Tuesday, January 20, 2009

Ketika Tiga Helaian Benang Kusut Tak Teruraikan,Semoga Yang Tak Lekang Oleh Waktu Tetap Tersisa Sebagai Senjata

Ketika dalam kepala ini terlalu banyak hal yang berebutan tempat untuk disusun dan dirangkai, maka semua menjadi tak terungkapkan. Ketika mulut memaksa untuk mengucapkan sesuatu, maka yang keluar hanyalah tetesan air mata.

(Saung Calobak, 2009)

Harus mulai dari mana, dari apa, dan dari siapa aku menyusun semua lembaran yang kusut dan terserak didalam kepalaku ini. Agar menjadi rapid an tertata bagaikan jajaran file di lemari secretariat. Apakah dengan diam aku bisa menghilangkan kebingungan, kegalauan, dan kegundahan hati ini? Tetapi kenapa dalam diam, aku semakin merasa bingung?

Aku masih ingat benar sewaktu SMU, kalimat ini pernah tertuang dalam diary merah jambuku. “kebingunganku membuat aku diam, tetapi dalam diam aku semakin merasa bingung”. Ku hanya berusaha untuk mengendapkan gumpalan kusut ini dalam kawah rasaku, dan akan ku urai satu demi satu sesuai dengan kemampuanku mencerna setiap lembarnya. Hingga yang kusut itu dapat berurai menjadi lembaran benang, dan berujung pada selembar kain yang bermotif warna warni.

Saat ini, aku masih belum dapat mengurai benang kusut itu menjadi helaian benang yang terurai sempurna. Namun, aku sudah bisa membaca dengan jelas pola kekusutan benang ini. Beberapa hal yang sangat berbeda, bercampur menjadi satu, saling membelit, dan saling menggumpal hingga nampak sebagai kekacauan. Hal yang berbeda, namun berujung pada satu hal yang tak lekang oleh waktu, kasih sayang dan kekeluargaan.

Pertalian darah memang menjadi sangat rumit dan kompleks ketika dihubungkan dengan hati, emosi, dan dunia luar. Namun pertalian darah adalah pertalian darah, dan akan tetap pertalian darah hingga akhir hayat. Ketika salah seorang dari keluarga yang bertalian darah itu salah, hati kita pasti merasa sakit, emosi kita akan bangkit dan memanas, dan dunia luar akan menjadi pelarian yang paling sempurna untuk berpaling dan melarikan diri.

Sakit di hati yang hanya sebuah gumpalan darah itu membuat seluruh badan menjadi ikut sakit. Entah dimana letak penjelasan ilmiahnya. Sakit itu meluruhkan kepercayaan, menimbulkan keengganan dan kecurigaan. Sakit itu menciptakan jarak yang berupa selaput tipis yang bersifat elastic dan permeable. Tipis memang, tapi bukan berarti mudah ditembus. Bisa ditembus air mungkin, tapi belum tentu bisa ditembus pedang.

Emosi yang bangkit dan memanas hanyalah sebuah respon dari kekalutan hati dan pikiran. Dia hanyalah bentuk dan penampakan dari proses penguraian benang kusut itu. Namun emosi dapat menjadi tak terkontrol dan merugikan ketika penguraian benang kusut itu dilakukan/terbentur pada cara yang keliru. Dampak dari emosi itu bisa lebih besar dari pemicu emosi itu sendiri, ketika kemelencengan terjadi sedikit demi sedikit. Layaknya koordinat yang melenceng 1%, lama-lama menjadi semakin besar dan jauh.

Dunia luar sangatlah luas, beragam, penuh dengan pilihan, dan mampu menerima segala bentuk pelarian. Dia menawarkan keindahan, kebebasan, tetapi juga kepahitan dan kekerasan hidup. Ketika kita merasa sakit dengan apa yang ada dalam llingkungan kita, kita cenderung memilih dunia luar untuk melarikan diri dan menghindar. Memang menjadi kebebasan kita, namun hanya sesaat dan untuk itu saja. Selanjutnya? Apa yang dapat memperbaiki kita? Kecil sekali kemungkinan kita dapat diluar.

Hanya kita yang dapat memperbaiki kita, hanya kita yang dapat menentukan tujuan kita. Kita bisa menghindar, namun hanya sementara. Kita harus menghadapi apa yang ada didepan kita, itulah yang sekarang sedang aku pelajari dan usahakan. Tidak lari dan tidak menghindar. Berlebihan ketika aku katakana aku sedang mengalami serangan dari beberapa arah, tapi tidak apa-apa. Itu hanyalah sekedar penyemangat dan pemberi keyakinanku agar aku merasa tidak bisa lari kemana-mana.

Persaudaraan adalah sebuah hal yang serupa tapi tak sama dengan pertalian darah. Jika pertalian darah adalah hubunganku dengan orang-orang yang memiliki sumber gen sama dari nenek moyang kami, maka persaudaraan dapat lebih luas dari itu. Tanpa ada kesamaan gen, semua orang bisa saja bersaudara. Jika kita merasa dekat, jika kita merasa nyaman, jika kita merasa saying, jika kita merasa saling menghormati dan menghargai, maka kita berhak mengatakan sebagai saudara.

