Thursday, November 12, 2009

Kisah Hari Minggu, di Antara Minggu-Minggu ku yang Lain

Ini hanyalah sebuah cerita mengenai bagaimana kulewatkan satu dari sekian banyak hari minggu yang pernah, sudah, sedang, dan akan kumiliki. Minggu yang biasa, tiba setelah sabtu, dan muncul sebelum senin. Hari dimana jarang orang mempermasalahkan kemacetan ibukota, selain kemacetan daerah puncak, bogor. Hari dimana semua orang sering lebih mencintainya, daripada hari setelahnya, senin.

Minggu kemarin, tanggal 08 November 2009 tepatnya

Rencanaku awalnya adalah akan menghabiskan hari itu dengan membaca buku pinjamanku yang sudah cukup lama belum tersentuh lagi itu. Tapi, malam sebelumnya seorang teman (pembantuku) yang namanya ijah mengatakan sesuatu yang membuatku malu. Rupanya dia belum pernah ke curug seribu.. hahaha…..udah lama tinggal di bogor, tapi curug seribu saja belum pernah kesana. Haduh…

Akhirnya kami berdua bertekad untuk bangun pagi sepagi mungkin dan berangkat ke gunung bunder menggunakan motor kesayanganku. Dan kesanalah kami pagi itu… jam setengah 6 pagi bangun, jam 6 kami sudah meluncur menuju daerah wisata di sebelah barat kampus kami.

Sesampainya disana, rupanya teman2 kami belum juga berangkat menuju curug. Masih mempersiapkan sarapan. Hahaha…dating disaat yang tepat bukan? Dan setelah semua masakan selesai di olah, akhirnya aku bergegas mencari daun untuk makan kami. Kami???? Hehehe. Makan pagi di lapangan memang terasa berbeda ya teman…..dengan menu nasi goring setengah gosong, kerupuk, sambal, dan capcay…semua campur aduk… J

Setelah selesai makan, kamipun berkemas dan melakukan packing. Mereka berniat menitipkan tas dan tenda yang tidak di bawa ke curug, ke warung yang ada di bawah. Good idea….akhirnya negosiasi dilakukan dengan si ibu. Rupanya si ibu menderita sariawan atau sakit gigi, sehingga menjawab semua pertanyaanku dengan muka masam dan suara pelan. Karenanya, aku semakin gemas dan menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Hahaha…. Makin mabok kan bu ?? mungkin karena makin mabok dengan pertanyaan2 ku yang nggak principil itu, maka si ibu segera mengiklaskan salah satu sudut dipan (bale2 kayu) nya kami pakai untuk menyimpan tas dan barang2 lainnya. Dengan satu syarat “jangan kotor”. Hehehe. Thanks a lot mam… ^_^

Dan perjalanan ke barat dalam rangka mencari kitab suci pun di mulai. Kami semua berarakan menyusuri jalan setapak yang memang terlihat jelas dan merupakan satu2nya jalan menuju curug 1000. Nampaknya, minggu itu sangat banyak pengunjung curug. Dan kami menjadi bagian dari orang2 yang berwisata pagi itu. Jalanan yang awalnya datar, semakin lama semakin menurun dan terjal…. Ini adalah kali ke tiga aku menuruni jalanan itu. Wuih…. Terbayang jelas di mataku bagaimana nanti aku harus menarik nafas panjang ketika menaiki jalanan ini untuk pulang.

Perjalanan sekitar 20 menit menuruni bebatuan yang di susun sedemikian rupa sehingga jalanan mudah dilalui orang. Sepanjang jalan, mulutku tak henti2nya berkicau. Karena memang hatiku riang, dan bersama2 dengan teman2 ku yang riang gembira pula. Hahaha…..

Sebenarnya, niat awalku tidak akan ikut turun ke curug 1000. Bosan….dan malas jalan pulang. Karenanya, aku tidak mempersiapkan diri untuk tracking. Bersepatu cantik –lah aku. Hihihi…sepatu cantik buatan temanku yang sampai sekarang belum aku bayar. Bukan karena mangkir, tetapi karena dari layanan ATM BNI tidak bisa kirim ke BCA. Dan untuk dating ke bank, penyakit malas lebih perkasa mengikatku. Hahaha….alesan lagi…alesan lagi…

Sedikit khawatir juga atas nasib sepatu cantikku. Jangan2 nanti luntur semua atau malah rusak sepatunya. Tapi syukur Alhamdulillah, rupanya sepatu itu kuat dan perkasa pula. Hehehe…. Good..good…good… bersamaku dan bersama dengan teman2ku, dia menemaniku dengan setia menuju curug paling besar di kawasan bogor itu.

Sesampainya di curug, teman2 yang belum pernah ke curug itu langsung bersorak2 gembira (lebay*mode on). Mereka langsung mencari jalan menuju curug yang paling besarnya, curug 1000. Kami semua mulai melipir di pinggir untuk bisa mendekati derasnya air yang turun dari kawasan gunung salak itu. Angin yang dihembuskan oleh kekuatan jatuhnya air, membuatku “ngap” dan sulit bernafas. Tapi tetap saja…segaaarrrr…..

Semua masuk ke dalam air. Eh tidak rupanya. Cik noni hanya duduk di pinggir dan menjaga tas serta sepatu dan sandal kami. Bukan karena kami kejam lho…tapi as usual….beliau selalu punya alasan unik untuk semua keputusan yang diambilnya tanpa paksaan. J kami menghabiskan banyak waktu di dalam air. Bercengkerama, berfoto2, bermain2, dan lain2…..

Orang-orang yang lainnya, awalnya tidak ada yang mencapai curug besar. Namun demi melihat kami yang antusias bergaya disana-sini, maka menyusullah mereka. Rupanya, banyak sekali tujuan orang berdatangan ke curug 1000 ini. Selain kami dan beberapa orang yang bertujuan sama (foto, renang, berendam), rupanya ada juga orang yang punya tujuan “khusus”. Saat itu, aku melihat ada segerombolan orang yang nampaknya akhwan dan keluarganya beserta dengan anak2 kecil. Sesampainya di depan curug besar, mereka langsung duduk berbanjar rapi dan melakukan beberapa gerakan, yang mungkin adalah ritual tertentu. Sedangkan anak2 kecilnya terbengkalai di tepi sungai. Hihihihi…

Setelah merasa puas dengan acara berendam di aliran air yang deras, kami semua bergerak menuju tempat yang kering untuk sekedar makan pisang, kacang (untung tidak ada jagung), dan biscuit yang kami bawa. Nyummmy….. selain itu, sudah tentu untuk photo2 juga…heuheu…. Kami yang hanya ber-10 orang itu, mampu menyemarakkan suasana di sekitar air terjun. Karena pengunjung yang lain hanya diam dan diam saja… sedangkan kami, ngobrol ngalor-ngidul seperti biasa, saling menghina, saling mencerca, dan saling tertawa pastinya….

Terpuaskan dengan semua yang telah berlalu, maka kamipun beranjak pulang. Menyusuri jalan yang menanjak dan berbatu…. Melelahkan….cukup membuat lututku yang sudah lama tidak di pakai hiking ini kewalahan. 10-20 tanjakan pertama masih berlalu dengan cepat dan dengan kecepatan berjalan yang cukup stabil. Selanjutnya, mulailah adegan adegan rutin seperti “tangan di lutut” atau “tangan di pinggang” atau juga “maju selangkah, berhenti semenit”, dan lain2nya… hehehe. Semua memang indah pada waktunya teman…… ^_^

No comments: