Thursday, November 12, 2009

Kisah Hari Minggu, di Antara Minggu-Minggu ku yang Lain

Ini hanyalah sebuah cerita mengenai bagaimana kulewatkan satu dari sekian banyak hari minggu yang pernah, sudah, sedang, dan akan kumiliki. Minggu yang biasa, tiba setelah sabtu, dan muncul sebelum senin. Hari dimana jarang orang mempermasalahkan kemacetan ibukota, selain kemacetan daerah puncak, bogor. Hari dimana semua orang sering lebih mencintainya, daripada hari setelahnya, senin.

Minggu kemarin, tanggal 08 November 2009 tepatnya

Rencanaku awalnya adalah akan menghabiskan hari itu dengan membaca buku pinjamanku yang sudah cukup lama belum tersentuh lagi itu. Tapi, malam sebelumnya seorang teman (pembantuku) yang namanya ijah mengatakan sesuatu yang membuatku malu. Rupanya dia belum pernah ke curug seribu.. hahaha…..udah lama tinggal di bogor, tapi curug seribu saja belum pernah kesana. Haduh…

Akhirnya kami berdua bertekad untuk bangun pagi sepagi mungkin dan berangkat ke gunung bunder menggunakan motor kesayanganku. Dan kesanalah kami pagi itu… jam setengah 6 pagi bangun, jam 6 kami sudah meluncur menuju daerah wisata di sebelah barat kampus kami.

Sesampainya disana, rupanya teman2 kami belum juga berangkat menuju curug. Masih mempersiapkan sarapan. Hahaha…dating disaat yang tepat bukan? Dan setelah semua masakan selesai di olah, akhirnya aku bergegas mencari daun untuk makan kami. Kami???? Hehehe. Makan pagi di lapangan memang terasa berbeda ya teman…..dengan menu nasi goring setengah gosong, kerupuk, sambal, dan capcay…semua campur aduk… J

Setelah selesai makan, kamipun berkemas dan melakukan packing. Mereka berniat menitipkan tas dan tenda yang tidak di bawa ke curug, ke warung yang ada di bawah. Good idea….akhirnya negosiasi dilakukan dengan si ibu. Rupanya si ibu menderita sariawan atau sakit gigi, sehingga menjawab semua pertanyaanku dengan muka masam dan suara pelan. Karenanya, aku semakin gemas dan menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Hahaha…. Makin mabok kan bu ?? mungkin karena makin mabok dengan pertanyaan2 ku yang nggak principil itu, maka si ibu segera mengiklaskan salah satu sudut dipan (bale2 kayu) nya kami pakai untuk menyimpan tas dan barang2 lainnya. Dengan satu syarat “jangan kotor”. Hehehe. Thanks a lot mam… ^_^

Dan perjalanan ke barat dalam rangka mencari kitab suci pun di mulai. Kami semua berarakan menyusuri jalan setapak yang memang terlihat jelas dan merupakan satu2nya jalan menuju curug 1000. Nampaknya, minggu itu sangat banyak pengunjung curug. Dan kami menjadi bagian dari orang2 yang berwisata pagi itu. Jalanan yang awalnya datar, semakin lama semakin menurun dan terjal…. Ini adalah kali ke tiga aku menuruni jalanan itu. Wuih…. Terbayang jelas di mataku bagaimana nanti aku harus menarik nafas panjang ketika menaiki jalanan ini untuk pulang.

Perjalanan sekitar 20 menit menuruni bebatuan yang di susun sedemikian rupa sehingga jalanan mudah dilalui orang. Sepanjang jalan, mulutku tak henti2nya berkicau. Karena memang hatiku riang, dan bersama2 dengan teman2 ku yang riang gembira pula. Hahaha…..

Sebenarnya, niat awalku tidak akan ikut turun ke curug 1000. Bosan….dan malas jalan pulang. Karenanya, aku tidak mempersiapkan diri untuk tracking. Bersepatu cantik –lah aku. Hihihi…sepatu cantik buatan temanku yang sampai sekarang belum aku bayar. Bukan karena mangkir, tetapi karena dari layanan ATM BNI tidak bisa kirim ke BCA. Dan untuk dating ke bank, penyakit malas lebih perkasa mengikatku. Hahaha….alesan lagi…alesan lagi…

Sedikit khawatir juga atas nasib sepatu cantikku. Jangan2 nanti luntur semua atau malah rusak sepatunya. Tapi syukur Alhamdulillah, rupanya sepatu itu kuat dan perkasa pula. Hehehe…. Good..good…good… bersamaku dan bersama dengan teman2ku, dia menemaniku dengan setia menuju curug paling besar di kawasan bogor itu.

Sesampainya di curug, teman2 yang belum pernah ke curug itu langsung bersorak2 gembira (lebay*mode on). Mereka langsung mencari jalan menuju curug yang paling besarnya, curug 1000. Kami semua mulai melipir di pinggir untuk bisa mendekati derasnya air yang turun dari kawasan gunung salak itu. Angin yang dihembuskan oleh kekuatan jatuhnya air, membuatku “ngap” dan sulit bernafas. Tapi tetap saja…segaaarrrr…..

Semua masuk ke dalam air. Eh tidak rupanya. Cik noni hanya duduk di pinggir dan menjaga tas serta sepatu dan sandal kami. Bukan karena kami kejam lho…tapi as usual….beliau selalu punya alasan unik untuk semua keputusan yang diambilnya tanpa paksaan. J kami menghabiskan banyak waktu di dalam air. Bercengkerama, berfoto2, bermain2, dan lain2…..

Orang-orang yang lainnya, awalnya tidak ada yang mencapai curug besar. Namun demi melihat kami yang antusias bergaya disana-sini, maka menyusullah mereka. Rupanya, banyak sekali tujuan orang berdatangan ke curug 1000 ini. Selain kami dan beberapa orang yang bertujuan sama (foto, renang, berendam), rupanya ada juga orang yang punya tujuan “khusus”. Saat itu, aku melihat ada segerombolan orang yang nampaknya akhwan dan keluarganya beserta dengan anak2 kecil. Sesampainya di depan curug besar, mereka langsung duduk berbanjar rapi dan melakukan beberapa gerakan, yang mungkin adalah ritual tertentu. Sedangkan anak2 kecilnya terbengkalai di tepi sungai. Hihihihi…

Setelah merasa puas dengan acara berendam di aliran air yang deras, kami semua bergerak menuju tempat yang kering untuk sekedar makan pisang, kacang (untung tidak ada jagung), dan biscuit yang kami bawa. Nyummmy….. selain itu, sudah tentu untuk photo2 juga…heuheu…. Kami yang hanya ber-10 orang itu, mampu menyemarakkan suasana di sekitar air terjun. Karena pengunjung yang lain hanya diam dan diam saja… sedangkan kami, ngobrol ngalor-ngidul seperti biasa, saling menghina, saling mencerca, dan saling tertawa pastinya….

Terpuaskan dengan semua yang telah berlalu, maka kamipun beranjak pulang. Menyusuri jalan yang menanjak dan berbatu…. Melelahkan….cukup membuat lututku yang sudah lama tidak di pakai hiking ini kewalahan. 10-20 tanjakan pertama masih berlalu dengan cepat dan dengan kecepatan berjalan yang cukup stabil. Selanjutnya, mulailah adegan adegan rutin seperti “tangan di lutut” atau “tangan di pinggang” atau juga “maju selangkah, berhenti semenit”, dan lain2nya… hehehe. Semua memang indah pada waktunya teman…… ^_^

Tuesday, November 3, 2009

Aku tak bisa berkata jangan

sayang,
kamu memang berani
kamu memang tangguh
Kamu memang gigih....

tapi kali ini sayang,
kamu telah berbuat kesalahan
salah itu hitam
hitam yang mencoreng trahmu

sayang,
hendaklah kamu berbalik arah sekarang juga
atau ikapun tidak,
mulailah bergeser sedikit demi sedikit
kembali menuju jalan kita, jalan trahmu

apa yang kamu pilih sekarang ini gelap
aku yakin kamu tahu pasti
tapi aku tak bisa bertanya kenapa
karena kamu sudah siap dengan 1000 jawaban karena...

aku temanmu
mereka juga temanmu
bahkan kami adalah keluargamu
tapi, tetap saja kami tak berhak mengatakan jangan.....

kami hanya bisa mengatakan padamu
bahwa kami menyayangimu
dan kami hanya bisa berwacana
karena kamu terlalu hebat untuk di gurui

kembalilah kamu pada kami
kembalilah seluruhnya
biarkan yang sudah berlalu menjadi sesuatu yang berlalu
sebagai pelajaran untuk kita semua

kami sudah, sedang, masih, dan akan selalu menunggu kembalimu....

