Saturday, May 26, 2018

Keputusan Terakhir Manusia

Mungkin orang tidak terlalu memikirkan hal ini, namun entah mengapa belakangan ini saya kepikiran. Berawal dari obrolan saya bersama teman tersayang, mengenai hidup dan mati (iya, setelah obrolan mengenai cring cring dan lain sebagainya... ahahah). Dan mungkin juga karena saat ini sedang Bulan Ramadhan, jadi bawaannya mellow dan jauh-jauh mikirnya...


Rasanya benar juga kalau dikatakan bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang bisa hidup sendiri. Setiap daripadanya adalah membutuhkan orang lain. Mungkin di jaman now, banyak orang yang percaya bahwa semua hubungan dengan orang lain bisa dilakukan dengan profesional, yaitu dengan perhitungan angka rupiah atau istilahnya dengan bayaran. Perlu sesuatu? tinggal beli. Mau kemana? tinggal pesen taksi. Pengen sesuatu? Tinggal order. dan seterusnya. Banyak yang tidak kepengen lagi diribetkan dengan hubungan sosial seperti minta tolong atau saling pinjam lagi... Mungkin mereka akan mengandalkan orang di lingkungan paling dekatnya yaitu keluarga untuk hal darurat? Atau mungkin bisa dengan memanggil layanan darurat jika tidak ingin ribet dengan keluarga juga... Ada juga... 

Kalau saya sendiri? Duh... Saya ini orangnya cerewet bin bawel bin ember... Kalau hanya mengandalkan orang terdekat untuk menampung semua cerewet bawel dan ember saya, mungkin keluarga saya sekarang sudah gendut sekali. Karenanya saya lebih memilih mengandalkan semua orang di sekeliling saya. Keluarga, teman, tetangga, bahkan kadang orang yang saya baru kenal juga. Tolong ya mas... tolong ya bu... tolong ya pak... tolong ya mbak... Ahahahhahaa

Saya termasuk yang sering nyusahin tetangga juga sepertinya. Suka pinjem ini atau itu. Pernah saya pinjem uang buat ke rumah sakit karena saya buru-buru berangkat darurat, dan tidak pernah simpan uang cash banyak dirumah. Pernah juga saya pinjam nasi karena teteh memasak nasi liwet sedangkan K tidak suka nasi liwet. Dih... Wilis... Malu-maluin aja... 

Tapi saya suka. Karena long short story, tetangga saya yang paling dekat dengan rumah saya setidaknya (saya menyebutnya #tetanggakikadebel - Tetangga kiri kanan depan belakang), baik-baik semua orangnya. Seperti contohnya Bulan Puasa ini. Hampir setiap sore mangkuk dan piring seliweran bertukaran. Ada yang isi kolak, Es Buah, Es coklat, bubur kacang, bubur ketan hitam, soto, dan lain-lainnya. Duuuh... saya terharu sekaliiii....

Nah, hasil ngobrol sama mbak sis yang onoh, entah kenapa ujungnya kita sampai pada obrolan absurd macam:

Saya: "Nanti kalau kita mati, orang harus tau kan ya kalau kita mau diproses bagaimana... dimana... secara apa...?"
Mbak Sis: "Nah itu... Iya lah. Kalau enggak nanti gentayangan menghantui gimana...?
Saya: "Gw sih udah mulai sounding sama nyokap gw. Kalau gw mati, gimana kalau dikubur di kampung halaman? Nyusahin nggak ya?"
Mbak Sis: "Nyokap bilang apa?"
Saya: "Katanya hush, aku aja masih hidup koq kamu ngomongin mati." 

Dan kamipun tertawa... 

Bagaimanapun juga, ada hal yang memang hanya bisa kita bicarakan dan putuskan bersama dengan keluarga. Karena ketika kita Mati, yang sedihnya lama pasti keluarga kita, yang kehilangan juga keluarga kita, yang ngurusin juga keluarga kita. Jasad layu kita, tidak akan bisa berkata dengan gagah "Aku bisa sendiri" dan jalan ke tempat peristirahatan terakhir kita... 

Sekian. 




No comments: