******
![]() |
| Gambar Tumbuh Kembang Manusia dari Sini |
Akhirnya ego ibu2 kekinian (halah...) yang selalu berusaha menghindari dokter dan obat dikesampingkan sementara. Pagi ini aku menelpon ke rumah sakit itu dan menanyakan perihal dokter anak yang available hari ini.
Aku (A) : Mbak, mau nanya boleh ya. Kalau Dokter Anak yang praktek hari ini siapa saja ya?
Mbak Resepsionis (MR) : Hari ini untuk kelas reguler ada dokter ini... ini... dan ini bu. Sedangkan kelas executive ada dokter ini, ini, dan ini...
A: Bedanya apa ya kelas reguler dan executive?
MR: Kalau reguler itu semua aktivitas mulai dari pendaftaran, timbang ukur, konsul dokter, dan ambil obat di lantai 1 bu... Sedangkan untuk executive di lantai 5 semuanya...
A: Apalagi bedanya mbak?
MR: Bedanya di biaya konsultasi dokternya juga bu. Untuk di executive sekian...
A: Tadi ada dokter siapa aja di executive mbak?
MR: Ada dokter ini... ini... dan ini...
A: Kalau dokter itu sudah berapa yang mendaftar?
MR: Sejauh ini sudah 10 orang bu... Tapi karena dokternya selalu ontime, jadi siapa yang datang duluan bisa dilayani....
A: ok kalau gitu saya daftar untuk dokter itu deh mbak. Nomer 11 ya? Mulai praktek jam berapa ya mbak?
MR: jam 8 bu... (Aku melihat jam sudah menunjukkan jam 7)
A: ok mbak. Makasih banyak ya...
MR: sama2 bu...
Aku pun menyampaikan hasil booking tempat kepada suami. Dokter itu adalah dokter yang dulu sempat aku nyatakan iyyyuuuhhh banget kalau harus ngantri berjam2 demi konsultasi standar. Kenapa? karena dulu setiap aku konsultasi hamil, pasien dokter itu selalu memenuhi ruang tunggu. Katanya ada yang sampai berjam-jam menunggu demi konsultasi ke dokter itu. Tetanggaku di kontrakan dulu adalah salah satunya. Wuidiiihh... Kayaknya dokter itu luar biasa sekali pelayanannya sampai orang rela duduk manis semanis madu di rumah sakit untuk menunggunya.
Karenanya, mendengar aku bisa dapat antrian 11 untuk dokter itu, aku merasa tertarik dan penasaran ingin mencoba. Seluarbiasa apa ini Pak Dokter. Suamikupun setuju. Karena dulu dia juga sama penasaran nya sama aku. Kami kan memang suka sekali penasaran berjama'ah. hehehehe
Maka secepat kilat kami mandi dan bergegas ke rumah sakit. Bayanganku kalau antrian nya sama seperti dulu, antrian 11 bisa jadi jam berapa tuh masuknya... takuuuuutttt....
Sesampai di rumah sakit, rupanya yang namanya executive memang executive. Terletak di lantai 5 yang jauh dari berisik. Lebih adem karena ruangannya tertutup pintu kaca semua dan AC menyala selalu. Kursi juga lebih empuk. Koran. Dan yang paling aku suka, kita dapet kupon snack donk. heheheee... Bisa pesan minum dua dan kue satu. Horeeeee... Lumayan untuk ganjel mata yang mulai melek jam 1 dan belum terpejam lagi karena banyak lemburan. Kopi... kopi... kopinya mana??? :-p
Dari segi pelayanan sih sebetulnya tidak jauh berbeda. Suster dan petugas receptionist cashier nya ramah2. Dan berita bahagianya adalah nama Kiraniul Asmarantul dipanggil nomer 2. Wah, nikmat yang mana lagi yang bisa kita dustakan? Masuk lah aku dan Kiraniul ke ruang dokter dan langsung disusul dengan nada tinggi tangisan Kiraniul. Takut dia masuk keruangan kecil berisi dengan orang asing. Maklum, jarang ketemu orang lain. Biasanya ketemunya cuma Bunda, Ayah, Teteh dan Mpus... :-p
Konsultasi berjalan seperti biasa. Dikasih tau ini itu, nanya ini itu, periksa ini itu, konsultasi tambahan tentang imunisasi, nanya ini itu lagi, and done. Selesai. 15 menit mungkin kami berada di dalam ruangan dokter itu. Kiraniul pun tersedu sedan sesenggukan sepanjang konsultasi. Kamipun berjalan keluar menuju our man yang nyantai sambil baca koran. Emangnya Hotel pak? :-p
Agenda selanjutnya adalah menebus obat. Resep dari dokternya WOW sekali banyaknya... Tulisannya panjang maksudnya. Jumlah obatnya sih nggak tau berapa, belum ketahuan. Rupanya untuk yang executive ini, penebusan obat dilakukan di receptionist cashier situ aja. Kita tinggal duduk menunggu. Tapiiiii.... ternyata justru menunggu obatnya yang lamaaaaaa sekali. Mungkin itulah gunanya sofa empuk, koran, dan snack. Untuk menjamu pasien dan keluarga agar tidak terlalu jemu menunggu. ppffiiuuuhh...
