nya urbanmama. Lumayan mendukung lah hasil pencariannya... Akhirnya membuat saya bertekat bulat untuk menyekolahkan K disana jika nanti umurnya cukup...

Saat saya menunjukkan hasil pencarian saya kepada Mas Bojo, beliau komentar nya cuma satu :
"Kamu yakin kamu nggak minder nanti kalau harus bareng sama ibu-ibu itu?"

Saya dengan mantap bilang "Enggak lah... Nggak harus ikut-ikut begitu... Kan kerja...." --> It turn be something akward in the end of story, because me being stupid... ahahahaha

Kepo yang sekarang gimana?
Kepo saya yang sekarang juga masih seputar hal yang sama dengan kepo waktu itu. Yaitu kepo tentang sekolah anak. Mungkin saya ini terlalu semangadh menentukan mencari sekolah untuk anak saya. Tapi mau gimana lagi. Hidup di Kota Bogor bagian Dramaga ini membuat banyak keterbatasan dalam hal satu ini... Tidak apa-apa... Semoga ikhtiar ini diridhoi oleh-Nya. Aamiin...

Nah, kembali ke kepo emak jaman now. Di waktu senggang saya sekarang-sekarang ini, saya mulai meng-kepo-in sekolah incaran saya untuk K. Informasi di internet jauh lebih banyak daripada sekolah K yang sekarang. Web resmi sekolahnya juga cukup up to date. Instagram dan Facebook nya juga up to date. Dan saya punya beberapa teman yang anaknya sudah ada disana. Mungkin mereka sudah mulai bosan dan mual kalau saya mulai bertanya-tanya tentang sekolah anaknya. Karena terkadang pertanyaan nya diulang lagi dan lagi, karena saya lupa pernah nanya. ahahahhaa

Cukup infonya? Belum.... ahahahhaa
Untuk sekolah yang sekarang saya cari, saya tidak sekedar mencari informasi seputar sekolah, kegiatan, dan fasilitasnya. Kalau info itu sih dengan mudah bisa ditanyakan ke teman-teman saya atau tinggal di tengok ke sekolahnya. Tapi kali ini saya banyak mem-browsing mengenai bagaimana para muridnya, alumninya, dan semacam itulah. Karena sekolah SD (mungkin SMP dan SMU) kan jangka panjang. Banyak menentukan arah kehidupan kita nantinya...

Somehow, pencarian saya mendarat ke sebuah blog milik salah satu alumni sekolah itu. Anak ini lulus dari SMU sekitar 4 atau 5 tahun lalu. Saya terkesima sekali dengan anak ini.
1. Anak ini bahasa inggrisnya bagus banget... Dan dia nulis blog kebanyakan dalam bahasa inggris. Menurut saya sih WoW banget... hehehe
2. Anak ini pinter banget. Mengingat dia SD dan SMP nya di sekolah negri paling favorit di Kota Bogor ini.
3. Anak ini out of the box dan sealiran banget sama saya. Ahahahaha. Kembali lagi, mengingat dia ini SD dan SMP nya favorit di kota ini, tapi SMU milih sekolah inceran saya karena alasan yang sama dengan alasan kenapa saya pengen anak saya sekolah disekolah ini. Ahahahhaa
4. Anak ini kece badai banget. Dia (dan keluarganya) seneng travelling banget. Setiap ada libur atau kesempatan, selalu berburu tiket murah untuk liburan ke daerah/negara lain. Menurut hasil kepo saya, dia sudah terbiasa menabung dari kelas 2 SD, jadi sekarang dia memiliki kebebasan financial untuk berjalan-jalan.
5. Anak ini Super banget! Karena dia lulus dari SMU, keterima kuliah di UGM. Tapi dia tinggalin setelah semester 3 (kalau nggak salah) karena merasa kuliah di UGM nggak ada tantangannya. Terlalu santai. Sedangkan dia anaknya suka tantangan, nggak suka kalau kurang kegiatan, dan nggak suka kalau kuliah hanya untuk formalitas. Akhirnya dia tinggalin dan pindah kuliah ke Korea. Dia dapat beasiswa full, sering ikut kegiatan voluntary lintas negara, sering ikut kegiatan macam-macam pokoknya. Luar biasa!!!
6. Anak ini genius menurut saya. Semoga nanti anak saya bisa mengikuti jejak dan semangadh anak ini dalam menjalani masa remajanya. Bersenang-senang dan berprestasi sehingga masa mudanya seems to the fulest bener... kekekekekek

Melihat si anak ajaib ini, membuat saya bertanya-tanya. Gimana itu orang tuanya mendidik dia ya? Kepercayaan semacam apa yang diberikan oleh orang tuanya sampai anak ini bisa begini... Saya mau banget belajar sama orang tuanya lho....  :-)

Saya bukannya pengen memaksa anak saya untuk begini atau begitu sehingga bisa begini atau begitu. Tapi melihat bagaimana banyaknya peluang untuk berbuat banyak hal positif di masa remaja (yang dilakukan dan dibagikan anak ini), membuat saya semangat untuk nanti memberikan wacana dan wawasan kepada anak saya. Dulu saya sewaktu remaja, tidak punya banyak informasi untuk bisa begini atau begitu. Masa remaja saya habiskan dengan galau, banyak menangis tanpa sebab, sambil mengerjakan LKS atau membaca dimanapun saya berada (ke Toilet pun saya membaca dan mengerjakan LKS karena galau). Saya tidak ingin nanti pada saatnya anak saya memasuki masa remaja, dia melihat dunia sebagaimana saya melihat dunia dulu. Saya ingin bersiap diri, hingga pada saatnya nanti, saya siap membuka wawasan anak saya mengenai dunia yang teramat sangat luas, yang menawarkan banyak sekali kesempatan untuk berbuat lebih demi sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat.

Semoga rencana dan doa saya didengar Allah SWT, dikabulkan dan dilancarkan. Aamiin.

Sekolah Dasar Pilihan

Gambar dari Sini

Saya mulai memasuki saat-saat dimana kegalauan melanda (sebetulnya sudah mulai dari tahun lalu sih, tapi belum selesai sampai sekarang. ahahaha).

Kegalauan memilih anaknya nanti mau masuk sekolah mana?

Dari tahun lalu saya sudah mulai lirik kanan-kiri karena saya tahu pasti waktu berjalan dengan cepat, dan pasti tak terasa tiba-tiba sudah didepan mata saja itu saat mendaftarkan anak ke SD. Dan saat itu adalah sekarang-sekarang ini.

Memang sih anak saya masih TKA baru mau naik ke TKB. Tapi kan kalau nantinya sekolahnya adalah sekolah swasta, maka akhir tahun ini (Biasanya mulai Bulan October/November) juga sudah pada mulai buka pendaftaran... Jadi efektif tinggal setengah tahun saya boleh galau. Tidak boleh lebih. T I T I K

Pada awalnya dulu saya adalah penganut Negri Minded. Pengennya anaknya sekolah di sekolah negri saja, seperti emak dan bapaknya. Tapi melihat sekolah negri jaman now, beserta faktor disekelilingnya, sepertinya saya mundur teratur dan nggak terlalu terobsesi dengan negri.

Berarti Swasta donk? He eh... Dimana? Embuh....

Sampai saat ini, baru satu hal yang disepakati emak dan bapak nya K tentang sekolah K nantinya. Kami sepakat untuk tidak memasukkan K ke sekolah yang diambil oleh kebanyakan tetangga kami. Bukan karena kami sentimen dengan tetangga, sama sekali tidak. Tetapi lebih kepada "kami belum ingin anak kami belajar agama sejauh anak-anak tetangga kami, di usia dininya". Memang sih banyak yang berfikir bahwa pendidikan agama itu penting dari sedini mungkin, atau ada juga yang berpendapat bahwa sekolah yang basic agamanya kuat itu bagus karena anak mendapat semua pelajaran (umum dan agama) di sekolahan, jadi dirumah tinggal tidur. Tidak apa-apa. Itu pendapat banyak teman saya. Saya mendukung keputusan mereka untuk menyekolahkan anak mereka disekolah pilihan mereka. Kami? Ingin anak kami lebih banyak mengenal keberagaman, lebih mengedepankan toleransi, perbedaan, keberagaman, dan lain-lainnya. Kami meyakini bahwa pelajaran agama itu sebagian besar adalah tanggung jawab orang tuanya, bukan hanya tanggung jawab sekolahnya. Bismillah... Namanya juga ikhtiar yekaaann....

Dulu, kami naksir sebuah sekolah Yayasan Katolik Marsudirini (Whatttttt? Emang lo udah ngerasa jago agama? Udah yakin anak lo imannya kuat? dan lain-lain dan lain lain... Itu sih ekspresi beberapa orang yang mendengar rencana saya. Saya senyumin aja....). Tetapi semakin kesini, sepertinya niat kami urungkan kesana. Karena jaraknya jauhnyaaaaaaaaa.... Mantab Jiwa! Mas Bojo menyerah ketika melakukan uji coba jarak. Sampai tak sanggup berkata-kata, beliau hanya mengangkat bahunya ketika saya bertanya "Gimana?" Ahaahhahahaa...

Setelah mundur dari pilihan sekolah itu, sampai saat ini, kami baru memiliki satu pilihan yang lain. Sekolah Regina Pacis Bogor. Masih sama Yayasan Katolik juga... Tapi secara prestasi, sudah tercatat lah dia. Tapi koq gosyip-gosyip tetangga, tugas dan PR nya banyak ya disana... Dan katanya masuknya harus sudah 6 tahun betul. Dua hal itu yang masih membuat saya ragu apakah anak saya bisa masuk ke sekolah itu. Tapi secara niat, kami sudah lebih dari 80% pengen masukin K kesana. Bismillah... Semoga dimudahkan nantinya... Aamiin.

Kenapa nggak disekolah K yang sekarang saja sih?
Ahahaha.... SD nya mahal bo'! Tahun ini saja masuk SD di situ sudah mencapai angka 29 juta. Bagaimana tahun depan? Pasti di atas 30 juta deh. Belum lagi SPP bulanan nya juga diluar budget saya untuk bayaran SPP SD. Yang masuk SD tahun ini, mereka harus membayar 2.2 juta sebulan. Yassalaaaammmm....

Secara ngeles sih saya suka dengan jawaban saya sendiri "Kalau untuk PS, TKA, dan TKB, sekilah disitu masih boleh lah... Tapi kalau untuk 6 tahun SD di sekolah yang besarnya segitu, sepertinya saya kasihan sama anaknya... Biar dapet lingkungan yang lebih besar lah...." --> Ini adalah murni jawaban ngeles karena duitnya nggak cukup untuk sekolah disitu. Ahahahahaa  :-p

Tapi, meskipun biaya untuk PS, TKA dan TKB juga termasuk cukup tinggi, saya masih berharap ketika anak saya selanjutnya nanti usianya cukup untuk sekolah, saya bisa menyekolahkan nya di sekolah K yang sekarang ini. Aamiin...

Sekian curhat masalah sekolah anak kali ini. Pengen curhat masalah biaya pendidikan jaman now, tapi koq belum tau mau mulai dari mana. Ahahahahaha....