Friday, February 26, 2010

Kebebasan Ini Semu Semata


Kotak adalah ruangan

Dan ruangan berarti kungkungan

Kotak adalah batas

Dan batas berarti tiada kebebasan


Terkadang orang bisa bebas meskipun di dalam kotak

Terkadang orang bisa merdeka meskipun di dalam kungkungan

Bagaimana dengan aku?


Sepertinya tidak ada yang mengurungku, mengungkungku, atau membatasiku

Namun kenapa semua tidak lantas membebaskanku?

Namun kenapa semua tidak lantas membuatku merdeka?

Namun kenapa semua terlihat seolah dan seakan-akan?


Rupanya, tak hanya kotak yang dapat mengungkung

Rupanya, tak hanya kotak yang dapat menenggelamkan kebebasan

Rupanya, tak hanya kotak yang dapat membuat kita tertekan

Rupanya, tak hanya kotak yang dapat membuat kita liar.


Aku diam, aku melihat, aku merenung

Apa yang membuat aku tidak bergerak???

Dan aku tercenung….. aku termangu…..


Justru “kebebasan” lah yang membuat aku tidak merasakan kebebasan yang sejatinya.



Tidak ada yang bisa di tuntut, tidak ada yang bisa di paksa

Karena aku, tak punya daya

Hanya aka nada dua pilihan untuk meninggalkan kebebasan semu


Bertahan dan selamanya semu, ataukan mundur dan mengumpulkan apa yang terserak



Please, Reduce Your Noise


“prend, kamu pernah nggak sih sering2 ngobrol ngalor ngidul ama temenmu di chat ?” tanyaku pada salah seorang temanku beberapa waktu lalu.

“pernah. Kenapa memangnya?” Tanya temanku itu balik.

“Gw tuh ya, kl lagi nggak ada kerjaan bawaannya pengen ngobrol ama orang. Gw suka dong, noel2 orang2 yg onlen juga. Lu kan tau ya gimana gw kalo udah ngoceh. Ngalor ngidul nggak ada juntrungnya. Nah, sepertinya teman gw itu skr menghindari gw. Jangan2 dia mikir gw suka lagi ama dia ya? Hahahaha”

Langsung saja beberapa ikon tertawa ngakak guling2 muncul dari temanku itu.

“lu emang jago banget dah….” Katanya yang membuat aku bingung.

“hah? Jago apaan? “ tanyaku.

“jago ngecap. Hahahahaha” katanya sambil mengirimkan ikon ketawa ngakak guling2.

Dan kamipun tertawa bersamaan. Ya..benar itu. Nggak tahu kenapa aku ini jago banget ngecap. Tukang jualan kecap saja mungkin tidak sedahsyat aku. :P

“kalo menurut lu, temen gw itu menghindari gw karena apa? 1. Karena dia sibuk kerja, 2. Karena dia mikir gw suka ama dia?

“kl menurut gw sih yang kedua” kata temenku tidak mendukungku secara psikologis. Hehehe

“eh, tapi emang bener ya, kl cowok tuh suka jadi kege-eran kalau ada cewek yang ngajakin ngobol mulu?”

“iya, cowok itu emang suka termehek2 sama cewek yang kalau di ajak ngobrol nyambung….”

“yaahh…. Sayang banget ya… padahal kan gw seneng banget berteman. Hiks…hiks…” kataku penuh duka.

Dan temanku pun mengirimkan ikon tertawa ngakak guling2 sebanyak2nya….

Begitulah ceritanya. Aku yang punya hobi ngoceh sana ngoceh sini, yang mungkin saja bisa mengancam keberadaan para tukang jualan obat ini, sedang merasa sedih. Sepertinya aku memang harus ikut terapi untuk bisa mengurangi kebiasaan ngoceh dan ngecapku ini. Sepertinya juga ini sudah menjadi penyakitku yang akut. Jika dalam sehari aku tidak pemanasan ngoceh dengan apapun atau dengan siapapun, maka hari itu akan menjadi hari yang suram untukku. Wuih…

Nampaknya aku harus ikut suatu terapi yang bisa membuatku normal dan berbicara seperlunya, seperti layaknya wanita2 anggun di luar sana. Atau paling tidak, supaya aku bisa sedikit jaim di depan orang2. Hhuuwaaaaahhh…. Membayangkannya pun sudah membuat perutku mual dan kepalaku puyeng. Haruskah aku menjadi bagian dari orang2 yang itu?? Nggak rela….nggak rela…. : (

Aku pernah bercerita pada “dia yang namanya tak boleh di sebut”, mengenai kasus yang sama. Dan dia berkata hal yang sama juga dengan temanku itu. Bahwa orang mungkin suka dengan aku yang bisa di ajak ngobrol panjang lebar. Hahahha…. Serba salah jadinya. Aku kan ngobrol panjang lebar karena aku memang suka ngoceh, tapi orang menganggap lain. Tidddaaakkkk…. Rugi deh aku kehilangan teman bicara hanya karena salah tangkap saja..: (

Mungkin memang sebaiknya aku mengikuti sebuah terapi atau sejenisnya untuk mengurangi hasrat ingin bercerita dan ngobrol dengan orang lain ini…. Coba tunjukkan padaku, siapa, dimana, dan kemana aku harus mencari ahli terapi seperti itu….^_^

Untuk teman2 yang merasa terganggu, aku hanya bisa bilang “sorry”. Tetapi aku adalah aku yang begini adanya….. lahir dengan harapan dan doa dari ibu dan ayahku untuk menjadi anak yang membanggakan mereka. Namun, entah kenapa sekarang aku adalah aku yang sekarang ini. Tidak lebih dan tidak kurang. Pass banget. Aku bukan dia atau mereka yang bisa menyembunyikan apa yang sedang dirasakannya, tetapi bukan juga dia atau mereka yang mudah meletakkan cinta pada setiap orang. So, don’t worry be happy aja ya bradah…. Just be my friend…. Aku nggak pernah berfikir untuk menyukai setiap teman bicaraku, lebih dari rasa sukaku pada buah duren koq….. hahahhaha

Thursday, February 25, 2010

Kita Tertawa Ketika Ada yang Menderita

Siang ini aku menerima sebuah pesan singkat dari salah satu temanku di organisasi, lebih tepatnya dari seorang junior. Sebagaimana biasa, manakala akan di gelar sebuah hajatan di kampoeng (sekret) kami. Kabar berantai yang biasa kami sebut dengan "jarkom".

Bunyi pesan jarkom ini bergaya anak muda sekali, yang di singkat sana singkat sini. Untuk mempermudah aku dalam mengingat dan mengerti arti pesan, aku menuliskan kembali pesan itu dengan utuh di sini. Begini bunyi pesan itu :

"Jarkom.. Kecuali ketua umum. Agenda ikat mengikat ketua umum Lawalata, besok malam habis presentasi. Siapkan segalanya. tali, bawang, air kencing, dll. Mohon kedatangannya untuk Lawalata yang lebih baik. "

Sekilas bayangan mengenai apa yang akan terjadi besok malam, lewat di kepalaku. Ketika acara presentasi selesai, mulai akan ada pergerakan perlahan oleh para anggota aktif yang berbadan kuat. Mereka akan mendekati si korban (besok korbannya si ketua umum), dan akan segera menerkam dan menyeretnya ke tempat yang dekat dengan perapian. Disana, dia akan di ikat dengan menggunakan webbing, dan mulailah acara bar2.

Para ibu2 akan dengan senang hati mengguyur dengan air comberan, menggosok dengan bawang, atau sekedar menggelitiki si korban. Untuk anggota yang bapak2, pasti akan lebih bar2 lagi. Mereka akan segera berkreasi dengan segala macam sampah yang ada di sekitar mereka. Corat-coret, gosok2, hingga puncaknya adalah berkreasi dengan air kencing mereka. Si korban hanya bisa pasrah dan menerima apa saja yang di berikan padanya. Hanya ada 2 pilihan. Menyerah pasrah, atau melawan dan akhirnya badan menjadi lebam. :)

Entah sejak kapan ritual ini dimulai, karena selama aku menjadi bagian dari keluarga itu, aku sudah melihat dan melakukannya sebanyak puluhan kali. Mungkin jika orang di luar keluarga besar kami, akan menilai bahwa kami ini tidak berperikemanusiaan dan kejam. Bahkan mereka yang mengaku masih anggota keluarga kamipun tak jarang mengatakannya. Tidak jarang juga mereka yang masih suka mengaku sebagai anggota keluarga besar kami itu menilai kami bla..bla..bla.. Sepertinya mereka tidak pernah muda, atau mungkin masa muda mereka kurang bahagia seperti kami. Whatever...:P

Ada sesuatu yang cukup membuat aku geli dengan bunyi pesan singkat itu. Mungkin si "tukang jarkom" ini adalah orang yang biasa men-jarkom pesan untuk rapat atau pertemuan2 serius di organisasi kami. Sehingga dia latah dan menjadi kebiasaannya untuk menyertakan kalimat penutup pesan yang serius pula.

"Mohon kedatangannya untuk Lawalata yang lebih baik"

Kalau boleh aku koreksi, mungkin sebenarnya akan lebih hidup lagi pesan ini dengan penutup yang seperti ini :

"Mohon kedatangannya untuk Lawalata yang lebih seru"

Selamat bersenang2 ya you guys...^_*


Keterangan Photo :
Penangkapan L-269 yang kami anggap gila di depan Gedung Graha Widya Wisuda, IPB.
L-269 kemudian di lepaskan setelah beberapa jam di ikat di pohon depan GWW. :P

Tuesday, February 23, 2010

Sesegar Embun Pagi


Aku hanya ingin berkata bahwa udara itu mahal...
Karena ketiadaan udara membuat kita mati.

Aku hanya ingin berkata bahwa air itu mahal...
Karena ketiadaan air membuat kita kekeringan.

Aku hanya ingin berkata bahwa angin itu mahal...
Karena ketiadaan angin membuat kita kepanasan.

Aku hanya ingin berkata bahwa pohon itu mahal...
Karena ketiadaan pohon membuat kita gersang.

Aku hanya ingin berkata bahwa tanah itu mahal...
Karena ketiadaan tanah membuat kita melayang.

Aku hanya ingin berkata bahwa api itu mahal...
Karena ketiadaan api membuat kita kegelapan.

Aku hanya ingin berkata bahwa makanan itu mahal...
Karena ketiadaan makanan membuat kita kelaparan.

Aku hanya ingin berkata bahwa kebebasan itu mahal...
Karena ketiadaan kebebasan membuat kita terkekang.

Aku hanya ingin berkata bahwa hidup itu mahal...
Karena ketiadaan hidup membuat kita...mati...

Aku hanya ingin mencoba menikmati,
Apa yang saat ini masih ku miliki...

Aku hanya ingin mencoba menikmati,
Apa yang saat ini masih berhak ku nikmati...

Nikmatilah setiap hari-hari ini...
Sesegar embun di pagi hari...

We must always be happy, wherever we are...

Monday, February 22, 2010

Fullmoon Bekerja Dengan Sempurna

Pagi ini, aku mendapati sesuatu yang membuatku terkejut, senang, dan tertawa terbahak2. Note yang selama ini sudah di delete dari handphoneku oleh seorang ~bocah mungil keriting yang sangat menggemaskan~, tiba2 muncul begitu saja di layar handphoneku.

Aku masih bingung dengan bagaimana bisa note2 itu muncul begitu saja di handphoneku tadi pagi, ketika aku bangun tidur. Cepat2 aku baca, pilih mana yang penting, dan menyalinnya ke dalam tulisan. Ini adalah salah satu note yang aku anggap lucu dan mampu membuatku tertawa ngakak dari tadi pagi, sampai2 orang yang di sekitarku merasa aneh.

***


Bulan menampakkan keperkasaan dan kemolekannya di atas sana. Perkasa dengan lingkaran penuh yang terkesan kokoh menantang. Molek dengan sinarnya yang teduh bagaikan putri yang nampak malu2. Dia kembali menemani perjalanan panjangku untuk kesekian kalinya. Perjalanan panjang dengan harapan kosong, yang telah kutinggalkan di belakang sana. Bulan yang bulat sempurna, memantulkan sisa cahaya yang diserapnya dari matahari. Bulan purnama yang membuat kesendirianku tidak terasa.

Bulan yang seakan sedang memamerkan keindahan tubuhnya, bergerak perlahan mengiringi laju bis yang kugunakan untuk memandanginya. Dia seolah memperhatikan setiap gerak-gerikku di balik kaca jendela yang memisahkan kami. Dia seolah berusaha menyampaikan sesuatu, pesan, dan peringatan bahwa dia berada disana untukku, dan untuk membantuku. Seolah2 dia mengerti kegundahan dan kegelisahanku malam ini.

Akupun berusaha mengerti bahasa isyarat yang di sampaikan oleh sang bulan. Ku coba menceritakan apa yang sedang bergejolak dalam hati dan pikiranku. Kucurahkan semua keluh kesahku dalam diam, melalui tatapan mata kami yang saling bertemu di tengah derunya angin malam. Setelah aku puas menceritakan apa yang mengganjal dan membuatku resah, aku berusaha meminta pertolongan darinya. Siapa tahu dengan pesona dan kekuatan bulan penuhnya, semua bisa menjadi mungkin.

Aku membisikkan beberapa hal untuk bulan. Bisikanku kepada bulan, kusampaikan melalui desiran angin laut di jalur pantura yang cukup membuatku terhanyut. Ku titipkan pertanyaan demi pertanyaan kepada angin laut, untuk di bawanya naik ke tempat bulan berada….

“Bulan…maukah kamu menolongku??” Angin laut yang sepoi2 segera membawa pesanku yang pertama pada bulan. Beberapa saat kemudian, aku melihat bulan menjawabnya dengan senyuman.

Dan akupun mengirimkan utusan kedua. Aku bilang kepada bulan,

“Tahukah kamu saat ini dia sedang apa, dimana dan dengan siapa?” Lagi2 dia tersenyum. Kukirimkan lagi pesan ketigaku.

“Bulan, sampaikan permintaanku padanya ya… aku hanya ingin dia menunjukkan tanda2 bahwa dia baik2 saja. Kalaupun dia tidak mau memikirkan aku. bilang padanya bahwa jika dia baik2 saja, itu sudah sangat cukup bagiku.” Pesan yang cukup panjang untuk sang bulan, yang segera kususul kembali dengan pesan selanjutnya.

“Bulan, buatlah ia memandang pesonamu saat ini barang sekejap. Karena, seandainya dia memandangmu yang sedang dalam kondisi jelita malam ini, maka dia akan tahu bahwa aku sedang bicara padanya. Dia akan dapat merasakan bahwa aku menitipkan berjuta rasa dan asa untuknya melaluimu. Terima kasih bulan” bunyi pesanku yang terakhir.

Dan kini, bulan bersembunyi di balik awan. Semoga ini bukan pertanda bahwa bulan mendapat jawaban pahit darinya untukku. Semoga ini hanya pertanda bahwa bulan sedang menuju ke tempatnya berada. Dan dia…sedang membaca semua pesanku.

We must always be happy, wherever we are. Especially you….

***

Thanks to fullmoon....
Apapun dan bagaimanapun akhir dari semua ceritaku waktu itu, aku merasa "that enough".
Malam itu kamu bekerja sempurna, sesempurnamu sebagai bulan purnama.
Semua pesanku tersampaikan karenamu.

Semoga pada kemunculanmu yang sempurna selanjutnya,
Pesanku yang sama masih bisa tersampaikan padanya.... ^_*

Sunday, February 21, 2010

Kami Ini Orang Lokal Bu....

Hari ini, aku melewatkan hari bersama dia yang namanya tak boleh di sebut (memangnya voldemort).

Setelah semalaman aku berputar2 Kota Bogor, menikmati lengangnya malam sendirian hanya dengan si black my lovely motorcycle. Aku bangun terlambat alias kesiangan. Ketika sadar bahwa hari sudah tinggi, aku baru ingat bahwa hari ini adalah jadwal kepulangannya dari trip-nya yang ke sekian. Kali ini dia pergi ke Kalimantan, tepatnya wilayah Palangkaraya dan Banjarmasin.

Singkat cerita, kami sepakat untuk menghabiskan akhir pekan ini dengan mengunjungi tempat favorit kami yang telah lama kami tinggalkan. Gunung Bunder.

Satu cerita aneh bin ajaib yang ingin ku ceritakan di sini dari hasil jalan2 kami hari ini.
Seperti biasa kami naik motor, memilih warung yang nyaman dan tidak terlalu penuh, pesan kopi, mie rebus, dan ngobrol ngalor-ngidul. Sayangnya, warung yang selama ini menjadi langganan kami sedang ramai. Jadi kami memilih warung yang berada tak jauh dari sana.
Seperti biasa juga, banyak hal yang kami bicarakan. Mulai dari hal serius, kurang serius, biasa saja, hingga hal2 yang remeh temeh. Begitulah cara kami menghabiskan waktu. Tidak dengan memenuhi pusat2 perbelanjaan atau juga memadatkan kota yang semakin padat di waktu weekend.

Setelah puas dengan makanan, minuman, dan obrolan, kami mengakhiri diskusi sore kami. Selain itu juga cuaca mulai menandakan akan datangnya hujan lebat, terlihat dari mendung yang semakin menggelayut. Maka kamipun bersiap dan aku beranjak membayar apa saja yang telah kami habiskan sesorean itu.

"Berapa semuanya bu?" Tanyaku pada ibu yang berjualan.
"tigapuluh ribu" Katanya.

HHeeehhh??? tigapuluh ribu? emang kita makan apa ya?? Akupun kembali ke meja tempat kami makan dan melihat siapa tahu ada makanan yang kami makan dengan tidak sadar. Tetapi aku tidak melihat ada makanan aneh yang nyasar ke meja kami. Di meja itu hanya ada :
1. 2 mangkuk bekas mie rebus (biasanya harga Rp. 5000 kalau di tempat yg biasa)
2. 1 Gelas bekas teh manis hangat (paling Rp. 2500)
3. 1 Gelas bekas kopi (Paling Rp. 2500, lha wong kopi sachet)
4. 1 plastik bekas bungkus kerupuk (biasanya Rp. 1000)

Aku mencoba berhitung, takut kalau ternyata kemampuan menghitung cepatku sudah menjadi sedemikian parah. Tetapi beberapa kali aku hitung dan aku gelembungkan harga, tetap saja tidak mencapai tigapuluh ribu rupiah. Apa yang salah ya???

Akhirnya aku kembali ke tempat ibu yang jualan...

"Maaf bu, berapa jumlah semuanya?" tanyaku lagi
"semuanya jadi tigapuluh ribu" katanya
"Mie rebusnya dua berapa bu?" tanyaku
"Mie rebus dua enam belas ribu" katanya
"Teh manis anget berapa bu?" tanyaku lagi
"Teh manis sama kopi ya?" tanyanya
"iya, sama kopi." jawabku
"Tujuh ribu" katanya
"Enambelas ribu di tambah tujuhribu jadinya duapuluhtiga ribu ya" kataku.
"Kalau kerupuk berapa bu?" tanyaku lagi.
"Berapa kerupuknya?" tanyanya
"Satu" jawabku.
"Dua ribu" katanya
"Duapuluhtiga ribu di tambah dua ribu berarti duapuluhlima ribu ya bu?" tanyaku
"Iya" katanya.

Huahh.... berakhirlah sudah obrolan yang menjengkelkan dengan si ibu itu. Aku masih bingung dengan asal muasal tigapuluh ribu nya itu. Beruntunglah macanku belum mengamuk. Biasanya, aku akan menjelma menjadi macan yang siap mengamuk kapan saja. Tapi tadi aku tidak bernafsu melakukan itu. Karena mood-ku memang sedang tidak bagus hari ini.

Mungkin dia (penjual itu) menganggap kami ini para wisatawan yang tidak tahu harga umumnya. Atau mungkin dia menganggap kami ini mau begitu saja di bodohi dengan hitungan2 palsunya. Sebenarnya aku bisa saja menuntut pembenaran dari penggelembungan dana itu (halah, kayak pansus aja ya..). Mana ada teh manis dan kopi di gabung harganya berubah jadi Rp. 7000. Yang bener aja donk madam...:P

Sebenarnya telah terjadi pelanggaran pada mark up harga disini. Tetapi ya sudahlah..namanya juga orang yang berusaha bertahan hidup. Tidak apa2... Mungkin si ibu itu tidak mengerti bahwa sistem pembuatan harga yang seenaknya itu dapat mempengaruhi penilaian kualitas wisata di Indonesia. Mungkin aku yang datang dengan motor plat AB ini di sangka wisatawan dari jauh. :P

Pelajaran yang bisa aku rasakan dari perjalanan kami hari ini adalah :
- Kalau mau makan di tempat itu lagi, lebih baik bertanya harganya dulu sebelum pesan.
- Kalau masih bisa memilih tempat yang lain, sebaiknya aku memilih tempat biasanya saja.

heuheuehueheu.....
Kami ini masyarakat lokal bu...Bukan bule atau londho...^_^

Laut Yang Tenang Kembali Bergejolak


Laut...Laut...Laut....
Laut yang tenang, tiba2 bergejolak lagi.
Dia menghantarkan butiran2 buih yang menghantam dinding tebing.
Dia mencipratkan bulir2 air ke segala arah.
Dia terganggu.

Ombak...Ombak...Ombak...
Datang perlahan2.
Datang dengan tenang.
Menghempas kencang di tepian.
Dia terusik.

Kerikil pantai...Kerikil pantai...Kerikil pantai...
Diam dan menunggu di pantai.
Menunggu dengan setia.
Berderik kala bercinta dengan hempasan ombak.
Dia tersakiti.

Aku duduk diam...diam...diam...
Membayangkan laut mengamuk.
Membayangkan ombak meraung.
Membayangkan kerikil pantai berderik.
Aku termenung.

Saatnya bagi benalu,
Untuk memilih "What She Wants To Be......"

"Use Your Brain Wilis.....!!!"