Thursday, March 26, 2015

Rejeki Yang Barokah

Membaca judulnya, aku sendiri mengernyitkan dahi. Tumben rada bener :-p

Tapi bukan dalil, wejangan, khotbah, atau hal lain yang berhubungan dengan yang pinter2 itu yang ingin aku tuliskan. Karena memang aku tidak mengerti tentang semua itu.

Doa yang Spesific, konon lebih mudah dikabulkan
Gambar dari sini
Selama ini, karena kekurang mauanku membaca dan belajar ilmu agama, maka dasar sederhana saja yang aku gunakan untuk hidup. Masih belajar untuk jadi lebih baik juga ini... :-)

Untuk masalah rejeki dan kehidupan di dunia, sesederhana apa? Sesederhana ini aja :
1. Tidak memotong rejeki orang, Insya Allah rejeki kita akan selalu mengalir
2. Tidak berhenti mencari, Insya Allah pintu2 rejeki akan selalu terbuka.
3. Percaya selalu bahwa Rejeki sudah ada yang mengatur.
4. Percaya selalu bahwa Rejeki tidak akan tertukar
5. Tidak takabur
6. Tidak bangga pada apa yang kita bisa atau kita punya secara berlebihan
7. Berbaik2 pada saudara, teman, dan orang disekitar kita karena siapa tahu mereka adalah pembuka jalan rejeki kita.
8. Sering2 melihat kebawah dan sesekali melihat ke atas. Karena kedua hal itu bisa saling mendukung dan mengingatkan.

Kalau Ibu dan Bapak ku dulu sering berpesan padaku, agar tidak terlalu pusing dengan harta dunia. Dimana2 dunia sama, persaingan dan kebutuhan. Santai aja. Hidup cuma sementara, harta nggak akan dibawa mati. Tidak akan miskin kita dengan memberi. Kalau Bapak ku suka kadang malah ekstrim, memberi sebanyak2nya tanpa mengharap kembali. Kalau keluarganya mengingatkan, sabdanya akan keluar "memangnya yang aku kasih ke kalian masih kurang?" dan kami semua akan diam tertunduk, lirik2an, mesam-mesem sambil membatin "Ya nggak juga siiihh... tapi kan sayaaaang dikasih orang....." hahahahaha

Oh iya, satu lagi yang pernah disampaikan oleh suamiku dulu. Aku nggak ingat persis apa dan bagaimana kalimatnya, tapi intinya masih nyantol di hati. Cieee.... hati.... :-p

Menurut suamiku tercinta yang luar biasa, cara sederhana melihat dan menilai apakah harta kita berkah atau tidak bisa dengan melihat apakah harta yang kita dapat/kita punya awet (tidak mengalir seperti banjir weeeesssewesssseeweessss), bermanfaat, memberikan peningkatan pada kita (dari berbagai sisi pandang), atau mudah datang dan mudah pergi tanpa ada asap yang tertinggal alias blasssss begitu saja. Menurut dia, kalau kategori yang terakhir itu, tandanya rejeki kita nggak berkah sama sekali karena hanya memenuhi kepuasan pribadi saja, dan bahkan kadang kita pribadi masih belum puas padahal sudah tidak ada yang tersisa.

Aku sendiri pernah mengalami saat2 dimana memang yang namanya rejeki yang bentuknya uang itu, datang dan pergi tak ada bekas nya sama sekali. Tiba2 sudah tidak ada lagi uang ditangan. Ditambah lagi dengan setiap menginginkan barang bagus, menggebu2 ingin memiliki, akhirnya dipaksakan membeli/mencari, beberapa saat kemudian barangnya lenyap atau rusak. Patah hati aku. Saat2 itulah suami ku mengeluarkan rumus sederhananya itu. Alhamdulillah, aku yang tertampar keras dengan rumus sederhana nya itu, kemudian mulai belajar memperbaiki diri dan belajar lebih baik lagi.

Mudah2an kita semua senantiasa diberi kesempatan untuk mencari jalan rejeki yang berkah, mendapatkan rejeki yang berkah, dan dapat berbagi dengan rejeki yang berkah. Kita bisa asal kita mau. Jumlah bukanlah masalah.

Bismillah saja... Insya Allah sudah ada yang mengatur rejeki kita, tanpa harus kita kejar ke ujung dunia... ^_^

No comments: