Monday, April 13, 2015

Kehilangan Itu Tidak Harus Karena Kita Pernah Memiliki

Iya... Aku sedang merasa kehilangan.... Dan Aku merasa sedih...

Kemarin, Hari Minggu, aku melewatkan hari dengan pacaran sama mantan pacarku. Kami melakukan hal-hal yang dulu kami lakukan semasa pacaran. Cari-cari buku ke Toko Buku dan Nonton. Rasanya sudah lama sekali dari terakhir kali kami pacaran berdua seperti ini. Kami merasa masih muda. :-)

Kenapa aku sedih?
Karena apa yang kami tonton. Kami memutuskan untuk menonton Fast & Furious 7. Sebetulnya bukan hal yang luar biasa kalau aku atau kami nonton, kemudian terbawa suasana dengan film nya, merasa sedih, bahkan kadang menangis. Aku sering mengalami hal itu, apalagi kalau nonton film yang genre nya drama.

Tapi, ini beda.
Entah kenapa ketika nonton Fast & Furious 7 ini, aku tidak menangis. Tapiiii.... sedihnya bertahan lamaaa.... sekali. Merenungi flash back yang ditunjukkan oleh Dominic Toretto di scene terakhir, mendengarkan kata-katanya, entah kenapa ada yang mencelos di hatiku. Terkesan lebay, tapi memang benar.Sampai sekarang aku menuliskan review ini, aku menangis... Ouch Wilis.... Cemen kali kau...

Awalnya, aku berusaha mencari kalimat yang di ucapkan Dom di akhir cerita itu. Nanya mbak goog dan akhirnya buka Yusup. Malah ketemu ini... Tribut to Paul Walker... Lengkap dengan soundtrach yang syahdu tralala... Air mata mengucur dengan derasnya... Untung aku kerja sendirian di kamar. Jadi tidak ditertawakan oleh teteh... :-p




Entah kenapa rasanya sediiiih sekali melihat anak muda ganteng berprestasi dan baik hati meninggal dengan tragis ditengah karir nya yang sedang menanjak. Mungkin karena aku mengikuti film Fast & Furious dari awal, dan juga menontonnya berulang-ulang di TV kabel, sehingga perasaan kehilangan ini begitu nyata. Tatapan nya yang sendu, senyumnya yang simpul, dan bahasa tubuhnya yang menurutku macho dan memikat. Semakin menambah kesedihan yang sudah sedih ini.

Ok. Ternyata masih ada kesedihan lain. Seperti biasa, setelah berkali-kali memutar video diatas, aku meluncur ke original soundtrack nya. Duuh... siapa sih yang bikin lagu pelengkap sedih ini... hiks...hiks...hiks...


Soundtrack lagi ini memang dibuat khusus untuk Fast & Furious 7 untuk menggaruk-garuk hati agar semakin bleeding to death #lebay. Seeediiiihh....

Ternyata belum cukup penguras sedih pagi ini. Saat selesai menonton video klip soundtrack nya, rupanya tak sengaja videonya lanjut ke video wawancara semua personel Fast & Furious di salah satu setting filmnya. Di belakang rumah Dom yang kebun dan sering digunakan untuk barbeque nan itu lho... Menonton video ini, lebih-lebih lagi aku ikut mewek. Sudah seperti kehilangan sanak family saja ini rasanya. Padahal kenal juga enggak. Empathy? Mungkin....

Wawancara yang berjalan sangat akrab itu banyak membahas film nya sendiri, hubungan personal antar pemain, dan juga tentang Paul Walker. Vin Diesel terlihat sangat berat ketika harus berbicara tentang Paul, begitu juga yang lainnya. Pemeran Mia berkata bahwa adegan di tempat itu, dimana dia bersama dengan Paul menggendong Little Jack adalah moment sangat indah dan berkesan. Ketika pemeran Letticia di tanya tentang kesan-kesan terhadap Paul, dia juga tidak bisa menahan emotional nya dan menolak untuk bicara karena akan pecah tangis nantinya. Paul Walker will forever missed.


I used to say I live my life a quarter mile at a time
And I think that's why we were brothers
Because you did too...

No matter where you are, 
Whether it's a quarter mile away or half way across the world
The most important thing in life will always be the people in this room,
Right here, right now

Salute Mi Familia

You'll always be with me
And you'll always be my brother

#DominicToretto #Fast&Furious7 #TributToPaulWalker

oooohh.... so touching...

You will be surely forever missed Paul!

I will see you again and over again through your movies. Your spirit will always carries on...

Monday, April 6, 2015

Menjadi Orang Tua

Kalau aku sebutkan password itu di depan suamiku, dia pasti akan dengan cepat memajukan bibirnya dan menggumam... "jadi bapak itu gampang, jadi orang tua itu susah... blah...blah...blah...". Iya, dia sudah hafal betul dengan nyanyian merduku yang satu itu. Kalau sedang merasa kesal atau jengkel melihat tingkahnya yang aneh didepan anak kami, maka dengan merdu laguku itu akan kulantunkan...

Laugh and Laugh
Suamiku memang unik
Selama lebih kurang 10 tahun kebersamaan kami, mungkin bisa di hitung jari saat-saat dimana kami bertengkar hingga lebih dari 1 hari. Selebihnya, tidak akan bertahan lama. Dongkol didalam hati sih masih ada, tetapi amarah yang penuh dengan angkara murka membara hingga ingin rasanya mencabik-cabik mukanya sudah pasti hilang cepat. Bagaimana mungkin? Mungkin... Karena dia selalu bisa mencairkan suasana dengan kelakar lucu, ekspresi aneh, atau dengan diam nya yang ajaib. Mungkin sebetulnya dia terlahir dengan niatan menjadi salah satu anggota Ria Jenaka. But I just love the way he is. 

Apa hubungannya kejenakaan suamiku dengan kalimat Menjadi Orang Tua?
Seperti yang sudah aku sebutkan, nyanyian merdu itu akan selalu kulantunkan ketika melihat suamiku yang jenaka itu melakukan sesuatu yang "tidak-tidak" di depan anakku. Aku melihat anak perempuanku ini sangat mengidolakan suamiku, ayahnya. Segala sesuatu yang di lakukan ayahnya, yang di ajarkan ayahnya, sangat cepat dia ikuti dan tirukan.

Contohnya?
Pernah suatu malam kami bertiga sedang bercanda sebelum tidur. Anakku ingin minum susu dan minta pada ayahnya yang sedang memegangi susu kotak nya. Dia dengan sangat manisnya bilang "njam...njam...mimik...mimik...". Ayahnya dengan iseng dan maksud bercanda, menyembunyikan susu kotak itu di samping badannya sambil memasang tampang tidak boleh, sedikit melotot, dan lengkap dengan suara "hh...". Beberapa kali dia melakukan hal itu, yang aku terlambat menyadarinya.

Hasilnya?
Sampai dengan sekarang, kalau anakku sedang memegang sesuatu dan didekati orang (aku, ayahnya, tetehnya, saudaranya, temannya), dia akan langsung menyembunyikan sesuatu itu di samping badannya dan menunjukkan raut tidak boleh, lengkap dengan pelototan dan suara "hh..". #Duuuhhh....

Karenanya, setiap kali suamiku mulai bertingkah aneh didepan anak kami, atau memberikan contoh ajaib padanya, nyanyian burung wilis akan segera terdengar merdu :
"Ayah, jadi bapak itu gampang. Hamili anak orang, anaknya lahir, udah jadi bapak. Tapi jadi orang tua itu susah... Mesti ngajarin yang benar, nyontohin yang benar, menunjukkan yang benar... dan itu memang nggak gampang. Kita mau jadi orang tua yang baik kan untuk anak kita? bla... bla... bla..." kalau sudah sampai pada bagian intro, suamiku akan diam berlalu sambil cengar-cengir keluar kamar. Tinggal aku yang dongkol bin jengkel kuadrat @#$%^&*@#$%^&*

Mudah-mudahan kita selalu dimudahkan dalam usaha menjadi orang tua dari anak-anak kita. Aamiin.

Thursday, April 2, 2015

Hanya Tertawa Untuk Mereka

Kalau aku merasa bahagia, maka aku tertawa...
Ketika aku merasa geli, aku kadang tertawa...
Ketika aku melihat ketidak adilanpun, kadang aku tertawa...
Ketika aku melihat pembiaran, terkadang aku tertawa juga...
Ketika aku melihat ketidakpedulian, pun kadang aku masih tertawa...

Lahir, hidup, rejeki, jodoh, mati...
Adalah sesuatu yang pasti...
Hanya jarak dan waktu yang terkadang memisahkan diantaranya...
Kenapa harus menangisi sesuatu yang tidak lahir dan tidak terbawa mati bersama kita?
Tiada guna.. Itu saja jawabnya...

Mungkin saja beberapa hal bisa dipengaruhi oleh manusia,
Beberapa hal bisa didapat secara lebih oleh faktor tertentu
Tapi... Ya sudahlah...

Bahagia itu mudah...
Asal kita bisa menemukan sisi lain dari sebuah ketidakbahagiaan

Menjadi pemimpin mungkin memang tidak mudah, aku tak tahu
Tapi mungkin sedikit bisa dimulai dengan beraksilah seperti layaknya pemimpin
Agar para bawahan, bisa merasakan adanya pemimpin
Dan para bawahan bisa merasakan kepedulian seorang pemimpin

Ah...
Tapi apalah itu
Untaian kata indah dan kalimat yang mengalir mengaburkan yang samar
Semua terlihat..... mulus...

Tidak mengapa...
Sebagaimana manusia,
Kita hanya manusia...
Mencoba yang terbaik...
Siapa tahu mendapat yang terbaik...


Hi!!!
Life is beautiful
We must be happy wherever we are
No matter what... No matter how

Hahahhahaaa....
Don't take it too serious please
It's just a note, from an ordinary morning, from an ordinary mother, to them the extraordinary people around the world

Love live and laugh

Thursday, March 26, 2015

Rejeki Yang Barokah

Membaca judulnya, aku sendiri mengernyitkan dahi. Tumben rada bener :-p

Tapi bukan dalil, wejangan, khotbah, atau hal lain yang berhubungan dengan yang pinter2 itu yang ingin aku tuliskan. Karena memang aku tidak mengerti tentang semua itu.

Doa yang Spesific, konon lebih mudah dikabulkan
Gambar dari sini
Selama ini, karena kekurang mauanku membaca dan belajar ilmu agama, maka dasar sederhana saja yang aku gunakan untuk hidup. Masih belajar untuk jadi lebih baik juga ini... :-)

Untuk masalah rejeki dan kehidupan di dunia, sesederhana apa? Sesederhana ini aja :
1. Tidak memotong rejeki orang, Insya Allah rejeki kita akan selalu mengalir
2. Tidak berhenti mencari, Insya Allah pintu2 rejeki akan selalu terbuka.
3. Percaya selalu bahwa Rejeki sudah ada yang mengatur.
4. Percaya selalu bahwa Rejeki tidak akan tertukar
5. Tidak takabur
6. Tidak bangga pada apa yang kita bisa atau kita punya secara berlebihan
7. Berbaik2 pada saudara, teman, dan orang disekitar kita karena siapa tahu mereka adalah pembuka jalan rejeki kita.
8. Sering2 melihat kebawah dan sesekali melihat ke atas. Karena kedua hal itu bisa saling mendukung dan mengingatkan.

Kalau Ibu dan Bapak ku dulu sering berpesan padaku, agar tidak terlalu pusing dengan harta dunia. Dimana2 dunia sama, persaingan dan kebutuhan. Santai aja. Hidup cuma sementara, harta nggak akan dibawa mati. Tidak akan miskin kita dengan memberi. Kalau Bapak ku suka kadang malah ekstrim, memberi sebanyak2nya tanpa mengharap kembali. Kalau keluarganya mengingatkan, sabdanya akan keluar "memangnya yang aku kasih ke kalian masih kurang?" dan kami semua akan diam tertunduk, lirik2an, mesam-mesem sambil membatin "Ya nggak juga siiihh... tapi kan sayaaaang dikasih orang....." hahahahaha

Oh iya, satu lagi yang pernah disampaikan oleh suamiku dulu. Aku nggak ingat persis apa dan bagaimana kalimatnya, tapi intinya masih nyantol di hati. Cieee.... hati.... :-p

Menurut suamiku tercinta yang luar biasa, cara sederhana melihat dan menilai apakah harta kita berkah atau tidak bisa dengan melihat apakah harta yang kita dapat/kita punya awet (tidak mengalir seperti banjir weeeesssewesssseeweessss), bermanfaat, memberikan peningkatan pada kita (dari berbagai sisi pandang), atau mudah datang dan mudah pergi tanpa ada asap yang tertinggal alias blasssss begitu saja. Menurut dia, kalau kategori yang terakhir itu, tandanya rejeki kita nggak berkah sama sekali karena hanya memenuhi kepuasan pribadi saja, dan bahkan kadang kita pribadi masih belum puas padahal sudah tidak ada yang tersisa.

Aku sendiri pernah mengalami saat2 dimana memang yang namanya rejeki yang bentuknya uang itu, datang dan pergi tak ada bekas nya sama sekali. Tiba2 sudah tidak ada lagi uang ditangan. Ditambah lagi dengan setiap menginginkan barang bagus, menggebu2 ingin memiliki, akhirnya dipaksakan membeli/mencari, beberapa saat kemudian barangnya lenyap atau rusak. Patah hati aku. Saat2 itulah suami ku mengeluarkan rumus sederhananya itu. Alhamdulillah, aku yang tertampar keras dengan rumus sederhana nya itu, kemudian mulai belajar memperbaiki diri dan belajar lebih baik lagi.

Mudah2an kita semua senantiasa diberi kesempatan untuk mencari jalan rejeki yang berkah, mendapatkan rejeki yang berkah, dan dapat berbagi dengan rejeki yang berkah. Kita bisa asal kita mau. Jumlah bukanlah masalah.

Bismillah saja... Insya Allah sudah ada yang mengatur rejeki kita, tanpa harus kita kejar ke ujung dunia... ^_^

Wednesday, March 25, 2015

Aku Bingung

Iya, hari ini aku bingung...


B I N G U N G picture taken from here


Melihat sekelilingku yang membingungkan. Awalnya aku lihat semua adalah indah dan menyenangkan. Lalu masuklah aku kesebuah ruangan tempat semua titik2 kecil berkumpul. Dan mulailah kebingungan itu.

Ruang itu semestinya menjadi tempat berkumpul semua titik. Ruang untuk titik2 itu berinteraksi, saling menggesekkan diri kekanan dan kekiri agar tercapai keharmonisan dalam ruangan. Namun semakin kesini, sesuatu yang membingungkan semakin membuat aku bingung. Ada beberapa titik yang rupanya lebih besar daripada titik2 lainnya. Atau kalau aku perhatikan dengan seksama, ukurannya sama, hanya saja beberapa titik itu punya bayangan gelap yang cukup besar dibelakang mereka.

Titik2 besar ini rupanya menyenangi sesuatu yang juga membuat bingung. Mereka ini senang sekali mendorong titik2 yang lain. Terkadang mereka juga membenturkan titik2 yang lainnya. Seolah mereka adalah titik yang sempurna. Padahal kan mereka tetap saja sebuah titik.

Tapi...
Itulah...
Kebingungan karena adanya titik2 didalam satu ruang
Yang meskipun bingung, Aku akan tetap selalu berdekatan dengan titik2 itu, dan sesekali berjalan berkeliling ruang untuk menyegarkan mata dan kepala.
Kebingungan terkadang membuat hidup kita lebih hidup.
Kalau nggak bingung, kecenderungan jadi nggak mau belajar dan mencari tahu.

Salam Bingung,

Jayadewata 19


Monday, March 23, 2015

An Appetite For Reading

Beberapa akhir pekan yang lalu, kami (aku, suami, dan anak) menikmati akhir pekan di sebuah pusat perbelanjaan berinisial B O K E R. Rencananya kami hanya akan berada disana sampai tengah hari, dan kemudian lanjut ke pameran produk organik di depan Kampus yang terletak disebelahnya. Namun rupanya rencana tinggalah rencana. Kami terjebak hujan deras dan akhirnya harus nge-tem di sana sampai sore, tidak beranjak kemana2. Eh salah dink, kami beranjak dari satu kafe ke kafe yang lainnya... #iiyyuuuhhhh

Salah satu kegiatan yang kami lakukan adalah mengunjungi toko buku dilantai dasar. Beberapa buku akhirnya kami bawa pulang diantaranya buku dongeng nusantara dan novel Gelombang nya Dee Lestari. Oh iya, Kiraniul menggandeng Bontal dan tidak mau dilepas sampai rumah, namanya Moopie. Oh Kiraniul, tanganmu cekatan sekali mengambil benda lucu nak... :-p

Kegiatan yang lainnya sangat menarik dan menyenangkan, tetapi bukan itu yang ingin ku tuliskan. Aku lebih tertarik untuk menuliskan kisahku dan Gelombang.

Book should be above a gadget, not the other way
Picture taken from here
Sebetulnya, sudah lama sekali aku merasa pengen meng-koleksi buku karya Dee Lestari. Namun sampai saat ini, baru 2 buku yang nangkring di perpustakaan mini tak berbentuk ku, yaitu Perahu Kertas dan Gelombang. Buku yang pertama mengandung sejuta cerita yang mengikutinya. Ingat buku Perahu Kertas, aku jadi ingat satu blog ku yang mungkin keberadaan nya sudah di hilangkan oleh system karena tak pernah lagi kukunjungi. Kisah yang sudah selesai dengan kata 'The End' sempurna. Mudah2an semua pemeran yang tersebut didalamnya, berbahagia dimanapun kalian berada :-)

Buku yang kedua - Gelombang.

Sebetulnya bukan karena alasan -pengen meng koleksi buku Dee- itu yang menjadi alasanku membeli buku itu, waktu itu. Lebih karena aku masih kurang yakin dengan Appetite ku untuk membaca. Tahu sendiri bagaimana I Am Malala sudah menguning tanpa tersentuh, atau Kindle yang sudah di charge ulang baterainya tanpa terbaca sebarispun e book nya. Di situ kadang saya merasa sedih...

Karena itu aku hanya melakukan pemilihan acak pada tumpukan buku yang menggiurkan di toko buku itu. Memilih buku yang sekiranya tidak menuntutku berpikir keras (dengan enggres2an) atau buku yang bisa menyeretku pada ketidakingatan waktu (fiksi cantik dan petualangan seru macam twilight gitu).

Gelombang terpilih begitu saja.

Seperti yang sudah ku duga, nafsu membacaku masih kurang bisa dibangkitkan. Rindu rasanya saat2 dimana dalam seminggu satu novel ber Bahasa Indonesia terselesaikan, atau dalam satu bulan satu novel ber Bahasa Inggris terbaca tuntas. Sekarang ini, novel hanya tersentuh jika aku melakukan ritual harian di kamar mandi (buang h*j*t). Sedih... Sedih sekali...

Tapii....

Rupanya buku Gelombang ini sedikit berbeda. Mungkin tak lepas dari kepiawaian Dee dalam membawa hanyut semua pembacanya kedalam cerita petualangan Ichon. Entahlah... Yang jelas, melalui buku ini, timbul kembali keinginan kuatku untuk membaca. Muncul lagi kegiatan membaca sebelum tidur, membaca ketika istirahat kerja, membaca ketika tidak ada lagi yang bisa dikerjakan, dan yang pasti masih ada ya membaca ketika ber ritual di kamar mandi. Selain membaca pada saat yang disebutkan terakhir itu, adalah prestasi yang menurutku perlu dirayakan dengan secangkir kopi nikmat. Karena hal2 itu rasanya sudah lamaaaaa sekali tidak aku lakukan. Tidak ada keinginan yang begitu besar yang bisa mengalahkan Faceb**k, Inst***am, ataupun games Plant and Zombie 2 dari HP suamiku.

Tapi setelah ada Gelombang di perpustakaan miniku, kegiatan2 itu kembali ada.  My Appetite for reading is back!!! Satu hal yang tidak kutuliskan dalam barisan Resolusi 2015 justru muncul dengan sendirinya. Mudah2an ini bertahan dan bertambah. I really want it to be come true... Memelihara nafsu untuk membaca sungguh sangat tidak mudah bagiku. Namun aku tahu bahwa aku tidak sendirian. Teman baikku pernah memposting sebuah link yang membuktikan hal itu. Banyak orang di belahan bumi lain juga mengalami hal yang sama. Mudah2an semua kembali menemukan Their Appetite for Reading as soon as possible. Karena untuk orang yang (dulunya) suka membaca, kehilangan nafsu untuk membaca adalah salah satu siksaan yang belum ada rumus penawarnya.

Happy Reading Folks!


Friday, March 13, 2015

Klinik Tumbuh Kembang Anak

Kali ini, ceritaku akan panjang tapi miskin gambar. Karena anak sakit, maka nafsu photo sana photo sini jadi hilang. Nggak ada gairah. Biarlah... Sekedar cerita untuk hari ini... :-)

******

Gambar Tumbuh Kembang Manusia dari Sini
Hari ini aku mengunjungi rumah sakit ibu dan anak di Bogor. Rumah sakit yang sama dengan tempat aku dulu konsultasi ketika hamil Kirania. Bedanya, kali ini aku kesana untuk memeriksakan Ndoro putri yang lagi nggak enak body. Hiks... sedih... Sudah seminggu lebih ditahan2 dirumah karena sepertinya penyakit biasa yang diderita anak2, tetapi pertahanan runtuh ketika tiba waktunya mandi. Melihat badannya yang mungil semakin tipis dan tulang2 mulai menonjol.... Tiddaaaaakkkkk....

Akhirnya ego ibu2 kekinian (halah...) yang selalu berusaha menghindari dokter dan obat dikesampingkan sementara. Pagi ini aku menelpon ke rumah sakit itu dan menanyakan perihal dokter anak yang available hari ini.

Aku (A) : Mbak, mau nanya boleh ya. Kalau Dokter Anak yang praktek hari ini siapa saja ya?
Mbak Resepsionis (MR) : Hari ini untuk kelas reguler ada dokter ini... ini... dan ini bu. Sedangkan kelas executive ada dokter ini, ini, dan ini...
A: Bedanya apa ya kelas reguler dan executive?
MR: Kalau reguler itu semua aktivitas mulai dari pendaftaran, timbang ukur, konsul dokter, dan ambil obat di lantai 1 bu... Sedangkan untuk executive di lantai 5 semuanya...
A: Apalagi bedanya mbak?
MR: Bedanya di biaya konsultasi dokternya juga bu. Untuk di executive sekian...
A: Tadi ada dokter siapa aja di executive mbak?
MR: Ada dokter ini... ini... dan ini...
A: Kalau dokter itu sudah berapa yang mendaftar?
MR: Sejauh ini sudah 10 orang bu... Tapi karena dokternya selalu ontime, jadi siapa yang datang duluan bisa dilayani....
A: ok kalau gitu saya daftar untuk dokter itu deh mbak. Nomer 11 ya? Mulai praktek jam berapa ya mbak?
MR: jam 8 bu... (Aku melihat jam sudah menunjukkan jam 7)
A: ok mbak. Makasih banyak ya...
MR: sama2 bu...

Aku pun menyampaikan hasil booking tempat kepada suami. Dokter itu adalah dokter yang dulu sempat aku nyatakan iyyyuuuhhh banget kalau harus ngantri berjam2 demi konsultasi standar. Kenapa? karena dulu setiap aku konsultasi hamil, pasien dokter itu selalu memenuhi ruang tunggu. Katanya ada yang sampai berjam-jam menunggu demi konsultasi ke dokter itu. Tetanggaku di kontrakan dulu adalah salah satunya. Wuidiiihh... Kayaknya dokter itu luar biasa sekali pelayanannya sampai orang rela duduk manis semanis madu di rumah sakit untuk menunggunya.

Karenanya, mendengar aku bisa dapat antrian 11 untuk dokter itu, aku merasa tertarik dan penasaran ingin mencoba. Seluarbiasa apa ini Pak Dokter. Suamikupun setuju. Karena dulu dia juga sama penasaran nya sama aku. Kami kan memang suka sekali penasaran berjama'ah. hehehehe

Maka secepat kilat kami mandi dan bergegas ke rumah sakit. Bayanganku kalau antrian nya sama seperti dulu, antrian 11 bisa jadi jam berapa tuh masuknya... takuuuuutttt....

Sesampai di rumah sakit, rupanya yang namanya executive memang executive. Terletak di lantai 5 yang jauh dari berisik. Lebih adem karena ruangannya tertutup pintu kaca semua dan AC menyala selalu. Kursi juga lebih empuk. Koran. Dan yang paling aku suka, kita dapet kupon snack donk. heheheee... Bisa pesan minum dua dan kue satu. Horeeeee... Lumayan untuk ganjel mata yang mulai melek jam 1 dan belum terpejam lagi karena banyak lemburan. Kopi... kopi... kopinya mana??? :-p

Dari segi pelayanan sih sebetulnya tidak jauh berbeda. Suster dan petugas receptionist cashier nya ramah2. Dan berita bahagianya adalah nama Kiraniul Asmarantul dipanggil nomer 2. Wah, nikmat yang mana lagi yang bisa kita dustakan? Masuk lah aku dan Kiraniul ke ruang dokter dan langsung disusul dengan nada tinggi tangisan Kiraniul. Takut dia masuk keruangan kecil berisi dengan orang asing. Maklum, jarang ketemu orang lain. Biasanya ketemunya cuma Bunda, Ayah, Teteh dan Mpus... :-p

Konsultasi berjalan seperti biasa. Dikasih tau ini itu, nanya ini itu, periksa ini itu, konsultasi tambahan tentang imunisasi, nanya ini itu lagi, and done. Selesai. 15 menit mungkin kami berada di dalam ruangan dokter itu. Kiraniul pun tersedu sedan sesenggukan sepanjang konsultasi. Kamipun berjalan keluar menuju our man yang nyantai sambil baca koran. Emangnya Hotel pak? :-p

Agenda selanjutnya adalah menebus obat. Resep dari dokternya WOW sekali banyaknya... Tulisannya panjang maksudnya. Jumlah obatnya sih nggak tau berapa, belum ketahuan. Rupanya untuk yang executive ini, penebusan obat dilakukan di receptionist cashier situ aja. Kita tinggal duduk menunggu. Tapiiiii.... ternyata justru menunggu obatnya yang lamaaaaaa sekali. Mungkin itulah gunanya sofa empuk, koran, dan snack. Untuk menjamu pasien dan keluarga agar tidak terlalu jemu menunggu. ppffiiuuuhh...

Review tentang dokter nya? Hhhmm... Enak sih dokternya... ramah, mau menjawab pertanyaan2 kita dengan jelas, tapi aku belum menemukan kelebihan yang luar biasa dibandingkan dengan dokter yang satunya lagi yang pernah kami kunjungi. Dua-duanya recommended secara biasa. Kalau menurut rumor sih, dokter yang ini adalah dokter anak yang punya specialisasi bidang apa gitu (entah jantung atau penyakit dalam lainnya). Jadi mungkin kalau yang mengidap penyakit terkait dan membutuhkan konsultasi lebih banyak, wacana2 lebih banyak, dan pelayanan dari dia lebih banyak, mungkin mereka yang banyak merasakan keluarbiasaan dokter ini. Kalau yang keluhan nya standar2 aja, ya mungkin tidak perlu berlama2 konsultasinya. Mudah2an aku tidak perlu konsultasi lama2 dengan beliau, yang menjadi pertanda bahwa kami sehat wal 'afiat. Aamiin.

Sambil menunggu obat disiapkan, aku mengajak Kiraniul berjalan2 melihat sekeliling di lantai itu. Rupanya dilantai itu juga tempatnya Klinik Tumbuh Kembang Anak. Klinik yang dulu namanya sempat menghantuiku ketika Kiraniul tak kunjung duduk. :-p

Suasana di Klinik TumBang Anak itu sangat  children friendly dengan aneka gambar, kursi warna-warni, dan receptionist yang berbentuk Bus. Kiraniul betah sekali bermain diarea ini. Terlebih lagi karena banyak anak2 yang usianya lebih besar dari Kiraniul, sehingga dia senang mengamati mereka.

Aku sempat berbincang dengan beberapa ibu yang ada disana, yang ternyata sedang mengantar anaknya terapi wicara. Ada satu anak yang sedang terapi wicara karena sampai dengan usia 5 tahun, dia masih belum terlalu lancar bicara. Ada satu anak berusia 3 tahun yang belum bisa beraktivitas seperti seharusnya karena ketika dia berusia 4 bulan, dia mengalami kejang demam dan tidak segera ditangani dengan baik oleh rumah sakit tempat mereka periksa. Ada satu anak yang berusia 2,5 tahun yang sedang terapi wicara karena menurut ibunya si anak belum menguasai sekitar 50 kata dan cenderung malas berkata2, lebih senang menggunakan bahasa tubuh/isyarat.

Ada kejadian yang kurang menyenangkan yang dialami oleh ibu dan anak yang berumur 5 tahun. Si ibu yang memperhatikan anaknya di terapi didalam sebuah ruangan, melihat anaknya diperlakukan kasar oleh terapistnya. Spontan si ibu membuka pintu dan menegur terapistnya "eh, kenapa anak saya didorong2 sampai jatuh gitu?" kemudian si Ibu menutup pintu kembali. Beberapa menit kemudian, rupanya kejadian serupa terulang, dan si Ibu tidak bisa menahan diri. Dia langsung meminta anaknya keluar dan bersiap2 pulang. Aku melihat si Ibu merasa sangat sedih dan tertekan. Mungkin dia tidak terima si terapist memperlakukan anaknya dengan kasar didepan matanya. Aku tidak tahu seberapa kasar si terapist memperlakukan anaknya, atau memang begitukah seharusnya terapist menerapi si anak, atau faktor lainnya. Yang jelas, aku merasa empati dan iba pada si Ibu. Aku bisa merasakan rasa sedih yang dia rasakan, ketika dia datang ke Klinik TumBang dengan harapan besar agar anaknya bisa dibantu agar semakin lancar bicara, namun pada pelaksanaannya justru melihat anaknya perlakukan kasar oleh si terapist. Pasti sedih sekali.

