Thursday, May 19, 2022

The First Decade

Today's #tbt Mount Kinabalu, Circa 2012. 

Hari (minggu) ini saya banyak memasang status di WA (duuuh, sudahi! sudahi!) mengenai perjalanan sepuluh tahun saya dan mas bojo. Maklum ya kakak, tahun ini kami memasuki satu dekade pertama dari perjalanan panjang penuh kepasrahan ini :-p

Sehingga, mau tidak mau perasaan campur aduk berjalan kembali ke sepuluh tahun yang lalu. Mengambil beberapa foto lama saat berbulan madu ke Gunung Kinabalu, saya jadi ingin bernostalgia. Sedikit saja tidak mengapa yekan... 

Satu dekade lalu, kami mengikat janji di depan banyak sekali keluarga dan teman-teman. Setelah selama seminggu sebelumnya saya menebar senyum kepada entah berapa ribu orang yang datang ke rumah untuk memberikan selamat pada saya dan keluarga. Mustinya, cerita seputar bulan Mei sepuluh tahun yang lalu itu, bisa menjadi satu buku panduan "How you get married when you are a Jogja Village girl". Kayaknya lumayan bisa buat bahan tertawaan bersama anak cucu suatu saat nanti. 

Long short story, kami mengadakan resepsi di Hari Minggu, dan Hari Kamis, saat masih ada tamu berdatangan ke rumah, kami sudah mohon diri untuk pergi ke negara tetangga. Satu karena bulan madu, dan alasan lainnya adalah karena kami butuh jeda. Lelah bo'! Terutama saya. Satu bulan yang sangat-sangat menguras energi (dan emosi).

Jauh sebelum tanggal pernikahan di tentukan, saya sudah menyusun rencana bulan madu kami. Karenanya saya meminta keluarga untuk memberikan kami pilihan tanggal, tidak hanya satu. Kami harus menyesuaikan dengan keberangkatan ke Kota Kinabalu. Dan Hari Kamis itu kami meluncur ke Kota Kinabalu. Dengan budget travel tentunya. 

Saya ingat saat itu kami duduk terpisah di pesawat karena promo pesawat kala itu, tidak mengijinkan kami memilih kursi. Masih beruntung saat itu kami mendapat bagian jendela dua-duanya. Kami tiba di Kota Kinabalu jam 2 pagi, menyusuri bandara mencari tempat untuk tidur sejenak. Akhirnya kami memilih satu gerai makanan siap saji yang bisa kami gunakan untuk tidur sampai pagi. Lumayan. 

Rupanya, bandara Kota Kinabalu lokasinya cukup jauh dari jalan raya, dan pagi itu belum ada angkutan umum untuk menuju daerah kota. Saya lupa bagaimana dulu kami akhirnya bisa keluar dan menuju penginapan yang telah saya pesan. Saya hanya ingat bahwa karena masih pagi, kami belum bisa check in, dan memilih untuk berjalan-jalan di pinggir kota yang berbatasan dengan laut. 

Saat itu kami belum memesan tiket untuk naik ke Gunung Kinabalu, karena saat ingin memesan online, harganya sangat mahal menurut saya. Saat kami sedang duduk di bangku memandang laut, akhirnya terpikir untuk mendatangi kantor Sanctuary Lodge yang sebetulnya lokasinya tak jauh dari tempat kami duduk. Sudah kepalang di sini, kenapa nggak sekalian aja nanya. Pikir saya. 

Setelah ngobrol singkat dengan petugas loket, rupanya saya mendapati bahwa harga di loket jauh lebih murah. Jika di online saya hanya bisa membeli untuk satu orang, dengan harga yang sama saya bisa mendapat 2 tiket. Tanpa pikir panjang kami segera membeli tiketnya. Lega karena akhirnya Puncak Kinabalu mendadak muncul di depan mata. 

Siangnya kami masuk ke penginapan sederhana yang telah kami pesan. Benar-benar sederhana karena harganya murah. Spring bed nya usang, namun kamarnya bersih. Lumaya lah ya untuk yang masih pengiritan seperti kami. Sorenya kami memutuskan untuk berjalan-jalan keliling kota yang tidak terlalu besar itu, melihat-lihat lokasi bis yang akan membawa kami ke Gunung Kinabalu esok hari, menikmati kopi tarik yang enak sekali di kedai-kedai yang ada di sepanjang jalan, dan melihat-lihat mall yang tidak terlalu besar. Cukup untuk mengisi waktu dan membuat diri jadi lebih tahu. 

Paginya, dengan mobil yang memang di sediakan oleh lodge, kami melaju ke daerah Gunung Kinabalu. Rupanya paket yang kami beli sudah termasuk dengan paket sarapan. Sayangnya menu sarapannya membuat saya sedih. Pisang mas beberapa biji, telur rebus, air minum, dan apa ya saya lupa lagi. Untung kami sudah makan roti di penginapan. Lumayan terganjal. Kami bertemu dengan rombongan yang berangkat bersamaan dengan kami. Mereka berasal dari berbagai negara. Beruntung saat itu saya kumat SKSD, sehingga kami bisa mendapatkan pertolongan dari sepasang newly wed dari Polandia (cerita menyusul). 


Teman Mendaki

Jalur pendakian tidaklah sulit. Track terbuka dengan jalan yang sudah seperti jalan wisata, membuat perjalanan kami tidak terasa berat. Namun, meskipun jalur sudah mudah, setiap pendaki wajib di temani oleh satu pemandu atau guida. Kalau ada yang mau menggunakan jasa porter, bisa nambah lagi. Saya rasa ini adalah program pemerintah untuk memberdayakan orang-orang di sekitar. Guide kami namanya Polely. Anaknya baik sekali, meskipun bahasa kami terbatas, namun kami senang berbincang sesekali. 

Sekitar 7 jam mendaki, saat hari sudah sore kami baru tiba di pos Laban Rata. Tempat ini adalah lokasi kami bermalam. Kalau versi Indonesianya, seperti Kandang Badak nya Gunung Gede gitu lah. Bedanya di sini ada penginapan dengan kamar yang digunakan bersama. Kami kebagian satu kamar untuk 4 orang dengan ranjang tingkat. Karena ranjang sebelah juga pasangan, kami memutuskan untuk menghemat tempat dan hanya menggunakan masing-masing satu ranjang (you know what I mean haha). 

Saya sangat menyukai Laban Rata. Di ketinggian yang kalau di Indonesia sudah hampir sama dengan ketinggian puncak Gunung Gede, kami masih bisa merasakan empuknya kasur, hangatnya kopi, sup dan segala jenis makanan yang bisa kita pilih. Setelah merasakan sulitnya perjalanan ke puncak, saya pernah meyakinkan diri bahwa suatu saat saya akan kembali walaupun hanya untuk bersantai di Laban Rata. Cupu ya :-p

Laban Rata

Seperti halnya pendaki lainnya, kami juga ingin merasakan bagaimana nikmatnya menatap matahari yang muncul dari puncak gunung. Summit attack yekan. Alhasil, kami harus memulai pendakian jam 2 pagi dari Laban Rata. Jalur pendakian dari Laban Rata ke puncak, tidak semudah jalur sebelumnya. Bahkan bisa dibilang, jauuuh lebih sulit. Banyak yang melibatkan tali karena kemiringannya lebih dari 45 derajat. Dengan kekuatan jalan keong saya, akhirnya kami mampu tiba di puncak sebelum matahari muncul. Sayang di sayang, kamera pocket semata wayang saya mengalami kebekuan. Tidak bisa menyala karena memang suhu sangat-sangat dingin. Saya lupa berapa derajat, tapi mampu membuat jemari tangan sakit. Saya dipinjami sarung tangan Polely yang baik hati. 

Sampai di Puncak Kinabalu tanpa bukti foto, menciptakan kengerian tersendiri. Teringat pada kisah teman kami Ubo yang mendaki Gunung Gede dan tiba di puncak saat kabut tebal. Background fotonya adalah warna putih. Habis lah dia di bully warga se komplek L waktu itu. Bahkan setelah dia bisa mengeluarkan satu foto lagi dengan sedikit cantigi di belakangnya, tetap tidak mampu meredakan celotehan massa. Saya tidak mau begitu. 

Setelah memutar otak, dan melihat kelebat kuning-kuning di dekat saya, saya tersenyum lebar dan berjalan ke arah dua orang itu. Mereka adalah Michal dan Ola dari Warsaw, Polandia. Pasangan pengantin baru yang memulai perjalanan bersama kami. Hasil saya SKSD sebelum berangkat (seperti cerita sebelumnya) itu. Saya menceritakan pada mereka bahwa kamera kami mati karena beku. Bolehkan kami minta di foto dengan kamera mereka, dan nanti minta tolong kirim ke email kami? Beruntung mereka sangat baik hati dan mau membantu kami. Sayangnya, Ola tidak memberi kami ruang untuk foto berdua, jadi foto bertiga ini adalah satu-satunya foto yang berhasil kami dapat. Sebetulnya saya juga meminta hal yang sama pada pasangan yang satu kamar dengan kami, namun saya mengerti bahwa mereka tidak akan mengirimkan fotonya pada kami. Mereka berasal dari negara yang orang-orangnya terkenal memiliki penilaian tinggi pada diri mereka sendiri. hehuheuhee. 

The Only Picture on Top of Kinabalu Mount

Saat itu kami hanya bisa berharap, semoga Michal dan Ola benar-benar mengirimkan foto ini pada kami. Kalau tidak, ya mau gimana lagi. ada foto dari kamera kami, beberapa meter di bawah puncak. Lumayan. hahaha. 

Kami sempat berhenti beberapa waktu di puncak, menikmati pemandangan yang sejauh mata memandang adalah batu vulkanik. Deretan lampu yang berasal dari senter/headlamp orang-orang yang ingin menuju puncak, masih mengular hingga jauh ke bawah. Kami termasuk beruntung bisa sampai dengan cepat. Saat rombongan turis dari China dan Korea tiba, suasana puncak menjadi riuh ramai karena mereka berombongan besar. Kamipun memutuskan untuk turun. 

Di perjalanan turun, Polely bertemu dengan temannya sesama guide, dan mengatakan pada kami bahwa lokasi dengan tulisan dan background puncak ini, bagus jika di foto. Akhirnya kami mengambil kesempatan untuk foto bertiga dengan Polely. Langitnya ternyata juga sangat biru, menambah cantik foto kami. 
Bersama Polely

Polely adalah guide terbaik kami. Dia tidak bosan mengejutkan kami dengan hal bagus. Dia bilang "Ada tempat foto di bawah. Cantik sekali". Kami menurut karena sangat percaya padanya. Dan rupanya, benar-benar cantik dan unik tempat foto yang Polely tunjukkan pada kami. Bayangan di sebuah kubangan kecil. Michal dan Ola terkagum dengan foto ini, saat saya post di facebook saya. Mereka berjalan terlalu cepat, sehingga tidak melihat ada yang cantik-cantik di pinggir jalan. 

The Best Picture from Kinabalu Mount, by Polely

Setelah cukup dengan pengalaman di Puncak, kami kembali ke Laban Rata untuk makan siang. Kami bersantai, karena berfikir jalurnya tidak terlalu sulit dan juga tidak terlalu lama. Namun rupanya saya terlalu jumawa.

Perjalanan turun gunung, selalu bukan menjadi favorit saya. Lutut saya, mudah menjadi nyeri saat perjalanan turun. Dan turun dari Gunung Kinabalu ini, adalah ujian besar untuk saya. Kami bukan orang yang terakhir meninggalkan Laban Rata hari itu. Namun saya tiba paling akhir di tempat mobil menunggu. Saya sudah hampir putus asa dan memaksa untuk menginap terlebih dulu jika tidak ada lagi mobil menunggu. Saya berjalan seperti Mbah Buyut, pelan, satu-satu, bergantian, dan banyak berhenti karena lutut saya rasanya benar-benar payah. Keberuntungan masih berada pada pihak kami, mobil paling terakhir masih menunggu kami. Alhamdulillah... 

Laban Rata I'm In Love

Perjalanan bulan madu kami terasa sangat berkesan, untuk kami. Jika pandemi Covid19 kemarin tidak terjadi, tahun ini kami berencana merayakan 1 dekade kebersamaan kami dengan kembali ke sana. Bersama K sebagai personel tambahannya. Walaupun hanya untuk bersantai di Laban Rata jika terpaksa, kami rela. Namun rupanya Covid 19 membuat rencana berubah. 

Saya akan kembali menyusun rencana untuk kembali ke sana. Tempat di mana kami memulai perjalanan yang penuh kepasrahan, tidak bisa di duga, tidak bisa di rencana. Seperti halnya naik Gunung Kinabalu itu. We'll be back, for sure, Kinabalu Mount!!!

First Decade

#FirstDecade
#KeluargaNala
#KeluargaUmang
#NalaFamily

Wednesday, February 9, 2022

22Feb09 - Di Ubud KuBer ATV

Kuber ATV

Setelah tinggal selama 3 bulan di Bali tahun lalu dalam situasi pandemi, di kepulangan kami kali ini kami ingin merasakan juga berkegiatan seperti wisatawan pada umumnya. Biar kek orang-orang, kalau bahasa gaulnya. Akhirnya kami mencoba kegiatan ber-ATV. 

Banyak sekali penyedia layanan kegiatan ber-ATV di Bali. Rata-rata mereka di kawasan Ubud, di mana masih banyak medan yang sesuai dengan jenis aktifitas ini. Kami memilih penyedia layanan yang bernama KUBER ATV. Bukan dari browsing atau dari info mana-mana hingga kami memilih penyedia layanan ini. Sesimple "yang kemaren di pake Medi" saja. hahaha. Saya kan kalau sedang rajin bisa sangat rajin mencari, tetapi kalau sedang malas ya malas sekali. 

Harganya lumayan, tetapi mendengar cerita Medi tentang medan yang akan kami tempuh dengan ATV ini, sepertinya menjanjikan. Perlu dibuktikan yekaaan :-)

Oh iya, jujurly, ini adalah kali pertama saya naik ATV. Kalau Mas Bojo dan Mbak K sih sudah sering. Saya grogi sekali saat tiba di tempat ATV. Saya langsung bilang pada pemandu kami bahwa saya belum pernah naik ATV. Untung mas nya baik dan pintar menenangkan hati. Katanya, "Nggak papa kak, nanti setelah selesai dari sini, pasti langsung canggih main ATV." katanya. Saya sih memang senang menjadi korban iklan, jadi percaya saja :-p

Karena kami hanya datang bertiga, kami digabungkan dengan 1 rombongan keluarga besar lain dengan dua orang pemandu. Mereka sekitar 7 orang kalau saya tidak salah ingat. Beberapa diantaranya juga sepertinya sama dengan saya, belum pernah naik ATV. Atau mungkin belum pernah naik ATV dengan jalur yang se-mantul jalurnya KUBER ATV. hahahaa.

Ada 2 jalur yang menjadi target kami hari itu. Rute pertama adalah berangkat dari Base Camp, menyusuri jalan desa, menyeberang jalan besar, menyusuri saluran irigasi, menyusuri sawah, masuk ke jalur kebun, kembali menyusuri sawah, saluran irigasi, menyeberang jalan besar, menyusuri jalan desa dan kembali lagi ke depan base camp tanpa berhenti, dan lanjut ke jalur kedua.

Saya mau cerita dulu mengenai pengalaman di jalur pertama. Seperti yang saya bilang, bahwa ini adalah kali pertama saya mengendarai ATV. Suami saya bilang, "santai aja, ini matic. Tinggal gas - rem - gas - rem." Iya memang betul tinggal gas dan rem, tetapi dia tidak mengatakan bahwa mengarahkan stang agar lurus, atau agar nurut saat akan berbelok di jalan sempit itu, tidak semudah mengendarai motor matic. Hasilnya, saya hampir masuk ke sawah, dan hampir nyungsruk ke saluran irigasi. Bersyukur saya masih bisa mengendalikan ATV saya, walau dengan susah payah. Sehingga saya tidak perlu mengalami kejadian-kejadian yang tidak diinginkan itu. 

Nasib yang kurang beruntung dialami satu anggota rombongan kami dari keluarga sebelah. Salah satu pengendara ATV nya, perempuan, benar-benar bablas masuk ke sawah. Untung sawahnya kering dan sedang tidak ditanami padi. Saya dan Mas Bojo saling menatap dengan senyum simpul, saling membaca pikiran masing-masing. Pikiran saya bilang, "Ya Allah, untung bukan saya.", sedangkan Mas Bojo tersenyum dan berfikir "untung bukan maneh..." So sweet kan? :-p

Jalur kebun yang pertama

Lanjut ke jalur kedua, di mana kami bergerak ke sisi sebelah kanan base camp. Setelah menyusuri jalan sempit dari beton, kami semua berhenti menunggu semua rombongan untuk bergerak bersama-sama. Ternyata oh ternyata, jalanannya turun hampir 45 derajat. Karenanya kami harus bergerak rapat dari ATV ke ATV. Paling depan adalah ATV pemandunya yang dengan sangat cakap memandu kami, sekaligus menjadi ganjalan bagi ATV di belakangnya. 

Kami bergerak berentetan hingga tiba di jalan yang cukup landai, tetapi rupanya hanya sebentar-sebentar kami menemui jalan landai. Gustiii... Lengan rasanya seperti berteriak minta tolong sangking kerasnya dia bekerja memencet rem dan mengendalikan stang ATV agar tetap di jalannya. 

Sebetulnya saya merasa ngeri sekali, dan hampir menyerah. Tapi kok malu sama anak wedhok yang justru berteriak-teriak kegirangan di boncengan bapaknya. Dengan was-was saya mengikuti arus ke manapun pemandu kami membawa. Tentunya dengan mulut komat-kamit dan hati banyak berdoa. 

Ternyata di ujung bawah jalanan curam itu, kami mengendarai ATV kami dengan menyusuri sungai yang airnya jernih. Duuuh, semua takut yang tadinya saya rasakan, langsung hilang berganti dengan bahagia. Karena sungainya adalah sungai alami, jadi bebatuan di sana juga tidak teratur. Membuat kami berjuang semakin keras untuk maju. Namun, rupanya sungai jernih itu bukanlah satu-satunya medan indah yang harus kami lalui. 

Kami masuk Goa saudara-saudara. Goa yang merupakan jalur air sungai itu juga. Konon katanya Kuber ATV adalah salah satu pioner usaha ATV yang menemukan jalur air di bawah goa ini. Mereka kemudian melebarkan jalan airnya agar bisa di lalui ATV. Wow... Luar biasa bukan? Di dalam goa itu, rasanya jalur semakin tak menentu. Gelap, dinding baru di atas kepala, bebatuan menonjol tak beraturan di bawah roda ATV, dan suara menggerung-nggerung yang memekakkan telinga, membuat adrenalin kami terpacu keras. Hingga saat cahaya ujung goa terlihat, perasaan lega membuncah di dada. We made it guys!!!

Jalur kedua, masuk Goa
Dari mulut goa, kami masih kembali menyusuri jalur sungai dan juga jalur sempit yang diapit tebing tanah cukup tinggi. Kami tidak bisa menebak ke mana kami akan pergi, dan apa yang ada di depan kami selanjutnya. Karenanya, saat akhirnya kami melewati aliran air terjun dengan ATV, kami semua tertawa ceria dengan wajah-wajah cerah. Aaahhh... Luar biasa sekali memang pengalaman Ber ATV-an dengan KUBER ATV ini. Kami semua berhenti di jalur selepas air terjun untuk berfoto dengan rombongan sendiri. Setelah foto orang dan air terjun selesai, pemandu kami meletakkan satu ATV di depan air terjun untuk properti berfoto. Yeayyy!!! Untung saya kami tidak mengiyakan saat ditawari dokumentasi komplit dari awal sampai akhir dari mereka, karena harganya luar biasa mahal untuk ukuran keluarga kecil. Toh kita juga di kasih kesempatan foto di lokasi premium nya. Yekaaan :-)

Spot favorit, Air Terjun

Setelah bersenang-senang di air terjun, kami semua kembali ke tempat kami meninggalkan ATV kami. Dan bayangan yang cukup horor muncul di pelupuk mata saya. Kalau tadi turunannya setajam itu, bagaimana sekarang tanjakannya? Buru-buru saya mengenyahkan bayangan-bayangan seram, dan menguatkan tekat untuk bisa pulang dengan selamat. Karenanya, tanjakan curam yang berkelok-kelok itu saya jalani dengan sepenuh hati. Jika saat turun kami harus menempel dari satu ATV ke ATV, maka kebalikan dengan perjalanan pulang yang menanjak ini. Kami harus melakukannya sendiri-sendiri, satu-persatu. Wohooo...

While we're here

Setibanya kembali di base camp dengan selamat, dan menghabiskan beberapa menit untuk bersenang-senang di kubangan dengan saling balapan dan semprot-semprotan air lumpur dengan roda ATV, kami membersihkan diri di kamar mandi yang telah disiapkan. Lalu kami makan siang di resto dengan voucher makan yang merupakan satu kesatuan dengan harga tiket yang kami bayar. Lumayaaan... 

Setelah dari Kuber ATV, kami tidak langsung pulang ke Ngetis. Kami memilih untuk meluncur dan menghabiskan hari di Pantai Melasti. Salah satu pantai idola dan favorit kami. 

Saat Matahari Masih Terik

Saat Air Laut Surut


Monday, February 7, 2022

22Feb07 - Bersepeda Sepanjang Sanur

Hari ke tiga di Bali, adalah hari di mana Mas Bojo menyusul kami. Rencananya belio mau naik Bis Sarbagita dari Bandara ke Sanur. Awalnya saya berfikir Bis Sarbagita bisa berhenti di sekitar perempatan MCD, sehingga kami nanti bisa makan pagi bersama di Nasi Campur Men Weti. Karenanya, saya dan K meluncur dengan sepeda motor sewaan dan parkir di Pantai Sindhu.

Setelah diskusi (yaelah diskusi sama nak kicik) dengan K, akhirnya kami sepakat untuk menunggu ayahnya sambil sepedaan menyusuri pantai Sanur. Kami menyewa sepeda yang ada dudukan anak di belakangnya seharga 40ribu untuk 2-3 jam. Kami menggowes santai ke arah Mak Beng, lanjut ke Arah Pantai Matahari Terbit. Karena hari libur, jadi pantai sangatlah ramai, termasuk di jalur sepeda. Sehingga di beberapa titik kami ber sidak-siduk dengan orang dan sepeda lain. 