Monday, November 2, 2009

Hari yang panas untuk jiwa yang liar

Ceritaku Untuk 2 Hari Yang Lalu….

Hari ini, Bogor cukup panas di siang hari. Panas terik, namun aku tetap harus mengendarai motor kesayanganku membelah kota, menuju sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Sukasari. Tujuannya adalah untuk mempertemukan temanku dengan teman facebooknya. Nampaklah bahwa GIGI tidak percuma menciptakan lagu tentang situs pertemanan itu.

Sesampainya di tempat itu, sebuah restoran cepat saji dengan Brand Amerika lah yang kami tuju. Bukan karena tempat janjian temanku itu disana, tetapi karena perut kami sudah menunjukkan eksistensinya dengan suara2 sumbang. Makanlah kami dengan nikmat....

Masalah pertemuan dan janjian temanku dengan temannya itu, tak banyak yang bisa aku ceritakan. Hanya saja, semua prosesnya membuatku kembali merasakan aku yang beberapa tahun yang lalu. Slow motion and jogja banget. Mungkin karena aku sudah lama tinggal di kota ini, maka proses yang sangat lambat dan sedikit berbelit2 dengan ketidak jelasan janji temu itu sedikit membuat aku merasa stress. Tapi, maklum adanya. Jogja memang sangatlah berbeda dengan Bogor dan sekitarnya. Bogor dengan semua sibuk, penat, panas, dan rasa ingin selalu mendahuluinya, sedangkan Jogja adalah santai, lambat, dan suka2. Semua harus dimengerti dan diterima, karena akupun pernah merasakannya waktu itu.

Dalam benakku sempat erpikirkan, apa saja yang dilakukan oleh orang2 yang kopi darat atau bertemu muka dengan teman dunia mayanya. Namun, aku tidak lantas menguntit atau mengikuti mereka dengan aktivitasnya. Alih2, aku lebih memilih pergi ke theatre setelah merasa yakin bahwa orang yang ingin di temui temanku itu nyata bertanggungjawab atas temanku itu. Dan akupun bergabung dengan beberapa gelintir orang, duduk di dalam ruangan gelap sambil melotot pada layar besar yang menampilkan gambar goyang2 film tentang tumbangnya sebuah rezim di negri ini. Aku masuk ke studio 4 terlambat 15 menit setelah film di putar. Dan rupanya memang aku kurang beruntung hari ini. Beberapa menit, kurang dari 30 menit kemudian, temanku menelepon dan mengatakan bahwa dia sudah selesai dengan temannya. Maka akupun keluar dan meninggalkan para pemain film yang masih melakoni adegan2nya di layar. Pulang....

Otakku hari ini sepertinya memang sedang tidak ingin bekerja. Mungkin ini berhubungan dengan begadang semalam dan bangun pagi2 tadi pagi. Sehingga untuk menemukan jalan keluar menuju area parkir motor pun, aku harus beberapa kali keluar masuk lift. Damn...what a suck day....

Finnaly, aku temukan juga area parkir dimana motor kesayanganku sedang bertengger manis menungguku. Dan bersamanya, kami menuju tempat pembayaran sekaligus pintu keluar. Disana, muncul lagi suasana kurang nyaman di kepalaku. Lagi2 anak muda yang tidak tahu tata cara mengantri. Dua anak muda yang nampaknya seumuran SMU, dengan seenaknya mepet2 ke sampingku demi bisa keluar lebih dulu. Sorry ya you guys...it your bad lucky when you meet me...langsung saja motorku aku palangkan didepan motor mereka, sehingga mereka positif gagal menyerobotku. Rupanya di bagian depan selang beberapa motor dariku, ada juga ibu2 berboncengan berdua yang juga menyerobot para pengguna sepeda motor di depanku. Hhuuhhh....rupanya tidak Cuma anak muda yang masih belum bisa menggunakan tata krama mengantri. Tapi yang sudah ibu2 pun masih sering khilaf......

Setelah beberapa saat berkutat dengan rasa kesal karena parkir, maka kamipun terbebas dan bisa segera melaju pulang. Perjalanan sambil sedikit bercengkerama seperti biasa. Tak cukup terganggu oleh panas yang masih saja menyengat kulit kami. Temanku sedikit kagum dengan banyaknya dan semrawutnya kota Bogor. Serta betapa jalana Bogor menuju Darmaga ini banyak sekali yang nampak berlubang dan terasa tidak rata. Rupanya Bogor yang dia bayangkan jauh dari kenyataan yang ada. Untunglah aku tidak perlu merasa banyak berdosa, karena di awal ketika dia menyatakan niat ingin ke Bogor, aku sudah mengingatkan bahwa jangan terlalu berharap banyak dengan Bogor, daripada nanti harus kecewa.

Sampai di kawasan paling macet, adalah terminal laladon dan perempatan lampu merah Bubulak. Jalanan padat seperti biasa dengan adanya angkot2 yang mangkal di pinggir jalan bahkan ditengah jalan. Seperti biasa, aku berusaha mencari celah untuk dapat melewati angkot yang berhenti di depanku. Yang mungkin saja supirnya sudah tidak bisa membedakan mana tengah dan mana pinggir jalan. Angkot didepanku sedikit membelok kekanan, jadi aku berfikir dia akan mengambil jalur masuk terminal Bubulak.

Karenanya, aku mengambil jalur kiri, dimana ada angkot yang sedang berhenti di pinggir jalan. Karena celah antara angkot yang berhenti dan angkot yang berjalan itu sangat sempit, maka akupun mengendarai motorku dengan pelan juga. Naas.....tiba2 angkot yang berhenti di pinggir jalan itu langsung saja banting stir untuk berjalan tanpa melihat ada apa di sampingnya.

Brakk.....kontan saja bagian kanan depan angkot itu menabrak motorku dan mendorong kami hingga miring. Aku dan temanku berteriak karena kaget dan berharap angkot itu mundur kembali. Namun sayang, angkot itu memiih untuk terus melaju dan meninggalkan kami yang semakin jatuh dengan dorongannya. Kepalaku rasanya mendidih. Tiba2 otakku tidak berfikir lain selain “buka helm, kejar, lempar...buka helm, kejar, lempar...”.

Rupanya, itu pula yang aku lakukan. Demi melihat angkot itu memilih untuk melenggang pergi, aku tiba2 saja sudah melepaskan peganganku pada motor dan membiarkannya jatuh begitu saja. Tanpa sadar, aku sudah berlari sambil melepas helmku yang cukup mahal itu. Waktu itu, yang aku rasakan hanyalah marah, limbung, buru2 ingin melepas helm. Saat itu terbersit di pikiranku bahwa sepertinya aku akan jatuh terjungkal saking limbungnya. I dont care about averything. If it must be happen, i thing will hapenned today...

Setelah aku berhasil melepaskan helm yang juga kesayanganku itu, langsung saja aku melemparkannya sekuat tenaga ke arah kaca belakang angkot yang tidak bertanggung jawab itu. Otakku berkata bahwa jangan2 lemparanku tidak cukup kuat dan tidak mengenai kaca angkot itu. Tapi aku salah dan terlalu meremehkan kemampuan serta kekuatanku sendiri.

Suara benturan helm dan kaca angkot terdengar keras sekali. B.R.R.A.A.A.K.K.K.....dan helmku pun meluncur bebas ke aspal... sedikit kepuasan menyusupi hati jahatku. Langsung ku ambil helmku yang tergeletak merana di aspal jalanan dan langsung bergerak menuju depan angkot itu. Rupanya angkot itu berhenti karena ada suara2 ribut di sekitar supirnya. Sambil melintas, aku sempat melihat bagaimana penumpang angkot yang berada dibelakang saling dahulu mendahului untuk turun. Sedangkan penumpang di bagian depan aku lihat adalah seorang ahwat dan satu orang lagi yang tidak jelas terlihat. Akhwat itu berteriak2 sambil menangis dan menyebut Allahuakbar beberapa kali. Kata2 yang sempat aku dengar hanyalah “Allahuakbar...hiks..hiks..sudah..sudah..” bla..bla..bla... Perduli amat aku sama kamu...(kataku dalam hati).

Selain mbak2 yang sedang menangis bombay dan histeris itu, rupanya ada juga mas2 ganteng yang berdiri di luar didekat pintu supir sedang memarahi dan mengata2i supir itu. Kata2 yang aku dengar hanyalah “ Hey...kalau nyupir tuh liat2 donk..bla..bla...bla....”. aku juga kurang peduli tentang itu. Apa yang aku lakukan? Aku berjalan memutar di depan angkot itu dan berteriak kepada supirnya “ woi..mata lu dimana sih? Kalau nyupir matanya dipake donk...”. dan akupun berlalu begitu saja kembali menuju motorku.