Si Ibu pun memutuskan untuk membawa anaknya pulang. Kami sempat berpapasan di depan lift, bersama dengan ibu yang anaknya berumur 3 tahun yang aku sebutkan tadi. Kami sama2 menyemangati Ibu dan Anak itu agar tidak menyerah dan sabar. Si ibu anak 3 tahun memberikan saran untuk berpindah terapist dan menyebutkan sebuah nama karena dia punya pengalaman yang baik dengan terapist itu. Aku hanya bisa menghibur dengan mengatakan "Sabar ya bu... Semangat ya kakak... Nanti pulang kerumah belajar sama bunda, nanti pasti jadi lancar bicaranya yaa....".

Ibu anak yang umurnya 3 tahun itu akhirnya berjalan masuk ke klinik TumBang bersama denganku. Kami berbincang sesaat sambil beliau menceritakan kondisi anaknya. Akhirnya didalam kami bertemu dengan anaknya. Gadis cantik yang dipakaikan kerudung, berusia 3 tahun, tapi masih belum bisa duduk sendiri, dipangku neneknya. Ya Allah, mudah2an terapinya berhasil dan dia segera bisa tumbuh dan beraktivitas secara normal kembali. Pandanganku bergeser ke sebelahnya, tempat entah ayah atau kakeknya. Toeengg.... Rupanya artis sinetron senior laki2, tapi aku lupa namanya. hehehe

Kiraniul minta untuk duduk didekat cashier yang bentuknya seperti bus. Dia asyik menunjuk2 dan aku menyebutkan benda yang ditunjuknya. Dan disebelahku ada ibu yang anaknya berumu 2.5 tahun dan sedang diterapi. Dari si ibu itu aku tahu kalau anaknya sepertinya malas bicara dan lebih senang menggunakan bahasa tubuh/isyarat untuk menyampaikan sesuatu. Mudah2an terapinya segera berhasil dan si kakak bisa berbicara dengan riang. :-)

Melihat kondisi Klinik ini, membuat hatiku terenyuh... Anak-anak yang lahir tanpa meminta, anak-anak yang dicurahi kasih sayang, doa, harapan, dan mungkin materi oleh keluarga tercintanya, namun mereka harus menjalani tahapan terapi agar bisa beraktivitas seperti anak2 yang lainnya. Ibu yang selalu berdoa dan menjaga agar janin di kandungan selama 9 bulan sehat, tumbuh optimal dan sempurna, yang selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka, harus melihat anaknya di terapi oleh terapist, yang kadang mungkin ketemu terapi yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Ayah yang selalu berjuang sekuat tenaga agar anak dan istrinya mendapatkan yang terbaik, selalu berdoa agar keluarganya diberikan berkah dan keselamatan, bekerja membanting tulang agar keluarga tidak kekurangan, harus menjadi pundak yang kuat untuk istrinya bersandar ketika bersedih melihat kondisi anak mereka. Harus menjadi pendorong semangat dan penguat hati, sekaligus menjadi pengambil keputusan yang terdepan. Wajah-wajah mereka semua, membuat aku sangat sangat sangat dan sangat bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan padaku sekarang ini. Mudah2an kami semua selalu diberikan kesehatan dan rizki yang berkah, dan semoga mereka semua yang ada diruangan itu juga selalu mendapatkan yang terbaik dari yang baik. Aamiin.

Selain Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan, mungkin pepatah ini juga sangat sesuai untuk menyadarkan diri:

Boleh sesekali melihat ke atas agar kita bisa lebih bersemangat menjalani hidup. Tapi ingatlah bahwa sering-sering lah kita melihat ke bawah agar kita tidak lupa caranya bersyukur dan berempati pada saudara sesama manusia.

Selamat Berakhir Pekan Temans....!