Review tentang dokter nya? Hhhmm... Enak sih dokternya... ramah, mau menjawab pertanyaan2 kita dengan jelas, tapi aku belum menemukan kelebihan yang luar biasa dibandingkan dengan dokter yang satunya lagi yang pernah kami kunjungi. Dua-duanya recommended secara biasa. Kalau menurut rumor sih, dokter yang ini adalah dokter anak yang punya specialisasi bidang apa gitu (entah jantung atau penyakit dalam lainnya). Jadi mungkin kalau yang mengidap penyakit terkait dan membutuhkan konsultasi lebih banyak, wacana2 lebih banyak, dan pelayanan dari dia lebih banyak, mungkin mereka yang banyak merasakan keluarbiasaan dokter ini. Kalau yang keluhan nya standar2 aja, ya mungkin tidak perlu berlama2 konsultasinya. Mudah2an aku tidak perlu konsultasi lama2 dengan beliau, yang menjadi pertanda bahwa kami sehat wal 'afiat. Aamiin.
Sambil menunggu obat disiapkan, aku mengajak Kiraniul berjalan2 melihat sekeliling di lantai itu. Rupanya dilantai itu juga tempatnya Klinik Tumbuh Kembang Anak. Klinik yang dulu namanya sempat menghantuiku ketika Kiraniul tak kunjung duduk. :-p
Suasana di Klinik TumBang Anak itu sangat children friendly dengan aneka gambar, kursi warna-warni, dan receptionist yang berbentuk Bus. Kiraniul betah sekali bermain diarea ini. Terlebih lagi karena banyak anak2 yang usianya lebih besar dari Kiraniul, sehingga dia senang mengamati mereka.
Aku sempat berbincang dengan beberapa ibu yang ada disana, yang ternyata sedang mengantar anaknya terapi wicara. Ada satu anak yang sedang terapi wicara karena sampai dengan usia 5 tahun, dia masih belum terlalu lancar bicara. Ada satu anak berusia 3 tahun yang belum bisa beraktivitas seperti seharusnya karena ketika dia berusia 4 bulan, dia mengalami kejang demam dan tidak segera ditangani dengan baik oleh rumah sakit tempat mereka periksa. Ada satu anak yang berusia 2,5 tahun yang sedang terapi wicara karena menurut ibunya si anak belum menguasai sekitar 50 kata dan cenderung malas berkata2, lebih senang menggunakan bahasa tubuh/isyarat.
Ada kejadian yang kurang menyenangkan yang dialami oleh ibu dan anak yang berumur 5 tahun. Si ibu yang memperhatikan anaknya di terapi didalam sebuah ruangan, melihat anaknya diperlakukan kasar oleh terapistnya. Spontan si ibu membuka pintu dan menegur terapistnya "eh, kenapa anak saya didorong2 sampai jatuh gitu?" kemudian si Ibu menutup pintu kembali. Beberapa menit kemudian, rupanya kejadian serupa terulang, dan si Ibu tidak bisa menahan diri. Dia langsung meminta anaknya keluar dan bersiap2 pulang. Aku melihat si Ibu merasa sangat sedih dan tertekan. Mungkin dia tidak terima si terapist memperlakukan anaknya dengan kasar didepan matanya. Aku tidak tahu seberapa kasar si terapist memperlakukan anaknya, atau memang begitukah seharusnya terapist menerapi si anak, atau faktor lainnya. Yang jelas, aku merasa empati dan iba pada si Ibu. Aku bisa merasakan rasa sedih yang dia rasakan, ketika dia datang ke Klinik TumBang dengan harapan besar agar anaknya bisa dibantu agar semakin lancar bicara, namun pada pelaksanaannya justru melihat anaknya perlakukan kasar oleh si terapist. Pasti sedih sekali.