Sesampainya aku ditempat motor, yang alhamdulillah masih di jaga oleh temanku itu, aku baru menyadari bahwa banyak sekali mata yang menyaksikan ulahku disana. Oh my god... dua kali sudah aku menjadi artis di perempatan ini. Setelah yang pertama dengan tragedi penggemar “sulis”, dan sekarang aku berlaga ala preman.

“woi neng, tadi itu kalau kaca mobil belakang pecah bahaya tuh” kata seorang supir angkot yang menyaksikan aksi brutalku.

“kenapa emangnya?” tanyaku.

“iya, kalau sampai tadi itu kaca belakangnya pecah, bahaya itu. Mahal itu harganya. “ katanya lagi.

“ya biarin aja dia yang beli sendiri. Bukan urusa saya kan.” Kataku.

“memangnya kenapa sih tadi?” tanya bapaknya.

“ lha wong dia yang nabrak saya terus mau kabur begitu saja koq. Ya urusan dialah masalah kaca pecah mah. “ kataku yang langsung berhasil menutup mulutnya. Rupanya dia hanya menilai sesuatu dari ketidaktahuannya dengan kasus ku.

Entah kenapa kepuasan merebak memenuhi setiap sisi otak dan hatiku. Hahahhaha..... kepuasan tiada terkira dan kepuasan yang membabi buta. Kenapa? Karena sebenarnya otakku secara sistematis selalu menyusun rencana untuk mengamuk pada salah satu angkot di kota bogor ini sejak dari lama. Sejak dari aku membonceng motor teman dan bermasalah dengan angkot, dan makin subur dengan banyaknya kasus2 kecelakaan akibat bodohnya supir angkot yang berusaha bertahan hidup itu. Perlahan tapi pasti, skenario untuk mengamuk itu sudah terbentuk dan terpelihara dnegan rapi di sudut otakku. Sejak aku merasa di zholimi oleh angkot2 itu, aku mulai menyusun rencana dan skenario “melepas helm dan menghajar kaca” itu. Dan akhirnya, today is the day.... what a wonderfull day..

Kamipun melanjutkan perjalanan pulang kami. Sambil masih membicarakan masalah kepuasanku itu tentunya... sesampainya di kosan, kembali kuceritakan tragedi itu kepada anak2 kosan. Hehehe...PUAS...PUAS... namun, tetap saja yang namany memar dan lebam itu ada...hiks.... but its okay..its gonna recovery for each day...

Ada beberapa hal yang sampai saat ini masih menjadi pikiranku. Yang pertama adalah, rasa malu yang akan kudapat jika saja pada saat aku mengejar angkot itu dengan limbung, tiba2 aku jatuh. Atau kemudian yang kedua ketika aku melemparkan helmku itu ke arah angkot, meleset atau tidak sampai. Betapa malu besar akan muncul dan aku hanya akan menjadi badut tertawaan orang seantero perempatan. Dan yang terakhir, adalah kenapa aku tidak sempat mengucapkan terimakasih kepada mas2 yang ganteng yang telah ikut membelaku itu. Hwaaaaaaa...

This is my story.... not good to see by the children...so, dont try this at home.... ^_^

Wednesday, October 21, 2009

Yang Baru dan Yang Lama

Menemukan sesuatu yang baru itu sangatlah menyenangkan…menggairahkan…dan tentu saja menantang. Menemukan sesuatu yang baru akan membuat kita mengerti bahwa kita ini belumlah menjadi apa2…masih perlu banyak belajar. Memang berat ketika kita harus belajar lagi tentang sesuatu yang baru, terlebih lagi apa yang belum kita mengerti. Tapi sejauh kita ingin dan mau mencoba, maka tidak ada sesuatu yang mustahil. Semuanya mungkin dan layak untuk di coba. Hanya saja, untuk mendapatkan sesuatu yang baru, kita harus meninggalkan sesuatu yang lama.

