Thursday, September 8, 2022

3rd Bad Day at School

Hari ini, saya menjemput K dengan H2C. Penasaran juga sih alias kepo ala emak-emak. hehehe

Setelah anaknya muncul di pintu dan namanya dipanggil oleh wali kelasnya, saya menjemputnya dan langsung bertanya seperti biasa. 

S: "Hai, gimana hari ini? Fun?" Dia tertawa dan menggandeng saya. Kamipun berjalan menuju pintu keluar hall. 

K: "Today is funny lho bunda..., " katanya. Saya penasaran. Hmmm... Sounds good, right? 

Karena hari ini hujan cukup lebat, saya mengajak K untuk duduk lesehan di depan Hall dulu sembari mendengarkan ceritanya. 

S: "Kita di sini dulu aja. Kamu cerita dulu. Kan setelah kamu cerita, nanti bunda perlu mikir apa jadi ke wali kelas kamu atau enggak." Kata saya. 

K: "Jadi, tadi kan aku jalan di kelas. Terus A berdiri di depanku gitu. Dia bilang - Hey K! Item jelek! Ngapain kamu? - gitu, terus dia dorong aku sampe aku mundur gitu," ceritanya. Saya menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Lagi-lagi ya bocah itu, hahaha. 

S: "Terus kamu ngapain?" 

K: "Ya aku diem aja pergi. Terus dia gambar sesuatu gitu kan. Habis itu dia crumple terus di lempar ke aku gitu. Pas aku buka ada gambar babi nya. Terus ada tulisannya K = B**i G****l gitu. Aku sobek2 aja kertasnya, aku buang di tempat sampah." Ceritanya. 

S: "Lhooo, jangan di sobek donk. Lain kali kalau dia bikin sesuatu lagi, masukin aja ke tas ya biar bunda bisa lihat," saya kepo, hahahha. 

K: "Ini ada nih satu lagi (dia mengeluarkan dua gumpalan kertas dari kantongnya dan saya mengambil salah satu yang menggelinding) jangan yang itu, itu aku yang bikin." Katanya. 

S: "Lho kamu bikin juga? Sama jeleknya jangan2 kayak bikinan dia?" tanya saya.

K: "Tapi itu cuma buat aku aja kok. Karena kan aku kesel jadi need to draw it," hmm, make sense kata saya dalam hati. 

S: "Apa itu tulisannya?" Saya melihat gambar yang telah di uwel-uwel itu dan geleng-geleng kepala. Sebuah gambar Babi, dengan tulisan "K = Jeruk Babi"

Saya bilang kepada K bahwa kami perlu menghadap wali kelas, karena sudah 3 hari berturut-turut A melakukan tindakan yang tidak seharusnya. Apalagi sudah pakai mendorong. Saya khawatir kalau kontak fisik seperti itu dibiarkan, akan semakin menjadi. 

Maka kami berdua mencari wali kelasnya, dan duduk bertiga saling curhat. Kenapa saling curhat? Karena pada akhir sesi konsultasi saya, si bapak gantian curhat mengenai anak-anak yang ikut pelajaran tambahan. Heuheuheu.

Intinya, saya merasa lega telah menyampaikan uneg-uneg dan kekhawatiran saya, dan berharap wali kelas bisa menyelipkan lebih banyak nilai-nilai pertemanan pada anak-anak. 

Dalam perjalanan pulang, di atas motor seperti biasa, saya ngobrol dengan K. Kadang harus berteriak-teriak untuk mengalahkan suara hujan. 

S: "Bunda masih berfikir kalau A itu sebetulnya pengen main aja sama K, jadi dia caper gitu. Cuma dia nggak tau harus bagaimana, jadi dia choose to be bad boy aja." Kata saya.

K: "Maybe...," dia sepertinya mengedikkan bahunya. 

S: "Kan kayak di Petualangan Sherina itu, Sherina sama Saddam kan juga gitu. Awalnya berantem melulu, lama-lama berteman. Kamu nyanyiin lagu Sherina aja kalau gitu ke A, yang - Dia pikir, dia yang paling hebat...-" kata saya. 

K: "Itu dulu aku udah nyanyi buat J Bunda." Katanya. 

S: "Lho, memangnya J juga nakalin kamu?" Saya kaget.

K: "Dulu. Sekarang udah temenan sama aku." Katanya. 

S: "Banyak amat yang nakalin kamu?" saya kepo.

K: "Dulu bunda, sekarang nggak lagi. Dulu pas aku nyanyi gitu ke J, dia ketawa terus bilang -Memangnya dia ayam jago?- gitu." Kamipun tertawa. 

S: "Tapi you see the point right? At the end, everything will be just fine, you all will be good friend. Seperti yang di film Sherina itu. Meskipun sekarang you feel hurt, tapi nggak papa. It will be fine." Saya berusaha menghibur K dan saya sendiri. Mengaminkan kalimat saya sendiri dengan keras di hati. 

K: "Iya."

S: "Nanti kalau A bikin gambar lagi pakai jeruk babi, kamu bilang aja -Kamu tuh mau nulis Jeruk Bali ya A? Kalau jeruk bali aku tau, kalau jeruk babi aku nggak tau. Pasti dia kesel." K tertawa terbahak-bahak di jok belakang saya.

K: "Pasti bunda dulu di bully juga ya pas sekolah?" giliran saya yang tertawa. 

S: "Haha, iya. Kayaknya kalau kita pengen biasa-biasa aja di sekolah, malah suka kena bully gitu ya. Oh iya K, bunda mau tanya. Kalau A berbuat tidak baik gitu, ada temennya nggak sih? Atau dia sendirian aja?" tanya saya.

K: " Ada. Si E. Kan bunda tau kan, kayak di film-film juga kalau ada bad boy, pasti ada helper nya gitu kan. Nah E itu helpernya A," kata K. 

S: "Atau kamu ngomong aja kali mbak sama A, Hey A, kamu tuh kenapa sih? Mau temenan sama aku? Kalau mau temenan jangan gitu. Kalau dia bilang nggak mau temenan, kamu bilang aja, kalau nggak mau temenan juga jangan kayak gitu. Pokoknya jangan kayak gitu aja." 

K tertawa mendengar saran absurd saya. 

Rasa penasaran saya terobati, dan sisa perjalanan kami habiskan dengan bercandaan mengenai film Petualangan Sherina dan kejadian yang menimpa K. Saya menggoda K bahwa jika nanti saya bertemu dengan A dan K, saya akan meminta mereka berdua berfoto dengan gaya Sherina dan Saddam di film itu. Untuk kenang-kenangan kalau sudah besar nanti. 

It still beautiful day, isn't it K? :-)



Wednesday, September 7, 2022

2nd Bad Day at School of K

Well, what can I say... Selain daripada sebuah disclaimer bahwa "Tulisan ini adalah berdasarkan satu sisi anak saya, belum di konfirmasi dengan pihak lain".

Rupanya, hari ini masih menjadi bad day untuk K di sekolah. Walaupun tanpa ada air mata lagi, karena K sudah lebih siap dan kuat hatinya. Tapi saya sedih dan hampir menangis mendengarnya. Maklum bendungan air mata saya ini suka ambrol kalau mendengar sesuatu yang sensitif. 

Begini cerita K saat saya menjemputnya di sekolah: 

S: "Gimana hari ini?" Pertanyaan standar saya setiap kali menjemputnya di Hall. 

K: "Hari ini even worst bunda..." Heee??? Saya deg-degan mendengarnya, tetapi berusaha untuk tidak kelihatan kaget. 

S: "What is the story?" 

K: " Tapi bunda don't say a word sebelum aku finish cerita. ok? Not a word." Yaelah, bikin emak makin was-was aja. 

S: "Iyaaa... Janji," jawab saya.

