Hari ke tiga di Bali, adalah hari di mana Mas Bojo menyusul kami. Rencananya belio mau naik Bis Sarbagita dari Bandara ke Sanur. Awalnya saya berfikir Bis Sarbagita bisa berhenti di sekitar perempatan MCD, sehingga kami nanti bisa makan pagi bersama di Nasi Campur Men Weti. Karenanya, saya dan K meluncur dengan sepeda motor sewaan dan parkir di Pantai Sindhu.
Setelah diskusi (yaelah diskusi sama nak kicik) dengan K, akhirnya kami sepakat untuk menunggu ayahnya sambil sepedaan menyusuri pantai Sanur. Kami menyewa sepeda yang ada dudukan anak di belakangnya seharga 40ribu untuk 2-3 jam. Kami menggowes santai ke arah Mak Beng, lanjut ke Arah Pantai Matahari Terbit. Karena hari libur, jadi pantai sangatlah ramai, termasuk di jalur sepeda. Sehingga di beberapa titik kami ber sidak-siduk dengan orang dan sepeda lain.
Jalur sepeda di Pantai Sanur memang sangat tertata dengan baik. Hanya saja masih sering bercampur dengan pejalan kaki sehingga terkadang perjalanan tersendat. Bersepeda, menikmati udara pantai, angin semilir, hangatnya sinar matahari, dan ditambah lagi dengan sesi haha hihi bersama Nak Wedhok, membuat waktu berjalan menyenangkan. Quality time sekali bagi saya.
Setelah tiba di Pantai Matahari Terbit, kami putar balik dan kembali ke titik awal. Saya lelah dan K juga mulai bosan, akhirnya kami kembalikan sepedanya, dan berjalan kaki. Beli es krim di mamang es, jalan kaki sambil ngobrol haha hihi. Rupanya Ayahnya K sudah mendarat tetapi lama baru mendapatkan bis. K sudah lapar, begitupun saya. Akhirnya kami makan duluan di Nasi Campur Men Weti.
Hingga makanan kami habis, Mas Bojo belum kunjung tiba, karena jalur Bis Sarbagita ternyata berputar-putar lama. Rencana berubah, akhirnya kami mengganti titik temu. Alih-alih di Pantai Sindu, kami bergeser ke Pantai Matahari Terbit. Persisnya di Warung Laisan. Salah satu tempat makan favorit kami juga. Nanti saya ceritakan di unggahan lainnya ya.
No comments:
Post a Comment