Meninggalkan sesuatu yang lama adalah suatu pilihan yang berat. Apapun itu. Apakah kita meninggalkannya dengan sukarela, ataupun dengan terpaksa. Semua adalah hal yang berat, bahkan terkadang menyakitkan. Karena sesuatu yang lama itu adalah bagian dari hidup dan juga perjalanan kita dalam hidup ini. Sebuah pengalaman atau malah banyak pengalaman yang menghiasi satu sisi bagian hati kita. Sesuatu yang merenggut sekian banyak waktu dan emosi yang kita miliki. Jika sesuatu yang lama itu baik, indah, dan memberikan kita kenyamanan, maka akan sangat berat dan menyakitkan jika kita harus melepaskannya. Bahkan pun jika sesuatu yang lama itu adalah pahit dan menyakitkan, bukan berarti kita akan dengan senang hati meninggalkannya. Semua tetaplah berat dan butuh pengorbanan.

Kedua hal itu akan selalu berpasangan dan bersama-sama seperti layaknya kebersamaan lahir dan mati, siang dan malam, dan matahari bersama bulan. Keduanya akan tetap membayangi dan menyertai kita kemanapun kita pergi. Apapun, dimanapun, kapanpun, dan siapapun. Mereka, dia, kamu, dan juga aku.

Saat inipun, butuh memori sekian giga untuk ku, agar bisa memikirkan jalan keluar dari sebuah ketidakjelasan. need a door to escape from this ……….Kalau memang ternyata harus keluar dengan paksa :P

Saturday, October 17, 2009

Just 'bout Last Friday

Sebagaimana rencana awal, hari kemarin adalah hari dimana ibu2 akan berkumpul dan melakukan arisan. Hehehe…serasa emak2 kan…Kali ini arisan dilakukan di kedai telapak. Rencana awal yang sesuai dengan undangan, arisan akan di mulai jam 7 malam. Begitulah titah dari jeng miska as a leader of arisan. Pakai penekanan “on time ya….” Lagi di undangannya.

Akhirnya dengan semangat menggebu dan doa yang kuat dari pagi, akupun segera bersiap2 untuk melakukan perjalanan ke kedai telapak. Halah…..tapi, sebelumnya aku harus mencarikan ikan balita dulu untuk temannya oma yang akan berangkat ke Amerika. Lumayan…jadi tau tempat jual ikan balita kalau suatu saat memerlukan oleh2…J

Kembali kepada tema arisan tadi…..arisan kali ini terasa berbeda dan nampaknya memang akan berbeda dari arisan2 biasanya. Kalau arisan biasanya para anggotanya sibuk memikirkan dan mendebatkan potlaknya, maka arisan kali ini semua orang meributkan tentang ramalan. Ya….dalam acara arisan kali ini, akan ada madam lala yang notabene adalah adiknya mbak rainny yang juga seorang peramal. Semua orang berkata pengen diramal. Termasuk juga aku. Banyak hal terbayang untuk aku tanyakan. Sensasi antara berani bertanya tentang ramalan ku tetapi juga ketakutan mendengar apa yang bisa menjadi hasilnya, membuat aku merasa gelisah dan bersemangat. J

Selesai dengan urusan ikan balita, aku segera pergi ke Gekko studio untuk melihat siapa yang hendak berangkat bersama denganku ke arisan. Sampai di Gekko, ada mbak rina yang rupanya memiliki tujuan yang sama denganku. Mendengarkan ramalan. Akhirnya aku dan mbak rina berangkat duluan ke kedai telapak dengan harapan dapat di ramal lebih dulu sebelum anggota yang lainnya datang.

Setibanya di kedai telapak, aku melihat ada mbak rainny, dan juga mbak mina yang sedang serius di ramal oleh madam lala. Karena belum ada uang, maka aku dan mbak rina pergi ke ATM di Botani Square untuk mengambil uang dulu. Setelah ambil uang selesai, mbak rina ingin membeli whisper katanya, dan akupun memutuskan untuk ikut ke Giant, siapa tahu ada sesuatu yang menarik.

Kamipun berjalan dengan santai sambil ngobrol kesana kesini. Memasuki Giant, kami ambil satu keranjang dan berjalan lurus saja. Tiba2 semua orang berlari menuju arah keluar dengan ributnya. Mereka berhamburan semua tanpa mengatakan apa yang terjadi. Mereka hanya berteriak2 nggak jelas karena memang semua orang terlihat panik. Aku langsung berfikir ada kebakaran.

“mbak rin, ada kebakaran kayaknya”

Dan akupun berusaha melihat dimana sumber kebakaran terjadi. Aku tidak melihat ada asap di manapun. Baru kemudian aku melihat papan2 gantung di dalam ruangan itu bergoyang. Rupanya ada gempa. Aku tidak merasakan ada getaran sama sekali, begitu juga mbak rina. Karena nya kamipun mengikuti berjalan keluar, tetapi tidak berlari. Sesampainya di pintu keluar, kami melihat semua orang berjajar di luar gedung dengan muka cemas dan khawatir.

“mana ini liputan dari KBTI?” tanya mbak rina

“oh iya ya…harusnya ada liputannya” kataku

“wah…terlambat kita…harusnya kita tadi merekam kepanikan orang2 itu ya…”

“hwahahaha…iya..iya…telat.” kataku.

Akhirnya kami membatalkan niatan belanjanya, demi menghindari hal2 yang tidak di inginkan. Perjalananpun dilanjutkan ke kedai telapak. Sesampainya disana, rupanya mbak mina sudah selesai dengan ramalannya. Akupun langsung mengambil tempat untuk diramal. Menyalip beberapa orang sebenarnya…tapi ya gimana ya….scara yang lain masih sibuk rapat. Hehehe

Kalimat pertama madam lala adalah “pertanyaannya yang spesifik ya”

Entah kenapa kepalaku langsung kosong dan aku lupa dengan daftar pertanyaan yang sudah aku siapkan sebelumnya. Hehehe. Akhirnya akupun menanyakan masalah jodohku terlebih dahulu. Banyak hal yang di bialng oleh madam lala mengenai ramalan jodohku. “loading”

Setelah selesai dengan urusan jodoh, akupun melanjutkan dengan urusan keluarga. Banyak juga yang terbaca dari sana dan beberapa advice dari madam lala. “loading”

Menyusul adalah urusan karir….sedikit rumit dan ribet karena berhubungan dengan sifat yang complicated. Banyak juga yang terbaca dari sana dan memang membuatku merasa drop. Cuma memang itu adalah fakta yang tidak bisa aku sangkal dan hindari. Fight dong wilis……start now or never…..“loading”

Karena mentok dengan apa yang ingin aku tanyakan lagi, maka aku menanyakan tentang hubungan sosialku sebagai pertanyaan terakhir. Baik2 saj meskipun masih juga blunder…..”loading”.

Setelah selesai acara ramal-meramal dengan nasibku, ada sebuah perasaan yang membuatku sedikit tidak nyaman…tapi memang semua usaha harus dimulai dari yang tidak nyaman. Kalau semua nyaman dan baik2 saja, maka tidak akan ada perubahan. Itulah kelemahanku selama ini. Aku terlalu terlena dengan kenyamanan yang aku dapatkan selama ini. Sehingga banyak hal yang aku lewatkan. Semoga tuhan belum mencoret namaku dari daftar manusia beruntungnya….amin.

Arisan pun berhasil dengan molornya yang lebih dari 1 jam gara2 the leadernya nggak datang2. Jam 8 lebih leader-nya baru menampakkan diri, padahal banyak sekali anggota arisan yang sudah berganti agenda menjadi rapat persiapan mubes telapak. Karenanya, setelah semua uang terkumpul, di kocoklah undiannya. Yang pertama turun sebagai pemenang adalah siapa gitu. Aku nggak begitu jelas mendengar namanya karena rupanya anggota itu sudah lama tidak mengikuti lagi arisan ini. Percobaan kedua menunjukkan mbak mina yang dapat.. dan untuk yang ketiga, ternyata adalah aku sebagai juaranya. Hehehehe. Doa dan niatan kuat ku sampai di telinga tuhan rupanya. Hooray…….

Sesuai dengan nazarku yang menyebutkan bahwa jika aku dapat arisan maka aku akan nonton, dan jika seandainya aku nggak dapat arisan, maka akupun tetap akan nonton. Hehehe. Maka akupun segera bergerak menuju XXI di boqer. Nonton the ugly thruth. Bagus…..

Selesai nonton, ke kedai lagi karena lupa belum bayar minuman, ditodong suruh traktir pisang selimut, dan bayarin lumpia….wuih…:P dan setelah itu akupun pulang bersama jeng miska. Sudah lama tidak mengantarkan dia pulang. Hehehehe…..

What a wonderfull day…..:)