K: "Jadi, tadi A ngomong sama aku gini - Heh kamu anak m*s**m, ngapain kamu di sini? Ini kan tempat anak K***t*n sama K***l*k doank- gitu coba bunda." Saya yang mendengar cerita K, benar-benar sedih. 

Hal ini sudah saya duga akan terjadi, tetapi saya tidak menyangka secepat ini dia bertemu dengan teman yang 'begini'. Saya perhatikan raut wajah K saat dia bercerita, hati saya menghangat karena dia tidak sedih ataupun tertekan. Dia bercerita dengan ceria. 

S: "Masak sih dia ngomong gitu? Kok mean sekali temen kamu?" Saya sambil sedikit tertawa menutupi kesal di hati. 

K: "Terus dia bilang lagi gini, coba K kamu ngaca. Eh jangan deh nanti kacanya pecah. Soalnya wajah kamu kan jelek banget." Kekagetan saya belum berhenti.

S: "Hah? Beneran dia bilang gitu?" 

K: "Iya."

S: "Kamu bilang Pak R nggak?" tanya saya.

K: "Enggak." Katanya. 

S: "Terus pas dia bilang kayak gitu, kamu gimana? Aku dance floss aja di depan dia sambil bilang oke... oke... gitu"

S: "Kok gitu ya A..." kata saya. 

K: "Tapi bunda... The funny thing is... Kan tadi hasil ulangan Bahasa Indonesia dibagiin. Aku nilainya nggak remed sih, tapi passs banget sama KKM (eeeaaa... pembuukaan yang ciamik). Tapiii, A nilainya berapa coba? 31 donk. Kayaknya Tuhan menegur dia karena kemarin dia mean sama aku ya bunda," saya terkekeh mendengar kata-katanya dan mengangguk-angguk saja. 

S: "Tapi so sad juga ya ada temen kamu yang masih ngebeda-bedain teman karena agama. Poor A...," kata saya. 

K: "Kok poor A? kenapa bunda kasihan sama dia?" tanyanya nge-gas.

S: "Ya maksudnya berarti dia nggak open minded gitu. Sama hatinya juga nggak terbuka. Kan kasihan. Dia perlu bimbingan lebih dari orang tua atau gurunya." Kata saya.

K: "Padahal kan di pelajaran BK susternya udah ngasih tau. Kayaknya A nggak dengerin susternya pas BK. Jadi kayak gitu." Sungutnya. 

S: "Iya, makanya kasihan dia ya... Nggak papa deh. Kan kamu sudah maafkan tadi malam. Nanti malam pas berdoa kamu maafkan juga aja. Biar Tuhan kasih jalan ke A untuk jadi lebih baik." kata saya. 

Kamipun berkendara motor menuju salah satu resto makanan cepat saji sebelum ke tempat K les. Hari ini, pilihannya berbeda dengan yang kemarin, tapi yang lokasinya di seberangnya. Makan ayam goreng. Eeeaaa. 

Sungguh hari ini hati saya pun masih gemassshhh... Rencanya, kalau besok masih ada kejadian lagi dengan anak yang sama, maka saya akan mengambil tindakan dengan memberitahu wali kelasnya. Supaya beliau lebih memantau anak tersebut, jika saja ada yang perlu dikhawatirkan. 

Life is not always rainbows and butterflies ya Mbak K... But it's still sad to know that you have to start this early year :-)

Tuesday, September 6, 2022

Today is K's 1st Bad Day at School

Hari ini, saya ingin menceritakan cerita anak saya, K, saat saya menjemputnya di sekolah tadi siang dan juga malam ini saat dia bersiap tidur. 

Seperti biasa, saya menunggu giliran dipanggil untuk mengambil K dari wali kelasnya. Saya melihat K yang berada di baris ke-3,  menatap saya dengan sayu. Kelelahan sepertinya, pikir saya. 

Setelah nama K di sebut, saya bergerak maju menggandeng tangannya. Saat itu dia langsung menubruk saya, dan menangis. Saya tunggu sejenak sebelum menanyakan kenapa dia menangis. Rupanya, ada kejadian tidak menyenangkan di kelasnya tadi. Katanya, temannya yang bernama A menjepit tangannya di meja. Saya menenangkan dan mengajaknya berjalan keluar dari Hall sekolah menuju pinggiran lapangan basket. 

Setelah duduk dengan nyaman, saya minta dia yang masih terus menangis menceritakan apa yang terjadi, dan meluncurlah cerita dari bibir mungilnya. 

Saya: "Jadi apa yang terjadi mbak?"

K: "Jadi, tadi kan aku lagi main sama temen-temen aku. Terus aku bercanda ambil penggaris A gitu kan, tapi aku kembalikan kok bunda. Tapi A langsung pegang tangan aku gini (dia peragakan dengan tangan) terus tanganku di tindih pakai tangannya gini di meja. Sakit banget bunda. Tadi warnanya sampai biru gitu" katanya. 

S: "Ya ampun, sakit banget ya? Coba telapaknya diginiin, bisa nggak?" tanya saya sambil memperagakan buka tutup telapak tangan. 

K: "Bisa tapi masih sedikit sakit" katanya lagi. 

S: "Duh, kasihan kamu mbak. Nggak papa, yang penting sekarang udah nggak terlalu sakit ya?"

K: "Terus ada lagi bunda. Dia blaming aku mencuri penggarisnya gitu. Padahal kan udah aku balikin. Malah dia blaming aku mencuri." Tangisnya semakin deras, membuat saya ikut bersedih merasakan patah hatinya K dibilang pencuri. Duh, anakku yang halus hatinya... 

S: "I am sorry to hear that. Bunda tahu kamu nggak bakal mencuri kok. Dan kan sudah dikembalikan. It's okay. Jangan sedih lagi ya. Temen-temen kamu lihat nggak pas kejadian itu?" tanya saya. 

K: "Lihat. Terus WP yang temennya A aja, jadi males main sama A gitu." Katanya lagi. 

S: "Tuh kan, berarti kamu nggak usah sedih lagi. Karena temen kamu juga tahu kan kalau kamu anak baik, dan A berbuat tidak baik sama kamu. Nanti Tuhan yang kasih teguran sama dia ya." Kata saya. 

Akhirnya K berhenti menangis dan bisa tersenyum lagi. Meskipun mengalami hari yang panjang, melelahkan (Pelajaran Olahraga dan Ekskul Pramuka di hari yang sama), dan juga patah hati, K masih mau berangkat les. Sebagai hiburan, dia makan siang di salah satu restoran cepat saji yang terkenal dengan burger nya. Good Job K!

*** 

Tadi sore, K mengulangi kembali cerita sedihnya pada ayahnya. Dari suaranya, dia tidak lagi sesedih tadi siang, bisa menceritakan pengalamannya dengan tertawa-tawa. 

Sebelum tidur, seperti biasa dia minta dibacakan cerita dan berdoa bersama. Saat berdoa, sepertinya K kembali merasa kesal dan marah saat saya minta dia mengikuti kalimat saya setelah berdoa Bismika Allahumma Ahya Wabismika Wa'ammut. 

S: "..... Ya Allah, saya maafkan A... " hening... K tidak mau mengikuti saya. Saya ulang beberapa kali, K tetap tidak mau mengikuti saya. 

S: "K, kalau misalkan A minta maaf sama kamu, dan kamu memaafkan dia, point dia 1, point dia juga 1. Kalau A nggak minta maaf tapi kamu memaafkan, itu dia nggak dapet point, tapi kamu dapet point. Malaikat di pundak kanan kamu mencatat itu. Jadi nanti Tuhan mudah untuk memutuskan, konsekuensi apa yang layak A dapetin" 

K tetap tidak mau berdoa untuk memaafkan A. Akhirnya saya ganti kalimatnya,

S: "Ya Allah... Saya maafkan semua teman yang berbuat tidak baik pada saya hari ini. Semoga saya bisa tidur dengan hati yang lebih damai malam ini. Aamiin." K mengikuti doanya, dan Ia pun tidur. 

Saya mengerti perasaan K hari ini. Semoga besok, hari-hari di sekolahnya lebih lancar, ringan, dan menyenangkan untuknya. Aamiin. 

Saturday, July 23, 2022

Dilemma Twibbon

 Sebetulnya saya sudah lama ingin menuliskan kegelisahan saya akan hal ini, di sini. Tapi belum menemukan semangat yang cukup. Hari ini, saya ngobrol ngalor-ngidul bersama teman saya yang sedang merantau di salah satu pulau cantik di timur sana, hingga berujung pada topik yang satu ini. Mumpung masih ada semangatnya, jadi saya bagi sekalian di sini ya. 

Twibbon

Saat saya memasukkan kata "Twibbon adalah" di laman pencarian G****e, maka yang muncul paling atas adalah kalimat ini: 

Singkatnya, Twibbon adalah sebuah gambar yang bersifat overlay dan dapat dipasang pada foto profil akun sosial media, termasuk Twitter untuk menunjukkan dukungan terhadap sesuatu. Twibbon pastinya hadir dengan format PNG (Portable Network Graphic).

Saya sering juga menggunakan twibbon, untuk mendukung kegiatan-kegiatan tertentu. Desain nya lucu-lucu dan menarik. Membuat orang mudah menyukainya. 

Lalu, kenapa saya merasa dilemma dengan twibbon? 

Jawaban saya adalah karena twibbon menjadi salah satu ajang promosi sekolah yang (memang) bagus dan efisien, tetapi saya termasuk orang tua yang tidak ingin terlalu banyak berbagi mengenai tempat sekolah anak saya. Seperti kita tahu, sekali lihat twibbon, pasti langsung bisa diketahui di mana anak kita sekolah yekan?

Selama ini, saya membatasi (inginnya menghindari, tetapi kadang masih suka kelepasan) berbagi informasi mengenai sekolah anak saya di media-media online selain blog. Bahkan jika menampilkan foto saat anak saya menggunakan seragam khusus sekolahnya yang sangat mudah dikenali itu, saya biasanya mensensor dengan stiker. Hanya orang-orang yang memang sensitif dan mengenal baik motif seragam sekolah itu yang mengerti. Namun, jika bertemu muka, saya dengan senang hati berbagi informasi karena saya tidak bermaksud menyembunyikannya juga.

Ada beberapa alasan mengapa saya tidak ingin banyak berbagi mengenai tempat sekolah anak saya. Seperti yang hari ini saya bagi pada teman saya tadi.

Yang pertama adalah keamanan. Sebagaimana kita tahu semakin ke sini, ancaman kejahatan anak semakin beragam dan juga semakin parah. Beberapa artikel menyebutkan bahwa banyak orang jahat mulai mengancam di sekitaran sekolah anak. Dan dari artikel-artikel juga saya kemudian mengikuti paham untuk tidak terlalu vulgar membagi tempat sekolah anak. 

Alasan yang ke dua adalah karena saya terlalu banyak mikir. Mungkin kalau orang tua lain santai dengan hal ini, saya kurang bisa santai. Tapi tidak apa-apa, karena sepertinya paham saya ini tidak akan melukai orang lain juga. hehee. Saya berpikir bahwa bisa bersekolah, apalagi memilih sekolah seperti yang kita inginkan karena alasan A, B, C, dst adalah sebuah privilege. Privilege yang tidak semua orang punya. Saya yakin banyak orang di luar sana yang ingin bersekolah di sekolah pilihannya tetapi tidak bisa karena berbagai alasan. Bahkan mungkin banyak juga yang ingin bersekolah, tetapi tidak bisa karena banyak alasan. Jadi saya memilih untuk mensyukuri nikmat "anak bisa sekolah," titik, sampai di situ saja. 

Teman saya memberikan komentar mengenai alasan ke dua saya ini, begini: "Kamu beda banget sama orang tua yang anaknya les sama aku mbak. Anaknya sekolah di sekolah favorit, dan dia update terus gitu di medsos". Saya tertawa dan menjawab, "Itu adalah 1000% alasanku untuk melakukan sebaliknya. Dunia ini sudah terlalu sedih dengan iri, dengki, pamer kemewahan & previllege, dan juga pretending2 - an itu. Nggak usah nambah2i."

Alasan lainnya adalah karena saya ingin menghindari perasaan jumawa. Jika ada orang yang melihat atau membaca tempat anak saya, mungkin beberapa yang mengenal akan berkata "Wah, anakmu sekolah di situ ya". Ini beberapa kali terjadi. Dan mau tidak mau, sebagai manusia normal ada perasaan senang yang lebih dari sekedar senang biasa saat mendengarnya. Saat saya menjawab "Iya", mungkin ada berbagai intonasi di belakangnya. Saya tidak ingin lebih banyak mengalami hal itu. Karena semakin banyak saya merasa 'iya' dengan sedikit berbeda, ditambah sedikit lagi, dan lagi, lama-lama tanpa saya sadari saya akan menjadi jumawa. Saya takut juga, di saat saya menjadi jumawa, ada orang lain yang kemudian memiliki perasaan 'tidak nyaman'. You know what I mean... 

Sekolah anak saya bukan sekolah yang luar biasa, bukan sekolah yang mahal-mahal itu. Sekolah anak saya hanyalah sekolah yang saya lihat sudah sangat matang kurikulumnya. Melahirkan banyak alumni yang sering terdengar gaungnya. Saya harap anak saya bisa bertumbuh baik dan mengikuti jejak baik para alumninya, dengan membawa semangat cinta kasih yang ditanamkan oleh pendidiknya. Aamiin. Itu yang terpenting menurut saya. 

Jadiii... 

Saya memutuskan tidak menggunakan twibbon yang selalu dibagikan oleh para guru. Mohon maaf ya pak, bu. Saya selalu mempromosikan sekolah kita, tetapi dengan cara yang lain. :-)

Semoga anak-anak bisa segera mendapatkan kesempatan belajar, bermain, dan bertumbuh bersama dengan situasi yang seharusnya mereka jalani di usia sekolah dasar. Aamiin. 

Selamat Hari Anak Internasional, Nak!!!

Thursday, July 21, 2022

Mbak K, I need your opinion

Mungkin saya ini salah satu emak-emak yang lebay. Mas Bojo saya juga kadang melihat saya dengan pandangan aneh, seperti melihat makhluk luar angkasa. Tapi ya mau bagaimana, saya ya beginilah adanya... #eeeaaa 

Saya senang sekali memancing anak saya dengan obrolan, diskusi, dan hal-hal kecil yang memancing jawaban. Hal yang menurut Mas Bojo remah-remah receh, sehingga dia menganggap saya kurang kerjaan. Tapi kan yang penting anaknya senang, emaknya juga riang. 

Saya pernah cerita belum ya tentang pengalaman berkeliling naik motor bersama K, dengan obrolan dari Sabang sampai Merauke? Duh, kalau belum, sayang sekali. Saya suka obrolan kami saat itu, tetapi sudah tidak terlalu ingat persis detailnya. :-p 

 Kali ini saya cerita yang pendek saja ya. Biar nggak lupa dan berlalu begitu saja. 

Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu salah satu teman kami memberikan goodie bag dari ulang tahun cucunya. Sebagai emak-emak, tentunya jiwa ekonomisnya bekerja yekan. hahaha. Saya tanya teman yang lain: 

 Saya: "Sis, beliin kado buat cucunya Mbak ****** nggak?" 

 Dan berdasarkan obrolan kami yang demi menjaga privacy tidak perlu saya tulis ulang di sini, maka saya mengikut beliau saja. Tidak membelikan kado. 

 Tadi malam sebelum tidur, seperti biasa saya haha hihi dengan K dulu. Tiba-tiba saya iseng nanya: 

Saya : "Mbak K, I need your opinion" 
K : "About what?" 
Saya : "If someone give you goodie bag from their birthday, do you think we should give them gift? Even if it small gift?" 
K : ...Diam sejenak sebelum akhirnya menjawab "I think we should." 
Saya : "Why?" K : "Because like you always said, when people give you something, we should give things back to them. Specially because that is their birthday." 
Saya : "Point taken." 

 Rasanya saya sedikit meleleh tadi malam. Tidak menyangka rupanya si anak wedhok itu mengingat satu dari sekian juta haha hihi yang saya semburkan padanya. Dan Dia menggunakan hatinya untuk mengolah setiap informasi. Aaahhh Mbak K, I am sooo blessed to be your mother!!! 

Tetaplah memegang tegung kasih dan juga empathy mu di sepanjang langkahmu ya nak. Hanya itu yang bisa orang tuamu berikan sebagai bekal :-) 

Love, 
Bunda Yang Mudah Meleleh Hatinya

Sunday, June 12, 2022

Indonesia Master 2022

Ini adalah pengalaman pertama saya mendukung pemain-pemain hebat kita dalam cabang olah raga Bulutangkis di Istora Senayan. Juni 2022.

Jadi ceritanya, saya punya sebuah WA grup yang isinya hanya 3 orang. Saya, Fefi, dan Medi. WAG ini dulunya kami buat dengan tujuan mulia, untuk belajar bisnis. Fefi dan Saya adalah mamak-mamak yang kebanyakan maunya tapi kurang nganu nya, sedangkan Medi adalah mamak yang sudah banyak usahanya tapi nggak kalah banyak maunya. hahahahaa. Judul WAG nya adalah "Mo Usaha Apaaa".

Seiring berjalannya waktu, pembicaraan mengenai mau usaha apa selalu mentok dengan modal dan nyali yang tipis dari Saya dan Fefi. Mungkin Medi sudah mual juga mendengar pertanyaan retorik kami "Usaha apa ya?" hahahaha. 

Jadi ke sini- ke sini obrolan kami semakin random, bervariasi, dan melebar sana sini tergantung musim. WAG akan terasa Hurricane Ike saat menyinggung masalah Drama Korea, dan jeng jeng... Bulutangkis. Dua orang itu, kalau udah ngomongin dua hal itu bisa jadi 200 chat hanya dalam sekali hembusan nafas. hahahahha. Lebay ya saya, enggak emang bener. Yang namanya Medi? uuggghhh, kalau udah ngeluarin kitab nama-nama DraKor dan artisnya dalam nama asli dan nama di dramanya, sukses membuat saya kliyengan. Nggak paham. kekekeke

Saat break lebaran kemarin, saya mudik ke Yogya. You know lah yekan, kalau di Yogya itu saya lebih jarang membuka chat. Saat saya buka chat sudah ratusan dan ternyata mereka sudah membelikan tiket nonton #IndonesiaMaster2022 untuk #QuarterFinal . Jadi saya dengan senang hati ikut nonton, itung-itung jagain mereka kali-kali mereka nanti lupa diri kalau ketemu atlit idola. hahahaha. Saya selalu senang kalau di ajak nonton live. Musik, teater, olah raga. Suka pokoknya.

Dan ini adalah titik di mana saya mulai menyukai Bulutangkis. Saya mulai ingin mengenali pemainnya, mulai follow beberapa IG pemain yang sudah saya tonton, dan mulai nyambung dengan obrolan dua teman fanatik saya itu. Cerita lebih lanjut yang menyangkut detail, perasaan, dan lain-lainnya kapan-kapan saya bagi. Unggahan ini hanya untuk menyimpan foto-foto dulu agar tidak hilang, karena saya tidak nitip di medsos :-p





































Untuk Video, sepertinya harus di unggahan yang lain. Terlalu banyak yekaaan... :-p