Jalur sepeda di Pantai Sanur memang sangat tertata dengan baik. Hanya saja masih sering bercampur dengan pejalan kaki sehingga terkadang perjalanan tersendat. Bersepeda, menikmati udara pantai, angin semilir, hangatnya sinar matahari, dan ditambah lagi dengan sesi haha hihi bersama Nak Wedhok, membuat waktu berjalan menyenangkan. Quality time sekali bagi saya. 

Setelah tiba di Pantai Matahari Terbit, kami putar balik dan kembali ke titik awal. Saya lelah dan K juga mulai bosan, akhirnya kami kembalikan sepedanya, dan berjalan kaki. Beli es krim di mamang es, jalan kaki sambil ngobrol haha hihi. Rupanya Ayahnya K sudah mendarat tetapi lama baru mendapatkan bis. K sudah lapar, begitupun saya. Akhirnya kami makan duluan di Nasi Campur Men Weti. 
Hingga makanan kami habis, Mas Bojo belum kunjung tiba, karena jalur Bis Sarbagita ternyata berputar-putar lama. Rencana berubah, akhirnya kami mengganti titik temu. Alih-alih di Pantai Sindu, kami bergeser ke Pantai Matahari Terbit. Persisnya di Warung Laisan. Salah satu tempat makan favorit kami juga. Nanti saya ceritakan di unggahan lainnya ya. 

Sunday, February 6, 2022

22Feb06 - Daily Baguette

Salah satu tempat sarapan kesukaan kami di Area Sanur adalah Daily Baguette. Lokasinya di ujung Jl. Danau Tamblingan, dekat dengan persimpangan yang ke Pantai Duyung. Tempat ini buka pagi sekali, dan menyediakan pastry mini. Dari segi ukuran dan harga, pastry mini lebih menyenangkan untuk saya. Emak-emak mode on yekaaan... Kalau K beda lagi. Makanan favoritnya adalah Panini dengan topping dan isi yang sesukanya sendiri. Aaahhh, rasanya belum pernah kami kembali ke Sanur tanpa sarapan di Daily Baguette ini. Pelayan di sana ramah-ramah sekali. K pernah bilang ke saya saat saya mengemukakan perasaan saya mengenai para pelayan yang ramah itu, dia bilang "memang mereka ramah sekali, bahkan dengan Lion juga mereka ramah ngajakin ngobrol." Baiquelah mbak...


Saturday, February 5, 2022

22Feb05 - Men Weti

Makanan andalan, Nasi Campur Men Weti

Pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Dewata ini, teman saya mengenalkan pada makanan khas Bali ini. Dan sejak saat itu pula, saya jatuh cinta padanya (nasi campurnya, bukan pada teman saya). Jadi, rasanya tidak pernah saya melakukan perjalanan ke Bali, tanpa makan di Nasi Campur Men Weti walau sekali. Meskipun saat ada meeting kantor di hotel, pasti ada masanya saya melewatkan sarapan bersama dan kabur ke Nasi Campur Men Weti ini. 

Nasi Campur yang saya kenal adalah yang terletak di Sanur, tepatnya di Pantai Sindu. Perempatan McD kalau orang bilang. Bukan jam 7.30. Biasanya sebelum buka saya sudah nangkring di depan warung, demi mendapat antrian awal. Maklum ya, kalau sudah mulai siang, antrian nya bisa mengular. 
Nasi campur Men Weti ini mungkin saja sama dengan nasi campur lain di tempat lainnya. Namun, bagi lidah saya dan Mas Bojo, tetap nasi Men Weti yang ada di hati. Rasanya itu passs sekali. Mungkin karena di racik dengan tangan, di emek-emek, di cuwel-cuwel gitu ya, jadi makin nikmat. Hahaha. Saya sempat mencicipi Nasi Campur Warung Adi, Nasi Ayam Kedewatan Bu Mangku, Nasi Mak Juwel, dan Nasi Campur di beberapa tempat lain di Bali. Namun lagi-lagi hanya ke Nasi Campur Men Weti kami kembali... Enaaakkk...


Yang paling saya suka dari nasi campur Men Weti ini adalah sambal goreng dan kulit ayamnya. Sambel gorengnya itu selalu bikin keringetan dan huhah huhah. Kerupuk kulitnya krispi kriuk-kriuk banget gitu. Buat hiburan kalau sudah mulai kepedasan. Nikmat deh ih... 

Secara harga, Nasi Campur Men Weti memang terhitung mahal. Seingat saya, dulu pertama kali saya makan Nasi Campur Men Weti itu harganya masih 15-20 ribuan. Sekarang satu porsi biasa harganya 30ribu rupiah. Untuk porsi anak, yang artinya tidak pakai sambal, harganya 20rb rupiah. Saya pernah mencuri dengan orang bertanya apakah bisa membeli seharga 15rb, jawabannya adalah bisa jika dibungkus. Kalau makan di tempat, tidak bisa. Saya? Heheehe. Seperti yang saya bilang bahwa saya mencintai sambal goreng dan kulit, jadi pesanan saya selalu berbunyi "Mbok, saya dibungkus 3. 2 extra sambal dan ekstra kulit, yang satu untuk anak". Dan bayarnya 100rb. Pada akhirnya Mas Bojo selalu menghibahkan sambal gorengnya pada saya, jadi kebahagiaan saya terasa sempurna... #eeeaaa

Oh iya. Saat saya beli Nasi Campur Men Weti untuk di bungkus beberapa waktu kemarin, saya mendapat informasi baru. Sepertinya ada warung Nasi Campur Men Weti yang lain, entah di mana. Dan mungkin (ini baru temuan sekilas ya, alias gosip) keberadaan warung nasi campur Men Weti yang lain itu, tidak baik-baik saja di mata Qarung men Weti Sanur. Karena waktu saya sedang mengantri, si mbok yang melayani saya sedang berbicara dengan seseorang di ponsel yang dia apit diantara kepala dan pundaknya. Dia bilang:
"... Kalau pesan di Ojek Online, pilih yang ada Sanur nya. Kalau nggak pakai Sanur, KaWe!!!" Saya kasih 3 tanda penthung karena waktu itu memang si mbok rada nge-gas ngomongnya. Hahahaha

Seperti itu yaaa... 
Bagi kalian yang datang ke Bali, seandainya ke daerah Sanur, jangan lupa di coba Nasi Campur Men Weti di Jl. Pantai Sindhu. Perempatan MCD lurusss ke arah pantai. Nanti kalau ada warung makan di kanan jalan yang ramai orang duduk-duduk atau berdiri menganteri, itulah warungnya. Biasanya belum sampai tengah hari nasinya sudah habis dan tutup. Selamat mencoba! :-)

Friday, February 4, 2022

22Feb04 - Kanoing di Sanur

Hari kedua di Bali, hanya berdua dengan K, dan saya cuti kerja. Santaaaiii... 

Kami hanya berenang-renang syantiek di Ngetis, menunggu matahari yang garang meredup sedikit. 

Sorenya, saya dan K memutuskan untuk berjalan-jalan di pantai yang paling dekat dengan Ngetis, yaitu Pantai Semawang. Sesampainya di Panyai Semawang, rupanya kami disambut dengan pemandangan baru. Tidak ada lagi warung-warung di jajaran pantai. Tinggalah tenda dan kursi pantai berjajar, serta proyek pembangunan jalan untuk jalur sepeda yang sedang berjalan. Oh iya, sepertinya sedang ada pembangunan cafe juga. 

K dan saya memilih untuk bermain-main di sekitar Pantai Semawang saja. K mengajak saya main kano, saya menyetujuinya. Ide bagus Mbak K! New experience yekaaan... 

Hanya dengan biaya sewa Rp. 30.000 rupiah saja, kami bisa menggunakan kano sepuasnya. Sampai matahari tenggelam, kami masih asik bermain-main dengan kano. 

Time well spent!