Today's #tbt Mount Kinabalu, Circa 2012.
Hari (minggu) ini saya banyak memasang status di WA (duuuh, sudahi! sudahi!) mengenai perjalanan sepuluh tahun saya dan mas bojo. Maklum ya kakak, tahun ini kami memasuki satu dekade pertama dari perjalanan panjang penuh kepasrahan ini :-p
Sehingga, mau tidak mau perasaan campur aduk berjalan kembali ke sepuluh tahun yang lalu. Mengambil beberapa foto lama saat berbulan madu ke Gunung Kinabalu, saya jadi ingin bernostalgia. Sedikit saja tidak mengapa yekan...
Satu dekade lalu, kami mengikat janji di depan banyak sekali keluarga dan teman-teman. Setelah selama seminggu sebelumnya saya menebar senyum kepada entah berapa ribu orang yang datang ke rumah untuk memberikan selamat pada saya dan keluarga. Mustinya, cerita seputar bulan Mei sepuluh tahun yang lalu itu, bisa menjadi satu buku panduan "How you get married when you are a Jogja Village girl". Kayaknya lumayan bisa buat bahan tertawaan bersama anak cucu suatu saat nanti.
Long short story, kami mengadakan resepsi di Hari Minggu, dan Hari Kamis, saat masih ada tamu berdatangan ke rumah, kami sudah mohon diri untuk pergi ke negara tetangga. Satu karena bulan madu, dan alasan lainnya adalah karena kami butuh jeda. Lelah bo'! Terutama saya. Satu bulan yang sangat-sangat menguras energi (dan emosi).
Jauh sebelum tanggal pernikahan di tentukan, saya sudah menyusun rencana bulan madu kami. Karenanya saya meminta keluarga untuk memberikan kami pilihan tanggal, tidak hanya satu. Kami harus menyesuaikan dengan keberangkatan ke Kota Kinabalu. Dan Hari Kamis itu kami meluncur ke Kota Kinabalu. Dengan budget travel tentunya.
Saya ingat saat itu kami duduk terpisah di pesawat karena promo pesawat kala itu, tidak mengijinkan kami memilih kursi. Masih beruntung saat itu kami mendapat bagian jendela dua-duanya. Kami tiba di Kota Kinabalu jam 2 pagi, menyusuri bandara mencari tempat untuk tidur sejenak. Akhirnya kami memilih satu gerai makanan siap saji yang bisa kami gunakan untuk tidur sampai pagi. Lumayan.
Rupanya, bandara Kota Kinabalu lokasinya cukup jauh dari jalan raya, dan pagi itu belum ada angkutan umum untuk menuju daerah kota. Saya lupa bagaimana dulu kami akhirnya bisa keluar dan menuju penginapan yang telah saya pesan. Saya hanya ingat bahwa karena masih pagi, kami belum bisa check in, dan memilih untuk berjalan-jalan di pinggir kota yang berbatasan dengan laut.
Saat itu kami belum memesan tiket untuk naik ke Gunung Kinabalu, karena saat ingin memesan online, harganya sangat mahal menurut saya. Saat kami sedang duduk di bangku memandang laut, akhirnya terpikir untuk mendatangi kantor Sanctuary Lodge yang sebetulnya lokasinya tak jauh dari tempat kami duduk. Sudah kepalang di sini, kenapa nggak sekalian aja nanya. Pikir saya.
Setelah ngobrol singkat dengan petugas loket, rupanya saya mendapati bahwa harga di loket jauh lebih murah. Jika di online saya hanya bisa membeli untuk satu orang, dengan harga yang sama saya bisa mendapat 2 tiket. Tanpa pikir panjang kami segera membeli tiketnya. Lega karena akhirnya Puncak Kinabalu mendadak muncul di depan mata.
Siangnya kami masuk ke penginapan sederhana yang telah kami pesan. Benar-benar sederhana karena harganya murah. Spring bed nya usang, namun kamarnya bersih. Lumaya lah ya untuk yang masih pengiritan seperti kami. Sorenya kami memutuskan untuk berjalan-jalan keliling kota yang tidak terlalu besar itu, melihat-lihat lokasi bis yang akan membawa kami ke Gunung Kinabalu esok hari, menikmati kopi tarik yang enak sekali di kedai-kedai yang ada di sepanjang jalan, dan melihat-lihat mall yang tidak terlalu besar. Cukup untuk mengisi waktu dan membuat diri jadi lebih tahu.
*
Paginya, dengan mobil yang memang di sediakan oleh lodge, kami melaju ke daerah Gunung Kinabalu. Rupanya paket yang kami beli sudah termasuk dengan paket sarapan. Sayangnya menu sarapannya membuat saya sedih. Pisang mas beberapa biji, telur rebus, air minum, dan apa ya saya lupa lagi. Untung kami sudah makan roti di penginapan. Lumayan terganjal. Kami bertemu dengan rombongan yang berangkat bersamaan dengan kami. Mereka berasal dari berbagai negara. Beruntung saat itu saya kumat SKSD, sehingga kami bisa mendapatkan pertolongan dari sepasang newly wed dari Polandia (cerita menyusul).
![]() |
| Teman Mendaki |
Jalur pendakian tidaklah sulit. Track terbuka dengan jalan yang sudah seperti jalan wisata, membuat perjalanan kami tidak terasa berat. Namun, meskipun jalur sudah mudah, setiap pendaki wajib di temani oleh satu pemandu atau guida. Kalau ada yang mau menggunakan jasa porter, bisa nambah lagi. Saya rasa ini adalah program pemerintah untuk memberdayakan orang-orang di sekitar. Guide kami namanya Polely. Anaknya baik sekali, meskipun bahasa kami terbatas, namun kami senang berbincang sesekali.
Sekitar 7 jam mendaki, saat hari sudah sore kami baru tiba di pos Laban Rata. Tempat ini adalah lokasi kami bermalam. Kalau versi Indonesianya, seperti Kandang Badak nya Gunung Gede gitu lah. Bedanya di sini ada penginapan dengan kamar yang digunakan bersama. Kami kebagian satu kamar untuk 4 orang dengan ranjang tingkat. Karena ranjang sebelah juga pasangan, kami memutuskan untuk menghemat tempat dan hanya menggunakan masing-masing satu ranjang (you know what I mean haha).
Saya sangat menyukai Laban Rata. Di ketinggian yang kalau di Indonesia sudah hampir sama dengan ketinggian puncak Gunung Gede, kami masih bisa merasakan empuknya kasur, hangatnya kopi, sup dan segala jenis makanan yang bisa kita pilih. Setelah merasakan sulitnya perjalanan ke puncak, saya pernah meyakinkan diri bahwa suatu saat saya akan kembali walaupun hanya untuk bersantai di Laban Rata. Cupu ya :-p
![]() |
| Laban Rata |
![]() |
| The Best Picture from Kinabalu Mount, by Polely |
![]() |
| Laban Rata I'm In Love |
Perjalanan bulan madu kami terasa sangat berkesan, untuk kami. Jika pandemi Covid19 kemarin tidak terjadi, tahun ini kami berencana merayakan 1 dekade kebersamaan kami dengan kembali ke sana. Bersama K sebagai personel tambahannya. Walaupun hanya untuk bersantai di Laban Rata jika terpaksa, kami rela. Namun rupanya Covid 19 membuat rencana berubah.
![]() |
| First Decade |







No comments:
Post a Comment