Si Ibu pun memutuskan untuk membawa anaknya pulang. Kami sempat berpapasan di depan lift, bersama dengan ibu yang anaknya berumur 3 tahun yang aku sebutkan tadi. Kami sama2 menyemangati Ibu dan Anak itu agar tidak menyerah dan sabar. Si ibu anak 3 tahun memberikan saran untuk berpindah terapist dan menyebutkan sebuah nama karena dia punya pengalaman yang baik dengan terapist itu. Aku hanya bisa menghibur dengan mengatakan "Sabar ya bu... Semangat ya kakak... Nanti pulang kerumah belajar sama bunda, nanti pasti jadi lancar bicaranya yaa....".
Ibu anak yang umurnya 3 tahun itu akhirnya berjalan masuk ke klinik TumBang bersama denganku. Kami berbincang sesaat sambil beliau menceritakan kondisi anaknya. Akhirnya didalam kami bertemu dengan anaknya. Gadis cantik yang dipakaikan kerudung, berusia 3 tahun, tapi masih belum bisa duduk sendiri, dipangku neneknya. Ya Allah, mudah2an terapinya berhasil dan dia segera bisa tumbuh dan beraktivitas secara normal kembali. Pandanganku bergeser ke sebelahnya, tempat entah ayah atau kakeknya. Toeengg.... Rupanya artis sinetron senior laki2, tapi aku lupa namanya. hehehe
Kiraniul minta untuk duduk didekat cashier yang bentuknya seperti bus. Dia asyik menunjuk2 dan aku menyebutkan benda yang ditunjuknya. Dan disebelahku ada ibu yang anaknya berumu 2.5 tahun dan sedang diterapi. Dari si ibu itu aku tahu kalau anaknya sepertinya malas bicara dan lebih senang menggunakan bahasa tubuh/isyarat untuk menyampaikan sesuatu. Mudah2an terapinya segera berhasil dan si kakak bisa berbicara dengan riang. :-)
Melihat kondisi Klinik ini, membuat hatiku terenyuh... Anak-anak yang lahir tanpa meminta, anak-anak yang dicurahi kasih sayang, doa, harapan, dan mungkin materi oleh keluarga tercintanya, namun mereka harus menjalani tahapan terapi agar bisa beraktivitas seperti anak2 yang lainnya. Ibu yang selalu berdoa dan menjaga agar janin di kandungan selama 9 bulan sehat, tumbuh optimal dan sempurna, yang selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka, harus melihat anaknya di terapi oleh terapist, yang kadang mungkin ketemu terapi yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Ayah yang selalu berjuang sekuat tenaga agar anak dan istrinya mendapatkan yang terbaik, selalu berdoa agar keluarganya diberikan berkah dan keselamatan, bekerja membanting tulang agar keluarga tidak kekurangan, harus menjadi pundak yang kuat untuk istrinya bersandar ketika bersedih melihat kondisi anak mereka. Harus menjadi pendorong semangat dan penguat hati, sekaligus menjadi pengambil keputusan yang terdepan. Wajah-wajah mereka semua, membuat aku sangat sangat sangat dan sangat bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan padaku sekarang ini. Mudah2an kami semua selalu diberikan kesehatan dan rizki yang berkah, dan semoga mereka semua yang ada diruangan itu juga selalu mendapatkan yang terbaik dari yang baik. Aamiin.
Selain Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan, mungkin pepatah ini juga sangat sesuai untuk menyadarkan diri:
Boleh sesekali melihat ke atas agar kita bisa lebih bersemangat menjalani hidup. Tapi ingatlah bahwa sering-sering lah kita melihat ke bawah agar kita tidak lupa caranya bersyukur dan berempati pada saudara sesama manusia.
Selamat Berakhir Pekan Temans....!


No comments:
Post a Comment