Dalam persaudaraan juga pasti bisa terjadi masalah, selayaknyalah orang dalam berkeluarga. Persaudaraan dapat menggantikan keluarga ketika kita terpisahkan oleh jarak dan waktu. Aku sedang berusaha untuk menjaga persaudaraan ini agar tidak terpecahkan oleh apapun. Mungkin lebih tepat jika aku berkata bahwa aku sedang berusaha untuk tidak melepaskan diri dari persaudaraan ini. Aku sedang berusaha meyakini bahwa saudarakupun bersikap seperti itu. Aku sedang meyakinkan diriku untuk tidak melarikan diri dan meninggalkan saudaraku yang lain.

Yang saat ini belum bisa aku hilangkan adalah keterkaitan emosiku dalam mensikapi apa yang terjadi ini. Ketika pertalian darah sedang bermasalah, maka aku berada didekat saudara-saudaraku. Tetapi ketika saudarakupun sedang mendapat masalah, maka aku juga tetap akan disini. Hanya saja tumpang tindih itu yang rupanya belum mampu aku kendalikan. Letupan emosi seringkali mengiringi setiap tindak-tandukku. Memungkinkan saudaraku yang lain terganggu. Mohon maaf untuk itu. Tapi aku akan selalu memperbaiki diri dan belajar. Karena itu aku masih disini saat ini. Untuk ikut belajar bersama dan semakin memperbaiki diri.

Dia yang namanya tak boleh disebut adalah orang yang ter….untukku. semua ter….aku tujukan padanya. Kami berjalan hingga saat ini bersama lebih dari sekedar teman, sahabat, ataupun saudara. Kami adalah keluarga. Tapi kenapa tetap tidak bisa aku satukan dengan dua hal diatas? Karena memang ini adalah suatu hal yang berbeda. Menurut penilaianku, inilah yang menjadi sedikit rumit.

Dia adalah yang terdekat denganku saat ini. Karena antara keluarga talian darahku terpisahkan jarak dan waktu. Dia adalah orang yang terbaik bagiku saat ini, karena memang hanya dia yang bisa mengerti aku sepenuhnya, melebihi orang-orang yang bertalian darah denganku. Dia adalah orang yang teristimewa untukku. Setiap hal mengenainya adalah menarik bagiku. Setiap hal yang dia lakukan selalu membuatku terkesan.

Banyak hal yang telah kami lalui, banyak hal yang pernah kami alami. Empat tahun juga bukan waktu yang bisa kami abaikan begitu saja. Berat jika kami harus kehilangan apa yang selama ini ada. Tapi berat juga untukku jika ini harus diteruskan. Perjuangan ini rasanya harus diakhiri. Kalau memang dengan aku menyerah semua menjadi lebih baik, aku akan melakukan dengan senang hati.

Entah kenapa ada yang kurang tepat antara kami. Ada sesuatu yang samar tetapi jelas adanya. Sesuatu yang samar itu menurutku adalah sebuah ruang. Ruang yang penuh dengan hal-hal kecil, nyata, penting, terabaikan, dan mengganggu. Aku melihat jelas ruang yang Nampak samar itu, namun dia tidak.

Beberapa pertanyaan yang ada dikepalaku saat ini untuk dia, apakah kita masih akan berjuang lagi? Masihkah kita akan mencoba lagi? Saat ini aku berfikir untuk menjawab tidak, karena waktu terus berlalu. Ini hanya akan menjadikan kita orang yang semakin tidak jelas yang menjalin hubungan tidak jelas juga. Pertanyaanku lagi adalah mampukah aku melepaskan ini semua? Dan kapan kiranya aku bisa berjalan beriringan lagi dengannya dengan status yang berbeda tapi dalam suasana yang sama? Ketika aku mengatakan bahwa “ya, aku baik-baik saja”.

The next plan yang sudah aku petakan saat ini barulah beberapa hal saja, tetapi cukup untuk membuat otak dan hati ini beristirahat sejenak. Untuk pertalian darah tak ada jalan keluar selain aku pulang, duduk diatara mereka semua. Maka itulah yang aku akan lakukan minggu depan. Masalah bagaimana kedepannya dan ujung dari masalahnya, bisa aku pikirkan nanti. Itu saja.

Untuk saudara-saudaraku, saat ini masalah telah selangkah lebih maju. Bisa dibilang bahwa saat ini kita menang. Istirahatlah kita dulu, baru nanti kita bisa pikirkan lagi apa yang harus kita lakukan. Yang terpenting adalah kita selalu ada disini bersama dan berkumpul. Indah ya…

Untuk dia yang ter….aku masih belum bisa menentukan seperti apa karena nampaknya diapun belum ingin melakukan apapun. Tetapi aku juga tidak akan membiarkannya terlalu lama. Semua akan kulakukan sendiri jika dia tidak ingin melakukannya. Aku tidak mau ketidak jelasan dan ketidak tegasan ini membuat kita sama-sama terbebani. Everything will be fine…

Kekusutan ini akan terus aku urai hingga akhirnya aku bisa tersenyum lega…..

*******