Mungkin ungkapan itu adalah untuk menggambarkan bagaimana para perempuan sangat senang bersosialisasi. Bertemu, berbincang2, membicarakan banyak hal, temu kangen, bergosip, dan lain2 dan lain2. Seru, heboh, dan sanggup melumpuhkan sendi2 perekonomian dari sebuah keluarga. hahahahhaaaaNamun belakangan ini, rupanya fenomena terbentuknya warung dan pasar itu tidak hanya berlaku untuk para perempuan. Para lelakipun mulai tertulari kebiasaan2 para perempuan. Tidak termasuk para A*** yang sekarang mendominasi di luaran sana lho yaaa.... kita hanya bicara tentang para lelaki yang benar2 lelaki. :p
Contoh yang paling dekat adalah si dia. Sepertinya dia tertulari kebiasaanku yang selalu update informasi mengenai perkembangan lingkungan sekitar. Nah, kalau dia sudah bertemu dengan teman2nya, maka aku akan menjadi nomor sekian. Selain itu, kalau aku terlihat mendapat info baru, maka dia akan segera mendekat dan bertanya "kenapa? kenapa?" hahahha.... fudhul aja sih. :P
Yang pengen aku ceritakan sekarang ini adalah para lelaki yang masih teman2ku juga. Namun kebanyakan umurnya sudah di atasku. Kadangkala ada juga perempuannya yang ikut nimbrung, meskipun hanya itu2 saja. Mereka ini semakin hari semakin sering bertemu dan membuat pasar. Entahlah.... namanya juga orang2 hebat dan berkuasa. Mereka datang dengan segala hal baru yang ada di kepala mereka, dan di adu dengan yang ada di kepala yang lainnya. Wuiddiiihhh....
Hasilnya? pastilah ide2 hebat dan mutakhir. Menantang, nampak menggairahkan, seksi, dan menarik untuk di coba2. Tapi...eh tapi....???
Entahlah... aku sendiri sudah tidak terlalu (sekali lagi tidak terlalu, jadi bukan sama sekali tidak tertarik lho yaaa) tertarik untuk bergabung? hahaha.... entahlah. Sepertinya terjadi hukum alam "karena nila setitik, maka rusak susu sebelanga". Semua terasa hambar menurutku. Aku jadi apatis dan enggan untuk merapat.
Mungkin aku bukan orang dengan tipe2 seperti "mereka", jadi tidak akan tahan selalu mengintil dan sembah sinuwun ndalem alias manthuk2 terus. hohohohoho.... Masing2 orang punya pilihan bukan? Sah2 aja koq menurutku. :p
Selain itu juga track buruk yang pernah ada membuat kepercayaanku sedikit menurun. Mungkin dulu aku sering memberikan prioritas untuk hal2 seperti ini. Tapi setelah mereka memperlihatkan ke-cupu-annya, entah kenapa aku menjadi sedikit malas. Sekarang sih, kalau memang ada waktu dan ada mood, maka aku akan bergabung. Tidak lagi kujadikan prioritas. Toh belum tentu keindahan ini akan tetap indah, manakala kondisi memburuk. Semua indah ketika dunia ramah pada mereka. Sory2 jeck... :p
Maaf ya teman2 lelakiku.... Silakan saja membuka pasar dengan komoditas impor atau kualitas ekspor. Kapan2 kalau rejekiku berlebih, mungkin aku juga akan datang mencoba. Namun sekarang ini, aku masih merasa nyaman dengan pasar tradisional dan sederhana ini. Di tengah2 kesusahan, biasanya orang akan lebih empati daripada di tengah kebahagiaan. :))
No comments:
Post a Comment