Monday, November 2, 2009

Hari yang panas untuk jiwa yang liar

Ceritaku Untuk 2 Hari Yang Lalu….

Hari ini, Bogor cukup panas di siang hari. Panas terik, namun aku tetap harus mengendarai motor kesayanganku membelah kota, menuju sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Sukasari. Tujuannya adalah untuk mempertemukan temanku dengan teman facebooknya. Nampaklah bahwa GIGI tidak percuma menciptakan lagu tentang situs pertemanan itu.

Sesampainya di tempat itu, sebuah restoran cepat saji dengan Brand Amerika lah yang kami tuju. Bukan karena tempat janjian temanku itu disana, tetapi karena perut kami sudah menunjukkan eksistensinya dengan suara2 sumbang. Makanlah kami dengan nikmat....

Masalah pertemuan dan janjian temanku dengan temannya itu, tak banyak yang bisa aku ceritakan. Hanya saja, semua prosesnya membuatku kembali merasakan aku yang beberapa tahun yang lalu. Slow motion and jogja banget. Mungkin karena aku sudah lama tinggal di kota ini, maka proses yang sangat lambat dan sedikit berbelit2 dengan ketidak jelasan janji temu itu sedikit membuat aku merasa stress. Tapi, maklum adanya. Jogja memang sangatlah berbeda dengan Bogor dan sekitarnya. Bogor dengan semua sibuk, penat, panas, dan rasa ingin selalu mendahuluinya, sedangkan Jogja adalah santai, lambat, dan suka2. Semua harus dimengerti dan diterima, karena akupun pernah merasakannya waktu itu.

Dalam benakku sempat erpikirkan, apa saja yang dilakukan oleh orang2 yang kopi darat atau bertemu muka dengan teman dunia mayanya. Namun, aku tidak lantas menguntit atau mengikuti mereka dengan aktivitasnya. Alih2, aku lebih memilih pergi ke theatre setelah merasa yakin bahwa orang yang ingin di temui temanku itu nyata bertanggungjawab atas temanku itu. Dan akupun bergabung dengan beberapa gelintir orang, duduk di dalam ruangan gelap sambil melotot pada layar besar yang menampilkan gambar goyang2 film tentang tumbangnya sebuah rezim di negri ini. Aku masuk ke studio 4 terlambat 15 menit setelah film di putar. Dan rupanya memang aku kurang beruntung hari ini. Beberapa menit, kurang dari 30 menit kemudian, temanku menelepon dan mengatakan bahwa dia sudah selesai dengan temannya. Maka akupun keluar dan meninggalkan para pemain film yang masih melakoni adegan2nya di layar. Pulang....

Otakku hari ini sepertinya memang sedang tidak ingin bekerja. Mungkin ini berhubungan dengan begadang semalam dan bangun pagi2 tadi pagi. Sehingga untuk menemukan jalan keluar menuju area parkir motor pun, aku harus beberapa kali keluar masuk lift. Damn...what a suck day....

Finnaly, aku temukan juga area parkir dimana motor kesayanganku sedang bertengger manis menungguku. Dan bersamanya, kami menuju tempat pembayaran sekaligus pintu keluar. Disana, muncul lagi suasana kurang nyaman di kepalaku. Lagi2 anak muda yang tidak tahu tata cara mengantri. Dua anak muda yang nampaknya seumuran SMU, dengan seenaknya mepet2 ke sampingku demi bisa keluar lebih dulu. Sorry ya you guys...it your bad lucky when you meet me...langsung saja motorku aku palangkan didepan motor mereka, sehingga mereka positif gagal menyerobotku. Rupanya di bagian depan selang beberapa motor dariku, ada juga ibu2 berboncengan berdua yang juga menyerobot para pengguna sepeda motor di depanku. Hhuuhhh....rupanya tidak Cuma anak muda yang masih belum bisa menggunakan tata krama mengantri. Tapi yang sudah ibu2 pun masih sering khilaf......

Setelah beberapa saat berkutat dengan rasa kesal karena parkir, maka kamipun terbebas dan bisa segera melaju pulang. Perjalanan sambil sedikit bercengkerama seperti biasa. Tak cukup terganggu oleh panas yang masih saja menyengat kulit kami. Temanku sedikit kagum dengan banyaknya dan semrawutnya kota Bogor. Serta betapa jalana Bogor menuju Darmaga ini banyak sekali yang nampak berlubang dan terasa tidak rata. Rupanya Bogor yang dia bayangkan jauh dari kenyataan yang ada. Untunglah aku tidak perlu merasa banyak berdosa, karena di awal ketika dia menyatakan niat ingin ke Bogor, aku sudah mengingatkan bahwa jangan terlalu berharap banyak dengan Bogor, daripada nanti harus kecewa.

Sampai di kawasan paling macet, adalah terminal laladon dan perempatan lampu merah Bubulak. Jalanan padat seperti biasa dengan adanya angkot2 yang mangkal di pinggir jalan bahkan ditengah jalan. Seperti biasa, aku berusaha mencari celah untuk dapat melewati angkot yang berhenti di depanku. Yang mungkin saja supirnya sudah tidak bisa membedakan mana tengah dan mana pinggir jalan. Angkot didepanku sedikit membelok kekanan, jadi aku berfikir dia akan mengambil jalur masuk terminal Bubulak.

Karenanya, aku mengambil jalur kiri, dimana ada angkot yang sedang berhenti di pinggir jalan. Karena celah antara angkot yang berhenti dan angkot yang berjalan itu sangat sempit, maka akupun mengendarai motorku dengan pelan juga. Naas.....tiba2 angkot yang berhenti di pinggir jalan itu langsung saja banting stir untuk berjalan tanpa melihat ada apa di sampingnya.

Brakk.....kontan saja bagian kanan depan angkot itu menabrak motorku dan mendorong kami hingga miring. Aku dan temanku berteriak karena kaget dan berharap angkot itu mundur kembali. Namun sayang, angkot itu memiih untuk terus melaju dan meninggalkan kami yang semakin jatuh dengan dorongannya. Kepalaku rasanya mendidih. Tiba2 otakku tidak berfikir lain selain “buka helm, kejar, lempar...buka helm, kejar, lempar...”.

Rupanya, itu pula yang aku lakukan. Demi melihat angkot itu memilih untuk melenggang pergi, aku tiba2 saja sudah melepaskan peganganku pada motor dan membiarkannya jatuh begitu saja. Tanpa sadar, aku sudah berlari sambil melepas helmku yang cukup mahal itu. Waktu itu, yang aku rasakan hanyalah marah, limbung, buru2 ingin melepas helm. Saat itu terbersit di pikiranku bahwa sepertinya aku akan jatuh terjungkal saking limbungnya. I dont care about averything. If it must be happen, i thing will hapenned today...

Setelah aku berhasil melepaskan helm yang juga kesayanganku itu, langsung saja aku melemparkannya sekuat tenaga ke arah kaca belakang angkot yang tidak bertanggung jawab itu. Otakku berkata bahwa jangan2 lemparanku tidak cukup kuat dan tidak mengenai kaca angkot itu. Tapi aku salah dan terlalu meremehkan kemampuan serta kekuatanku sendiri.

Suara benturan helm dan kaca angkot terdengar keras sekali. B.R.R.A.A.A.K.K.K.....dan helmku pun meluncur bebas ke aspal... sedikit kepuasan menyusupi hati jahatku. Langsung ku ambil helmku yang tergeletak merana di aspal jalanan dan langsung bergerak menuju depan angkot itu. Rupanya angkot itu berhenti karena ada suara2 ribut di sekitar supirnya. Sambil melintas, aku sempat melihat bagaimana penumpang angkot yang berada dibelakang saling dahulu mendahului untuk turun. Sedangkan penumpang di bagian depan aku lihat adalah seorang ahwat dan satu orang lagi yang tidak jelas terlihat. Akhwat itu berteriak2 sambil menangis dan menyebut Allahuakbar beberapa kali. Kata2 yang sempat aku dengar hanyalah “Allahuakbar...hiks..hiks..sudah..sudah..” bla..bla..bla... Perduli amat aku sama kamu...(kataku dalam hati).

Selain mbak2 yang sedang menangis bombay dan histeris itu, rupanya ada juga mas2 ganteng yang berdiri di luar didekat pintu supir sedang memarahi dan mengata2i supir itu. Kata2 yang aku dengar hanyalah “ Hey...kalau nyupir tuh liat2 donk..bla..bla...bla....”. aku juga kurang peduli tentang itu. Apa yang aku lakukan? Aku berjalan memutar di depan angkot itu dan berteriak kepada supirnya “ woi..mata lu dimana sih? Kalau nyupir matanya dipake donk...”. dan akupun berlalu begitu saja kembali menuju motorku.

Sesampainya aku ditempat motor, yang alhamdulillah masih di jaga oleh temanku itu, aku baru menyadari bahwa banyak sekali mata yang menyaksikan ulahku disana. Oh my god... dua kali sudah aku menjadi artis di perempatan ini. Setelah yang pertama dengan tragedi penggemar “sulis”, dan sekarang aku berlaga ala preman.

“woi neng, tadi itu kalau kaca mobil belakang pecah bahaya tuh” kata seorang supir angkot yang menyaksikan aksi brutalku.

“kenapa emangnya?” tanyaku.

“iya, kalau sampai tadi itu kaca belakangnya pecah, bahaya itu. Mahal itu harganya. “ katanya lagi.

“ya biarin aja dia yang beli sendiri. Bukan urusa saya kan.” Kataku.

“memangnya kenapa sih tadi?” tanya bapaknya.

“ lha wong dia yang nabrak saya terus mau kabur begitu saja koq. Ya urusan dialah masalah kaca pecah mah. “ kataku yang langsung berhasil menutup mulutnya. Rupanya dia hanya menilai sesuatu dari ketidaktahuannya dengan kasus ku.

Entah kenapa kepuasan merebak memenuhi setiap sisi otak dan hatiku. Hahahhaha..... kepuasan tiada terkira dan kepuasan yang membabi buta. Kenapa? Karena sebenarnya otakku secara sistematis selalu menyusun rencana untuk mengamuk pada salah satu angkot di kota bogor ini sejak dari lama. Sejak dari aku membonceng motor teman dan bermasalah dengan angkot, dan makin subur dengan banyaknya kasus2 kecelakaan akibat bodohnya supir angkot yang berusaha bertahan hidup itu. Perlahan tapi pasti, skenario untuk mengamuk itu sudah terbentuk dan terpelihara dnegan rapi di sudut otakku. Sejak aku merasa di zholimi oleh angkot2 itu, aku mulai menyusun rencana dan skenario “melepas helm dan menghajar kaca” itu. Dan akhirnya, today is the day.... what a wonderfull day..

Kamipun melanjutkan perjalanan pulang kami. Sambil masih membicarakan masalah kepuasanku itu tentunya... sesampainya di kosan, kembali kuceritakan tragedi itu kepada anak2 kosan. Hehehe...PUAS...PUAS... namun, tetap saja yang namany memar dan lebam itu ada...hiks.... but its okay..its gonna recovery for each day...

Ada beberapa hal yang sampai saat ini masih menjadi pikiranku. Yang pertama adalah, rasa malu yang akan kudapat jika saja pada saat aku mengejar angkot itu dengan limbung, tiba2 aku jatuh. Atau kemudian yang kedua ketika aku melemparkan helmku itu ke arah angkot, meleset atau tidak sampai. Betapa malu besar akan muncul dan aku hanya akan menjadi badut tertawaan orang seantero perempatan. Dan yang terakhir, adalah kenapa aku tidak sempat mengucapkan terimakasih kepada mas2 yang ganteng yang telah ikut membelaku itu. Hwaaaaaaa...

This is my story.... not good to see by the children...so, dont try this at home.... ^_^

2 comments:

PelintangPulau said...

hahahaa, mb wiil
mantap2. melakukan hal yg berani n aku rasa tidak semua org bisa mlakukannya.
tidak termehek2 saat jatuh tp mlah menjadi garang n siap menerkam, salut bwt daya kerja otak yg sangat cepat itu..

Ini Wilis said...

Yo'i ubo"cutez"....
Hare gene jangan mau di tindas dan di injak2 sama para supir angkot yg tidak bertanggung jawab itu. bolehlah mencoba bertahan hidup di tengah kehidupan kota yang kejam....tapi jangan sampai dengan cara membunuh orang lain... ^_^
Smangadh nulisnya ya ubo... :)